PERSISTENSI RELATIF EARNINGS, ANOMALI PASAR BERBASIS EARNINGS, DAN EARNINGS MANAGEMENT

PERSISTENSI RELATIF EARNINGS, ANOMALI PASAR BERBASIS EARNINGS, DAN EARNINGS MANAGEMENT

OLEH
DWI RATMONO, SE, AK

ABSTRACT
This paper investigates (1) whether the lower persistence of earnings performance attributable to the accrual component of earnings is valid to different sample (2) whether stock prices reflect information about future earnings contained in the accrual and cash flow components of current earnings (3) whether lower persistence due to earnings management.
Sample consists of 100 companies which selected using purposive sampling approach. The statistic methods which is used to test the research hypothesis is OLS regression and Non Linear Generalized Least Squares .
Using the earnings data from 1999-2002 and accrual and cash flows components of earnings data from 1998-2001, the results show that earnings performance attributable to the accrual component of earnings is less persistent. The results also show that stock prices are found to act as if investors “fixate” on earnings, failing to reflect fully information contained in the accrual and cash flow components of current earnings until that information impacts future earnings. This research also provide evidence that earnings management has significant effect on the persistence earnings performance especially for the positive unexpected standardized total accounting accrual (UAC) sample.
Key Words: accrual, cash flow, earnings, market efficiency, earnings management

1. Pendahuluan
Beaver (2002) membagi area utama dalam riset pasar modal ke dalam lima area: efisiensi pasar, Feltham-Ohlson modeling, value relevance, analyst’s behavior, dan discretionary behavior. Penelitian mengenai efisiensi pasar terdiri dari post-earnings announcement drift, market-to-book ratios and extensions, contextual accounting issues ,dan unresolved issues. Penelitian mengenai contextual issues menurut Beaver (2002) mempunyai key feature berupa akuntansi akrual. Aspek penting dalam penelitian ini adalah konsistensi antara bobot yang ditempatkan pada komponen akrual dan arus kas dalam meramalkan earnings. Penelitian mengenai analisis komponen kas dan akrual dari current earnings dalam penilaian terhadap future earnings sering menekankan pada teks analisis laporan keuangan. Alasan yang mendasari adalah pernyataan Bernstein (1993) dalam Sloan (1996) yang menyebutkan bahwa arus kas dari operasi sebagai ukuran kinerja kurang subyektif distorsinya dibandingkan angka-angka net income. Hal ini terjadi karena sistem akrual yang menghasilkan angka income mendasarkan pada akrual, deferrals, alokasi dan penilaian yang mempunyai tingkat subyektivitas yang lebih tinggi dibandingkan penentuan arus kas operasi. Penelitian Graham et.al (1962) menekankan pentingnya informasi dalam current earnings dan komponen-komponennya dalam mengestimasi kekuatan future earnings sebuah perusahaan. Penelitian Wilson (1987) menginvestigasi apakah komponen kas dan akrual earnings mempunyai kandungan informasi dalam earnings sendiri.
Penelitian Dechow (1994) meneliti tentang hubungan akrual terhadap perilaku opportunis manajer dan kontrak efisien. Hasil penelitian Dechow menunjukkan jika hasil akrual nampak lebih besar dan dihasilkan dari proses manipulasi yang dilakukan oleh oportunis terhadap pelaporan earnings, maka pasar efisien akan menolak keterikatan pada metode akrual. Dalam kasus ini, arus kas sangat berhubungan dengan return saham dibanding dengan net income namun jika akrual merefleksikan kontrak efisien, net income mempunyai hubungan yang kuat dengan returns saham dibandingkan dengan arus kas. Hasilnya earnings bersih mempunyai hubungan yang kuat dengan returns saham dibandingkan dengan arus kas.
Sedangkan Sloan (1996) menyatakan kinerja persistensi current earnings untuk masa depan tergantung pada kekuatan relatifnya saat ini. Hasil dari penelitian tersebut memberikan bukti bahwa kinerja earnings yang dapat diatributkan kepada komponen akrual earnings kurang persisten dibandingkan kinerja earning yang diatributkan kepada komponen arus kas earnings. Selain itu hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa harga saham gagal merefleksikan secara penuh informasi dalam komponen akrual dan arus kas current earnings sampai informasi tersebut mempengaruhi future earnings. Sloan (1996) menyimpulkan bahwa pasar modal overestimate terhadap persistensi akrual dan underestimate terhadap arus kas dari operasi karena akrual lebih subyektif pada ketidakpastian estimasi, manajemen dan manipulasi. Xie (2001) mendukung kesimpulan tersebut dengan menunjukkan mispricing yang didokumentasikan oleh Sloan (1996) adalah karena abnormal akrual. Collins dan Hribar (2000) juga menginvestigasi apakah accrual pricing anomaly yang didokumentasikan oleh Sloan (1996) untuk data tahunan konsisten untuk data kuartal dan hasilnya menunjukkan pasar nampak overestimate terhadap persistensi komponen akrual dari earnings kuartalan sehingga cenderung overprice terhadap akrual.
Penelitian Sutopo (2001) yang dimotivasi oleh penelitian Sloan bertujuan menguji apakah persistensi earnings yang lebih rendah yang disebabkan oleh komponen akrual dari earnings berlaku untuk sampel 384 perusahaan yang dipilih dari COMPUSTAT Industrial file. Hasilnya menunjukkan bahwa persistensi earnings yang disebabkan oleh komponen akrual lebih rendah dibandingkan dengan persistensi earnings yang disebabkan oleh komponen arus kas. Selain itu penelitian Sutopo (2001) juga mengembangkan saran Sloan (1996) untuk menguji hubungan persistensi tersebut dengan earnings management. Hasil dari penelitian yang menggunakan data 8 tahun yang tersedia dalam COMPUSTAT tersebut memberikan bukti yang mendukung hipotesis dampak earnings management terhadap persistensi earnings. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menguji kembali persistensi relatif komponen akrual dan arus kas dari earnings dengan menggunakan data laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, (2) Menguji apakah harga saham merefleksikan secara penuh informasi dalam komponen akrual dan arus kas dari earnings, (3) Menguji apakah earnings management mempengaruhi persistensi pencapaian earnings.

2. Tinjauan Pustaka dan Pengembangan Hipotesis
2.1 Efisiensi Pasar
Efisiensi pasar merupakan salah satu bidang penting dalam penelitian pasar modal. Beberapa peraturan mengenai pelaporan keuangan dipremiskan pada catatan bahwa jika perusahaan membuat publikasi data akuntansi maka implikasinya akan diapresiasikan dan direfleksikan dalam harga saham (Beaver, 2002). Jika investor bertransaksi dalam sebuah pasar yang efisien maka mereka dapat mendasarkan pada harga-harga yang merefleksikan berbagai rangkaian informasi, termasuk informasi laporan keuangan, dan mereka tidak harus memproses semua informasi secara langsung. Pasar modal yang efisien juga mempunyai implikasi untuk alokasi sumber daya dan produksi secara efisien sehingga tidak mengherankan bahwa efisiensi pasar merupakan salah satu bidang penelitian paling awal (Beaver, 2002). Efisiensi pasar juga mempengaruhi interpretasi para peneliti yang mendasarkan pada hubungan yang telah diobservasi antara harga saham dan angka-angka akuntansi. Penelitian awal pasar modal mendukung secara kuat efisiensi pasar modal. Ball dan Brown (1968) dan Beaver (1968) menguji post announcement perilaku return saham dan menyimpulkan secara tentatif bahwa efisiensi pasar merupakan sebuah reasonable approximation dari hasil empiris. Penelitian saat ini telah menguji kembali efisiensi pasar dan beberapa diantaranya telah menyimpulkan bahwa pasar modal adalah tidak efisien dengan memperhatikan paling tidak tiga area: post-earnings announcement drift, market to book ratios, dan isu-isu akuntansi kontekstual. Penelitian dalam area isu-isu akuntansi kontekstual telah menguji efisiensi pasar berdasarkan beberapa key feature pelaporan keuangan. Penelitian Sloan (1996) merupakan sebuah contoh excellent yang mengeksploitasi pengetahuan kita pada salah satu feature pelaporan keuangan yaitu akuntansi akrual. Lee (1995) menyebutkan bahwa salah satu cabang penelitian yang memperluas penelitian sebelumnya mengenai hubungan price-earnings adalah area arus kas dan akrual. Penelitian mengenai kandungan informasi arus kas dan akrual bertujuan menguji dua isu berikut (Lee, 1995):
a. Apakah akuntansi akrual memberikan informasi yang berbeda dari yang diberikan oleh arus kas dari operasi.
b. Apakah earnings dalam bentuk arus kas mempunyai implikasi yang berbeda (atau mungkin lebih kuat) terhadap harga saham dibandingkan earnings dalam bentuk akrual.

2.2 Persistensi Pencapaian Earnings
Bernstein (1993, 461) dalam Sloan (1996) menyatakan bahwa komponen akrual dari current earnings cenderung untuk kurang terulang lagi untuk periode future earning karena mendasarkan pada akrual, tangguhan, alokasi dan penilaian yang mempunyai distorsi subyektif. Beberapa analisis lebih suka mengkaitkan arus kas operasi sebagai cek atas kualitas income. Mereka percaya bahwa semakin tinggi rasio arus kas operasi terhadap net income maka akan semakin tinggi pula kualitas income tersebut. Alasan serupa digunakan oleh FASB (1980, paragraph 54) sebagai justifikasi untuk penekanan yang lebih besar pada informasi arus kas operasi dalam laporan keuangan perusahaan. Terdapat juga pemikiran bahwa komponen akrual dan arus kas operasi dari current earnings mempunyai implikasi yang berbeda terhadap penilaian future earnings. Beberapa penelitian terdahulu yang memfokuskan pada analisis akrual dan arus kas antara lain Wilson (1987), Bernard and Stober (1989) dan Sloan (1996). Wilson (1987) menguji kandungan informasi inkremental komponen akrual dan arus kas dari earnings. Kandungan informasi tersebut diukur menggunakan regresi dan pendekatan portofolio dan hasilnya mengindikasikan bahwa total akrual inkremental dan arus kas dari operasi secara bersama-sama mempunyai kandungan informasi inkremental di dalam earnings dan terdapat hubungan positif antara informasi komponen ini dengan return saham. Penelitian Bernard dan Stober (1989) memperluas penelitian Wilson (1987) dan hasilnya konsisten dengan penelitian Wilson untuk dua kuartal namun untuk keseluruhan sampel tidak mendukung penemuan Wilson. Hasilnya gagal mendukung hipotesis bahwa informasi yang dibawa data arus kas dan akrual bervariasi menurut akun akrual spesifik dan faktor kontekstual tidak dapat menjelaskan perilaku harga saham di sekitar release data arus kas dan akrual dalam laporan keuangan. Sloan (1996) menguji apakah jika komponen-komponen diatributkan kepada current earnings, kinerja current earnings cenderung kurang persistensinya jika diatributkan secara primer kepada komponen akrual earnings dibandingkan terhadap komponen arus kas operasi. Hasilnya mengindikasikan adanya persistensi yang lebih rendah untuk kinerja earnings yang dapat diatributkan kepada komponen akrual dari earnings daripada komponen arus kas.
H1: Persistensi pencapaian earnings dari komponen akrual lebih rendah daripada persistensi pencapaian earnings dari komponen arus kas.

2.3 Refleksi Harga Saham terhadap Persistensi Earnings
Hubungan antara harga saham dan earnings telah diteliti secara mendalam. Mengikuti Ball dan Brown (1968) beberapa penelitian telah mendokumentasikan hubungan kontemporer positif antara return saham dan earnings, yang secara umum diatributkan kepada kemampuan earnings untuk merangkum nilai yang relevan dengan informasi. Meskipun demikian beberapa penelitian menyajikan bukti bahwa investor tidak menggunakan secara benar informasi yang tersedia dalam memperkirakan kinerja earnings masa depan (Bernard and Thomas, 1990; Maines and Hand, 1996). Bukti-bukti tersebut meningkatkan kemungkinan bahwa hubungan antara earnings dan return saham mungkin merefleksikan naïve fixation oleh investor terhadap reported earnings, daripada kemampuan earnings untuk merangkum nilai yang relevan dengan informasi. Sebuah pengujian yang berarti (meaningful) untuk melihat apakah harga saham merefleksikan secara penuh informasi yang tersedia membutuhkan spesifikasi model naïve expectation alternatif daripada pengujian pasar efisiensi nol (Sloan, 1996). Model “naïve” yang digunakan Sloan (1996) adalah bahwa investor menetapkan (fixate) earnings dan gagal membedakan antara komponen akrual dan arus kas current earnings. Model earnings expectation ini menurut Sloan (1996) konsisten dengan functional fixation hypothesis yang telah memperoleh dukungan empiris dalam pasar modal, perilaku dan riset eksperimental dan tidak bersifat terbatas seperti model random walk. Earnings expectation menurut Sloan (1996) dapat digunakan untuk merefleksikan keseluruhan level persistensi dalam kinerja earnings tetapi dihipotesiskan tidak merefleksikan perbedaan tingkat persistensi yang dapat diatributkan kepada komponen akrual dan arus kas earnings. Hasil penelitian Sloan (1996) menunjukkan adanya accrual pricing anomaly dan pasar cenderung untuk overestimate terhadap persistensi komponen akrual dari earnings. Penelitian Collins dan Hribar (2000) yang menguji accrual pricing anomaly juga menunjukkan bahwa kesimpulan Sloan (1996) tentang overprice akrual tersebut konsisten untuk data return kuartalan. Penelitian Xie (2001) menyimpulkan bahwa overpricing total akrual yang didokumentasikan oleh Sloan (1996) disebabkan oleh besarnya abnormal akrual.
H2: earnings expectations yang dibebankan dalam harga saham gagal untuk merefleksikan secara penuh persistensi earnings yang lebih tinggi yang dapat diatributkan kepada komponen arus kas earnings dan persistensi earnings yang lebih rendah yang dapat diatributkan kepada komponen akrual earnings

2.4 Earnings Management dan Persistensi Earnings
Beberapa peneliti menggunakan pendekatan total akrual akuntansi untuk mendeteksi adanya earnings management (Healy, 1985; Aharony et. al, 1993 dalam Sutopo, 2001). Total akrual akuntansi didefinisikan sebagai perbedaan antara net income yang dilaporkan dari operasi yang berkelanjutan dan arus kas operasi. Penelitian Aharony et. al (1993) menggunakan total akrual yang distandarisasi dengan rata-rata total asset untuk menguji adanya earnings management dan rasio total akrual terhadap rata-rata total asset diasumsikan mengikuti random walk. Penelitian tersebut menghitung unexpected standardized total accounting accrual (UAC) dan menggunakan uji t dan wilcoxon serta hasilnya memberikan bukti lemah bahwa entrepreneurs memanipulasi earnings melalui pemilihan metode akuntansi. Sedangkan penelitian Dechow et.al (1995) menguji penyebab dan konsekuensi manipulasi earnings. Hasilnya mengindikasikan bahwa salah satu motif penting untuk earnings management adalah keinginan untuk menarik pembiayaan eksternal pada biaya rendah sedangkan konsekuensinya pasar modal memungut substantial cost pada perusahaan yang diketahui sebagai earnings manipulator. Sloan (1996) dalam saran untuk penelitian selanjutnya memberikan isu tambahan bahwa persistensi yang lebih rendah untuk kinerja earnings yang diatributkan kepada komponen akrual earnings mungkin disebabkan oleh earnings management. Hal ini menurut Sloan (1996) karena hasil penelitian Dechow et.al (1995) menemukan bahwa manipulasi earnings yang dapat diatributkan secara utama kepada akrual akan berbalik pada tahun selanjutnya setelah manipulasi earnings. Bukti tersebut konsisten dengan earnings management yang berkontribusi pada persistensi yang lebih rendah komponen akrual dari earnings. Sutopo (2001) telah menguji hipotesis Sloan (1996) tersebut dan hasilnya mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa earnings management mempunyai efek yang signifikan pada persistensi kinerja earnings.
H3: Earnings management mempunyai efek signifikan terhadap persistensi kinerja earnings.

3. Metode Penelitian
3.1 Pemilihan Sampel Penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ), kecuali sektor keuangan. Metode pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling (non probability) dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Perusahaan yang sudah go public di BEJ sebelum 31 Desember 1996. Terdapat 237 perusahaan yang terdaftar di BEJ dalam periode itu menurut Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 1997.
2. Perusahaan tersebut masih terdaftar di BEJ sampai dengan 31 Desember 2002 (selama 7 tahun perusahaan tersebut tidak mengalami de-listing).
3. Perusahaan yang dipilih tidak bergerak dalam sektor keuangan. Alasan industri keuangan tidak dipilih karena industri keuangan tidak mempunyai komponen depresiasi yang material serta mempunyai karakteristik akrual yang berbeda
Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan maka diperoleh 100 perusahaan tiap tahun yang dapat dijadikan sampel penelitian. Data akrual dan arus kas diambil dari tahun 1998-2001, sedangkan data earnings dari tahun 1999-2002. Tabel 1 menyajikan prosedur pemilihan sampel.
Tabel 1
Penentuan Jumlah Sampel
Keterangan Jumlah Perusahaan
Perusahaan yang sudah go public sebelum 31 Desember 1996
Industri keuangan
Perusahaan yang dikeluarkan dari sampel karena
Mengalami de-listing
Data tidak lengkap
Perusahaan yang digunakan sebagai sampel akhir
Jumlah observasi untuk masing-masing perusahaan
Jumlah observasi untuk seluruh perusahaan 237
(53)

(69)
(15)
100
4
400

3.2 Sumber Data
Jenis data yang digunakan laporan keuangan (annual report) perusahaan yang dipublikasikan selama rentang waktu 7 tahun (dari tahun 1996 sampai 2002). Data–data tersebut didapat dari ICMD 1997–2003 dan Annual report Jakarta Stock Exchange (JSX) 1996–2002.
3.3 Definisi dan Pengukuran Variabel
1. Earnings
Earnings adalah earnings akuntansi yang terdapat dalam laporan earnings rugi. Dalam penelitian ini, konsep earnings yang dipakai adalah pendapatan dari operasi bersih atau dikenal dengan EBIT (Earnings before Interest and Tax). Analisis empiris membutuhkan perbandingan cross sectional dan temporal dari kekuatan kinerja earnings dan kekuatan relatif dari komponen arus kas dan akrual earnings (Sloan, 1996). Oleh karena itu variabel earnings, komponen akrual, komponen arus kas, dan unexpected standardized total accruals (proksi dari earnings management) distandarisasi dengan ukuran (size) perusahaan.
Earnings = (1)

2. Komponen Akrual (Accrual Component)
Komponen akrual adalah salah satu komponen earnings, dimana komponen akrual didapatkan dari total akrual dibagi dengan total aset rata – rata.

Komponen Akrual (AC) = (2)

Total Akrual = (ΔCA – ΔKas) – (ΔCL – ΔDCL) – Dep (3)
dimana,
ΔCA = perubahan dalam current assets
ΔKas = perubahan dalam kas/ setara kas
ΔCL = perubahan dalam current liabilities
ΔDCL = perubahan dalam hutang yang termasuk current liabilities
Dep = beban depresiasi dan amortisasi

3. Komponen Arus Kas (Cash Flow)
Komponen arus kas adalah salah satu komponen dari earnings, dimana komponen arus kas didapatkan dari earnings setelah dikurangi total akrual yang dibagi dengan total aset rata – rata.
Komponen Arus Kas = (4)

4. Unexpected standardized total accruals pada periode t (UACt) adalah proksi dari earnings management yang berasal dari :

UAC = (5)
dimana,
ACt = total akrual pada periode t
ACt-1 = total akrual pada periode t-1
TAt = total aset pada periode t
TAt-t = total aset pada periode t-1

5. Abnormal Return Saham
AR=Ri,t-E(Ri,t) (6)
AR=Abnormal Return
Ri,t=Actual Return saham i pada periode t
E(Ri,t)= Expected Return saham i pada periode t yang akan dihitung dengan menggunakan market adjusted model. Model ini menganggap bahwa penduga terbaik untuk mengestimasi expected return suatu saham adalah return indeks pasar pada saat tersebut.

3.4 Model Analisis dan Tehnik Analisis Data
Model yang digunakan untuk menganalisis data adalah model Sloan (1996), yang meliputi 2 persamaan yaitu persamaan (7) dan (8). Persamaan (7) akan digunakan untuk menguji hipotesis 1 sedangkan persamaan (8) digunakan untuk menguji hipotesis 2. persamaan (9) yang menggunakan model yang dikembangkan oleh Sutopo (2001) digunakan untuk menguji hipotesis 3. Persamaan tersebut dinyatakan berikut ini.

Earningst+1 = (7)
Abnormal Returnt+1= (8)
VAREARN = a + b1 UAC + b2 ln (TA) + e (9)
dimana,
VAREARN = Varian earnings rata – rata
UAC = Unexpected standardized total accruals
Ln (TA) = Natural log dari total aset (merupakan variabel kontrol ukuran perusahaan)
Untuk persamaan (7), apabila hasil koefisien accruals ( ) yang dhitung dengan analisis regresi lebih kecil daripada hasil koefisien cash flows ( 2) mencerminkan persistensi earnings yang lebih rendah dari komponen akrual atau penerimaan H1. Persamaan (8) akan dianalisis dengan Non Linear Generalized Least Squares dan jika hasilnya menunjukkan = dan = , maka menunjukkan efisiensi pasar atau penolakan terhadap H2. Selain itu untuk menguji efisiensi pasar juga akan dihitung likelihood ratio statistics yang didistribusikan secara asymptotic 2 (q):
2 (q)=2n log (SSRc/SSRu) (10)
q =jumlah konstrain yang ditekankan oleh efisiensi pasar
n =jumlah observasi
SSRc = sum of squared residual dari constrained weighted system
SSRu = sum of squared residual dari unconstrained weighted system
Sedangkan untuk persamaan (9), apabila hasil regresi linear menunjukkan bahwa koefisien b1 (UAC) signifikan maka hal tersebut menunjukkan adanya dampak earnings management terhadap persistensi earnings.
4. Hasil dan Pembahasan
4.1 Statistik Deskriptif
Tabel 2
Statistik Deskriptif
Variabel Mean Minimum Maximum Deviasi
Standar
Earnings 0,0960 -0,2926 0,8221 0,1157
Akrual -0,0616 -,09945 0,9829 0,2283
Cash Flow 0,1712 -0,7817 0,9972 0,22672
UAC Negatif -1,41×10-7
-5,37 x10-7
-2,12×10-1
1,65 x10-7

UAC Positif 7,09 x10-8
6,06 x10-1
2,076×10-7
6,51 x10-8

Abnormal Return 0,46744 -1,6915 22,8849 2,6890
Ln Asset 13,8301
10,950
17,73
1,5004

4.2 Pengujian Asumsi Analisis Regresi Berganda
Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda OLS untuk menguji hipotesis pertama dan ketiga. Model regresi OLS mempunyai asumsi tidak terjadi multikolinearitas, tidak terjadi autokorelasi, dan tidak terjadi heterokedastisitas. Nilai Variance Inflation Factor (VIF) baik untuk model (7) dan (9) tidak ada yang melebihi 10 demikian juga untuk Condition Index juga tidak ada yang melebihi 30 sehingga disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas (Hair, et al, 1998). Uji Durbin Watson digunakan untuk melihat apakah terjadi autokorelasi dan hasilnya menunjukkan bahwa nilai Durbin Watson berada di daerah penerimaan H0 dan H*0 yang menunjukkan bahwa tidak ada autokorelasi positif maupun autokorelasi negatif (Gujarati,1995). Meskipun demikian Uji Glejser menunjukkan terjadinya masalah heterokedastisitas untuk kedua model. Perbaikan dilakukan dengan menghilangkan outlier sehingga sampel akhir yang digunakan untuk model (9) adalah 82 perusahaan. Setelah dilakukan pengujian ulang menunjukkan tidak terjadi heterokedastisitas.

4.3 Hasil Pengujian Hipotesis
4.3.1 Hipotesis Persistensi Earnings
Analisis empiris menggunakan data dari earnings untuk periode 1999-2002 dan data komponen akrual dan arus kas dari earnings untuk periode 1998-2001. Tabel 3 menggambarkan hasil dari estimasi persamaan (7) untuk menghitung rata-rata level persistensi kinerja earnings. Persamaan (7) diestimasi dengan menggunakan single pooled regression.
Tabel 3
Ringkasan Hasil Estimasi Regresi OLS dari Kinerja Future Earnings
pada Komponen Akrual dan Arus Kas Kinerja Current Earnings
Variabel Parameter Koefisien t-hitung Signifikansi
(p-value)
Konstanta
0,022 3,740 0,000
Akrual
0,666 19,171 0,000
Cash Flow
0,671 19,171 0,000
R Square
F-hitung
Sig. F 0,499
198,089
0,000
Hasil regresi menunjukkan bahwa : 0,666 (signifikan pada level 0,05) dan =0,671 (signifikan pada level 0,05). Koefisien akrual :0,666 lebih kecil daripada (dengan F-hitung 198,089, signifikan pada level 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa kinerja earnings yang dapat diatributkan pada komponen akrual dari earnings kurang persisten dibandingkan dengan komponen arus kas dari earnings. Hasil ini konsisten dengan penelitian Sloan (1996) dan Sutopo (2001).

4.3.2 Hipotesis Mispricing Harga Saham
Hipotesis kedua memfokuskan apakah harga saham merefleksikan properti yang berbeda dari komponen akrual dan arus kas dari earnings. Model Sloan (1996) yang digunakan untuk menguji hipotesis ini menngunakan framework yang dikembangkan oleh Miskhin (1983). Kerangka ini berawal dari implikasi dasar efisiensi pasar bahwa abnormal return adalah nol. Efisiensi pasar menekankan pada dual constrains bahwa = dan = Konstrain non linear ini mensyaratkan bahwa harga saham akan mengantisipasi secara benar rata-rata persistensi kinerja earnings. Tabel 4 menunjukkan hasil dari estimasi persamaan (7) dan (8) .
Tabel 4
Ringkasan Hasil Estimasi Non Linear Generalized Least Square
Reaksi Harga Saham terhadap Informasi dalam Komponen Akrual dan Arus Kas Current Earnings

Parameter Estimasi Asymptotic Standard Error

0,666 1,1397

0,671 1,1478
*
-0,445 1,1381
*
-0,543 1,1461
Pengujian Efisiensi Pasar = * dan = *

Likelihood ratio statistics 0,9969

Level Signifikansi Marginal 0,028

Dalam persamaan forecasting , koefisien akrual, , 0,666, dan koefisien arus kas, , 0,671, yang merupakan identitas magnitude persistensi diperoleh dengan menggunakan regresi OLS dalam tabel 3. Efisiensi pasar berimplikasi bahwa implikasi yang berbeda dari komponen akrual dan arus kas dari current earnings untuk future earnings seharusnya direfleksikan dalam harga saham. Meskipun demikian, hasil dari persamaan return saham menunjukkan bahwa hal ini tidak terjadi dalam kasus ini. Koefisien akrual, , adalah -0,445 sedangkan koefisien arus kas, *, adalah -0,543. Oleh karena itu baik koefisien akrual maupun arus kas adalah lebih kecil dari counterpart-nya dalam persamaan forecasting.
Harga saham nampak tidak mengantisispasi secara rasional persistensi yang lebih rendah yang dapat diatributkan kepada komponen akrual dan yang lebih tinggi yang dapat diatributkan kepada komponen arus kas dari earnings. Likelihood ratio statistics adalah 0,9969, menolak hipotesis efisiensi pasar (marginal signifance level=0,028). Efisiensi pasar ditolak dalam kondisi market mispricing karena meskipun likelihood ratio statistics tidak cukup besar nilainya namun konstrain efisiensi pasar dapat meningkatkan secara relatif sum of squared residual dalam constrained system (2878,774) dibandingkan dalam unconstrained system (2870,525).
Investor cenderung untuk memperlakukan kurang persisten baik untuk komponen arus kas maupun komponen akrual earnings. Earnings expectation yang dibebankan kepada harga saham menyimpang secara konsisten dari rational expectation dalam arah yang diprediksi oleh oleh naïve fixation. Hal ini menunjukkan bahwa pasar under-prices baik untuk komponen akrual maupun arus kas dari earnings. Hasil ini berbeda dengan penelitian Sloan (1996), Collins dan Hribar (2000) dan Xie (2001) yang menunjukkan bahwa pasar over-prices akrual dan under-prices arus kas. Pasar modal Indonesia yang dalam kondisi efisien bentuk lemah atau setengah kuat mungkin menjadi penyebabnya karena investor bereaksi terhadap informasi secara lugas (naïve fashion) dalam menginterpretasikan informasi yang diterima.

4.3.3 Hipotesis Earnings Management
Hipotesis ketiga diuji untuk melihat pengaruh earnings management pada persistensi yang lebih rendah dari kinerja earnings. Akrual yang overstated dan understated dianalisis terpisah sehingga sampel dikelompokkan menjadi UAC positif dan UAC negatif. Variabel UAC dikelompokkan menjadi UAC positif dan UAC negatif karena variabel dependen (Varian Earnings) adalah positif, sementara variabel UAC adalah positif dan negatif. Dalam mengelola earnings, manajer dapat meningkatkan atau menurunkan earnings yang dilaporkan (Sutopo, 2001).
Tabel 5
Hasil dari Regresi Berganda Pengaruh Earnings Management
pada Persistensi Kinerja Earnings (t-hitung dalam tanda kurung)

Koefisien Kelompok
UAC Negatif UAC Positif
b1 406,441
(-1,485) 472,335
(2,719)*
b2 0,000
(-1,195) 0,000
(1,272)
*) Signifikan pada level 0,05
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa UAC mempunyai pengaruh signifikan terhadap varian earnings untuk kelompok UAC positif. Hasil ini memberikan bukti dalam mendukung hipotesis ketiga yaitu untuk UAC positif. Meskipun demikian hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Sutopo (2001) yang memberikan bukti bahwa baik UAC positif maupun negatif mempunyai pengaruh signifikan terhadap varian earnings. Semakin tinggi magnitude UAC positif maka semakin besar varian earnings di masa depan. Selain itu, variabel kontrol Ln Asset yang mempunyai koefisien b2 tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap persistensi kinerja earnings baik untuk kelompok UAC positif maupun negatif. Oleh karena itu besar kecilnya ukuran perusahaan tidak mempengaruhi variasi dari earnings masa depan. Hasil ini juga berbeda dengan hasil penelitian Sutopo (2001) yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh signifikan terhadap persistensi kinerja earnings.

5. Simpulan, Keterbatasan Penelitian, dan Saran
Penelitian ini bertujuan menguji (1)apakah persistensi relatif komponen akrual dari earnings lebih rendah dibandingkan dengan komponen arus kas dari earnings, (2) apakah harga saham merefleksikan informasi mengenai future earnings yang terdapat dalam komponen akrual dan arus kas dari current earnings (3) apakah persistensi yang lebih rendah disebabkan karena earnings management. Dengan menggunakan data earnings tahun 1999-2002 dan komponen akrual dan arus kas dari earnings tahun 1998-2001 hasil regresi menunjukkan bahwa koefisien akrual relatif lebih kecil dibandingkan koefisien arus kas. Hal ini memberikan bukti yang mendukung hipotesis persistensi lebih rendah dari kinerja earnings yang dapat diatributkan kepada komponen akrual dari earnings .
Analisis Non Linear Generalized Least Squares menunjukkan bahwa harga saham gagal merefleksikan secara penuh informasi yang terdapat dalam komponen akrual dan arus kas dari current earnings sampai informasi tersebut mempengaruhi future earnings. Pasar nampak underestimate terhadap persistensi komponen akrual dan arus kas sehingga cenderung untuk underprice kedua komponen earnings tersebut. Harga saham menunjukkan kecenderungan tersebut karena investor gagal untuk mengidentifikasi secara benar properti yang berbeda dari dua komponen earnings tersebut. Hasil ini tidak konsisten dengan pandangan efisiensi pasar tradisional bahwa harga saham merefleksikan secara penuh semua informasi publik yang tersedia. Meskipun demikian penemuan yang menunjukan bahwa harga saham tidak merefleksikan semua informasi publik yang tersedia tidak berimplikasi bahwa investor bertindak irasional namun kondisi krisis moneter yang terjadi dalam rentang waktu penelitian ini mungkin juga dapat mempengaruhi accrual pricing anomaly dan cash flow pricing anomaly ini.
Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa Unexpected Standardized Accrual (UAC) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varian earnings rata-rata untuk kelompok UAC Positif. Sedangkan ukuran perusahaan yang digunakan untuk variabel kontrol tidak mempunyai pengaruh signifikan untuk kedua kelompok. Hal ini memberikan bukti yang mendukung hipotesis bahwa earnings management mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap persistensi kinerja earnings.
Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan: (1) Pendeteksian earnings management hanya menggunakan model UAC. (2) Kemungkinan terjadinya industrial effect karena tidak proposionalnya sampel yang dipilih yaitu 73 perusahaan dari industri manufaktur dan 27 perusahaan dari industri lainnya sehinggga mungkin memberikan hasil yang bias (3) Penelitian ini menggunakan data tahun 1996-2002, yang didalamnya termasuk tahun terjadinya krisis moneter yang dapat mengakibatkan hasil yang bias (4) Penelitian ini hanya menggunakan ukuran perusahaan yang diukur dengan total asset sebagai variabel kontrol.
Penelitian selanjutnya sebaiknya memperpertimbangkan keterbatasan yang ada dalam penelitian ini yaitu (1) Penelitian mendatang dapat menggunakan model lain dalam mendeteksi earnings management seperti Modified Jones Model (2) Penelitian mendatang lebih mengkhususkan pada satu sektor industri saja, sehingga tidak memberikan hasil yang bias (3) Rentang waktu yang diambil sebaiknya periode saat tidak terjadinya krisis, sehingga tidak memberikan hasil yang bias selain itu juga untuk memberikan hasil yang lebih akurat dapat menggunakan rentang waktu yang lebih panjang (4) Mempertimbangkan variabel kontrol yang lain sehingga kemungkinan dapat menjelaskan secara lebih baik hubungan antara komponen akrual dengan variasi earnings.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: