PENGARUH PENDIDIKAN TINGGI AKUNTANSI TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL

PENGARUH PENDIDIKAN TINGGI AKUNTANSI TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL

oleh:
Sri Suryaningsum*
Sucahyo Heriningsih*
Afifah Afuwah**

Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis ada tidaknya perbedaan kecerdasan emosional antara mahasiswa junior dan mahasiswa tingkat akhir, antara mahasiswa dan bukan mahasiswa dengan tingkat usia yang sama, serta menganalisis pola hubungan antara kualitas lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang menyelenggarakan proses belajar mengajar dengan tingkat kecerdasan emosional mahasiswanya. Alat analisis yang digunakan adalah uji beda.
Hasil penelitian ini adalah tingkat kecerdasan emosional mahasiswa junior dan mahasiswa tingkat akhir jurusan akuntansi berbeda secara signifikan, namun perbedaan itu lebih dipengaruhi oleh faktor usia semata. Hal ini dapat diketahui karena tingkat kecerdasan emosional mahasiswa tingkat akhir berbeda secara signifikan dengan pemuda sebaya yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi akuntansi, dalam hal ini karyawan memiliki skor kecerdasan emosional yang lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir, sehingga pengalaman mengikuti pendidikan tinggi akuntansi ternyata tidak menimbulkan perbedaan tingkat kecerdasan emosional seseorang. Kualitas lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang lebih baik terbukti memberikan pengaruh berarti terhadap tingkat kecerdasan emosional seorang mahasiswa.

PENDAHULUAN
Kualitas manusia berkaitan erat dengan kualitas pendidikan, yang merupakan rangkaian dari pendidikan tingkat dasar, menengah, dan tinggi. Pendidikan tinggi sebagai lembaga yang membekali peserta didik dengan penekanan pada nalar dan pemahaman pengetahuan berdasarkan keterkaitan antara teori dengan pengaplikasiannya dalam dunia praktik, berperan penting dalam menumbuhkan kemandirian peserta didik dalam proses pembelajaran yang diikutinya. McClelland (1997) dalam Goleman (2000) menyatakan bahwa kemampuan akademik bawaan, nilai rapor, dan prediksi kelulusan pendidikan tinggi tidak memprediksi seberapa baik kinerja seseorang sudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang dicapainya dalam hidup. Sebaliknya ia menyatakan bahwa seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif mampu membedakan orang sukses dari mereka yang berprestasi biasa-biasa saja.
Goleman (2000) mengungkapkan adanya faktor selain kecerdasaan kognisi yang dapat mempengaruhi keberhasilan orang dalam bekerja. Faktor ini dikenal sebagai kecerdasaan emosional. Goleman berusaha merubah pandangan tentang IQ yang menyatakan keberhasilan ditentukan oleh intelektualitas belaka. Peran IQ dalam dunia kerja ternyata hanya menempati posisi kedua setelah kecerdasaan emosional dalam menentukan peraihan prestasi puncak. Goleman tidak mempertentangkan IQ (kecerdasaan kognisi) dan EQ (kecerdasan emosional), melainkan memperlihatkan adanya kecerdasan yang bersifat emosional, ia berusaha menemukan keseimbangan kecerdasan antara emosi dan kognisi. Kecerdasan emosional menentukan seberapa baik seseorang menggunakan keterampilan-keterampilan yang dimilikinya, termasuk keterampilan intelektual. Paradigma lama menganggap yang ideal adalah adanya nalar yang bebas dari emosi, paradigma baru menganggap adanya kesesuaian antara kepala dengan hati.
Proses yang dijalani selama menuntut ilmu di perguruan tinggi secara langsung ataupun tidak langsung akan melatih kecerdasan emosional. Proses belajar mengajar dalam berbagai aspeknya bisa jadi meningkatkan kecerdasan emosional mahasiswa. Kecerdasan emosional ini mampu melatih kemampuan mahasiswa tersebut, yaitu kemampuan untuk mengelola perasaannya kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri, kesanggupan untuk tegar dalam menghadapi frustasi, kesanggupan mengendalikan dorongan dan menunda kepuasan sesaat, mengatur suasana hati yang reaktif, serta mampu berempati dan bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan-kemampuan ini mendukung seorang mahasiswa dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Berlandaskan pemahaman tentang kecerdasan emosional, peneliti ingin menganalisis apakah pendidikan tinggi akuntansi mempengaruhi kecerdasan emosional mahasiswa.
Peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh pendidikan tinggi akuntansi terhadap kecerdasan emosional mahasiswa akuntansi. Penelitian ini dimotivasi oleh Bulo (2002) dengan memperluas sampel yaitu sampel untuk mahasiswa tidak terbatas pada mahasiswa jurusan akuntansi FE UGM. Sampel untuk mahasiswa diambil dari pendidikan tinggi akuntansi yang berakreditasi A dan B yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu UGM, UPN, UII, STIE YKPN, dan UMY. Penelitian ini juga dimotivasi oleh penelitian Trisnawati, Suryaningsum (2003) berkaitan dengan kecerdasan emosional, yaitu mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap tingkat pemahaman akuntansi dengan variabel dependen tingkat pemahaman akuntansi dan variabel independennya adalah kecerdasan emosional dan alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan akuntansi, khususnya bagi mahasiswa, tentang pengaruh pendidikan tinggi akuntansi terhadap kecerdasan emosional. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi konstribusi dalam penelitian lain tentang pengaruh pendidikan tinggi akuntansi yang memiliki karakteristik tersendiri terhadap kecerdasan emosional mahasiswanya.
Penelitian ini juga berusaha menemukan pengaruh perbedaan kualitas lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang menyebabkan perbedaan kualitas proses belajar mengajar terhadap kecerdasan emosional mahasiswanya. Peneliti juga ingin memastikan bahwa kecerdasan emosional itu sungguh-sungguh dipengaruhi oleh kualitas belajar mengajar. Jika hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kecerdasan emosional yang cukup signifikan antara mahasiswa tingkat akhir dan junior, maka dapat ditemukan kemungkinan pendidikan tinggi akuntansi telah cukup membekali mahasiswanya dengan kemampuan lain selain kemampuan kognisi sesuai dengan kebutuhan pasar dan dunia kerja. Bila hasil ini menemukan adanya perbedaan yang signifikan antara perbedaan emosional antara mahasiswa dengan pemuda berusia sebaya yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan kecerdasan emosional itu ditingkatkan oleh proses belajar mengajar dan bukan sekadar karena bertambahnya usia, atau kedewasaan.

TINJAUAN PUSTAKA
KECERDASAN EMOSIONAL
Kamus Bahasa Indonesia kontemporer mendefinisikan emosi sebagai keadaan yang keras yang timbul dari hati, perasaan jiwa yang kuat seperti sedih, luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu cepat. Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khasnya, suatu keadaan yang biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosional adalah hal-hal yang berhubungan dengan emosi.
Emosi menurut Oxford English Doctionary adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu atau setiap keadaan mental yang hebat. Goleman (1997) dalam Mu’tadin (2002), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilih kepuasan dan mengatur suasana hati. Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, mengahargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya Peter Salovey dan Mayer (1990) dalam Shapiro (1997) menerangkan kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan kualitas ini adalah kemampuan mengenali emosi diri. Stemberg dan Salovery dalam Shapiro (1997) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. Dalam hal ini, sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan seperti memilih sekolah, sahabat, profesi sampai kepada pemilihan pasangan hidup.
Menurut Arini, kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya mempengaruhi perilakunya secara wajar. Misalnya seseorang yang sedang marah maka kemarahan itu tetap dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesali di kemudian hari. Kecerdasan emosional tidak hanya berarti bersikap ramah. Pada saat tertentu, yang diperlukan mungkin bukan sikap yang ramah, melainkan ketegasan yang bisa jadi tidak menyenangkan tetapi mengungkapkan kebenaran. Kecerdasan emosi juga bukan berarti memberikan kebebasan pada perasaan untuk berkuasa melainkan mengelola perasaan sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif, yang memungkinkan orang untuk bekerja sama secara efektif dengan lancar menuju sasaran bersama. Kecerdasan emosional memandu kita untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri dan orang lain serta untuk menanggapinya dengan cepat, menerapkan dengan efektif infomasi dan energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Kecerdasan emosi merupakan faktor penentu perusahaan dalam karier dan organisasi, termasuk dalam pembuatan keputusan, kepemimpinan, melakukan terobosan teknis dan stategis, komunikasi yang terbuka dan jujur, kerja sama dan hubungan saling mempercayai, serta mengembangkan kreativitas dan daya inovasi (Cooper dan Sawaf, 1998).
Kematangan dan kedewasaan menunjukkan kecerdasan dalam hal emosi. Mayer, dalam Golemen (2000) menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman dari kanak-kanak hingga dewasa. Dan yang lebih penting, kecerdasan emosional dapat dipelajari. Goleman secara garis besar membagi dua kecerdasan emosional yaitu kompetensi personal yang meliputi pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi diri dan kompetensi sosial yang terdiri dari empati dan keterampilan sosial. Goleman, mengadaptasi lima hal yang tercakup dalam kecerdasan emosional dari model Salovely dan Mayer, yang kemudian diadaptasi lagi oleh Bulo (2002) yaitu: pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan kemampuan sosial. Kecerdasan emosional merupakan dasar untuk mengembangkan kecakapan emosi yang dipelajari berdasarkan kecerdasan emosi tersebut. Kecerdasan emosi menentukan potensi kita untuk mempelajari keterampilan-keterampilan praktis yang didasarkan pada kelima unsurnya, sedangkan kecakapan emosi menunjukkan seberapa banyak potensi itu yang telah kita pelajari, miliki dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki kecerdasan emosi yang tinggi tidak menjamin seseorang memiliki kecakapan emosi yang penting, mereka hanya mempunyai potensi maksimum untuk mempelajarinya. Seseorang mungkin sangat empatik, misalnya, namun belun tentu belajar tentang keterampilan praktis yang didasarkan pada empati untuk menjadi profesional yang peduli pada kliennya, atau untuk menjadi pemimpin tim kerja yang unsurnya sangat beragam. Sebagai perbandingan, seseorang yang memiliki suara sempurna, tidak bisa menjadi penyanyi hebat tanpa belajar dan berlatih keras (Goleman, 2000).
Steiner (1997) dalam Kukila (2001) menyatakan bahwa kecerdasan emosional mencakup 5 komponen, yaitu: mengetahui perasaan sendiri, memiliki empati, belajar mengatur emosi-emosi sendiri, memperbaiki kerusakan sosial, interaktifitas emosional Cooper dan Sawaf (1998) merumuskan kecerdasan emosional sebagai sebuah titik awal model empat batu penjuru, yang terdiri dari: kesadaran emosi, kebugaran emosi, kedalaman emosi, alkimia emosi.

PENDIDIKAN TINGGI AKUNTANSI
Axelrood (1996) dalam Ardianti (1999) yang diadaptasi oleh Bulo (2002) mendefinisikan proses belajar mengajar sebagai proses pengembangan pribadi manusia. Dalam mengembangkan pribadi berarti tidak hanya ranah kognisi yang berkembang, tetapi juga ranah emosional. Perubahan yang disebabkan oleh proses belajar mengajar ini tidak disebakan pengajaran semata, melainkan juga berbagai aspek yang melingkupinya. Proses belajar mengajar dalam berbagai aspeknya bisa jadi meningkatkan kecerdasan emosional mahasiswa.
Tujuan umum pendidikan tinggi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, seperti yang tercantum dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor: 30 tahun 1990, yaitu: (1) menyiapkan peserta didik sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, technologi, dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaanya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Dalam Sukirno (1999) yang diadaptasi oleh Bulo (2002), Letter dan Johnson (1997) mengkualisifikasi 3 tipe hasil dalam belajar yang dapat dicapai sekolah, yaitu kognisi, ketrampilan partisipasi, dan integrasi. De Mong, Lindgren dan Perry (1994) dalam Bulo (2002) mengidentifikasi salah satu keluaran dari proses pengajaran akuntansi adalah kemampuan intelektual yang terdiri dari ketrampilan teknis dasar akuntansi dan kapasitas untuk berfikir kritis dan kreatif. Selain itu juga kemampuan komunikasi, organisasi, interpersonal dan sikap.
Proses belajar mengajar di perguruan tinggi akuntansi jelas akan membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan teknis sesuai bidangnya. Namun melihat kebutuhan pasar kerja dan dunia kerja, ternyata yang dibutuhkan bukan hanya penguasaan ilmu, tetapi juga ketrampilan yang lain, diantaranya kecerdasan emosional.
Prakarsa (1996) menyatakan bahwa proses belajar mengajar pada pendidikan tainggi akuntansi hendaknya dapat mentransformasikan peserta didik menjadi lulusan yang lebih utuh sebagai manusia. Dalam pendidikan tinggi akuntansi terdapat strategi komprehensif yang dibagi dalam tiga komponen, yaitu ketrampilan/keahlian, pengetahuan, dan orientasi profesional. Penjelasan ini berarti selain menambah ketrampilan teknis serta merubah ranah kognisi mahasiswa, proses belajar seharusnya juga menambah ranah emosi mahasiswa, yang peneliti gabungkan ke dalam kelompok kecerdasan emosi. Oleh karena itu, peneliti menjadikan kecerdasan emosional sebagai variabel dependen, untuk mengetahui apakah kecerdasan emosional seorang mahasiswa dipengaruhi oleh proses belajar mengajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang dialaminya, sesuai latar belakang penelitian ini.
Accounting Education Change Comission (AECC) yang dibentuk di Amerika Serikat untuk menindaklanjuti pernyataan The Bredford Comitee mengatakan bahwa pendidikan akuntansi setidaknya harus dapat mempersiapkan peserta didik untuk memulai dan mengembangkan keanekaragaman karir profesional dalam bidang akuntansi. Untuk itu diperlukan tidak semata-mata pengetahuan bisnis dan akuntansi, tetapi juga penguasaan ketrampilan intelektual, interpersonal, dan komunikasi serta orientasi professional. The Institute of Chartered Accountants of Australia (ICCA) pernah mengadakan beberapa riset dan menemukan bahwa berbagai perusahaan, baik yang bergerak di bidang komersil, industri ataupun kantor publik, merekrut pekerja baru yang tidak hanya menguasai ketrampilan tehnis akuntansi tetapi juga memiliki ketrampilan interpersonal yang baik, ketrampilan berkomunikasi secara tertulis dan verbal, serta mereka yang memiliki kepercayaan diri dan kemampuan presentasi personal yang memadai (Ward, 1996, dalam Bulo, 2002).
Pada tahun 1993, ICAA mengelurkan satuan tugas khusus yaitu The Skill for The 21st Century Task Force, untuk meneliti masalah yang berhubungan dengan perubahan kebutuhan pada akuntan di abad ke-21. satuan tugas ini menemukan bahwa di abad 21 ini, akuntan yang dibutuhkan adalah yang memiliki kompetensi sebagai berikut: ketrampilan akuntansi, ketrampilan komunikasi, ketrampilan negosiasi, ketrampilan interpersonal, kemampuan intelektual, pengetahuan manajemen dan organisasi, atribut personal. Pada tahun 1996, survey yang dilakukan oleh lembaga yang menemukan bahwa tiga ketrampilan yang paling dicari pada karyawan baru oleh kalangan pemberi kerja adalah komunikasi lisan, kemampuan antar pribadi, dan kemampuan bekerja dalam tim.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Berbagai penelitian mengatakan bahwa kecerdasan emosional memiliki peranan lebih dari 80 persen untuk mencapai kesuksesan hidup, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Dalam kehidupan akademik, tampaknya kecerdasan emosional juga memiliki peranan yang besar. Kecerdasan emosional tidak permanen seperti halnya kecerdasan kognisi yang tidak berubah sejak manusia dilahirkan. Kecerdasan emosional dapat berubah sesuai dengan pengalaman hidup yang dialami oleh seseorang. Untuk menjadi seorang sarjana, dibutuhkan proses yang panjang, usaha yang keras dan dukungan dari berbagai pihak. Proses ini akan mempengaruhi pengalaman hidup mahasiswa.
Berbagai tantangan dan hambatan, baik yang berhubungan dengan proses belajar mengajar maupun hal lain yang melingkupinya dapat menjadi sarana bagi seorang mahasiswa untuk melatih diri dalam mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Proses belajar mengajar pendidikan tinggi akuntansi melibatkan berbagai unsur kecerdasan emosi, baik kompetensi pribadi berupa kesadaran diri, pengendalian diri, dan motivasi maupun kompetensi sosial, berupa empati dan ketrampilan sosial. Proses untuk menjadi seorang sarjana ini secara langsung ataupun tidak langsung akan mengembangkan kecerdasan emosional mahasiswa.
Berdasarkan uraian ini, dapat diasumsikan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa dapat dipengaruhi oleh pendidikan tinggi akuntansi. Kecerdasan emosional dianggap berubah karena pengaruh proses belajar mengajar dalam segala aspeknya di lembaga pendidikan tinggi akuntansi, sehingga semakin lama seorang mahasiswa merasakan pengalaman belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi maka akan semakin tinggi pula tingkat kecerdasan emosionalnya. Oleh karena itu, diajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 1: Ada pengaruh positif antara lama waktu mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi dengan kecerdasan mahasiswa.
Mayer dalam Goleman (2000) menyatakan bahwa kecerdasan emosi berkembang sejalan usia dan pengalaman dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Dan yang lebih penting, kecerdasan emosional dapat dipelajari. Kecerdasan emosional tidak tetap secara genetis, melainkan dapat meningkat sepanjang kita masih hidup. Hal ini berarti semakin bertambah umur seseorang, maka semakin banyak pula pengalaman hidupnya, yang pada gilirannya akan menambah tingkat kecerdasan emosionalnya. Berbagai pengalaman hidup tersebut akan membuat seseorang semakin mengenal dirinya, semakin terampil mengendalikan diri, memotivasi diri, bias memahami orang lain dan memiliki ketrampilan social untuk berhubungan baik dengan orang lain.
Kesempatan belajar di suatu lembaga pendidikan tinggi memungkinkan mahasiswa mengembangkan diri sesuai dengan kekhususan pendidikan tinggi yang diikutinya. Dalam Sukirno (1999) yang diadaptasi oleh Bulo (2002), Morgan seorang psikolog pendidikan menulis bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Belajar selalu melibatkan adanya perubahan didalam diri orang yang belajar, yang bisa terjadi dengan sengaja, bisa pula tidak, bias lebih baik, bias lebih buruk.
Kesempatan mengembangkan diri di lembaga tinggi akuntansi mengakibatkan seorang mahasiswa memiliki ketrampilan dan pengetahuan akuntansi, selain itu proses belajar mengajar dalam segala aspeknya juga dianggap akan mengembangkan kecerdasan emosional mahasiswa tersebut. Dengan tambahan pengalaman belajar di pendidikan tinggi akuntansi maka diasumsikan kecerdasan emosi seorang mahasiswa akan lebih baik disbanding pemuda sebayanya yang tidak pernah belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi. Perkembangan kecerdasan emosional pemuda yang tidak belajar di lembaga pendidikan tinggi, termasuk lembaga pendidikan tinggi akuntansi semata-mata hanya dipengaruhi faktor usia, dimana bertambahnya usia akan menambah pengalaman hidup yang pada gilirannya akan meningkatkan kecerdasan emosionalnya pula.
Berdasarkan uraian ini, dapat diasumsikan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa dapat dipengaruhi oleh pengalaman belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi. Pertambahan kecerdsan emosional karena pengaruh pengalaman belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi dianggap lebih tinggi daripada pertambahan yang disebabkan oleh faktor usia semata. Sehingga semakin lama seorang mahasiswa merasakan manfaat belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi maka tingkat kecerdasan emosionalnya akan lebih tinggi dibandingkan pemuda sebayanya yang tidak pernah merasakan pengalaman belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi. Oleh karena itu, diajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 2: Ada pengaruh positif antara pengalaman mengikuti proses belajar mengajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi dengan kecerdasan emosional seseorang. Hal ini berarti, seseorang yang pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi akuntansi akan memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi dari pemuda sebayanya yang tidak pernah mengalaminya
Akreditasi dalam dunia pendidikan tinggi adalah pengakuan atas suatu lembaga pendidikan yang menjamin standar minimal sehingga lulusannya memenuhi kualifikasi untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi atau memasuki pendidikan spesialisasi, atau untuk dapat menjalankan praktek profesinya. Penilaian ini diselanggarakan oleh badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi melakukan penilaian secara berkala yang meliputi kurikulim, mutu dan jumlah tenaga kependidikan, keadaan mahasiswa, pelaksanaan pendidikan, sarana dan prasarana, tatalaksana administrasi akademik, kepegawaian, keuangan, dan kerumahtanggaan. Hasil penghitungan semua kriteria ini menghasilkan peringkat dari yang terbaik sampai yang belum memenuhi kualifikasi yang diharapkan: A, B, C, dan Nir-Akreditasi. Status terakreditasi atau Nir-Akreditasi diberikan kepada semua perguruan tinggi tanpa membedakan lagi negeri dan swasta (Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta, dan Perguruan Tinggi Kedinasan).
Akreditasi adalah satu-satunya ukuran tentang kualitas suatu lembaga pendidikan tinggi yang dapat dipercaya karena dinilai oleh suatu lembaga independen berdasarkan kriteria yang telah beku. Hasil penelitian BAN-PT berupa pringkat akreditasi suatu perguruan tinggi merupakan cermin kinerja perguruan tinggi yang bersangkutan dan menggambarkan mutu, efisiensi, serta relevansi suatu program studi yang diselanggarakan. Perbedaan tingkat akreditasi lembaga pendidikan tinggi juga dapat dianggap menunjukkan perbedaan kualitas proses belajar mengajar di lembaga tersebut. Perbedaan kualitas proses belajar mengajar ini, serta aspek-aspek lain yang melingkupinya diasumsikan mengahasilkan pengaruh yang berbeda pula bagi mahasiswa yang mengikuti proses ini.
Suatu lembaga pendidikan tinggi yang berakreditasi A dianggap berkualitas lebih baik dimana proses belajar mengajar yang diselanggarakan oleh suatu lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang berakreditasi B. hal ini berarti mahasiswa yang belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakrediatasi A akan mendapatkan proses belajar mengajar yang lebih baik dibanding yang berakreditasi B. pada gilirannya, pengetahuan dan ketrampilan akuntansi serta efek lain dari pendidikan juga akan lebih baik daripada mahasiswa yang belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakreditasi B, termasuk pengaruhnya pada kecerdasan emosional mahasiswa tersebut.
Kecerdasan emosional mahasiswa yang belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakreditasi A diasumsikan lebih baik dibandingkan kecerdasan emosional mahasiswa yang belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakreditasi B, karena pengaruh yang berbeda akibat beda kualitas proses belajar mengajar lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang berbeda peringkat akreditasinya.
Berdasarkan uraian ini, dapat diasumsikan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa dapat dipengaruhi oleh kualitas lembaga pendidikan tinggi akuntansi tempat mahasiswa tersebut menuntut ilmu. Kecerdasan emosional dianggap berbeda perubahannya karena pengaruh perbedaan kualitas proses belajar mengajar, yang ditunjukkan oleh peringkat akreditasi lembaga pendidikan tinggi akuntansi tempat mahasiswa merasakan pengalaman belajar maka akan semakin tinggi pula tingkat kecerdasan emosionalnya. Oleh karena itu, diajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 3: Ada pengaruh positif antara kualitas pendidikan tinggi akuntansi dengan kecerdasan emosional seseorang.
Hal ini berarti, semakin berkualitas lembaga pendidikan tinggi akuntansi, maka semakin tinggi kecerdasan emosional mahasiswanya.

METODA PENELITIAN
Populasi dan sampel
Populsi dalam penelitian ini meliputi mahasiswa akuntansi junior, berasal dari angkatan 2002 dan mahasiswa akuntansi tingkat akhir yang telah menempuh lebih dari 120 SKS yang belajar di lembaga tinggi akuntansi yang terdapat di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Populasi juga diambil dari pemuda berusia sebaya dengan mahasiswa tingkat akhir yang belum pernah kuliah dan sedang bekerja di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sampel mahasiswa diambil dari 5 universitas berakreditasi A dan B, yaitu dari mahasiswa junior dan tingkat akhir jurusan akuntansi di Universitas Gajah Mada, Universitas Pembangunan Nasional, Universitas Islam Indonesia, STIE YKPN dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sampel penelitian untuk pemuda yang berusia sebaya dengan mahasiswa tingkat akhir diambil dari karyawan yang bekerja pada perusahaan percetakan, fotokopi, pramuniaga toko, dan wartel.
Mahasiswa junior merupakan mahasiswa dari angkatan 2002/2003 dan lulus dari bangku SLTA pada tahun 2002 dan saat penelitian ini dilakukan, mereka baru semester 3 (tiga). Sedangkan untuk angkatan 2003, mereka baru memiliki pengalaman pengajaran akuntansi belum genap 1 (satu) semester. Kelompok ini mewakili mereka yang relatif sedikit mengalami pengajaran akuntansi, sehingga pengaruh pengajaran akuntansi terhadap mereka relatif terbatas, termasuk untuk aspek kecerdasan emosional.
Mahasiswa tingkat akhir merupakan mahasiswa yang telah menempuh lebih dari 120 SKS, sehigga dapat dianggap telah memperoleh manfaat maksimal dari pengajaran akuntansi. Angkatan untuk responden ini dibatasi berasal dari lulusan SLTA tahun 1999 dan 2000 hal ini dilakukan untuk menjaga ekuivalensi responden yang hendak dibandingkan. Sedangkan angkatan 2001 memiliki pengalaman pengajaran akuntansi yang relatif singkat, yaitu kurang dari 3 tahun sehingga dianggap kurang memperoleh manfaat pengajaran akuntansi terutama pada bidang kecerdasan emosional secara maksimal.
Kelompok terkhir adalah pemuda berusia sebaya dengan responden yang berasal dari mahasiswa tingkat akhir, yaitu mereka yang berasal dari lulusan SLTA tahun 1999 dan 2000, dan belum pernah mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi.. Sampel yang dipilah adalah karyawan yang bekerja pada bidang klerikal di perusahaan percetakan, fotokopi, pramuniaga toko dan warung telekomunikasi.
Untuk responden mahasiswa diberi batasan tambahan bahwa belum pernah kuliah di lembaga pendidikan tinggi apapun sebelumnya, tidak sedang kuliah di dua atau tiga tempat sekaligus, dan tidak sedang bekerja secara full time, serta diterapkan kriteria tidak pernah nonaktif selama masa kuliah, sehingga tidak ada pengaruh terhadap kecerdasan emosional secara signifikan akibat intervensi kegiatan di luar kampus. Dalam penyebaran kuesioner, diusahakan komposisi yang seimbang antara pria dan wanita, demikian pula keseimbangan komposisis beberapa karakteristik lainnya antar kelompok responden
Penyebaran kuesioner dilakukan dengan mendatangi satu persatu calon responden, mengecek apakah calon memenuhi persyaratan sebagai calon responden, lalu menanyakan kesediaan untuk mengisi kuesioner. Penyebaran ini dilakukan sendiri oleh peneliti, juga dibantu oleh sejumlah rekan peneliti dan asisten peneliti.
Total kuesioner yang disebarkan dalam penelitian ini sebanyak 500 eksemplar. Dari jumlah tersebut, kuesioner yang kembali sebanyak 377 eksemplar. Rincian pengembalian kuesioner digambarkan dalam tabel 1.
Selanjutnya kuesioner yang kembali diteliti lagi, untuk mengecek karakteristik responden, kelengkapan, serta kesungguhan pengisihan. Kuesioner yang tidak memenuhi persyaratan, kuesioner yang tidak lengkap terisi dan yang tidak diisi dengan sungguh-sungguh dikeluarkan dari analisis selanjutnya. Diperoleh kuesioner yang dapat diuji lebih lanjut sebesar 222 eksemplar. Gambaran kuesioner yang dapat diolah dijabarkan dalam tabel 2.

KARAKTERISTIK RESPONDEN
Tabel 3, dapat diketahui ke empat kelompok responden relatif ekuivalen meski pada beberapa elemen terdapat sedikit perbedaan komposisi, misalnya pada elemen tempat tinggal responden dimana prosentase kelompok responden karyawan yang tinggal bersama orang tua sebesar 28% berbeda dengan kelompok responden lainnya dimana prosentase yang tinggal bersama orang tua hanya berkisar antara 8% – 12%. Mayoritas kelompok responden lainnya tinggal di tempat indekos. Bila dilihat secara keseluruhan responden laki-laki sebesar 100 orang atau 45% lebih sedikit dari responden perempuan yaitu sebesar 122 orang atau 54%. Perbedaan kuantitas ini diabaikan karena tujuan dari penelitian ini tidak untuk melihat isu gender dalam kaitannya dengan kecerdasan emosional.
SKS pernah tempuh mahasiswa junior berkisar antara 40 – 70 SKS. Sedangkan mahasiswa tingkat akhir baik itu yang berakreditasi A ataupun yang berakreditasi B rata-rata telah menempuh lebih dari 140 SKS dan sedang menempuh skripsi.
Elemen status pekerjaan, kelompok responden mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A memiliki prosentase yang paling besar dimana banyak responden yang selain kuliah juga aktif bekerja secara part time ataupun magang. Prosentasenya mencapai 12% lebih tinggi dari yang lain berkisar antara 5% – 8%, dalam hal ini tentu saja tidak termasuk kelompok responden karyawan dimana 100% adalah pekerja. Bila dilihat dari elemen keaktifan di organisasi dari kelompok responden mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A berbeda dengan kelompok responden lain. Sebagian besar dari kelompok responden ini adalah aktivis organisasi yang mencapai prosentase 47%. Berbeda dengan kelompok responden lain dimana prosentase aktivisnya berkisar antara 34% – 44%.
VARIABEL DAN PENGUKURAN
Untuk mengukur variabel dependen, yaitu tingkat kecerdasan emosional mahasiswa, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berdasarkan Goleman dari model Solovey dan Meyer yang diadabtasi lagi oleh Bulo (2002) dengan menyusun dan memodifikasi kuesioner ini mengacu pada prosedur penyusunan skala psikologi dari Azwar (2000).
Kuesioner kecerdasan emosional terdiri dari 50 pertanyaan yang terbagi pernyataan Favourable dan unfavaurable. Teknik skala ini mengacu pada Likert Scale 5 Point. Kelima alternatif jawaban tersebut adalah sangat sesuai (SS), sesuai (S), ragu-ragu (RR), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS).
UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS
Hasil uji validitas dengan menggunakan program dapat dilihat pada tabel 4. Dari 222 data yang masuk, didapatkan bahwa semua aitem kecerdasan emosional yang digunakan dalam penelitian ini valid. Dari seluruh 50 aitem yang valid dilakukan uji reliabilitas dengan melihat nilai alfa Cronbach dengan nilai sebesar 0,7738, hal ini menunjukkan instrumen penelitian ini dapat diandalkan. Hasil uji reliabilitas terinci pada tabel 3.
TEHNIK ANALISIS DATA
Hipotesis pertama, kedua, dan ketiga diuji dengan membandingkan tingkat kecerdasan emosional antara kedua kelompok subjek, digunakan uji t untuk 2 sampel independen (independent sample t test).

ANALISIS HASIL PENELITIAN
Hasil statistika deskriptif dari skor kecerdasan emosional masing-masing kelompok responden dapat dilihat pada tabel 6 terdapat perbedaan selisih skor kecerdasan emosional terbesar yang berkisar antara 148 – 235 terdapat pada kelompok karyawan, yang menunjukkan adanya anggota kelompok yang meiliki skor relatif rendah dan adalah pula yang mencapai skor sangat tinggi sehingga perbedaanya sangat besar. Sedangkan selisih yang paling kecil terdapat pada kelompok responden mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A yang berkisar antara 154 – 200, hal ini menunjukkan kecilnya perbedaan skor kecerdasan emosional antara responden dalam kelompok ini. Dengan range 200, nilai skor kecerdasan emosional minimal adalah 50 dan maksimal 250, maka mahasiswa akuntansi junior adalah yang terendah, hanya mencapai 55,97% dari nilai maksimal yang dapat dicapai, sedangkan mean kelompok responden karyawan adalah yang tertinggi, mencapai 61,38% dari nilai maksimal yang bisa dicapai. Mean bersama keempat kelompok responden mencapai 166,2387 yang berarti 58,12% dari nilai maksimal yang dapat dicapai. Hal ini menunjukkan tingkat kecerdasan emosional rata-rata responden tidak terlalu tinggi.
Kelompok responden pemuda berusia sebaya dengan mahasiswa tingkat akhir yang bekerja sebagai karyawan meruapakan kelompok responden dengan tingkat kecerdasan emosional tertinggi, hal ini bisa jadi disebabkan oleh pengalaman mereka di dunia kerja. Meski kelompok responden ini dipilih dari mereka yang bekerja di bidang klerikal di perusahaan percetakan, fotokopi, pramuniaga toko dan warung telekomunikasi serta warung makan, namun kecerdasan emosional mereka terasah karena faktor situasi dan kondisi yang mereka hadapi setiap hari di lingkungan kerja, serta dari pengalaman hidup yang relatif lebih berat dari responden mahasiswa karena kebanyakan mereka sudah harus menghidupi diri sendiri, berbeda dengan kelompok responden mahasiswa yang masih dibiayai orang tua.
Kelompok responden yang memiliki tingkat kecerdasan emosional kedua adalah mahasiswa tingkat akhir yang berakreditasi A. dari karakteristik responden, tampak bahwa pengalaman kerja dari kelompok ini adalah yang paling tinggi dari seluruh kelompok-kelompok responden mahasiswa, sedangkan pengalaman aktif di organisasi adalah yang paling tinggi dari seluruh kelompok responden. Dengan memperhatikan kedua temuan ini, bisa jadi tingginya kecerdasan emosional mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.
Selanjutnya yang menduduki peringkat ketiga adalah kelompok responden mahasiswa tingkat akhir yang berakreditasi B. Dibanding dua kelompok lain yang berusia sebaya, prosentase responden dari kelompok ini yang aktif berorganisasi dan memiliki pengalaman kerja yang paling kecil. Hal ini bisa jadi mempengaruhi rendahnya rata-rata tingkat kecerdasan emosional mereka.
Kelompok responden dengan rata-rata kecerdasan emosionala terendah adalah mahasiswa junior. Rendahnya tingkat kecerdasan emosional kelompok ini dapat disebabkan faktor usia yang lebih muda dibanding kelompok responden yang lain. Dari pembahasan di atas, ditemukan bahwa semakin tinggi usia dan semakin banyak aktivitas dalam organisasi serta semakin tinggi pengalaman kerja mempengaruhi tingginya tingkat kecerdasan emosional seseorang.

HIPOTESIS 1

Hasil tabel 7 menunjukkan bahwa skor rata-rata kecerdasan emosional mahasiswa junior adalah 161,9432 lebih rendah dari rata-rata kecerdasan emosional mahasiswa tingkat akhir yaitu 167,6211. diketahui pula t hitung 3,240 dengan t signifikan sebesar 0,001 yang berarti Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan adanya perbedaan tingkat kecerdasan emosional antara mahasiswa tingkat akhir dengan mahasiswa junior, dalam hal ini mahasiswa tingkat akhir memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik daripada mahasiswa junior.

HIPOTESIS 2
Dari hasil perhitungan statistik dalam tabel 8 dapat diketahui skor rata-rata kecerdasan emosional mahasiswa tingkat akhir adalah 167,7692 lebih rendah dari skor rata-rata kecerdasan emosional pemuda sebaya yang berprofesi sebagai karyawan yaitu 172,7692. Diketahui pula t hitung -2,017 dengan t signifikan 0,046 yang berarti Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan adanya perbedaan tingkat kecerdasan emosional antara mahasiswa tingkat akhir dengan pemuda sebaya yang berprofesi sebagai karyawan, dalam hal ini karyawan memiliki tingkat kecerdasan emosional lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir.

HIPOTESIS 3

Dari hasil perhitungan statistik dalam tabel 9 dapat diketahui skor rata-rata kecerdasan emosianal mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A adalah 170,3509 lebih tinggi dari skor rata-rata kecerdasan emosional mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B yaitu 163,5263. Diketahui pula t hitung 2,921 dengan t signifikan 0,004 yang berarti Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan adanya perbedaan tingkat kecerdasan emosional antara mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A dengan mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B, dalam hal ini mahasiswa tingkat akhir berakrditasi A memiliki tingkat kecerdasan emosional lebih baik dari pada mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B.

PEMBAHASAN

Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan tinggi akuntansi ternyata tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kecerdasan emosional mahasiswanya. Hal ini bisa dilihat dari hasil hipotesis kedua yang menyatakan bahwa tingkat kecerdasan emosional karyawan lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir, meskipun hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan adanya perbedaan skor kecerdasan emosional mahasiswa tingkat akhir dengan mahasiswa junior. Hal ini dimungkinkan karena faktor perbedaan usia saja, bukan karena lama waktu mengikuti pendidikan tinggi akuntansi. Kelompok responden pemuda berusia sebaya dengan mahasiswa tingkat akhir memiliki tingkat kecerdasan emosional lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir, hal ini disebabkan oleh pengalaman mereka di dunia kerja. Meski kelompok ini dipilih dari mereka yang bekerja di bidang klerikal di perusahaan percetakan, fotokopi, pramuniaga toko, dan warung telekomunikasi serta warung makan, namun kecerdasan emosional mereka terasah karena faktor situasi dan kondisi yang mereka hadapi setiap hari di linkungan kerja, serta dari pengalaman hidup yang relatif lebih berat dari responden mahasiswa karena mereka harus menghidupi diri sendiri, berbeda dengan kelompok responden mahasiswa yang masih dibiayai orang tua.
Lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang memiliki tingkat akreditasi A, dalam hal ini menunjukkan bahwa kualitas lembaga pendidikan tinggi akuntansi baik, dalam penelitian ini terbukti bahwa mahasiswanya memang memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B, hal ini dimungkinkan karena mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A memiliki peringkat lebih tinggi daripada mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B dalam hal keaktifan di organisasi dan bekerja secara part time ataupun magang. Kanyataan ini kemungkinan juga disebabkan karena proses belajar mengajar atau metoda pembelajaran yang berbeda antara lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakreditasi A dengan lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakreditasi B.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Bulo (2002) yang menunjukkan bahwa pendidikan tinggi akuntansi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kecerdasan emosional mahasiswanya. Namun demikian, hasil penelitian ini terdapat perbedaan dengan penelitian Bulo (2002). Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional karyawan lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir, sedangkan dalam penelitian Bulo (2002) menyatakan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa tingkat akhir relatif sama dengan karyawan. Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B, sedangkan penelitian Bulo (2002) menunjukkan hasil yang tidak berbeda secara signifikan.

SIMPULAN

Meski tingkat kecerdasan emosional mahasiswa junior dan mahasiswa tingkat akhir jurusan akuntansi berbeda secara signifikan, namun perbedaan itu lebih dipengaruhi oleh faktor usia semata. Hal ini dapat diketahui karena tingkat kecerdasan emosioanal mahasiswa tingkat akhir berbeda secara signifikan dengan pemuda sebaya yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi akuntansi, karyawan memiliki skor kecerdasan emosional yang lebih baik daripada mahasiswa tingkat akhir, sehingga pengalaman mengikuti pendidikan tinggi akuntansi ternyata tidak menimbulkan perbedaan tingkat kecerdasan emosional seseorang. Kualitas lembaga pendidikan tinggi akuntansi yang lebih baik terbukti memberikan pengaruh berarti terhadap tingkat kecerdasan emosional seorang mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa tingkat akhir yang belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakreditasi A memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik dibanding mahasiswa yang belajar di lembaga pendidikan tinggi akuntansi berakreditasi B.
Penelitian ini juga menemukan dan membuktikan hasil penelitian Bulo (2002) bahwa perbedaan usia, perbedaan pengalaman berorganisasi, perbedaan pengalaman kerja serta perbedaan pengalaman dalam menjalani hidup amat menentukan perbedaan pekembangan kecerdasan emosional seseorang. Mereka yang lebih tua dalam usia, memiliki lebih banyak pengalaman berorganisasi, lebih banyak pengalaman kerja serta memiliki pengalaman hidup yang lebih berat menunjukkan pemilikan kecerdasan emosional yang lebih tinggi.

KELEMAHAN

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang diperhatikan untuk menjaga ekuivalensi responden terbatas pada usia, status perkawinan, angkatan masuk kuliah/tahun lulus SLTA, status perkawinan dan keaktifan berorganisasi, pola asuh dalam keluarga, serta pola hubungan dengan lingkungan tempat dibesarkan dan tempat tinggal kini.
Keterbatasan yang lain adalah penelitian ini terbatas pada menganalisis pengaruh pendidikan tinggi akuntansi terhadap kecerdasan emosional mahasiswa. Padahal di lingkungan dunia pendidikan, kesuluruhan aspek kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) perlu mendapat bobot yang seimbang. Hal ini penting mengingat IQ saja tidak menjamin keberhasilan hidup seseorang, demekian pula kalau hanya sekedar EQ tidak akan mampu mendukung keberhasilan hidup seseeorang secara utuh, material dan spiritual.
SARAN

Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya digunakan kuesioner kecerdasan emosional serta alat ukur lain yang mampu lebih teliti menggambarkan kecerdasan emosional seseorang dan lebih banyak lagi faktor-faktor yang dimasukkan untuk menjaga ekuivalensi responden.
Penerapan keseluruhan aspek kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) ini sangat efektif kalau dilakukan dalam kegiatan bimbingan konseling di setiap lembaga pendidikan. Pemahaman EQ dan SQ akan lebih mudah dilakukan dalam kegiatan tatap muka secara langsung dengan menggugah hati nurani setiap peserta didik untuk berperilaku baik dan mampu mengendalikan diri serta berinteraksi dengan orang lain secara baik pula.
Pengaruh pengalaman mengikuti pendidikan tinggi akuntansi terhadap kecerdasan emosional, yaitu adanya perbedaan kecerdasan emosional antara mahasiswa tingkat akhir dengan pemuda sebaya dengan mahasiswa tingkat akhir yang bekerja sebagai karyawan perlu diteliti lebih lanjut untuk mahasiswa selain pendidikan tinggi akuntansi.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraita, Gita. (2000). Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Kemampuan Teknis dan Penalaran Yang Didapatkan Melalui Proses Pengajaran Akuntansi Di Perguruan Tinggi. Skripsi FE-UGM.

Arini, Sri Hermawati Dwi. Musik Merupakan Stimulasi Terhadap Keseimbangan Aspek Kognitif dan Kecerdasan Emosi. http://www.depdiknas.co.id/jurnal/30/editorial.htm-32k.

Bulo, William E L. (2002). Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi Terhadap Kecerdasan Emosional Mahasiswa. Skripsi. FE UGM.

Cherniss, Cary. (2000). Emotional Intelligence: What it is and Way it Matters. Malalah, Society for Indusrial and Organizational Psychology, New Orleans, LA.

Cooper, R.K. dan Sawaf, A. (1998). Executive EQ: Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi. (Terjemah T. hermaya). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel. (2000). WorkingWith Emotional Intelligence. (Terjemahan Alex Tri kantjono W.). Jakarta: PT Gramedia Puataka Utama.

Hanifah, Syukriy Abdullah. (2001).Pengaruh Prilaku Belajar Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Akuntansi. Media Riset Akuntansi, Auditing dan Imformasi, Vol 1, No.3, 63-86

Harefa, Andrias. (2000). Perlukah Sekolah/Universitas Dipertahankan? Buletin Indonesia Belajarlah. Jakarta: Indonesia School of Life.

http://www. Canadoane.com/magazine/mr060198.

http://www.hokuriku_mol.twoglobe.com/baru.html. Kecerdasan Emosional.

http://www.pts.co.id/ban.asp. (2002). Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Kukila, Aditayani Indra. (2001). Kecerdasan Emosional dan Prestasi Kerja Agen Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putra 1912 Cabang Jateng II/Yogyakarta. Skripsi, f. Psikologi UGM

Mas’ud Machfoedz. (1998). Survey Minat Mahasiswa Untuk Mengikuti Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP).Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol 13, No.4, 110-124

Mu’tadin, Zainun. (2002). Mengenal Kecerdasan Emosional Remaja.http://www.e-psikologi.com/remaja/250402.htm.

Prakarsa, Wahjudi. (1996). Transpormasi Pendidikan Akuntansi Menuju Globalisasi. Konvensi Nasional Akuntansi III. Jakarta: Ikatan Akuntansi Indonesia.

Rock, Michael E. (2001). Avoiding Costly Hiring Mistakes: EQ and the New Workplace.

Shapiro, Laurence E. 1997. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Jakarta: Gramedia.

Suwardjono (1992).Gagasan Pengembangan Pendidikan dan Profesi di Indonesia: Kumpulan Artikel. BPFE. Yogyakarta.

Suwarjono. (1991). Perilaku Belajar di Perguruan Tinggi. Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Edisi Maret

Suwarjono. (1999). Memahamkan pengetahuan Akuntasi di Tingkat Pengantar. Jurnal Ekonomi dan Ekonomi dan Bisnis Indonesia, VOL. 14, NO. 1: 71-87

Trisnawati, Eka, Suryaningsum, Sri. (2003). Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Pemahaman Akuntansi. Prosiding SNA 6. Surabaya.

Yusuf, Al.Haryono. (1998). Beberapa Catatan Tentang Pengajaran Akuntasi Pengantar. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, VOL 13, NO. 4: 125-137

Ward. (1996). How the Accounting Profession in Australia is Adapting With Its Changing Bisiness Environment. Konvensi Nasional Akuntansi III. Jakarta: Ikatan Akuntansi Indonesia.

Lampiran Tabel
Tabel 1
Tabel Pengembalian Kuesioner
Kelompok responden Disebar Kembali Prosentase
Mahasiswa junior 200 145 72,5%
Mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A 120 93 77,5%
Mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B 80 69 86,3%
Karyawan 100 70 70%
Jumlah 500 377 75,4%

Tabel 2
Tabel Kuesioner yang Dapat Diolah
Kelompok responden Tersedia Gugur Diolah
Mahasiswa junior 145 57 88
Mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A 93 36 57
Mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B 69 31 38
Karyawan 70 31 39
Jumlah 377 155 222

Tabel 3
Karakteristik Responden
keterangan mahasiwa junior mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A Mahasiswa tingkat akhir berakreditsi B karyawan
Usia

19 – 20 88 100%
21 – 22 49 86% 31 82% 27 69%
23 – 24 8 14% 7 18% 12 31%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Jenis kelamin laki-laki 39 44% 25 44% 16 42% 20 51%
perempuan 49 56% 32 56% 22 58% 19 49%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Status perkawinan kawin
Belum kawin 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
cerai
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Tempat tinggal Bersama ortu 10 11% 7 12% 3 8% 11 28%
bersama saudara 6 7% 2 4% 3 8% 13 33%
indekos 72 85% 48 84% 32 84% 15 38%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Angkatan masuk kuliah (thn. Lulus SLTA) 2002/2003 88 100%
2000/2001 25 44% 13 34% 27 69%
1999/2000 32 56% 25 66% 12 31%
Total 57 100% 38 100% 39 100%
SKS pernah tempuh 40 – 70 88 100%
140 – 150 24 42% 9 24%
151< 33 58% 29 76%
Total 88 100% 57 100% 38 100%
Indeks Prestasi Komulatif <2,50 4 5%
2,51 – 3,00 36 41% 17 30% 7 18%
3,01 – 3,50 45 51% 35 61% 30 79%
3,51< 3 3% 5 9% 1 3%
Total 88 100% 57 100% 38 100%
Asal SLTA kota 81 92% 54 95% 30 79% 27 69%
semi urban 7 8% 3 5% 8 21% 12 31%
desa
Total 88 100% 57 100% 100% 39 100%
Status pekerjaan bekerja 4 5% 7 12% 3 8% 39 100%
Tidak bekerja 84 95% 50 88% 35 92%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Status keaktifan di organisasi aktivis 30 34% 27 47% 16 42% 17 44%
Bukan aktivis 58 66% 30 53% 22 58% 22 56%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Pola asuh dalam keluargaan otoriter 3 8%
demokratis 74 84% 49 86% 33 87% 26 67%
bebas 14 16% 8 14% 5 13% 10 25%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Pola hubungan dengan lingkungan tempat dibesarkan individual 16 18% 9 16% 9 24% 10 26%
sosial 72 82% 48 84% 29 76% 29 74%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%
Pola hubungan dengan tempat tinggal kini individual 31 35% 25 44% 14 37% 14 36%
sosial 57 65% 32 56% 24 63% 25 64%
Total 88 100% 57 100% 38 100% 39 100%

Tabel 4
Hasil uji validitas
Variabel kecerdasan emosional Kuesioner yang diuji Signifikansi
Pengenalan diri 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 0,000
Pengendalian diri 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20 0,000 – 0,015
Motivasi 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30 0,000 – 0, 003
Empati 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40 0,000 – 0,029
Keterampilan sosial 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50 0,000 – 0,040
Total 50 0,000 – 0,040

Tabel 5
Hasil Uji Reliabilitas

Variabel kecerdasan emosional Kuesioner yang diuji Alpha if Item Deleted
Pengenalan diri 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 0,7641 – 0,7718
Pengendalian diri 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20 0,7639 – 0, 7744
Motivasi 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30 0,7670 – 0, 7730
Empati 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40 0,7678 – 0,7749
Keterampilan sosial 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50 0,7652 – 0,7752
Total 50

Tabel 6
Statistik Deskriptif Masing-masing Kelompok Responden
Kelompok responden N Minimum Maksimum Mean Std. Deviation
Mahasiswa junior 88 134 195 161,9432 12,10619
Mhs tgkt akhir akreditasi A 57 154 200 170,3509 10,55173
Mhs tingk.akhir akreditasi B 38
144 199 163,5263 12,01291
Karyawan 39 148 235 172,7692 17,11949
Valid N (listwise) 222 134 235 166,2387 13,44039

Tabel 7
Hasil uji T – test
Keterangan Rata-rata kecerdasan emosional T hitung T signifikan Keterangan
Mahasiswa tingkat akhir 167.6211 3.240 0.001 Ho1 ditolak
Mahasiswa junior 161.9432

Tabel 8
Hasil uji T test
Keterangan Rata-rata kecerdasan emosional T hitung T signifikan Keterangan
Mahasiswa tingkat akhir 167,6211 -2,017 0,046 Ho2 ditolak
Karyawan 172,7692

Tabel 9
Hasil uji T test
Rata-rata kecerdasan emosional T hitung T signifikan Keterangan
Mahasiswa tingkat akhir berakreditasi A 170,3509 2,921 0,004 Ho3 ditolak
Mahasiswa tingkat akhir berakreditasi B 163,5263

Kuesioner

DATA RESPONDEN
Nama: (boleh tidak diisi)
Umur: tahun Jenis Kelamin: laki-laki / perempuan*

Tahun masuk PT (angkatan):

PENDIDIKAN
Anda kuliah di Univ./jurusan angkatan tahun
Berapa totak SKS yang sudah Anda kumpulkan saat ini SKS
Berapa indeks prestasi kumulatif (IPK) Anda saat ini

Petunjuk Pengisian:
1. Isilah semua nomor dalam angket ini dan jangan ada yang terlewatkan
2. Pilihan:
SS: Jika pertanyaan tersebut SANGAT SESUAI dengan diri Anda
S: Jika pertanyaan tersebut SESUAI dengan diri Anda
TS: Jika pertanyaan tersebut TIDAK SESUAI dengan diri Anda
STS: Jika pertanyaan tersebut SANGAT TIDAK SESUAI dengan diri Anda
RR: jika pertayaan tersebut RAGU-RAGU dengan diri Anda

No P e r n y a t a a n SS S RR TS STS
1. Saya menyukai diri saya apa adanya
2. Saya tahu betul kekuatan diri saya
3. Saya sering merasa khawatir tanpa alasan tertentu
4. Saya mudah marah tanpa alasan yang jelas
5. Saya sering meragukan kemampuan saya
6. Saya sering merasa tidak mampu melakukan sesuatu
7. Saya merasa khwatir terhadap masa depan saya
8. Saya berani tampil beda diantara teman-teman saya
9. Saya mempunyai kemampuan untuk mendapatkan apa yang saya inginkan
10. Saya akan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya, meskipun saya tidak menyukai
11. Saya kurang sabar bila menghadapi orang lain
12. Saya sulit pulih dengan cepat sesudah merasa kecewa

No. P e r y a t a a n SS S RR TS STS
13. Saya memikirkan apa yang saya inginkan sebelum bertindak
14. Saya tetap tenang, bahkan dalam situasi yangb membuat orang lain marah
15. Saya dapat mengendalikan hidup saya
16. Saya lebih cepat tenang daripada orang lain
17. Saya sering merasa cepat bosan dan jenuh dalam melakukan sesuatu
18. Persaingan yang ketat mengurangi semangat saya
19. Demi sasaran lain yang lebih besar, saya dapat menunda pemuasan kesenangan sesaat saya, misalnya mengobrol, menonton TV, main game, jalan-jalan, dll
20. Saya segera menyelesaikan pekerjaan yang sudah saya rencanakan dengan tidak mengulur-ulur waktu
21. Rasanya saya tidak tahu apa yang menjadi tujuan hidup saya
22. Saya suka mencoba-coba hal baru
23. Saya malas mencoba lagi jika pernah gagal pada pekerjaan yang sama
24. Saya berperan serta dalam berbagai informasi dan gagasan
25. Saya senang menghadapi tantangan untuk memecahkan masalah
26. Bila saya memenuhi hambatan dalam mencapai suatu tujuan, saya akan beralih pada tujuan lain
27. Saya mudah menyerah pada saat menjalankan tugas yang sulit
28. Saya lebih banyak dipengaruhi perasaan takut gagal daripada harapan untuk sukses
29. Saya tertarik pada pekerjaan yang menuntut saya memberikan gagasan baru
30. Saya sering melakukan introspeksi untuk menemukan kembali hal-hal yang penting dalam hidup saya
31. Saya mempunyai banyak teman dekat dengan latar belakang yang beragam
32. Saya biasanya dapat mengetahui bagaimana persaan orang lain terhadap saya
33. Saya merasa bahwa teman saya akan menjatuhkan saya
34. Sulit bagi saya memahami sudut pandang orang lain

No. P e r n y a t a an SS S RR TS STS
35. Saya merasa canggung ketika berbicara dengan orang yang tidak saya kenal
36. Saya dapat membuat orang lain yang tidak saya kenal bercerita tentang diri mereka
37. Dalam suatu pertemuan, apa yang saya sampaikan biasanya menarik perhatian orang lain
38. Saya dapat melihat rasa sakit pada orang lain, meskipun mereka tidak membicarakannya
39. Ketika teman-teman saya memiliki masalah, mereka meminta nasehat kepada saya
40. Saya bisa menempatkan diri pada posisi orang lain
41. Saya dapat menerima kritik dengan pikiran terbuka dan menerimanya bila hal itu dapat dibenarkan
42. Saya merasa sulit untuk mengembangkan topik pembicaraan dengan orang lain
43. Saya merasa sulit menemukan orang yang bisa diajak bersahabat secara dekat
44. Saya berpedoman pada etika ketika berhubungan dengan orang lain
45. Masalah-masalah pribadi saya tidak mengganggu pergaulan saya dengan orang lain
46. Saya dapat merasakan suasana hati suatu kelompok ketika saya memasuki suatu ruangan
47. Saya merasa tertekan dan tidak banyak bicara ketika berada diantara orang banyak
48. Pada waktu berbicara dalam suatu diskusi, saya sering salah tingkah karena banyak orang lain yang memperhatikan
49. Saya mempunyai cara yang menyakinkan agar ide-ide saya dapat diterima orang lain
50. Saya mampu mengorganisasi dan memotivasi suatu kelompok

Posted in JURNAL. 1 Comment »

One Response to “PENGARUH PENDIDIKAN TINGGI AKUNTANSI TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL”


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: