PENGARUH KEBIJAKAN PENGENDALIAN ORGANISASI PADA PROSES dan OUTCOMES NEGOTIATED TRANSFER PRICING

PENGARUH KEBIJAKAN PENGENDALIAN ORGANISASI PADA PROSES
dan OUTCOMES NEGOTIATED TRANSFER PRICING

Oleh
Gagaring Pagalung
Universitas Hasanuddin
&
Sekar Mayangsari
Universitas Trisakti

The objective of this study is to examine the effect of incentives and arbitration on the process and outcomes of negotiated transfer pricing. Two experiments were performed, one with high interdependence between the trading divisions, and the second with low interdependence. The result in this study showed that high interdependence using either incentives or arbitration was superior to using both. The other side, low interdependence using non-arbitration was superior to using of organizational control in negotiated transfer pricing.

Key words: experiment study, incentives, arbitration, negotiated transfer pricing

Pendahuluan

Studi penetapan harga transfer (transfer pricing) hingga saat ini masih hangat diperdebatkan karena efek yang ditimbulkan dalam organisasi perusahaan dapat menimbulkan dysfunctional consequences yang mencakup praktik-praktik judi (gaming), sabotase, pencurian, inefisiensi, pseudo-profit centres, konflik tujuan (conflict of objectives), dan motivasi divisional yang bersifat individual dan lain-lain (McAulay dan Tomkins, 1992). Efek tersebut dapat diselesaikan atau diminimalisir dengan melihat permasalahan kebijakan harga transfer yang dianut suatu organisasi. Salah satu permasalahan yang timbul dalam penetapan kebijakan harga transfer adalah penetapan harga transfer negosiasi (negosiated transfer pricing).
Negosiated transfer pricing (NTP) merupakan salah model yang berkembang dalam usaha pemecahan permasalahan transfer pricing. Model ini disebut pula model keprilakuan (Behavioral Models), karena model ini mengkanji dan menelaah perilaku manajer divisi suatu perusahaan dalam hubungannya dengan kegiatan harga transfer. Model ini masih diperdepatkan apakah dapat mengatasi perilaku manager yang menyimpang ataukah bahkan menimbulkan efek tambahan. Watson dan Baumler (1975) menyatakan bahwa model NTP menguntungkan organisasi karena berpotensi sebagai wahana untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dari berbagai tujuan divisi, sedangkan kelemahannya adalah dapat menimbulkan kinerja yang melihat fungsi kekuatan negosiasi lebih dominan daripada kinerja berbasis ekonomi. Selain itu, kemampuan tawar menawar (bargaining) lebih kuat daripada kontribusi aspek ekonominya.
Tujuan studi ini adalah untuk meneliti pengaruh faktor-faktor pengendalian organisasional (organizational control) pada negotiated transfer pricing dengan berbagai tingkat ketergantungan divisional. Ada dua jenis organizational control yaitu insentif dan arbritage. Insentif merupakan faktor yang mendukung kesuksesan sistem transfer pricing. Grabski (1985) menyimpulkan bahwa dalam proses negotiated transfer pricing akan lebih baik kalau menggunakan insentif yang didasarkan pada laba korporasi (corporate profits) daripada laba divisi (division profits). Temuan Spicer (1988) menunjukkan bahwa semakin besar penghasilan (reward) yang diterima manajer divisi yang dihubungkan dengan laba korporasi, maka akan semakin besar pula dukungan manajer divisi untuk korporasi. Arbitrase merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan suatu sistem penetapan harga transfer (transfer pricing). Temuan Greenberg et al. (1994) menunjukkan bahwa arbitrase adalah salah satu faktor yang mendorong kesuksesan sistem transfer pricing.
Riset struktur organisasi dalam hubungannya dengan penetapan harga transfer telah dilakukan oleh Bailey dan Boe (1976); Eccles (1983); Lambert (1979); dan Watson dan Baumler (1975). Pengendalian kebijakan dan struktur organisasi dapat mempengaruhi tingkat efektifitas atau tercapainya tujuan perusahaan (Williamson 1979; Swieringa dan Waterhouse 1982; Spicer 1988; Melumad dan Reichelstein 1987). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan mengetahui pengaruh kebijakan kontrol organisasi pada sistem penetapan harga transfer dalam berbagai struktur perusahaan akan dapat diketahui manfaatnya bagi pencapaian tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi laba.
Motivasi penelitian ini adalah membahas system penetapan harga transfer dalam suatu organisasi dengan penekanan pada factor-faktor pengendalian organisasional. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana mengintegrasikan dua tujuan perusahaan yaitu efisiensi dan efektifitas dalam bentuk proses penetapan negosiasi harga transfer (negotiated transfer pricing) dalam rangka mengevaluasi kinerja divisional dan otonomi manajerial suatu organisasi perusahaan. Negotiated transfer pricing telah menjadi mekanisme yang dapat digunakan untuk mencapai efisiensi dan efektifitas perusahaan (Watson dan Baumler 1975; Ackelsberg dan Yukl 1979; Grabski 1985). Meskipun banyak perusahaan yang telah menggunakan negotiated transfer pricing, namun masih sedikit bukti empiris yang membahas pengaruh kebijakan kontrol perusahaan untuk mengintegrasikan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan divisi (Anctil dan Dutta 1999). Salah satu cara pengintegrasian tersebut adalah dengan menggunakan sistem negotiated transfer pricing (Greenberg et al. 1994).

Pengembangan Hipotesis
Pada kondisi tingkat ketergantungan tinggi sebagaimana dijelaskan Ackelsberg dan Yukl (1979) menyatakan bahwa jika produk yang ditransfer penting bagi divisi lain maka evaluasi kinerja yang didasarkan pada laba perusahaan akan mendorong tercapainya laba yang lebih besar dibandingkan jika didasarkan pada laba divisional. Arbitrase dapat digunakan untuk meningkatkan laba perusahaan. Spicer (1988) mengungkapkan bahwa salah satu pengaruh arbitrase adalah untuk menjaga perilaku opportunistik pihak manajer divisional. Dengan demikian hipotesis yang diturunkan adalah:
H1a: Dalam kondisi tingkat ketergantungan tinggi, maka laba perusahaan yang
memberikan insentif dengan menggunakan dasar laba perusahaan akan lebih
tinggi dibandingkan dengan insentif yang didasarkan pada laba divisional

H1b: Dalam kondisi tingkat ketergantungan tinggi, maka laba perusahaan yang
menggunakan arbitrase secara signifikan akan lebih tinggi dibandingkan tidak
ada arbitrase

H1c: Dalam kondisi tingkat ketergantungan tinggi, kelompok yang menggunakan arbitrase
dan skema insentif perusahaan akan memiliki tingkat laba yang lebih tinggi
dibandingkan kelompok yang lain

Otonomi Persepsian
Survey Vancil (1979) pada 250 perusahaan menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kompensasi insentif dan otonomi persepsian. Ronen dan McKinney (1970) mendefinisikan keinginan otonomi manajer divisi berhubungan dengan adanya perdagangan yang independen. Karena skema insentif divisional sama dengan perdagangan independen maka diharapkan adanya skema insentif perusahaan akan dapat menurunkan persepsi manajer terhadap otonomi.
Riset Spicer (1988) menunjukkan bahwa arbitrase dapat pula menjadi kendala otonomi divisi karena adanya variabel negosiasi harga transfer sebagai variabel intervening. Hal ini terjadi karena dengan adanya proses negosiasi harga transfer sebagai variable intervening, hubungan antara arbritase dengan otonomi persepsian akan turun. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menggabungkan faktor skema insentif dan arbitrase untuk mempengaruhi persepsi otonomi. Motivasinya adalah ingin menguji ada atau tidaknya interaksi antara arbitrase dengan skema insentif karena perbedaan kedua variabel tersebut akan berpengaruh pada otonomi persepsian. Greenberg (1994) menyatakan bahwa perbedaan pengaruh arbitrase terhadap otonomi persepsian dipengaruhi oleh skema insentif. Berdasarkan pertimbangan di atas, dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Persepsi otonomi akan lebih tinggi pada kelompok yang menggunakan skema insentif
divisional dan tidak ada arbitrase.

Proses dan Hasil Negosiasi
Kaplan dan Atkinson (1989) menyatakan bahwa insentif yang didasarkan pada kinerja perusahaan akan lebih memotivasi manajer untuk bersikap kooperatif dibandingkan pemberian insentif yang hanya didasarkan pada kinerja individual. Dalam setting penetapan harga transfer, menunjukkan bahwa skema insentif perusahaan akan lebih efisien dalam proses negosiasi penetapan harga transfer. Greenberg et al. (1994) menyatakan menyatakan bahwa riset Johnson dan Pruitt (1972) meneliti mediasi versus arbitrase dan hasilnya menunjukkan bahwa manajer yang bernegosiasi (negosiator) yang menggunakan arbitrase akan lebih kooperatif dan lebih cepat mencapai kesepakatan harga. Demikian pula Rubin (1980) menemukan bahwa adanya pihak ketiga akan mempercepat pencapaian solusi pada saat terjadi kondisi konflik. Hal yang sama dikatakan Harris dan Carnevale (1990) menunjukkan adanya pengaruh arbitrase pada proses negosiasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan menerapkan arbritase dalam melakukan negosiasi harga transfer, para manajer divisi (negosiator) selalu mendapatkan solusi.
Skema insentif perusahaan dan arbitrase akan menyebabkan peningkatan efisiensi dan disposisi penawaran dalam proses negosiasi. Hipotesis interaksi proses negosiasi merupakan analog untuk laba dan hipotesis interaksi otonomi persepsian. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis yang berhubungan dengan interaksi proses negosiasi sebagai berikut:
H3a: Dalam kondisi tingkat ketergantungan tinggi, kelompok yang memiliki skema
insentif perusahaan dan arbitrase akan lebih efisien dan efektif

H3b: Ada interaksi yang signifikan antara kelompok dengan proses dan hasil negosiasi.

Design Penelitian
Penelitian ini menggunakan metoda eksperimen between subject 2 x 2, dengan manipulasi pada skema insentif dan arbitrase. Skenario eksperimen melibatkan seorang manajer divisi pembelian dan seorang manajer divisi penjualan. Negosiasi antara kedua manajer tersebut dilakukan secara tertulis dengan tujuan mencapai kesepakatan harga dengan kuantitas barang yang dikehendaki. Manajer divisi pembelian memiliki skedul pendapatan berkaitan dengan harga jual kembali tetapi tidak memiliki informasi tentang kos marjinal. Manajer divisi penjualan hanya memiliki skedul kos marjinal untuk barang yang ditawarkannya. Dalam kondisi ketergantungan tinggi, 67% laba divisi optimal berasal dari perdagangan dan 33% berasal dari pendapatan tetap. Pendapatan marjinal dan skedul kos untuk tingkat ketergantungan tinggi mengacu pada penelitian DeJong et al. (1989).

Manipulasi Insentif
Skema insentif dibagi atas dua jenis skema, yaitu skema divisional dan skema perusahaan. Dalam kondisi skema insentif divisional, subjek menerima 10% dari laba divisinya sendiri, yang terdiri atas pendapatan tetap ditambah dengan laba perdagangan yang berasal dari transfer internal. Untuk divisi pembelian, laba perdagangannya adalah selisih antara nilai jual kembali barang dan jumlah pembayaran yang telah dinegosiasikan dengan penjual. Sedangkan, divisi penjualan, laba perdagangannya berasal dari perbedaan antara jumlah penerimaan negosiasian dari pembeli dan kos yang terjadi dalam memperoleh barang. Model skema kedua, yaitu skema insentif divisional, partner perdagangan (perdagangan manajer divisi penjualan dengan pembelian) tidak mengetahui laba partner.
Dalam skema insentif perusahaan, subjek mendapatkan 10% dari pendapatan tetap divisi ditambah setengah laba perdagangan perusahaan, yaitu perbedaan antara nilai jual kembali barang dan kos yang terjadi dalam memproduksi atau memperoleh barang. Jadi berdasarkan skema insentif ini, divisi pembelian dan penjualan memperoleh laba transfer internal dalam jumlah yang sama. Dalam kondisi skema insentif perusahaan, partner perdagangan membagi laba perdagangannya pada perusahaan, sehingga mereka dapat menghitung dengan mudah laba perdagangan partner.

Manipulasi Arbitrase
Manipulasi arbitrase adalah dikotomi antara tidak adanya arbritase dengan adanya arbitrase (arbitrase compulsory). Dalam kondisi tidak ada arbitrase, jika dalam 6 babak negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan maka terjadi deadlock. Dalam kondisi seperti ini, tidak diperlukan lagi usaha tambahan menyelesaikan negosiasi, sehingga tidak terjadi transfer internal dan laba yang diperoleh hanya laba divisi dari pendapatan tetap.
Dalam kondisi arbitrase compulsory, jika dalam 6 babak negosiasi tidak mencapai kesepakatan maka ada prosedur arbitrase untuk bisa mencapai kesepakatan. Prosedur arbitrase dalam studi ini diambil dari penelitian Hirshleifer (1956) dan tidak menghapuskan informasi privat yang dimiliki partner perdagangan. Informasi privat ini berupa pendapatan marjinal dan kos marjinal. Prosedur arbitrase menetapkan harga transfer dan jumlah barang yang diperjualbelikan didasarkan pada proses negosiasi antara manajer divisi penjualan dan pembelian. Usaha arbitrase tidak untuk mencapai harga dan kuantitas yang optimal. Kondisi ini konsisten dengan adanya informasi privat yang hanya diketahui manajer divisional. Jika transaksi jual-beli dapat mencapai harga dan jumlah transaksi telah disepakati kedua belah pihak, maka terjadilah transfer internal sesuai dengan kesepakatan tersebut. Tetapi jika terjadi deadlock maka tidak ada transfer internal sehingga laba divisi hanya pendapatan tetap.

Tahapan Eksperimen
Jumlah subjek penelitian eksperiman ini sebanyak 120 orang. Subjeknya adalah mahasiswa akuntansi yang sudah mengikuti mata kuliah sistem pengendalian manajemen dan akuntansi manajemen dengan asumsi telah mempelajari dan mengetahui materi harga transfer. Pemilihan partner antar manajer adalah anonim. Subjek ditempatkan pada posisi penjual atau pembeli secara random. Tiap subjek hanya terlibat pada satu kondisi eksperimen, yaitu kondisi ketergantungan tinggi atau kondisi ketergantungan rendah. Partner tiap subjek juga sama sampai perioda eksperimen berakhir.
Sebelum sesi eksperimen dimulai terlebih dahulu diberikan sesi pelatihan dengan tujuan memberikan pemahaman terhadap proses negosiasi dan perhitungan reward yang dapat diperoleh. Jika selama sesi pelatihan subjek mengalami kesulitan atau salah dalam menghitung kompensasinya akan diberitahu secara lisan. Jika sampai selesai sesi pelatihan masih ada subjek yang tidak mengerti maka subjek tersebut tidak diperkenankan ikut dalam sesi eksperimen.
Negosiasi dijalankan selama 8 perioda transaksi. Tiap perioda mencakup 6 babak dimana pada tiap babak dilakukan proses tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Tiap babak diperkenankan untuk dapat atau tidak mencapai kesepakatan harga transfer. Semua komunikasi selama perioda tawar menawar (negosiasi) dilakukan secara tertulis dan informasi tentang harga dan kuantitas juga dibatasi.
Pembeli mempunyai 2 pilihan, yaitu: (a) menerima kombinasi jumlah dan harga tertentu. Hal ini menunjukkan terjadi kesepakatan dan ada transfer internal; (b) menolak semua harga dan jumlah yang ditawarkan oleh penjual dan kemudian pembeli menawarkan harga dan jumlah sesuai dengan keinginannya. Demikian pula pihak Penjual juga memiliki 2 pilihan, yaitu: (a) menerima kombinasi harga dan jumlah tertentu. Hal ini menunjukkan terjadi kesepakatan dan terjadilah transfer internal; atau (b) menolak kombinasi harga dan jumlah yang ditawarkan pembeli dan penjual kemudian memberikan tawaran tandingan. Jika sampai dengan 6 babak (3 tawaran dari pembeli dan 3 tawaran dari penjual) tidak tercapai kesepakatan maka terjadi deadlock. Jika dalam manipulasi tidak ada arbitrase maka tidak ada transfer internal. Jika dalam manipulasi arbitrase compulsory, transfer internal terjadi jika terjadi kesepakatan diantara penjual dan pembeli, kesepakatan harus terjadi dalam 2 babak tambahan. Jika dalam arbitrase juga tidak tercapai kesepakatan maka tidak ada transfer internal.
Tiap penjual dan pembeli akan menghitung laba perdagangan divisinya. Dalam kondisi skema insentif divisional, subjek kemudian menambahkan dengan pendapatan tetapnya. Total laba divisional ini akan menjadi dasar kompensasi yang akan diterima subjek. Dalam kondisi skema insentif perusahaan, tiap penjual dan pembeli melaporkan laba perdagangan pada eksperimenter. Eksperimenter kemudian membagi sama rata pembagian total laba perdagangan antar divisi. Subjek kemudian menambahkan pendapatan tetap dengan jumlah pembagian laba yang diterima dari hasil perdagangan. Total ini yang dijadikan dasar perhitungan kompensasi yang diterima oleh subjek.
Pada akhir sesi subjek akan menghitung kompensasi yang akan diterimanya. Eksperimen ini berjalan selama 2 jam. Untuk meningkatkan validitas internal berbeda dengan yang telah dilakukan Greenberg (1994), maka metoda eksperimen ini menggunakan between subjek. Pembagian kelompok eksperimen ini disajikan dalam Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1. Kelompok Eksperimen

Skema Insentif
Divisional Perusahaan

Arbritase Tidak ada

Compulsory
(Div; NoABT*) (Prsh;NoABT)

(Div;Comp) (Prsh;Comp)
*ABT: Arbitrase

Ukuran Variabel Outcomes
Skema insentif divisonal identik dengan adanya perdagangan yang independen karena pendapatan divisinya hanya bergantung pada tindakan manajer divisi tersebut. Sebaliknya skema insentif perusahaan berarti pendapatan divisinya juga dipengaruhi oleh pendapatan divisi lain. Dengan demikian skema insentif perusahaan akan dapat menurunkan persepsi manajer terhadap otonomi. Perbedaan persepsi otonomi dari para manajer dalam berbagai kondisi dioperasionalkan dengan besar kecilnya laba perusahaan yang berasal dari transfer internal.
Persepsi otonomi diukur dengan menggunakan kuesioner Job Characteristics Inventory (JCI) yang dikembangkan oleh Sims et al. (1976). Ada 5 pertanyaan yang digunakan untuk mengukur JCI tersebut, yaitu:
1. Apakah anda senang melakukan negosiasi sendiri?
2. Apakah anda bersikap independen dalam eksperimen ini?
3. Apakah sikap anda dipengaruhi oleh partner transaksi anda?
4. Apakah anda ingin melakukan negosiasi tanpa ada paksaan?
5. Bagaimana sikap anda terhadap kontrol terhadap transaksi?
Skala pengukurannya adalah 5 point skala likert, mulai dari “sangat tidak senang sampai dengan sangat senang”. Semakin tinggi skornya akan menunjukkan semakin tinggi persepsi otonomi seorang manajer.

Ukuran Proses Negosiasi
Ukuran pertama proses negosiasi adalah efisiensi yang diukur dengan jumlah babak untuk mencapai kesepakatan. Jumlah babak maksimum yang dapat digunakan oleh pembeli maupun penjual sebanyak 3 babak untuk pembeli dan 3 babak untuk penjual. Ukuran kedua adalah disposisi penawaran, yang diukur dengan jarak tawaran pertama pembeli dan penjual untuk mencapai kesepakatan harga dan kuantitas barang yang diperjualbelikan. Disposisi tawar-menawar diukur secara terpisah antara penjual dan pembeli. Disposisi tawar-menawar tersebut mengukur sikap kooperatif manajer divisi. Semakin kecil jaraknya akan menunjukkan bahwa negosiator lebih kooperatif pada babak awal transaksi.

Metoda Analisis
Variabel dependen penelittian ini adalah proses negosiasi yang diukur dengan: (1) efisiensi, yaitu banyaknya sesi atau waktu yang digunakan untuk mencapai kesepakatan; (2) disposisi tawaran negosiator yang diukur dengan jarak tawaran pertama dengan tawaran kesepakatan. Sedangan variabel independen atau variabel manipulasi adalah arbitrase yang dibedakan antara tidak ada arbitrase dan arbitrase compulsory, dan variabel skema insentif yang dibedakan antara divisional dan perusahaan.
Alat analisis yang digunakan adalah ANOVA yang digunakan untuk menguji hipotesa 1 dan hipotesis 2 yang membandingkan jawaban tiap kelompok, sedangkan pengujian hipotesa 3 menggunakan MANOVA. Hasil analisis ANOVA dan MANOVA tersebut akan diuji lebih lanjut untuk mengetahui kelompok mana yang menunjukkan perbedaan, maka digunakan uji post-hoc MANOVA dan post-hoc ANOVA dengan uji Tamhane’s T2. Uji ini digunakan karena mengabaikan faktor homogenitas varians antar kelompok. Pengabaian ini penting karena beberapa kondisi yang berada diluar kendali peneliti terutama dalam pengumpulan subjek eksperimen. Tetapi jika dari hasil pengujian homogenitas varians menunjukkan adanya kehomogenan maka post-hoc ANOVA maupun MANOVA menggunakan uji Bonferonni.

Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
Data-data yang telah dikumpulkan akan diolah sesuai dengan disain penelitian di atas. Penyajian bagian ini akan dibagi dalam dua subbagian. Bagian pertama akan membahas data yang digunakan dalam penelitian. Bagian kedua membahas hasil pengujian hipotesis.

Data Partisipan
Subjek yang digunakan adalah mahasiswa yakni mahasiswi jurusan akuntansi pada tingkatan S-1 yang telah menyelesaikan mata kuliah sistem pengendalian manajemen dan akuntansi manajemen, dengan asumsi telah mengetahui topik transfer pricing. Secara terperinci subjek eksperimen berjumlah 120 orang yang terdiri atas 62 laki-laki dan 58 wanita. Namun dari hasil pengujian validitas manipulasi ada sebanyak 19 jawaban yang tidak sesuai dengan manipulasi yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga pada akhirnya ada sebanyak 101 jawaban yang diolah. Ketidakbisaan jawaban diolah karena subjek tidak mengerti dengan tugasnya atau tidak sesuai dengan manipulasi yang dikenakan pada subjek tersebut. Pengujian validitas antara jawaban dan manipulasi dilakukan dengan mempertanyakan kembali kepada subjek setelah menyelesaikan tugasnya dengan “apakah anda diperkenankan melakukan tawar-menawar?” jika jawaban mereka “ya” padahal mereka termasuk kelompok non-arbritrase, maka jawaban subjek pada eksperimen ini tidak dapat digunakan dan demikian pula sebaliknya.

Hasil pengujian hipotesis 1
Pengujian hipotesis pertama akan diuji dengan uji ANOVA. Tabel 2 berikut ini menujukkan Statistik deskriptif pengujian hipotesis 1 sebagai berikut:

Tabel 2. Statistik Deskriptif
Kelompok Jumlah Rata-rata Laba Deviasi Standar
No-ABT;Persh 28 24609,64 3838,0990
No-ABT;Div 27 21717,37 2577,8137
ABT;Persh 24 44432,08 5155,2261
ABT;Div 22 41018,41 4651,5370

Sebelum dilakukan pengujian ANOVA terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi homogenitas varians dengan uji LEVENE TEST. Hasilnya seperti tersaji pada tabel berikut:
Tabel 3

Berdasarkan hasil pengujian di atas, tampak bahwa Pval>0.05 (Signifikan = 0,382) yang berarti terdapat homogenitas varians antar kelompok. Dengan demikian uji asumsi homogenitas varians dapat diterima, sehingga uji ANOVA dapat digunakan. Tabel 4 dan 5 menunjukkan hasil uji ANOVA dan post-hoc.

Tabel 4 Uji ANOVA

Dari Tabel 4 di atas, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang secara statistis signifikan (Pval,0.05) diantara kelompok-kelompok yang diteliti. Pengujian berikutnya adalah dengan uji Bonferonni sebagaimana ditunjukkan dalam table 5 berikut.

Tabel 5. Hasil Uji Bonferonni

Tabel 5 menunjukkan bahwa perbedaan antar kelompok secara statistis signifikan (Pval<0.10). Dengan demikian hipotesis 1a, 1b dan 1c didukung. Pengujian hipotesis 1a dengan data Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata laba untuk kelompok yang dimanipulasi menerima skema insentif perusahaan lebih tinggi baik dibandingkan kelompok menerima skema insentif divisional baik untuk kelompok yang diperkenankan melakukan arbritase maupun yang tidak melakukan arbitrase, dan perbedaan tersebut secara statistis signifikan. Pengujian hipotesa 1b berdasarkan Tabel 1 juga menunjukkan bahwa kelompok yang berada pada kelompok arbritrase memiliki rata-rata laba yang secara statistis signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok non-arbitrase baik untuk skema insentif perusahaan maupun divisional. Hipotesa 1c juga didukung karena rata-rata laba kelompok arbritrase dan memiliki skema insentif perusahaan signifikan lebih tinggi dibandingkan ketiga kelompok yang lain.
Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa bentuk skema insentif dan prosedur transfer pricing dapat mempengaruhi besar kecilnya laba perusahaan. Dengan skema insentif perusahaan dan arbritrase para manajer termotivasi untuk melakukan negosiasi yang win-win solution sehingga berdampak pada laba perusahaan. Tetapi jika skema insentif divisional yang digunakan maka para manajer hanya akan memperhatikan laba divisinya saja, apalagi jika penilaian kinerja hanya didasarkan pada laba divisi maka manajer akan terdorong untuk melakukan kebijakan yang zero game, yaitu menguntungkan divisinya tapi justru merugikan divisi lain dalam satu perusahaan sehingga berdampak pada laba perusahaan secara keseluruhan. Pengujian selanjutnya adalah ingin mengetahui apakah ada-tidaknya interaksi antara skema insentif dengan proses transfer pricing terhadap perolehan laba. Pengujian ini dilakukan dengan uji plot. Hasilnya tampak digambarkan pada Grafik 1 (Lampiran 1).
Grafik 1 menunjukkan adanya interaksi antara skema insentif dengan arbritrase. Dengan demikian laba dari proses transfer pricing akan dapat menyumbangkan banyak pada laba perusahaan, jika perusahaan tidak hanya menerapkan arbritrase tetapi juga menggunakan skema insentif perusahaan pada proses tranfer pricing. Hasil ini secara intuitif menunjukkan bahwa meskipun perusahaan menggunakan arbritrase tetapi skema insentifnya divisional, maka manajer tetap hanya akan mementingkan divisinya. Dengan demikian secara keseluruhan laba perusahaan tidak akan optimal karena bisa saja harga transfer yang disepakati merugikan divisi lain, apalagi jika divisi pembuat barang tidak mempunyai target pembeli yang lain.

Hasil pengujian hipotesis 2
Pengujian hipotesis kedua akan diuji dengan uji ANOVA. Tabel 6 berikut ini menujukkan Statistik deskriptif pengujian hipotesis 2 sebagai berikut:

Tabel 6. Statistik Deskriptif Otonomi
Kelompok N Skor otonomi Deviasi standar
No-ABT;Persh 28 3,2321 0,4611
No-ABT;Div 27 4,5926 0,4169
ABT;Persh 24 2,3750 0,4299
ABT;Div 22 2,8636 0,7143

Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang secara statistis signifikan diantara kelompok-kelompok yang diuji (Pval0.01 (Box’s test). Kedua, terdapat korelasi diantara variabel-variabel independennya (Pval<0.01, untuk uji Barlett).

Tabel 11. Uji MANOVA

Tabel 11 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang secara statistis signifikan (Pval<0.01) antar kelompok pada proses dan hasil negosiasi. Pengujian lebih lanjut pada Tabel 12 menunjukkan bahwa kelompok yang menyebabkan perbedaan pada disposisi adalah pada kelompok yang memiliki perbedaan proses tranfer pricing (arbritrase dan non-arbritrase). Hasil ini sesuai dengan kondisi bahwa dalam proses arbritrase subjek tidak diperkenankan melakukan tawar-menawar sehingga selisih yang terjadi relatif lebih rendah karena penjual ataupun pembeli tidak menawarkan barangnya dengan harga yang terlalu tinggi agar saat itu juga terdapat kesepakatan. Demikian pula dengan efisien, kelompok yang non-arbritrase tentu saja lebih efisien karena mereka tidak melalui proses tawar menawar.
Tabel 12. Uji post-hoc MANOVA

Grafik 3 (lihat lampiran 3) menunjukkan terdapat interaksi antar kelompok baik pada disposisi maupun efisiensi. Dengan demikian jika perusahaan menekankan pada efisiensi pada proses tranfer pricing, maka lebih baik perusahaan menggunakan proses non-arbritrase dengan konsekuensi laba yang diperoleh tidak tinggi karena kedua pihak dalam kondisi ketergantungan tinggi tidak memiliki alternatif lain untuk menjual maupun membeli barang tersebut. Jadi bagi penjual daripada rugi lebih dia menetapkan harga yang tidak terlalu tinggi, sedangkan bagi yang diperkenankan melakukan arbritrase maka ada kesempatan oportunis untuk lebih dulu memberi penawaran dengan harga yang tinggi.

Simpulan dan Keterbatasan

Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh skema insentif dan proses negosiasi terhadap peristiwa transaksi transfer pricing. Peristiwa ini penting karena transfer pricing merupakan kondisi yang lazim ada dalam suatu perusahaan besar dan sering menimbulkan konflik diantara divisi-divisi yang ada. Ada beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa transfer pricing hanya akan menimbulkan kerugian karena harga yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan jika perusahaan menjualnya pada pihak luar. Tapi disisi lain divisi yang membutuhkan akan diuntungkan karena dapat kepastian pasokan bahan baku serta mungkin harga yang lebih kompetitif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa laba, persepsi otonomi, efisiensi dan efektivitas dipengaruhi oleh skema insentif, yang dibedakan atas divisi dan perusahaan serta proses transfer pricing (arbritrase dan nonarbritrase). Hasil lain menunjukkan bahwa laba maksimal akan dapat diperoleh perusahaan jika menerapkan skema insentif perusahaan dan terdapat arbritrase.
Keterbatasan penelitian ini terutama pada subjek eksperimen yang secara praktik belum pernah melakukan proses negosiasi. Hasil penelitian ini mungkin akan berbeda jika menggunakan subjek para manajer sesungguhnya. Sebagaimana penelitian eksperimen lainnya maka penelitian ini juga memiliki keterbatasan pada generalisasi hasil penelitian. Penelitian selanjutnya bisa melengkapi dengan uji meta-analisis untuk mengatasi masalah generalisasi (Rosenthal 1991).

DAFTAR PUSTAKA

Ackelsberg, R dan G. Yukl. 1979. Negotiated Transfer Pricing and Conflict Resolution inOrganizations. Decision Sciences (July): hal. 387-398

Anctil, Regina M. dan Sunil Dutta. 1999. Negotiated Transfer Pricing and Divisional vs Firm –Wide Performance Evaluation. The Accounting Review (January): hal. 87-104

Charlos, Peter dan Susan Haka, 1990, Transfer Pricing Under Bilateral Bargaining, TheAccounting Review (July); hal 624-641

Bailey, A.D dan W.J. Boe, 1976. Goal and Resource Transfers in the Multigoal Organization, The Accounting Review (July): hal.559-573

DeJong, V.D., R.Forsythe, J.Kim dan C.W.Uecker. 1989. A Laboratory Investigation of Alternative Transfer Pricing Mechanism. Accounting, Organization and Society
14: 41-64

Eccles, R.G. (1983), Control with Fairness in Transfer Pricing, Harvard Business Review
(November-December): hal. 149-161

Edlin, Aaron S., dan Stefan Reichelstein, (1995). Specific Investment Under Negotiated Transfer Pricing: An Efficiency Result, The Accounting Review, (April): hal.275-291

Grabski, S.V. 1985. Transfer Pricing in Complex Organizations: A Review and Integration of Recent Empirical and Analytical Research. Journal of Accounting Literature 4:hal. 33-75

Greenberg, Penelope dan Ralph.H.Greenberg. 1994. The Impact of Control Policies on the Process and Outcomes of Negotiated Transfer Pricing. Journal of Management
Accounting Research 6 (Fall): 93-127

Harris, K.L. dan P. Carnevale. 1990. Chilling and Hastening: The Influence of Third Party Power and Interest on Negotiation. Organizational Behavior and Human Decision Process 47: hal. 138-160

Hirshleifer, J. (1956), On the Economics of Transfer Pricing, Journal of Business (July): hal. 172-184

Kaplan, R.S., dan A.A. Atkinson, (1989) Advanced Management Accounting, Prentice Hall, Englewood Cliffs, NJ.

McAulay, L. dan C.R. Tomkins, (1992). A Review of The Contemporary Trasfer Pricing Literature With Recommendations For Future Research, British Journal of Management, Vol.3: hal.101-122

Melumad, N.D. dan S. Reichelstein (1987), Decentralization Versus Delegation and The Value of Communication, Journal of Accounting Research (Supplement):hal.1-18

Lambert, D. (1979) Transfer Pricing and Interdivisional Conflict, California Management Review (Summer): hal.70-75

Ronen, J. dan G.McKinney. 1970. Transfer Pricing for Divisional Autonomy. Journal of Accounting Research (Spring): hal. 99-112

Rosenthal, Robert. 1991. Meta-Analytic Procedures for Social Research. Sage Publication, Inc.

Schepanski, A, R.M.Tubbs, dan R.A. Grimlund. 1992. Issues of Concern Regarding Within and Between-Subjects Designs in Behavioral Accounting Research. Journal of Accounting Literature 11: hal. 121-150

Sims, P., D. Szilagyl, dan R.T. Keller, (1976), The Measurement of Job Characteristics, Academy of Management Journal (19): hal.195-112

Spicer, H.B. 1988. Towards an Organizational Theory of Transfer Pricing Process. Accounting, Organizations and Society 7: hal. 149-165

Swieringa, R.J. dan J.H. Waterhouse (1982), Organizational Views of Transfer Pricing. Accounting, Oragnizations and Society, No.2: hal. 149-165

Watson, D.J.H., dan J.V. Baumler, 1975, Transfer Pricing: A Behavioral Context, The Accounting Review, (July): hal. 466-474

Lampiran 1

Grafik 1. Plot Interaksi Skema Insentif dan Arbitrase

Lampiran 2

Grafik 2. Plot Skema Insentif* Arbitrase pada Otonomi

Lampiran 3

Grafik 3. Plot Disposisi dan Efisien

Posted in JURNAL. 1 Comment »

One Response to “PENGARUH KEBIJAKAN PENGENDALIAN ORGANISASI PADA PROSES dan OUTCOMES NEGOTIATED TRANSFER PRICING”

  1. Putra Caesar Says:

    jurnal yang tentang motivasi dan minat mahasiswa mengikuti Pendidikan Profesi akuntansi yang tahun 2010 dan 2011 ad gag?
    kl ada minta krimin donk
    plis…….
    secpatnya kl ada
    kirim ke A_ambarsari@yahoo.com


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: