PENGARUH ALOKASI PAJAK ANTAR PERIODA BERDASARKAN PSAK No. 46 TERHADAP KOEFISIEN RESPON LABA AKUNTANSI

PENGARUH ALOKASI PAJAK ANTAR PERIODA BERDASARKAN PSAK No. 46 TERHADAP KOEFISIEN RESPON LABA AKUNTANSI

Oleh
AKHMAD RIDUWAN*)
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

ABSTRACT
Starting on January, 1st, 1999, Indonesian public companies must be applied accounting for income taxes based on PSAK No.46. The objective of this study is to examine: (1) the difference of stock price change in the period before and after PSAK No.46 was implemented; (2) the effect of interperiod tax allocation based on PSAK No.46 on the earning response coefficient (ERC); and (3) the ERC difference between companies which reported deferred tax income and companies which reported deferred tax expenses.
This study used the sample of 111 manufacturing companies listed at the Jakarta Stock Exchange. This study used time-series data during 1997-2002 for the first and second model regression analysis, and used cross-sectional data on 2002 for the third model regression analysis. The first model regression analysis measured earnings response coefficient (ERC), with cummulative abnormal return as independent variable and unexpected earnings as dependent variable. The ERC was used as dependent variable in the third model regression analysis. The second model regression analysis was used to test H1, and the third model was used to test H2 and H3. Independent variables of the third model regression analysis were interperiod tax allocation, earnings persistance, earnings growth, capital structure, and firm size.
The result of this study provide empirical evidence that: (1) stock price change in the period after implementing of the PSAK No.46 are higher than the period before the PSAK No.46 was implemented; (2) interperiod tax allocation based on the PSAK No.46 have negative effects on the ERC; and (3) earnings response coefficient (ERC) for companies which reported deferred tax income were not differ from companies which reported deferred tax expenses. The result of this study indicate that interperiod tax allocation based on the PSAK No.46 was succesfully improve the income statement informativeness and earnings quality. However, interperiod tax allocation based on the PSAK No.46 generate perceive noise embedded in the reported earnings. Therefore, additional disclosures are needed, particularly for economic substance of deferred tax income and deferred tax expenses reported in income statement.
Keywords: earnings response coefficient, interperiod tax allocation, deferred tax income, deferred tax expenses

1. PENDAHULUAN
Latar Belakang Penelitian
Pada tahun 1997 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menerbitkan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No.46 yang mengatur tentang akuntansi pajak penghasilan (PPh). PSAK No.46 diberlakukan secara efektif mulai tanggal 1 Januari 1999 bagi perusahaan publik, dan mulai tanggal 1 Januari 2001 bagi perusahaan lainnya.
Sebelum PSAK No.46 diberlakukan, praktik pelaporan keuangan yang berkaitan dengan PPh berpedoman pada PSAK No.16 paragraf 77, yang memberikan kebebasan kepada perusahaan untuk memilih dan menerapkan salah satu dari dua metoda akuntansi PPh. Pertama, perusahaan dapat menghitung PPh menurut laba akuntansi. Selisih antara beban PPh menurut laba akuntansi dengan utang pajak yang dihitung menurut laba fiskal sebagai akibat adanya perbedaan temporer pengakuan pendapatan dan beban, ditampung dalam akun “PPh ditangguhkan” dan dilaporkan dalam neraca untuk dialokasikan pada beban PPh tahun-tahun mendatang. Metoda akuntansi pajak penghasilan semacam ini disebut dengan metoda alokasi pajak antar perioda. Metoda alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.16 paragraf 77 ini identik dengan metoda alokasi pajak antar perioda yang diatur dalam APB Opinion No.11 (lihat Means, 1990). Kedua, perusahaan dapat menghitung dan melaporkan beban PPh berdasarkan laba fiskal, tanpa diikuti oleh pelaporan PPh ditangguhkan dalam neraca, sehingga tidak ada alokasi pajak pada tahun-tahun mendatang.
Baridwan (2001:48) dan Harnanto (2003:110) menyatakan hal yang sama, bahwa metoda akuntansi PPh tanpa alokasi pajak antar perioda merupakan metoda akuntansi yang mengakibatkan laba bersih tidak dapat merefleksikan laba yang sebenarnya, karena beban PPh yang dilaporkan tidak berkorelasi langsung (tidak match) dengan laba sebelum pajak. Aktiva dan kewajiban dalam neraca juga dinyatakan terlalu rendah (understated) sebagai akibat tidak dilaporkannya konsekuensi pajak di masa mendatang atas perbedaan temporer pengakuan pendapatan dan beban.
PSAK No.46 diterbitkan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan yang berkaitan dengan pajak penghasilan. PSAK No.46 mengatur akuntansi pajak penghasilan menggunakan dasar akrual, yang secara komprehensif menerapkan pendekatan aktiva-kewajiban (asset-liability approach) atau berorientasi pada neraca (balance-sheet oriented). Alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 adalah sama dengan alokasi pajak antar perioda yang diatur dalam SFAS No.96 (lihat Means, 1990).
Penelitian tentang respon investor terhadap alokasi pajak antar perioda pernah dilakukan oleh Beaver dan Dukes (1972). Mereka meneliti pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 terhadap perubahan harga saham. Hasil penelitian mereka mengungkapkan bahwa: (a) perubahan harga saham pada perioda implementasi APB Opinion No.11 adalah lebih besar dibandingkan dengan perioda sebelumnya; (b) pada perioda implementasi APB Opinion No.11 yang diamati, harga saham bergerak searah dengan naik-turunnya laba akuntansi, tetapi alokasi pajak antar perioda tidak menunjukkan pengaruh terhadap perubahan harga saham tersebut; dan (c) perubahan harga saham untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan.
Setelah metoda akuntansi pajak penghasilan berdasarkan APB Opinion No.11 diganti dengan SFAS No.96, penelitian pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap perubahan harga saham dilakukan oleh Pincus (1997). Dengan membatasi penelitiannya pada analisis perbedaan temporer yang berkaitan dengan persediaan (LIFO untuk tujuan fiskal dan FIFO untuk tujuan akuntansi), Pincus (1997) memperoleh bukti bahwa: (a) perubahan harga saham pada perioda implementasi SFAS No.96 adalah lebih besar dibandingkan dengan perioda sebelumnya; (b) pada perioda implementasi SFAS No.96 yang diamati, alokasi pajak antar perioda menunjukkan pengaruh positif terhadap perubahan harga saham; dan (c) perubahan harga saham untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan adalah lebih besar dari perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan.
Penelitian Beaver dan Dukes (1972) serta Pincus (1997) masing-masing menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 dan SFAS No.96 terhadap perubahan harga saham. Berbeda dengan penelitian mereka, penelitian ini menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap koefisien respon laba akuntansi (earnings response coefficient – disingkat ERC). Beaver (1998:103) menyebut ERC sebagai koefisien sensitivitas laba akuntansi, yaitu ukuran sensitivitas perubahan harga saham terhadap perubahan laba akuntansi.
Pertanyaan Penelitian
Masalah dalam penelitian ini dirumuskan dalam tiga pertanyaan penelitian berikut: (1) apakah ada perbedaan perubahan harga saham pada perioda sebelum dan setelah implementasi alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46; (2) apakah alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 berpengaruh terhadap koefisien respon laba akuntansi (ERC); dan (3) apakah ada perbedaan ERC pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan dan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan dalam laporan laba-rugi.
Motivasi Penelitian
Motivasi penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, PSAK No.46 diterbitkan untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan yang berkaitan dengan PPh. Alokasi pajak antar perioda berdasarkan berdasarkan PSAK No.46 diharapkan dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih berkualitas dibandingkan PSAK No.16 paragraf 77 (Harnanto 2003:110). Laporan keuangan yang berkualitas dapat menunjukkan laba akuntansi yang berkualitas, yaitu laba akuntansi yang mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya. Semakin berkualitas laba akuntansi, maka makin tinggi respon investor (Lev dan Thiagarajan, 1993). Hal tersebut memotivasi penelitian ini untuk menguji tentang ada/tidaknya perbedaan perubahan harga saham pada perioda sebelum dan sesudah implementasi PSAK No.46.
Kedua, salah satu variabel yang mempengaruhi kualitas laba akuntansi adalah metoda dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan. Collins dan Salatka (1993) mengungkapkan bahwa penjabaran laporan keuangan mata uang asing berdasarkan SFAS No.52 menghasilkan laba akuntansi yang lebih berkualitas dibandingkan dengan SFAS No.8, dan karenanya, pengaruhnya terhadap ERC lebih besar. Bandyopadhyay (1994) mengungkapkan bahwa perusahaan minyak dan gas bumi yang menerapkan metoda full cost memiliki ERC yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang menerapkan metoda succesful efforts. Dengan menggunakan data pasar modal Indonesia, Chandrarin (2001) memberikan bukti bahwa laba (rugi) selisih kurs penjabaran transaksi mata uang asing berpengaruh negatif terhadap ERC, tetapi ia tidak menemukan perbedaan respon investor terhadap metoda pelaporan laba (rugi) selisih kurs tersebut yang didasarkan pada PSAK No.10, ISAK No.4, dan peraturan Bapepam.
Penelitian tentang ERC secara terus menerus masih perlu dilakukan, untuk memperoleh bukti empiris yang cukup tentang pengaruh metoda akuntansi terhadap ERC. Penelitian ini merupakan perluasan dari penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan pengaruh metoda akuntansi terhadap ERC tersebut. Pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap ERC akan diuji dalam penelitian ini.
Ketiga, sebagai elemen pembentuk laba bersih, penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi dapat dipandang sebagai gangguan persepsian (perceived noise) yang terkandung dalam laba akuntansi, sebagai pengaruh dari akuntansi akrual. Di samping itu, penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan komponen transitori. Komponen transitori adalah komponen yang hanya berpengaruh pada laporan keuangan perioda tertentu, tidak terjadi secara terus-menerus, dan menyebabkan angka laba-rugi menjadi berfluktuasi (Chandrarin 2001:26). Karena dapat dipandang sebagai gangguan persepsian yang terkandung dalam laba akuntansi, penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi mungkin direspon secara berbeda oleh investor. Hal ini menjadi motivasi untuk menguji ada atau tidaknya perbedaan ERC antara perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan dan penghasilan pajak tangguhan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memperoleh bukti empiris tentang ada-tidaknya perbedaan perubahan harga saham pada perioda sebelum dan sesudah implementasi PSAK No.46; (2) memperoleh bukti empiris tentang pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap ERC; dan (3) memperoleh bukti empiris tentang ada-tidaknya perbedaan ERC antara perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan dengan perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan.
Kontribusi Penelitian
Penelitian ini diharapkan mempunyai implikasi teoritis maupun praktis. Implikasi teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) memberikan dasar untuk menilai apakah PSAK No.46 telah berhasil memperbaiki kualitas pelaporan keuangan atau belum; (2) memperkuat sintesis dalam literatur akuntansi yang menyatakan bahwa metoda akuntansi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas laba akuntansi; dan (3) bahan masukan bagi dewan standar akuntansi keuangan IAI maupun Bapepam untuk mengevaluasi persyaratan pengungkapan wajib yang berkaitan dengan PPh.
Beberapa implikasi praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan bagi akuntan publik untuk menyajikan pengungkapan yang cukup dan penjelasan secara memadahi tentang beban dan penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi, melebihi pengungkapan wajib yang disyaratkan oleh PSAK No.46 dan Bapepam. (2) memberikan petunjuk bagi manajemen tentang perlunya kemampuan manajemen untuk mengelola perbedaan temporer (dalam pengakuan pendapatan dan beban) sedemikian rupa sehingga laba akuntansi tetap dipersepsikan berkualitas atau direspon positif oleh investor; dan (3) bahan pertimbangan bagi manajemen untuk memilih dan menerapkan metoda-metoda akuntansi yang menghasilkan perbedaan temporer yang menguntungkan posisi perusahaan dalam menghadapi persepsi publik, khususnya investor.

2. TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka
1. Koefisien Respon Laba Akuntansi
Penelitian Ball dan Brown (1968) menemukan bukti bahwa naik-turunnya laba akuntansi mempengaruhi naik-turunnya harga saham. Hasil penelitian mereka memberi petunjuk bahwa ada perbedaan respon pasar terhadap informasi laba akuntansi, sekaligus menegaskan bahwa laba akuntansi yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi bermanfaat bagi investor untuk mengambil keputusan investasi. Dalam perkembangan selanjutnya, penelitian Ball dan Brown dinilai masih mengandung keterbatasan atau kelemahan (Scott 1997:112). Penelitian mereka dinilai masih kurang teliti dalam mengukur besarnya respon harga saham terhadap laba akuntansi, karena kandungan informasi yang diteliti oleh Ball dan Brown (1968) hanya diklasifikasikan dalam berita baik (good news) dan berita buruk (bad news). Berdasarkan kelemahan tersebut, penelitian selanjutnya banyak diarahkan pada penelitian tentang koefisien respon laba akuntansi.
Cho dan Jung (1991) mendefinisikan koefisien respon laba akuntansi (earnings response coefficient –ERC) sebagai pengaruh setiap dollar laba kejutan (unexpected earnings) terhadap return saham, yang ditunjukkan melalui slope coefficient dalam regresi abnormal return saham dengan unexpected earnings. ERC disebut juga koefisien sensitivitas laba akuntansi, yaitu ukuran sensitivitas perubahan harga saham terhadap perubahan laba akuntansi (Beaver, 1998:103).
Rerangka teoretis penelitian ERC diklasifikasikan oleh Cho dan Jung (1991) ke dalam dua pendekatan atau model, yaitu: (1) model penilaian berbasis keekonomisan informasi (information economics based valuation model). Model ini berasumsi bahwa ERC merupakan fungsi dari sinyal kandungan informasi laba serta persepsi investor terhadap sistem informasi. Semakin buruk sinyal kandungan informasi laba dan persepsi investor terhadap sistem informasi (berarti semakin rendah kualitas laba), maka semakin kecil ERC, dan sebaliknya; (2) model penilaian berbasis time-series laba (time-series based valuation model). Model ini berasumsi bahwa ERC merupakan fungsi dari time-series processes berbagai variabel informasi yang dapat memprediksi besarnya dividen. Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan model pertama, yang menunjukkan bahwa ERC merupakan fungsi dari sinyal kandungan informasi laba dan persepsi investor terhadap kualitas laba.
Dari aspek empiris, penelitian tentang ERC diklasifikasikan oleh Cho dan Jung (1991) ke dalam dua kelompok, yaitu: (1) penelitian tentang determinan ERC, dan (2) penelitian tentang keinformatifan laba akuntansi atau kandungan informasi laba akuntansi. Penelitian determinan ERC biasanya mengukur ERC sebagai suatu hubungan laba akuntansi dengan return saham menggunakan jendela perioda panjang, dengan fokus utama untuk mengidentifikasi determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhi ERC, tanpa mengkaitkannya dengan peristiwa tertentu. Determinan ERC yang berhasil diikhtisarkan oleh Cho dan Jung berdasarkan hasil penelitian-penelitian terdahulu meliputi persistensi laba, prediktabilitas laba, pertumbuhan laba, risiko perusahaan, besaran perusahaan, dan efek industri. Penelitian tentang keinformatifan laba akuntansi diarahkan untuk menguji pengaruh suatu peristiwa tertentu terhadap perubahan ERC dengan menggunakan jendela perioda pendek. Sebagian besar penelitian keinformatifan laba berfokus pada (a) perubahan dalam ketidakpastian laba akuntansi di masa depan, dan (b) perubahan kualitas laba akuntansi. Jadi, dalam penelitian keinformatifan laba akuntansi, ERC dapat digunakan sebagai petunjuk tentang prospek laba perusahaan di masa depan dan petunjuk tentang kualitas laba akuntansi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lev dan Thiagarajan (1993), bahwa semakin berkualitas laba akuntansi akan semakin tinggi ERC. Penelitian ini termasuk dalam kelompok penelitian ERC yang ke dua, yaitu penelitian tentang keinformatifan laba akuntansi atau kandungan informasi laba akuntansi.
2. Kualitas Laba Akuntansi
Laba akuntansi yang berkualitas adalah laba akuntansi yang mempunyai sedikit atau tidak mengandung gangguan persepsian (perceived noise) di dalamnya dan dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya (Chandrarin, 2003); sedangkan Ayres (1994) menyatakan bahwa laba akuntansi dikatakan berkualitas apabila elemen-elemen yang membentuk laba tersebut dapat diintepretasikan dan dipahami secara memuaskan oleh pihak yang berkepentingan.
Menurut Hayn (1995), gangguan persepsian dalam laba akuntansi dapat disebabkan oleh peristiwa transitori (transitory events) atau penerapan konsep akrual dalam akuntansi (accounting accruals). Peristiwa transitori adalah peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu dan hanya berpengaruh pada perioda terjadinya peristiwa tersebut. Chandrarin (2001:26) menjelaskan bahwa komponen transitori merupakan komponen yang hanya berpengaruh pada perioda tertentu, terjadinya tidak persisten atau tidak terus-menerus, dan mengakibatkan angka laba (rugi) yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi menjadi berfluktuasi. Gangguan persepsian dalam laba akuntansi akibat penerapan konsep akrual yang dicontohkan oleh Hayn (1995) antara lain adalah write-down, write-offs, dan provision of losses, yang sekaligus merupakan komponen transitori dalam laporan laba-rugi, karena terjadinya tidak secara terus menerus dan hanya mempengaruhi laporan laba-rugi perioda berjalan. Chandrarin (2001:1) berpendapat bahwa semakin besar gangguan persepsian yang terkandung dalam laba akuntansi, maka semakin rendah kualitas laba akuntansi.
Walaupun Chandrarin (2003) dan Ayres (1994) telah mengemukakan karakteristik laba akuntansi yang berkualitas, tetapi dalam praktiknya, kualitas laba akuntansi tersebut sulit untuk diukur. Oleh karena itu, masing-masing peneliti menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mengukur kualitas laba akuntansi. Beberapa peneliti menggunakan variabel metoda akuntansi sebagai proksi kualitas laba akuntansi, yang pada hakikatnya hanya menunjukkan sinyal tentang kualitas laba akuntansi, misalnya SFAS No.2 tentang akuntansi biaya riset dan pengembangan (Wasley, 1991), SFAS No.52 tentang penjabaran laporan keuangan mata uang asing (Collins dan Salatka, 1993), metoda akuntansi untuk perusahaan minyak dan gas bumi (Bandyopadhyay, 1994). Peneliti-peneliti lainnya menggunakan variabel selain metoda akuntansi sebagai proksi kualitas laba akuntansi, yang pada hakikatnya juga hanya menunjukkan sinyal tentang kualitas laba akuntansi, misalnya variabel luas ungkapan sukarela (Widiastuti, 2001), konservatisma akuntansi (Dewi, 2003), ketepatan waktu pelaporan keuangan (Jaswadi, 2003), spesialisasi industri auditor (Mayangsari, 2002), kualitas auditor (Suryono, 2003), kompleksitas informasi (Cheng et al., 1992 dan Kusuma, 2003), serta variabel laba/rugi selisih kurs (Chandrarin, 2001 dan 2003). Penelitian ini menggunakan variabel alokasi pajak antar perioda sebagai proksi kualitas laba akuntansi.
3. PSAK No.46 dan Alokasi Pajak Antar Perioda
Praktik pelaporan keuangan yang berkaitan dengan PPh di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan. Dalam perioda berlakunya sistem pemungutan pajak yang dikenal sebagai sistem MPS-MPO, laporan laba-rugi praktis tidak menyajikan beban PPh, dan PPh yang telah dibayar dilaporkan dalam neraca sebagai uang muka pajak sampai diterbitkannya SKP-Rampung oleh kantor pelayanan pajak. Oleh karena itu laba sebelum pajak selalu menjadi bottom-line laporan laba-rugi pada masa itu (Harnanto, 2003:109). Perubahan sistem pemungutan pajak dari MPS-MPO menjadi self-assessment pada tahun 1984, mendorong praktik pelaporan keuangan untuk mulai menyajikan beban PPh dalam laporan laba-rugi tetapi dengan jumlah yang ditaksir, diikuti dengan pelaporan taksiran utang PPh di neraca. Praktik pelaporan PPh seperti ini berlangsung hingga diterbitkannya PSAK No.16 (khususnya paragraf 77).
PSAK No.16 paragraf 77 memberi kebebasan kepada perusahaan untuk melaporkan beban pajak penghasilan dalam laporan laba-rugi: (a) sebesar jumlah yang dihitung berdasarkan laba fiskal (tanpa alokasi pajak antar perioda), atau (b) sebesar jumlah yang dihitung berdasarkan laba akuntansi (dengan alokasi pajak antar perioda),
PSAK No.46 yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 1999 mengakhiri praktik pelaporan PPh berdasarkan PSAK No.16 paragraf 77. Perbedaan pokok antara PSAK No.46 dengan PSAK No.16 paragraf 77 adalah, bahwa PSAK No.46 mengatur akuntansi PPh menggunakan dasar akrual, yang secara komprehensif menerapkan pendekatan aktiva-kewajiban (asset-liability approach), sedangkan alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.16 paragraf 77 dilakukan dengan pendekatan laba-rugi (income-statement approach).
Berdasarkan PSAK No.46, alokasi pajak antar perioda diawali dengan adanya keharusan bagi perusahaan untuk mengakui aktiva dan kewajiban pajak tangguhan yang harus dilaporkan dalam neraca. Pengakuan aktiva dan kewajiban pajak tangguhan tersebut merupakan pengakuan tentang konsekuensi pajak di masa mendatang atas efek akumulatif perbedaan temporer pengakuan penghasilan dan beban untuk tujuan akuntansi dan tujuan fiskal.
Dalam pendekatan aktiva-kewajiban, yang dimaksud dengan perbedaan temporer adalah perbedaan antara dasar pengenaan pajak (DPP) dari suatu aktiva atau kewajiban dengan nilai tercatat aktiva atau kewajiban tersebut. Efek perubahan perbedaan temporer yang terefleksi pada kenaikan atau penurunan aktiva dan kewajiban pajak tangguhan harus diperlakukan sebagai beban pajak tangguhan (deferred tax expenses) atau penghasilan pajak tangguhan (deferred tax income), dan dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun berjalan bersama-sama beban pajak kini (current tax expenses), dengan penyajian secara terpisah.
Dengan demikian, berdasarkan PSAK No.46, PPh yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi akan menunjukkan (1) beban pajak kini ditambah beban pajak tangguhan, atau (2) beban pajak kini dikurangi penghasilan pajak tangguhan. Jumlah agregat beban pajak kini dan pajak tangguhan, dapat berupa (a) beban pajak (tax expenses), atau (b) penghasilan pajak (tax income).
B. Perumusan Hipotesis
1. Perbedaan perubahan harga saham (cummulative abnormal return – CAR) pada perioda sebelum dan sesudah implementasi PSAK No.46.
Means (1990) berpendapat, bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan balance-sheet approach menghasilkan neraca yang lebih realistis, karena neraca melaporkan konsekuensi pajak di masa mendatang, sehingga memungkinkan investor untuk membuat prediksi yang lebih baik tentang laba dan arus kas di masa mendatang. Di samping itu, laporan laba-rugi dapat mencerminkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya, terutama karena beban PPh telah berkorelasi langsung dengan laba sebelum pajak. Laporan laba-rugi juga lebih informatif, karena dilaporkannya penghasilan (beban) pajak tangguhan secara terpisah dengan beban pajak kini.
Sebaliknya, Means (1990) menilai bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan income-statement approach juga menghasilkan laporan laba-rugi yang dapat mencerminkan laba bersih akuntansi yang sebenarnya, karena beban PPh berkorelasi langsung dengan laba sebelum pajak. Tetapi, karena beban PPh tersebut dihitung dari laba akuntansi dan dilaporkan tanpa memisahkan komponen beban pajak kini dan beban pajak tangguhan, maka keinformatifan pelaporan elemen-elemen pembentuk laba menjadi kurang. Selanjutnya, Means (1990) menyatakan bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan income-statement approach memang menghasilkan neraca yang sedikit menggambarkan konsekuensi pajak di masa mendatang (yang tercermin pada akun PPh yang ditangguhkan), tetapi saldo debit atau kredit akun PPh yang ditangguhkan tersebut sulit untuk diintepretasikan substansi maknanya.
Sebelum PSAK No.46 diberlakukan, perusahaan juga diperbolehkan untuk melaporkan beban pajak penghasilan tanpa alokasi pajak antar perioda. Apabila metoda ini yang diterapkan, Harnanto (2003:109) berpendapat bahwa neraca kurang dapat menggambarkan realita ekonomi perusahaan yang sebenarnya, terutama karena tidak dilaporkannya konsekuensi pajak di masa depan. Di samping itu, laporan laba-rugi juga tidak dapat menunjukkan laba bersih akuntansi sebenarnya, karena beban PPh yang dilaporkan tidak berkorelasi langsung dengan laba sebelum pajak.
Uraian di atas dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa akuntansi PPh dengan alokasi pajak antar perioda berdasarkan pendekatan laba-rugi (income-statement approach) menghasilkan laba akuntansi yang lebih berkualitas daripada akuntansi PPh tanpa alokasi pajak; tetapi akuntansi PPh dengan alokasi pajak antar perioda berdasarkan pendekatan neraca (balance-sheet approach) menghasilkan laba akuntansi yang lebih berkualitas daripada akuntansi PPh dengan alokasi pajak antar perioda berdasarkan pendekatan laba-rugi. Hal ini telah dibuktikan oleh Beaver dan Dukes (1972), yang menguji perbedaan perubahan harga saham pada perioda diimplementasikannya alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 dan perioda sebelumnya. Beaver dan Dukes (1972) menemukan bukti bahwa perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi APB Opinion No.11 adalah lebih besar dibandingkan dengan perioda sebelumnya. Mereka menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena kualitas laba akuntansi pada perioda setelah implementasi APB Opinion No.11 adalah lebih baik daripada perioda sebelumnya.
Setelah alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 diganti dengan SFAS No.96, Pincus (1997) kembali menguji perbedaan perubahan harga saham pada perioda sebelum dan sesudah implementasi SFAS No.96 tersebut. Pincus (1997) menyimpulkan bahwa kualitas laba akuntansi pada perioda implementasi SFAS No.96 adalah lebih baik dibandingkan dengan perioda sebelumnya. Kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan bukti dari hasil penelitiannya bahwa perubahan harga saham pada perioda implementasi SFAS No.96 adalah lebih besar dibandingkan perioda sebelumnya
Temuan Beaver dan Dukes (1972) serta Pincus (1997) tersebut konsisten dengan pernyataan Holthausen dan Verrechia (1988), bahwa bahwa laporan laba-rugi mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap penilaian investor terhadap perusahaan ketika angka-angka yang dilaporkan lebih mencerminkan nilai ekonomi yang sesungguhnya. Lev dan Thiagarajan (1993) juga menyatakan bahwa semakin berkualitas laba akuntansi, semakin tinggi respon investor. Hal ini digunakan sebagai dasar untuk menyatakan hipotesis berikut:
H1:Perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi PSAK No.46 lebih besar dari perioda sebelum implementasi PSAK No.46.
2. Pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap koefisien respon laba akuntansi (ERC)
Foster (1986:25) menyatakan bahwa investor yang mengambil keputusan investasi atas dasar informasi dalam laporan keuangan harus memahami sifat dan karakteristik laporan keuangan yang dijadikan dasar tersebut. Salah satu karakteristik laporan keuangan adalah bahwa laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang menerapkan konsep akrual. Alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 juga merupakan hasil penerapan konsep akuntansi akrual, yang tercermin dari jumlah beban atau penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan bersamaan dengan beban pajak kini (current tax) dalam laporan laba-rugi.
Dalam keadaan tertentu, jumlah penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dapat lebih besar dari laba (rugi) sebelum pajak, sehingga sangat berpengaruh terhadap fluktuasi laba (rugi) bersih setelah pajak. Oleh karena itu, investor yang konservatif harus memperhatikan item-item akrual, terutama item akrual yang bersifat transitori (Foster 1986:30). Item-item akrual yang bersifat transitori dapat menimbulkan gangguan persepsian (perceived noise) dalam laba akuntansi. (Hayn, 1995).
Penghasilan (beban) pajak tangguhan dapat dianggap sebagai gangguan persepsian dalam laba akuntansi, karena dua hal: (1) beban (penghasilan) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan hasil dari penerapan konsep akuntansi akrual (accrual accounting) dalam pengakuan pendapatan dan beban serta peristiwa lain yang memiliki konsekuensi pajak; (2) penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan komponen transitori, yang berarti bahwa penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut tidak terjadi secara terus-menerus dan hanya terjadi pada perioda tertentu, yaitu selama perusahaan menerapkan metoda dan kebijakan akuntansi yang berbeda dengan peraturan perpajakan. Jika metoda dan kebijakan akuntansi yang diterapkan perusahaan adalah sama dengan metoda akuntansi berdasarkan peraturan perpajakan, pelaporan penghasilan (beban) pajak tangguhan dalam laporan laba-rugi akan dapat dihindari.
Chandrarin (2001:1) menyatakan bahwa laba (rugi) selisih kurs juga merupakan gangguan persepsian dalam laba akuntansi, karena item tersebut merupakan komponen transitori. Semakin besar laba (rugi) selisih kurs yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (berarti semakin besar gangguan persepsian yang terkandung dalam laba akuntansi), maka semakin rendah kualitas laba akuntansi. Semakin rendah kualitas laba akuntansi, akan semakin rendah respon investor (Lev dan Thiagarajan, 1993). Hal ini dibuktikan oleh Chandrarin (2001:97), bahwa laba (rugi) selisih kurs akibat transaksi mata uang asing berpengaruh negatif terhadap ERC. Temuan penelitian Chandrarin (2001:97) ini konsisten dengan temuan Collins dan Salatka (1993) yang meneliti tentang pengaruh sinyal gangguan laba akuntansi terhadap koefisien respon laba akuntansi (ERC).
Berkaitan dengan alokasi pajak antar perioda, penelitian Beaver dan Dukes (1972) memperoleh bukti bahwa harga saham berubah searah dengan naik-turunnya laba akuntansi, tetapi mereka tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 terhadap perubahan harga saham tersebut. Ketidak-berhasilan mereka untuk menunjukkan pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap perubahan harga saham, konsisten dengan pendapat Means (1990) yang menyatakan bahwa saldo akun PPh ditangguhkan yang dilaporkan dalam neraca membingungkan pembaca laporan keuangan karena makna substansialnya sulit untuk diintepretasikan.
Pincus (1997) menemukan bukti yang berbeda dengan Beaver dan Dukes (1972). Dengan membatasi analisis pada perbedaan temporer untuk item persediaan (penilaian LIFO untuk tujuan fiskal dan FIFO untuk tujuan akuntansi), Pincus (1997) menemukan bukti bahwa perubahan harga saham bergerak searah dengan naik-turunnya laba akuntansi, dan alokasi pajak antar perioda berdasarkan SFAS No.96 berpengaruh positif terhadap perubahan harga saham tersebut. Temuan Pincus (1997) ini konsisten dengan pendapat Means (1990) yang menyatakan bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan SFAS No.96 lebih mudah bagi pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan substansi maknanya.
Dalam penelitian Beaver dan Dukes (1972) maupun Pincus (1997), variabel alokasi pajak antar perioda diperlakukan sebagai determinan perubahan harga saham. Berbeda dengan mereka, penelitian ini memperlakukan variabel alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 sebagai determinan ERC, bukan sebagai determinan harga saham. Penelitian ini memperlakukan variabel alokasi pajak antar perioda sebagai proksi dari kualitas laba akuntansi, yang akan diuji pengaruhnya terhadap ERC. Oleh karena itu, perumusan hipotesis penelitian ini mengacu pada hasil penelitian Collins dan Salatka (1993) serta Candrarin (2001), yang menyatakan bahwa laba (rugi) selisih kurs berpengaruh negatif terhadap ERC. Karena item alokasi pajak antar perioda memiliki karakteristik yang sama dengan item laba (rugi) selisih kurs (yaitu merupakan item hasil akuntansi akrual dan item transitori yang dapat menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi), maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
H2:Alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 berpengaruh negatif terhadap koefisien respon laba akuntansi (ERC)
3. Perbedaan koefisien respon laba akuntansi (ERC) pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan dan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan
Pada bidang pengujian yang lain tentang alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11, penelitian Beaver dan Dukes (1972) juga memperoleh bukti bahwa perubahan harga saham untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan. Perubahan harga saham yang tidak berbeda antara dua perusahaan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak merespon secara berbeda terhadap pelaporan penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut. Hal ini dimungkinkan terjadi karena penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut tidak tampak secara langsung dalam laporan laba-rugi. Besaran penghasilan (beban) pajak tangguhan berdasarkan APB Opinion No.11 dapat dideteksi dengan melihat kenaikan (penurunan) saldo akun PPh ditangguhkan yang dilaporkan dalam neraca, dan hal tersebut sulit untuk diinterpretasikan oleh investor (Means, 1990).
Pincus (1997) memperoleh bukti yang berbeda dengan Beaver dan Dukes (1972). Pincus (1997) menemukan bukti bahwa penerapan asumsi arus biaya LIFO untuk tujuan fiskal dan FIFO untuk tujuan akuntansi, direspon negatif oleh investor pada tahun awal penerapannya, tetapi direspon positif pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini terjadi karena pada tahun awal penerapan LIFO (untuk tujuan fiskal) dan FIFO (untuk tujuan akuntansi), perusahaan harus melaporkan beban pajak tangguhan dalam laporan laba-rugi, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya perusahaan melaporkan penghasilan pajak tangguhan. Pincus (1997) juga menunjukkan bahwa rata-rata perubahan harga saham pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan adalah lebih besar dari perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan. Walaupun temuan Pincus (1997) terbatas dalam penerapan asumsi arus biaya (FIFO versus LIFO), bukti tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa penghasilan dan beban pajak tangguhan direspon oleh investor secara berbeda.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian Beaver dan Dukes (1972) maupun Pincus (1997), terutama dalam perlakuan variabel alokasi pajak antar perioda (penghasilan atau beban pajak tangguhan). Mereka memperlakukan variabel penghasilan (beban) pajak tangguhan sebagai variabel yang mempengaruhi perubahan harga saham, sedangkan penelitian ini memperlakukan variabel penghasilan (beban) pajak tangguhan sebagai variabel yang mempengaruhi ERC.
Penghasilan maupun beban pajak tangguhan, keduanya merupakan komponen transitori dalam laporan laba-rugi dan dapat dipandang sebagai gangguan persepsian (perceived noise) yang terkandung dalam laba akuntansi. Hayn (1995) menyatakan bahwa, semakin besar komponen transitori (yang berarti semakin besar gangguan persepsian dalam laba akuntansi), koefisien respon laba akuntansi (ERC) dapat semakin menurun, tanpa memandang apakah komponen transitori tersebut menaikkan atau menurunkan laba akuntansi.
Hal tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk memprediksi bahwa penghasilan maupun beban pajak tangguhan keduanya akan berpengaruh negatif terhadap ERC, seperti yang telah dinyatakan dalam hipotesis kedua. Walaupun demikian, masih diperlukan pengujian apakah besarnya pengaruh negatif tersebut berbeda antara perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan dan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan, sehingga besarnya ERC antara kedua perusahaan menjadi berbeda. Berdasarkan pernyataan Hayn (1995) tersebut di atas, penelitian ini memprediksi bahwa tidak ada perbedaan pengaruh pelaporan penghasilan pajak tangguhan maupun beban pajak tangguhan terhadap ERC, sehingga besarnya ERC antara kedua perusahaan tidak berbeda. Prediksi ini digunakan sebagai dasar untuk menyatakan hipotesis berikut.
H3:Koefisisen respon laba akuntansi (ERC) pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan.

3. METODA PENELITIAN
A. Model Empiris dan Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan tiga model empiris. Pertama, model empiris untuk menghitung besaran koefisien respon laba akuntansi (earnings response coefficient – ERC), yang dirumuskan dalam bentuk persamaan regresi berikut:
CARit = 0 + 1 UEit + it ………………………………………………………………. (1)
dalam hal ini:
CARit : cummulative abnormal return perusahaan i pada perioda t
UEit : unexpected earnings perusahaan i pada perioda t
1 : koefisien respon laba akuntansi (ERC)
Kedua, model empiris untuk menguji hipotesis 1 (H1). Model empiris kedua ini sama dengan model empiris pertama, tetapi ditambahkan variabel indikator (dummy variable) ke dalam model. Variabel indikator (VI) dalam model kedua ini dinyatakan dengan nilai 0 untuk menunjukkan perioda sebelum implementasi PSAK No.46, dan nilai 1 menunjukkan perioda setelah implementasi PSAK No.46. Model empiris kedua dirumuskan dalam bentuk persamaan regresi berikut:
CARit = 0 + 1 UEit + 2 VI + it ……………………………………………………. (2)
Ketiga, model empiris untuk menguji hipotesis 2 (H2) dan hipotesis 3 (H3). Variabel dependen dalam model ketiga ini adalah koefisien respon laba akuntansi (ERC), sedangkan variabel independen adalah alokasi pajak antar perioda. Dalam model ketiga ini dimasukkan beberapa variabel kontrol yang pada penelitian-penelitian sebelumnya terbukti sebagai determinan ERC. Tujuan dimasukkannya variabel kontrol tersebut adalah untuk mengisolasi pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap ERC, sekaligus mengkonfirmasi konsistensi pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap ERC berdasarkan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Variabel kontrol yang dipilih adalah persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi, struktur modal, dan besaran perusahaan. Dalam model empiris ketiga juga dimasukkan variabel indikator untuk menunjukkan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan dan perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan. Model empiris ketiga dirumuskan sebagai berikut:
ERCit = 0 + 1ALPAit + 2PSLAit + 3PTLAit + 4SMit + 5BPit + 6VI + it ….. (3)
dalam hal ini:
ERCit : koefisien respon laba akuntansi perusahaan i pada perioda t
ALPAit : alokasi pajak antar perioda perusahaan i pada tahun t
PSLAit : persistensi laba akuntansi perusahaan i pada tahun t
PTLAit : pertumbuhan laba akuntansi perusahaan i pada tahun t
SMit : struktur modal perusahaan i pada tahun t
BPit : besaran perusahaan untuk perusahaan i pada tahun t
VI : variabel indikator (0 untuk perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan; 1 untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan).

B. Pengukuran Variabel
1. Cummulative abnormal return (CAR). CAR pada saat laba akuntansi dipublikasikan dihitung dalam event window pendek selama 7 hari, yang dipandang cukup untuk mendeteksi abnormal return yang terjadi akibat publikasi laba sebelum confounding effect mempengaruhi abnormal return tersebut. CAR dirumuskan sebagai berikut.

Dalam perhitungan abnormal return tersebut, expected return diestimasi berdasarkan model pasar dengan beta yang telah dikoreksi. Koreksi beta dilakukan dengan metode Fowler dan Rorke (1983) dengan perioda 4 lead dan 4 lag selama setahun seperti dijelaskan dalam Hartono (1998).
2. Unexpected earnings (UE), dihitung menggunakan model random-walk seperti dilakukan oleh Beaver dan Ryan (1987) serta Collins dan Kothari (1989). Unexpected earnings diukur dengan rumus sebagai berikut:

dalam hal ini:
Eit : laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i pada tahun t
Eit-1 : laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i sebelum tahun t

3. Koefisien respon laba akuntansi (ERC), merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara cummulative abnormal return (CAR) dan unexpected earnings (UE) sebagaimana dinyatakan dalam model empiris pertama, yaitu:
CARit = 0 + 1UEit + it
1 merupakan koefisien respon laba akuntansi (ERC).
4. Alokasi pajak antar perioda (ALPA), diukur dengan melihat besaran penghasilan dan beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi, kemudian membaginya dengan jumlah laba akuntansi sebelum pajak, sebagai berikut:

dalam hal ini:
BPTit : beban pajak tangguhan perusahaan i pada tahun t
PPTit : penghasilan pajak tangguhan perusahaan i pada tahun t
LRSPit : laba(rugi) sebelum pajak perusahaan i pada tahun t

5. Persistensi laba akuntansi (PSLA), merupakan suatu ukuran yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa mendatang. Persistensi laba akuntansi diukur menggunakan koefisien regresi antara laba akuntansi perioda sekarang dengan laba akuntansi perioda yang lalu seperti dilakukan oleh Kormendi dan Lipe (1987) dan Jaswadi (2003), dengan rumusan berikut:
Eit = 0 + 1 Eit-1 + it
dalam hal ini:
Eit : laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i pada tahun t
Eit-1 : laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i sebelum tahun t
1 : persistensi laba akuntansi (PSLA)

6. Pertumbuhan laba akuntansi (PTLA), diukur menggunakan rasio antara nilai pasar ekuitas terhadap nilai bukunya (Collins dan Kothari, 1989). Nilai pasar ekuitas dihitung dengan mengalikan harga penutupan saham (closing price) rata-rata dalam setahun dengan total saham yang beredar pada akhir tahun. Pertumbuhan laba akuntansi diukur sebagai berikut:

dalam hal ini:
NPEit : nilai pasar ekuitas perusahaan i pada tahun t
NBEit : nilai buku ekuitas perusahaan i pada tahun t

7. Struktur modal (SM), diukur berdasarkan rasio antara total utang dengan total aktiva (Dhaliwal et al., 1991), yaitu sebagai berikut:

8. Besaran perusahaan (BP), diukur berdasarkan nilai pasar ekuitas (Collins dan Kothari, 1989, serta Chaney dan Jeter, 1991), yang dirumuskan sebagai berikut:
BPit = Log NPEit
Penggunaan nilai logaritma dilakukan untuk menghindari bias dalam pengukuran akibat adanya perbedaan skala operasi perusahaan.

C. Data dan Sampel Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder, yang diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal Indonesia, Indonesian Capital Market Directory, serta database Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang ada di JSX Corner Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.
Sampel penelitian diambil secara purposive, dengan kriteria: (1) perusahaan termasuk dalam kategori industri pemanufakturan; (2) perusahaan sudah terdaftar di BEJ sejak tanggal 1 Januari 1997 sampai 31 Desember 2002; (3) perusahaan melaporkan alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No. 46 (yaitu melaporkan penghasilan atau beban pajak tangguhan) setidaknya selama tiga tahun berturut-turut dalam kurun waktu 1999 – 2002. Dengan menggunakan kriteria pemilihan sampel tersebut, penelitian ini memperoleh 111 sampel untuk perioda 1997-2002.

D. Pengujian Statistis
1. Pengujian Hipotesis
Pengujian statistis terhadap seluruh hipotesis didasarkan pada tingkat keyakinan sebesar 0,95 atau =0,05. Hipotesis pertama diuji dengan menggunakan persamaan regresi yang memasukkan variabel indikator (dummy variable) seperti dinyatakan dalam model kedua, yaitu:
CARit = 0 + 1 UEit + 2 VI + it
Variabel indikator bernilai 0 untuk perioda sebelum implementasi PSAK No.46 (tahun 1997-1998), dan bernilai 1 untuk perioda setelah implementasi PSAK No.46 (tahun 1999-2002). Data yang digunakan dalam persamaan regresi model kedua ini adalah data cross-sectional untuk 111 perusahaan sampel, dan data runtun waktu (time-series) untuk perioda 1997 sampai 2002. Signifikan atau tidaknya perbedaan perubahan harga saham antara dua perioda pengamatan tersebut dilakukan dengan mengevaluasi nilai t atau p-value dari koefisien variabel indikator (VI) dari persamaan regresi, mengacu pada Mason dan Lind (1996:119). Apabila t-hitung lebih besar dari t-tabel, atau p-value lebih kecil dari  (0,05), maka hipotesis diterima.
Hipotesis kedua diuji menggunakan persamaan regresi dengan memasukkan empat variabel kontrol dan sebuah variabel indikator seperti yang dinyatakan dalam model ketiga, yaitu:
ERCit = 0 + 1 ALPAit + 2 PSLAit + 3 PTLAit + 4 SMit + 5 BPit + 6 VI + it
Variabel indikator bernilai 0 untuk perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan, dan bernilai 1 untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan. Data yang digunakan dalam persamaan regresi model ketiga ini adalah data cross-sectional untuk 111 perusahaan sampel pada tahun 2002. Hasil pengukuran masing-masing variabel independen selama empat tahun (1999-2002), kecuali variabel persistensi laba dan variabel indikator, dihitung rata-ratanya per tahun.
Signifikan atau tidaknya pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap ERC ditentukan dengan mengevaluasi nilai t atau p-value dari koefisien variabel alokasi pajak antar perioda (ALPA) hasil dari analisis regresi. Apabila t-hitung lebih besar dari t-tabel atau p-value lebih kecil dari  (0,05), maka hipotesis diterima. Pengujian hipotesis kedua ini akan sekaligus mengevaluasi pengaruh variabel-variabel kontrol terhadap ERC, yaitu variabel persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi, struktur modal, dan besaran perusahaan.
Hipotesis ketiga juga diuji dengan menggunakan persamaan regresi model ketiga. Pengujian hipotesis ketiga ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris tentang perbedaan ERC antara perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan dengan perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan. Perbedaan ERC antara kedua perusahaan tersebut tampak dari besaran koefisien dari variabel indikator (VI). Signifikan atau tidaknya perbedaan ERC antara kedua perusahaan ditentukan dengan mengevaluasi nilai t atau p-value dari koefisien variabel indikator (VI) tersebut, mengacu pada Mason dan Lind (1996:119). Apabila nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel atau p-value lebih kecil dari  (0,05), maka hipotesis ditolak.

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif untuk variabel-variabel penelitian yang digunakan dalam model persamaan regresi pertama dan kedua disajikan dalam tabel 1, sedangkan statistik deskriptif untuk variabel-variabel penelitian yang digunakan dalam model regresi ketiga disajikan dalam tabel 2.

Tabel 1
Statistik Deskriptif Regresi Model Pertama dan Kedua
CARit = 0 + 1 UE + 2 VI + it
Variabel N Minimum Maksimum Mean Deviasi Standar
CAR 666 -0,90546 0,89202 0,06172 0,19587
UE 666 -94,90168 32,11799 -0,72451 7,44925

Tabel 2
Statistik Deskriptif Regresi Model Ketiga
ERCit = 0 + 1 ALPA + 2 PSLA + 3 PTLA + 4 SM + 5 BP + 6 VI + it
Variabel N Minimum Maksimum Mean Deviasi Standar
ERC 111 -0,12700 0,32900 0,00514 0,06388
ALPA 111 -6,49848 0,83954 -0,16501 0,79740
PSLA 111 -0,98000 1,43800 -0,05050 0,39876
PTLA 111 -2,14476 4,95387 0,86487 1,18129
SM 111 0,11534 1,91908 0,75686 0,35599
BP 111 9,89878 13,54330 11,39426 0,73914

B. Hasil Uji Asumsi Klasik
Hasil uji autokorelasi, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan normalitas data model regresi ketiga disajikan dalam tabel 3.

Tabel 3
Hasil Uji Asumsi Klasik Model Regresi Ketiga
ERCit = 0 + 1 ALPA + 2 PSLA + 3 PTLA + 4 SM + 5 BP + 6 VI + it

Variabel Multi-kolinearitas Auto-
korelasi Hetero-
skedastisitas Normalitas
VIF1) Durbin-Watson Levene Test K-S2)
ALPA 1,286 1,904 0,097 0,137
PSLA 1,151 0,411 0,157
PTLA 1,137 0,170 0,083
SM 1,125 0,410 0,112
BP 1,125 0,840 0,200
1) VIF = Variance-Inflating Factor
2) K-S = Kolmogorov-Smirnov test
Tabel 3 menunjukkan bahwa VIF untuk masing-masing variabel independen tidak ada yang lebih besar dari 5. Dengan demikian, model regresi ketiga tidak mengindikasikan adanya masalah multikolinearitas. Hasil uji autokorelasi menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson adalah sebesar 1,904. Nilai tersebut berada di antara 1,79 dan 2,21 (untuk k=6 dan n=111), sehingga model regresi ketiga bebas dari masalah autokorelasi.
Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa signifikansi Levene-Test seluruhnya lebih besar dari  (0,05), sehingga model regresi ketiga bebas dari masalah heteroskedastisitas. Seluruh data yang digunakan dalam model regresi ketiga juga berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji Kolmogorov-Smirnov yang seluruhnya menunjukkan nilai signifikansi di atas  (0,05).
C. Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis 1
Hipotesis 1 (H1) menyatakan bahwa perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi PSAK No.46 lebih besar dari perioda sebelum implementasi PSAK No.46. Hipotesis ini diuji dengan menggunakan model persamaan regresi kedua. Hasil analisis regresi model kedua diringkas dan disajikan dalam tabel 4.
Tabel 4
Hasil Analisis Regresi Model Kedua
CARit = 0 + 1UE + 2VI + it
Variabel Koefisien Standard Error t p-value
(Constant) 0,0423 0,130 3,231 0,001*
UE 0,0470 0,011 4,286 0,000*
VI 0,0342 0,016 2,141 0,033**
* Signifikan secara statistis pada p<0,01
** Signifikan secara statistis pada p<0,05

Berdasarkan hasil regresi model kedua yang disajikan dalam tabel 4, dapat dibuat persamaan estimasi CAR sebagai berikut:
CAR = 0,0423 + 0,0470 UE + 0,0342 VI
VI adalah variabel indikator yang bernilai 0 untuk perioda sebelum implementasi PSAK No.46, dan bernilai 1 untuk perioda setelah implementasi PSAK No.46. Dengan mensubstitusikan nilai 0 atau 1 ke variabel VI dalam model regresi, dapat diketahui bahwa perubahan harga saham (CAR) pada perioda setelah implementasi PSAK No.46 adalah 0,0342 lebih besar dibandingkan dengan perioda sebelum implementasi PSAK No.46. Perbedaan CAR sebesar 0,0342 tersebut adalah koefisien dari variabel indikator (VI) yang dimasukkan ke dalam model regresi.
Signifikansi perbedaan CAR diuji dengan melakukan pengujian signifikansi atas koefisien dari VI. Tabel 4 menunjukkan bahwa p-value dari koefisien VI adalah 0,033, yaitu lebih kecil dari  (0,05), yang berarti bahwa koefisien sebesar 0,0342 tersebut adalah signifikan. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa H1 diterima. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa perubahan harga saham (CAR) pada perioda setelah implementasi PSAK lebih besar dari perioda sebelum implementasi PSAK No.46, dan perbedaan tersebut signifikan secara statistis.
Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Beaver dan Dukes (1972) maupun hasil penelitian Pincus (1997). Beaver dan Dukes (1972) menyatakan bahwa perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 lebih besar dari perioda sebelum diimplementasikannya APB Opinion No.11. Pincus (1997) juga menemukan bukti bahwa perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi alokasi pajak antar perioda berdasarkan SFAS No.96 lebih besar dari perioda sebelum SFAS No.96 tersebut diimplementasikan.
Hasil penelitian ini mempunyai arti bahwa investor memberikan penilaian yang lebih tinggi terhadap harga saham di sekitar tanggal publikasi laba pada perioda setelah implementasi PSAK No.46 dibandingkan dengan perioda sebelum implementasi PSAK No.46. Ada beberapa hal yang dapat diduga sebagai alasan mengapa investor memberikan penilaian yang lebih tinggi terhadap harga saham pada perioda implementasi PSAK No.46 tersebut. Kemungkinan pertama, pelaporan laba akuntansi pada perioda implementasi PSAK No.46 lebih informatif bagi investor dibandingkan dengan perioda sebelumnya. Semakin tinggi keinformatifan laba akuntansi, maka laba akuntansi tersebut dipandang semakin berkualitas oleh investor. Hal ini konsisten dengan pernyataan Means (1990), bahwa alokasi pajak antar perioda yang memisahkan komponen pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) akan memperbaiki kualitas pelaporan laba. Means (1990) berargumentasi bahwa pemisahan yang tegas antara komponen pajak kini dan pajak tangguhan akan lebih memudahkan investor untuk menilai kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya dan memprediksi arus kas di masa depan, dibandingkan pelaporan laba tanpa alokasi pajak atau pelaporan PPh yang dihitung dari laba akuntansi tanpa memisahkan pajak kini dan pajak tangguhan.
Kemungkinan kedua, sebagai komponen akrual, informasi tentang pajak tangguhan (baik penghasilan maupun beban pajak tangguhan) dimanfaatkan oleh investor untuk memprediksi jumlah kewajiban dan penghematan pajak perusahaan di masa depan, dihubungkan dengan besaran arus kas yang mungkin tersedia baginya. Hal ini konsisten dengan Foster (1986:79) yang menyatakan bahwa meskipun investor mengambil keputusan investasi atas dasar angka laba akuntansi saat ini, tetapi investor selalu mempertimbangkan kemungkinan arus kas perusahaan di masa depan yang tersedia baginya, dan prediksi arus kas masa depan tersebut dapat dilakukan dengan menganalisis informasi laba sekarang. Hal ini diperkuat oleh Warastuti (2003) yang memperoleh bukti bahwa laba sekarang memiliki hubungan positif dengan laba dan arus kas mendatang, sedangkan komponen laba yang memiliki pengaruh terhadap laba dan arus kas mendatang adalah komponen akrual.
Hipotesis 2
Hipotesis 2 (H2) menyatakan bahwa alokasi pajak antar perioda berdasar-kan PSAK No.46 berpengaruh negatif terhadap koefisien respon laba akuntansi (earnings response coefficient – ERC). Hipotesis ini diuji dengan menggunakan model persamaan regresi ketiga. Hasil analisis regresi model ketiga diringkas dan disajikan dalam tabel 5.
Tabel 6
Hasil Analisis Regresi Model Ketiga
ERCit = 0 + 1 ALPA + 2 PSLA + 3 PTLA + 4 SM + 5 BP + 6 VI + it
Variabel Koefisien Standard Error t p-value
(Constant) 0,15900 0,058 2,749 0,028**
ALPA -0,02615 0,008 -3,417 0,001*
PSLA 0,02897 0,140 2.001 0,048**
PTLA 0,00279 0,005 0,575 0,566
SM -0,03317 0,016 -2,120 0,036**
BP -0,01130 0,008 -1,463 0,146
VI -0,00064 0,012 -0,055 0,956
* Signifikan secara statistis pada p<0,01
** Signifikan secara statistis pada p<0,05

Tabel 6 menunjukkan bahwa koefisien regresi untuk variabel alokasi pajak antar perioda (ALPA) adalah sebesar –0,02615 dengan nilai t sebesar –3,417 (p-value 0,001), yang berarti signifikan pada  = 1%. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa penelitian ini menerima H2. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 berpengaruh negatif terhadap ERC.
Hasil ini tidak mendukung hasil penelitian Beaver dan Dukes (1972), serta bertentangan dengan hasil penelitian Pincus (1997). Beaver dan Dukes (1972) memperoleh bukti bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 tidak mempengaruhi perubahan harga saham, sedangkan Pincus (1997) memperoleh bukti bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan SFAS No.96 berpengaruh positif terhadap perubahan harga saham. Perbedaan hasil penelitian di antara mereka konsisten dengan pernyataan Means (1990), bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan SFAS No.96 memang menghasilkan informasi laba yang lebih baik daripada alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11.
Perbedaan hasil penelitian ini dengan hasil penelitian Pincus (1997) terjadi karena adanya perbedaan dalam memperlakukan variabel alokasi pajak antar perioda dalam analisis. Pincus (1997) memperlakukan variabel alokasi pajak antar perioda sebagai variabel yang mempengaruhi perubahan harga saham (CAR), sedangkan penelitian ini memperlakukannya sebagai variabel yang mempengaruhi koefisien respon laba akuntansi (ERC).
Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Collins dan Salatka (1993) dan Chandrarin (2001), yang memperoleh bukti bahwa laba (rugi) selisih kurs (sebagai komponen transitori yang menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi) berpengaruh negatif terhadap ERC. Sebagai komponen transitori dan gangguan persepsian dalam laba akuntansi, alokasi pajak antar perioda juga terbukti berpengaruh negatif terhadap ERC.
Hasil empiris penelitian ini mempunyai arti bahwa semakin besar penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin besar laba akuntansi), akan semakin rendah ERC. Sebaliknya, semakin besar beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin rendah laba akuntansi), akan semakin besar ERC.
Ada beberapa hal yang dapat diduga menjadi alasan mengapa pelaporan beban dan penghasilan pajak tangguhan berpengaruh negatif terhadap ERC. Kemungkinan pertama, investor menyadari bahwa penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan hasil dari akuntansi akrual dan merupakan komponen yang bersifat transitori. Dengan kesadaran tersebut, investor akan memahami bahwa kenaikan (penurunan) laba akuntansi hanyalah akibat dari pengakuan konsekuensi pajak karena adanya perbedaan temporer nilai tercatat aktiva dan kewajiban berdasarkan standar akuntansi dan ketentuan perpajakan. Oleh karena itu, penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi akan berpengaruh negatif terhadap respon investor pada laba akuntansi (ERC), karena ternyata investor tidak naif.
Kemungkinan kedua, investor belum sepenuhnya mampu menginterpretasikan dengan baik tentang substansi penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi. Dari sudut pandang akuntansi akrual, penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun berjalan secara substansial merefleksikan tentang: (a) adanya penghematan pembayaran pajak yang masih akan diperoleh perusahaan pada tahun-tahun mendatang, atau (b) adanya penghematan pembayaran pajak yang telah diperoleh perusahaan lebih dulu pada tahun-tahun yang lalu. Demikian pula, beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun berjalan secara substansial juga merefleksikan tentang: (a) adanya beban pajak yang masih harus dibayar oleh perusahaan pada tahun-tahun mendatang, atau (b) adanya beban pajak yang sudah dibayar lebih dulu oleh perusahaan pada tahun-tahun yang lalu.
Kekurang-mampuan investor untuk menginterpretasikan substansi pengha-silan (beban) pajak tangguhan tersebut, akan mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam merespon laba akuntansi. Walaupun investor menyadari bahwa penghasilan (beban) pajak tangguhan merupakan hasil dari proses akuntansi akrual, tetapi karena tidak didukung oleh kemampuan untuk menginterpretasikan substansinya, maka keinformatifan laba akuntansi bagi investor menjadi berkurang. Berkurangnya keinformatifan laba akuntansi tersebut akan mengurangi kebermanfaatan informasi laba bagi investor. Oleh karena itu, respon investor terhadap laba akuntansi (ERC) akan terpengaruh secara negatif oleh pelaporan penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut.
Di samping menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap ERC, dari hasil analisis regresi model ketiga (seperti diringkas dan disajikan dalam tabel 5) juga dapat dievaluasi pengaruh empat variabel kontrol terhadap ERC sebagai berikut:
(a) Persistensi laba akuntansi berpengaruh positif terhadap ERC. Hasil empiris ini konsisten dengan hasil penelitian terdahulu (Kormendi dan Lipe, 1987; Collins dan Kothari, 1989; Lev dan Thiagarajan, 1993; dan Chandrarin, 2001).
(b) Pertumbuhan laba akuntansi tidak berpengaruh signifikan terhadap ERC. Hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Chandrarin (2001), tetapi tidak mendukung hasil penelitian Collins dan Kothari (1989).
(c) Struktur modal berpengaruh negatif terhadap ERC. Hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Dhaliwal et al. (1991), tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Chandrarin (2001).
(d) Besaran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ERC. Hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Chandrarin (2001), tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Chaney dan Jeter (1991).
Hipotesis 3
Hipotesis 3 (H3) menyatakan bahwa koefisien respon laba akuntansi (earnings response coefficient – ERC) pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan adalah tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan. Hipotesis ini juga diuji dengan persamaan regresi model ketiga, yang hasilnya diringkas dan disajikan dalam tabel 5 di atas.
Berdasarkan hasil regresi yang diringkas dan disajikan pada tabel 5 tersebut, dapat dibuat persamaan estimasi ERC sebagai berikut:
ERC = 0,159 – 0,02615 ALPA + 0,02897 PSLA + 0,002794 PTLA – 0,03317 SM – 0,01130 BP – 0,00064 VI
VI adalah variabel indikator yang bernilai 0 untuk perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan, dan bernilai 1 untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan. Dengan mensubstitusikan nilai 0 atau 1 ke variabel VI dalam model regresi, dapat diketahui bahwa ERC untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan adalah -0,00064 (lebih rendah) dibandingkan dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan. Signifikan atau tidaknya perbedaan ERC diuji dengan melakukan pengujian signifikansi atas koefisien dari VI. Tabel 5 menunjukkan bahwa p-value dari koefisien VI adalah 0,956 (lebih besar dari =0,05), yang berarti bahwa koefisien sebesar -0,00064 tersebut tidak signifikan. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa H3 diterima. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa rata-rata ERC pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan secara statistis tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Pincus (1997), yang menyatakan bahwa ada perbedaan respon investor terhadap pelaporan beban dan penghasilan pajak tangguhan. Penelitian Pincus (1997) menemukan bukti bahwa harga saham akan turun ketika perusahaan melaporkan beban pajak tangguhan, dan sebaliknya, harga saham akan naik ketika perusahaan melapor-kan penghasilan pajak tangguhan.
Hasil penelitian ini mempunyai arti bahwa pelaporan penghasilan maupun beban pajak tangguhan keduanya tidak berpengaruh secara berbeda terhadap respon investor pada laba akuntansi (ERC). Hasil pengujian H3 ini mendukung hasil pengujian hipotesis kedua H2, yaitu bahwa baik pelaporan penghasilan pajak tangguhan maupun beban pajak tangguhan, keduanya berpengaruh negatif pada ERC. Demikian pula, persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi, struktur modal, dan besaran perusahaan juga tidak mempengaruhi ERC secara berbeda pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan maupun perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan.
Ada satu hal yang dapat diduga menjadi alasan mengapa pelaporan penghasilan maupun beban pajak tangguhan tidak berpengaruh secara berbeda terhadap ERC. Investor menyadari bahwa penghasilan maupun beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi, keduanya merupakan komponen transitori yang menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai petunjuk awal bahwa manajemen perusahaan tidak dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap profitabilitas perusahaan dengan cara mengelola metoda akuntansi sedemikian rupa untuk memperbesar pelaporan penghasilan pajak tangguhan (agar laba akuntansi bersih tampak besar), atau memperbesar pelaporan beban pajak tangguhan (agar laba akuntansi bersih tampak rendah). Artinya, investor tidak dapat dikelabuhi dengan cara mengelola alokasi pajak antar perioda yang diarahkan untuk mempengaruhi besar-kecilnya laba akuntansi.

5. PENUTUP
Kesimpulan
Penelitian ini memberikan bukti bahwa rata-rata perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi PSAK No.46 (1999-2002) lebih besar dari perioda sebelumnya (1997-1998). Bukti ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa kualitas laba akuntansi pada perioda setelah imple-mentasi PSAK No.46 adalah lebih baik dibandingkan dengan perioda sebelumnya. Pelaporan beban pajak penghasilan yang mencakup pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax), menghasilkan laba akuntansi yang lebih informatif dan dapat mencerminkan kinerja perusahaan yang sebenarnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lev dan Zarowin (1999), bahwa semakin informatif laba akuntansi bagi investor dalam membuat keputusan ekonomi, maka semakin tinggi respon investor terhadap laba akuntansi tersebut yang ditunjukkan dengan besarnya perubahan harga saham di sekitar tanggal publikasi laba.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 berpengaruh negatif terhadap ERC. Hal ini berarti bahwa semakin besar penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin besar laba akuntansi), akan semakin rendah ERC. Sebaliknya, semakin besar beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin rendah laba akuntansi), akan semakin besar ERC. Bukti ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa setiap komponen transitori akan menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi, dan akan berpengaruh negatif terhadap ERC.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa ERC untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan. Bukti ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa investor menyadari bahwa penghasilan pajak tangguhan maupun beban pajak tangguhan keduanya merupakan komponen transitori yang menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi. Dengan kesadaran tersebut, investor tidak dapat dikelabuhi dengan cara mengelola alokasi pajak antar perioda yang diarahkan untuk mempengaruhi besar-kecilnya laba akuntansi.
Implikasi
Secara teoritis, hasil penelitian ini mempunyai implikasi berikut. Pertama, dari sudut pandang keterhubungan antara laba bersih sebelum pajak dengan beban pajak yang dilaporkan, alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 telah berhasil memperbaiki kualitas laba akuntansi; tetapi dari sudut pandang kecukupan pengungkapan, pelaporan penghasilan dan beban pajak tangguhan menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi. Kedua, hasil penelitian ini memperkuat sintesis dalam literatur akuntansi, bahwa setiap komponen transitori yang menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi akan direspon negatif oleh investor (lihat Collins dan Kothari, 1989; Cho dan Jung, 1991; Collins dan Salatka, 1993; dan Chandrarin, 2001).
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dan keputusan. Ikatan Akuntan Indonesia, dalam hal ini dewan penyusun standar akuntansi keuangan, dan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk mengevaluasi kembali persyaratan pengungkapan wajib yang berkaitan dengan pajak kini dan pajak tangguhan.
Untuk mengurangi gangguan persepsian dalam laba akuntansi, pengungkapan perlu diperluas pada informasi yang berkaitan tentang: (a) jangka waktu atau perioda direalisasikannya aktiva dan kewajiban pajak tangguhan di masa yang akan datang, serta estimasi jumlahnya ketika aktiva dan kewajiban pajak tangguhan tersebut direalisasi; (b) perioda realisasi penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan pada tahun berjalan, apakah penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut telah terealisasi perioda sebelumnya atau masih akan terealisasi pada perioda-perioda yang akan datang. Hal ini perlu diungkapkan lebih jelas agar gangguan persepsian yang terkandung dalam laba akuntansi dapat dikurangi, sehingga mengurangi pula risiko investor.
Akuntan publik dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengungkapan dan penjelasan yang memadahi tentang informasi yang berkaitan dengan pajak tangguhan, melebihi pengungkapan wajib yang disyaratkan oleh PSAK No.46 dan Bapepam. Pengungkapan dan penjelas-an seperti ini diperlukan karena pengungkapan tersebut dapat menambah keinformatifan laporan keuangan.
Investor dan pelaku pasar modal lainnya dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai dasar untuk mempertimbangkan pentingnya melakukan pengkajian dan pemahaman terhadap substansi penghasilan dan beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi. Dengan demikian, keputusan investasi dapat dilakukan secara tepat.
Manajer perusahaan publik dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai suatu pengetahuan bahwa penyajian penghasilan (beban) pajak tangguhan dalam laporan laba-rugi (sebagai akibat dari penggunaan metoda akuntansi yang berbeda dengan ketentuan perpajakan) tidak membedakan pengaruhnya terhadap ERC. Artinya, baik penghasilan maupun beban pajak tangguhan, keduanya berpengaruh negatif terhadap ERC. Dengan demikian, manajemen perusahaan akan memahami bahwa persepsi investor terhadap profitabilitas perusahaan tidak dapat dipengaruhi melalui pengelolaan alokasi pajak antar perioda, yaitu pelaporan penghasilan atau beban pajak tangguhan.
Keterbatasan
Hasil penelitian ini dapat berguna bagi penelitian-penelitian yang sama di masa yang akan datang, dengan mempertimbangkan beberapa keterbatasan penelitian berikut ini.
(1) perioda yang diamati dalam penelitian ini terlalu pendek, yaitu dua tahun untuk perioda sebelum implementasi PSAK No.46 (tahun 1997-1998), dan empat tahun untuk perioda setelah implementasi PSAK No.46 (tahun 1999-2002).
(2) penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan pemanufakturan, sehingga mengabaikan pengaruh industri (manufaktur dan non-manufaktur) terhadap ERC.
(3) penelitian ini memasukkan perioda pengamatan tahun 1997-1998 yang dapat dipandang sebagai perioda terjadinya krisis moneter di Indonesia, sehingga hasil pengujian perbedaan CAR pada tahun 1997-1998 (sebelum implementasi PSAK No.46) dan tahun 1999-2002 (setelah implementasi PSAK No.46) mungkin dipengaruhi oleh perioda krisis dan pasca-krisis moneter.
Penelitian Anjuran
Penelitian ini merupakan pengembangan penelitian Chandrarin (2001) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ERC dengan menggunakan data pasar modal Indonesia (BEJ). Kesimpulan penelitian ini, seperti diuraikan di atas, membuka peluang untuk melakukan penelitian lanjutan di masa yang akan datang, sehingga akan memperluas khasanah penelitian tentang ERC di Indonesia dan meningkatkan validasi hasil penelitian ini. Berikut ini adalah beberapa penelitian lanjutan yang dianjurkan.
(1) penelitian berikutnya dianjurkan untuk menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap koefisien respon laba akuntansi (ERC) dengan menggunakan data laporan keuangan publikasian triwulanan atau tengah tahunan.
(2) penelitian berikutnya dianjurkan untuk menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap ERC, di mana perhitungan CAR dilakukan menggunakan model pasar-sesuaian (market-adjusted model) dengan beta yang telah dikoreksi. Hasil penelitian dapat dibandingkan dengan hasil penelitian ini, di mana CAR dihitung menggunakan model pasar (market-model) dengan beta koreksian.
(3) penelitian berikutnya dianjurkan untuk menguji perbedaan pengaruh alokasi pajak antar terhadap ERC dengan melakukan analisis regresi secara terpisah untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan dan beban pajak tangguhan. Selanjutnya, dilakukan pengujian signifikansi perbedaan pengaruh tersebut, di mana nilai t-hitung ditentukan berdasarkan formula Hartono (1997) seperti yang dikutip oleh Chandrarin (2001), bukannya menggunakan variabel indikator (dummy variable) seperti dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ayres, F.L. 1994. Perception of Earnings Quality: What Manager Need to Know. Management Accounting (March). pp. 27-29.
Ball, R. dan P. Brown. 1968. An Empirical Evaluation of Accounting Income Numbers. Journal of Accounting Research (Autumn). pp. 159-178.
Bandyopadhyay, S.P. 1994. Market Reaction to earnings Announcemenmts of Succesful Efforts and Full Cost Firms in the Oil and Gas Industry. The Accounting Review. Vol.69 No.4 (October). pp. 657-674.
Baridwan, Z. 2001. Akuntansi Keuangan Intermediate: Masalah-Masalah Khusus. Edisi Satu. Cetakan ke tujuh. BPFE. Yogyakarta.
Beaver, W.H. dan R.E. Dukes. 1972. Interperiod Tax Allocation, Earnings Expectation, and Behavior of Security Prices.. Accounting review 48 (April). pp. 225-249.
_____, dan S. Ryan. 1987. The Information Content of Security Prices: A Second Look. Journal of Accounting and Economics. pp. 133-158.
_____. 1998. Financial Reporting: An Accounting Revolution. Third Edition. Upper Sadle River. NJ: Prentice-Hall.
Biddle, G.C. dan G.S. Seow. 1991. The Estimation and Determinant of Associations Between Return and Earnings: Evidence from Cross-Industry Comparisons. Journal of Accounting, Audit and Finance (Spring). pp. 183-232.
Chandrarin, G. 2001. Laba (Rugi) Selisih Kurs Sebagai salah Satu Faktor Yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba Akuntansi: Bukti Empiris Dari Pasar Modal Indonesia. Disertasi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
_____. 2003. The Impact of Accounting Methods for Transaction Gains (Losses) on The Earnings Response Coefficients: The Indonesian Case. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.6 No.3 (September). Hal. 217-231.
Chaney, P.K. dan D.C. Jeter. 1991. The Effect of Size on Magnitude of Long Window Earnings Response Coefficients. Contemporarry Accounting Research. Vol.8 No.2. pp. 540-560.
Cheng, C.S.A, W.S. Hopwood, dan J.C. McKeown. 1992. Non-Linearity and Specification Problems in Unexpected Earnings Response Regresion Model. The Accounting Review. Vol.67 No.3 (July). pp. 579-596.
Cho, J.Y. dan K. Jung. 1991. Earnings Response Coefficients: A Synthesis of Theory and Empirical Evidence. Jornal of Accounting Literature. Vol 10. pp. 85-116.
Collins, D.W. dan W.K. Salatka. 1993. Noisy Accounting Earnings Signals and Earnings Response Coefficients: The Case of Foreign Currency Accounting. Contemporary Accounting Research. Vol. 10 No.1 (Fall). pp.119-159.
_____, dan S.P. Kothari. 1989. An Analysis of Intertemporal and Cross-sectional Determinants of Earnings Response Coefficients. Journal of Accounting and Economics 11, No.1. pp. 143-182.
Dewi, A.R. 2003. Pengaruh Konservatisma Laporan Keuangan Terhadap Earnings Response Coefficient. Makalah. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi VI (Surabaya). Hal. 507-525.
Dhaliwal, D.S, K.J. Lee, dan N.L. Fargher. 1991. The Association between Unexpected Earnings and Abnormal Security Returns in the Presence of Financial Leverage. Contemporary Accounting Research 8, No.1. pp.20-41.
Foster, G. 1986. Financial Statement Analysis. Second edition. Prentice-Hall International.
Harnanto. 2003. Akuntansi Perpajakan. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. BPFE Yogyakarta.
Hartono, J. 1998. “Isu-isu Metodologi Penelitian Akuntansi Bidang Pasar Modal”. Makalah. Semiloka Sehari Arah dan Topik Penelitian Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal. Yogyakarta (18 Juli). Hal. 1-21.
Hayn, C. 1995. The Information Content of Losses. Journal of Accounting and Economics (20). pp. 125-153.
Holthausen, R. dan R. Verrecchia. 1988. The Effects of Sequencial Information Release on the Variance of Price Changes in an Intertemporal Multi-Assets Market. Journal of Accounting Research 26 (Spring). pp. 82-106.
Ikatan Akuntan Indonesia. 1994. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.16: Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain. Salemba Empat. Jakarta.
______. 1998. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.46: Akuntansi Pajak Penghasilan. Salemba Empat. Jakarta.
Jaswadi. 2003. Dampak Earnings Reporting Lags Terhadap Koefisien Respon Laba. Makalah. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi VI (Surabaya). Hal. 487-506.
Kormendi, R. dan R. Lipe. 1987. Earnings Inovations, Earnings Persistance, and Stock Return. Journal of Business 60. pp. 323-345.
Kusuma, I.W. 2003. Comparing The Earnings Response Coefficients of US Multinational and Domestic Firms: The Use of Geographic Segment Reporting Information. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.6 No.3 (September). Hal. 232-248.
Lev, B. dan S.R. Thiagarajan. 1993. Fundamental Information Analysis. Journal of Accounting Research (Autumn). pp. 190-215.
______, dan P. Zarowin. 1999. The Boundaries of Financial Reporting and How to Extend Them. Journal of Accounting Research 37 (Autumn). pp 153-185.
Mason, R.D. dan D.A. Lind. 1996. Statistical Techniques in Business and Economics. 9th Edition. Richard D. Irwin Inc.
Mayangsari, S. 2002. Bukti Empiris Pengaruh Spesialisasi Industri Auditor Terhadap Earnings Response Coefficient. Makalah. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi V (Semarang).
Means, K.M. 1990. Accounting for Income Taxes: FAS 96 – Unexpected Results. Journal of Accounting, Auditing & Finance. Vol 14. pp. 571-579.
Pincus, M. 1997. Stock Price Effects of the Allowance of LIFO for Tax Purpose. Journal of Accounting and Economics (23). pp. 283-308.
Scott, W.R. 1997. Financial Accounting Theory. Prentice-Hall Inc. Upper Saddle River. New Jersey.
Suryono, B. 2003. Pengaruh Kualitas Auditor terhadap Koefisien Respon Laba Akuntansi. Tesis. Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya.
Warastuti, Y. 2003. Analisis Kemampuan Harga Saham Dalam Mencerminkan Informasi Laba dan Dividen yang Digunakan dalam Pembentukan Ekspektasi Laba Mendatang. Makalah. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi VI (Surabaya). Hal. 457-472.
Wasley, C.E. 1991. Mandatory Accounting Changes and Earnings Response Coefficients: SFAS 2 and Accounting for Research and Development Costs. Working Paper. Washington University.
Widiastuti, H. 2001. Pengaruh Luas Ungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan Terhadap Earning Response Coefficient (ERC). Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: