INCOME SMOOTHING, TOBIN’S Q, AGENCY PROBLEMS DAN KINERJA PERUSAHAAN

INCOME SMOOTHING, TOBIN’S Q, AGENCY PROBLEMS DAN KINERJA PERUSAHAAN

Oleh
Eddy Suranta, SE, MSi, Ak & Pratana Puspita Merdistusi, SE, MSi, Ak

ABSTRACT

This research have two main objectives which based on agency theory. First, to test influence of financial performance, financial risk, market risk, managerial ownership, public ownership and firm value on income smoothing. Second, to test the influence of financial performance, financial risk, market risk, managerial ownership, public ownership and income smoothing on firm value. Financial performance is proxies by net profit margin, operating profit margin and return on asset. Firm value is proxies by Tobin’s Q.
The empirical testing to accept or reject null hypothesis is OLS regression. By using pooling data, observation used in this research consist of 147 non financial companies.
The research result show that firm size is important determinant in income smoothing practice and firm value. From the first objective of this research, empirical result show that income smoothing happend in small firm, high financial risk, large managerial and public ownership. While empirical result from second objective show that net profit margin, operating profit margin, financial risk, and income smoothing have influence positively on firm value.
The result indicates the both income smoothing and firm value are determined simultaneously. The next result indicates that managerial ownership has positive and significant influence on income smoothing and has negative and significant influences on firm value. This overall result support market power and entrenchment hypothesis.

Key words: Income Smoothing, Tobin’s Q, Managerial and Public ownership, Financial Performance, Financial and Market Risk

Pendahuluan
Permasalahan yang terjadi akibat adanya saling kepentingan antara pemilik perusahaan dan manajer dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) informasi mengenai laba yang merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur kinerja manajemen, (2) adanya pemisahan fungsi pengelolaan dan fungsi kepemilikan dimana manajemen tidak merasakan langsung akibat adanya kesalahan dalam pembuatan keputusan bisnis karena risiko tersebut sepenuhnya ditanggung oleh para pemegang saham.
Laba yang menjadi pertimbangan investor dalam mengukur kinerja manajemen dan bagi keputusan investasinya tanpa mempertimbangkan prosedur yang digunakan (Beattie et al., 1994) dalam menghasilkan informasi tersebut mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba. Scott (2000) mengidentifikasi adanya empat pola yang dilakukan manajemen unuk melakukan manajemen atas laba yaitu (1) taking a bath, (2) income minimization, (3) income maximization, dan (4) income smoothing. Dalam teori praktek perataan laba dinyatakan pilihan metode akuntansi (earnings-smoothing hypothesis atau income smoothing hypothesis) digunakan untuk mengurangi fluktuasi laba daripada upaya memaksimumkan atau meminimumkan laba yang dilaporkan (Borneo et al., 1976; Moses, 1987; Bartov, 1993) dan menyebabkan terjadinya peluang manajemen laba (Simpson, 1969 dan Beattie et al., 1994) dan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan baik bagi pemilik maupun bagi manajemen perusahaan itu sendiri (Carlson dan Bathala, 1997).
Dipandang dari sisi manajemen, Salno dan Baridwan (2000) menjelaskan manajer termotivasi untuk melakukan perataan laba pada dasarnya bertujuan (a) mengurangi total pajak, (b) meningkatkan kepercayaan diri manajer, (c) meningkatkan hubungan antara manajer dan karyawan, (d) siklus peningkatan dan penurunan penghasilan dapat ditandingi dan gelombang optimisme dan pesimisme dapat diperlunak.
Penelitian ini termotivasi atas penelitian yang dilakukan oleh Salno dan Baridwan (2000), Assih dan Gudono (2000), Samlawi dan Sudibyo (2000) serta Makaryanawati (2002). Tujuan penelitian ini adalah memberikan bukti pengaruh kinerja dan risiko keuangan, risiko pasar, kepemilikan manajerial dan publik dan nilai perusahaan terhadap perataan laba dan beberapa variabel tersebut termasuk perataan laba terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini mencoba menggabungkan beberapa proksi yang digunakan dalam penelitian sebelumnya termasuk menambah variabel risiko pasar dan kepemilikan publik. Pertimbangan yang diberikan dengan menambah variabel ini adalah publik yang memiliki saham pada suatu perusahaan cenderung sebagai pihak yang selalu dikorbankan ketika morald hazard manajer dan konflik keagenan yang timbul pada perusahaan tersebut.

Kinerja Keuangan, Struktur Kepemilikan, Risiko dan Nilai Perusahaan
Konsep perataan penghasilan menurut Fudenberg dan Tirole (1995) mengasumsikan bahwa investor adalah pihak yang menolak risiko sehingga mendorong manajer untuk melakukan perataan penghasilan (Lambert, 1984 dan Dye, 1988) dan oleh pihak kreditur yang menginginkan pembayaran hutang dalam jumlah yang lebih besar (Trueman et al., 1988).
Koch (1981) menyatakan income smoothing merupakan suatu sarana yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi variabilitas urut-urutan pelaporan penghasilan relatif terhadap beberapa urut-urutan target yang terlihat karena adanya manipulasi variabel-variabel (akuntansi) semu (transaksi) riil. Penghasilan yang dimaksudkan meliputi seluruh laba (penghasilan positip) dan rugi (penghasilan negatif).
Praktek perataan laba dianggap sebagai perilaku yang rasional dimana Beattie et al., (1994) memberikan argumentasi manajer yang bertindak untuk memaksimalkan utility¬-nya sangat tergantung pada nilai perusahaan, fluktuasi laba dan tidak dapat diprediksinya laba merupakan sebab penentu ukuran risiko pasar, sedangkan yang menyebabkan penentu nilai saham adalah rasio pembayaran dividen. Smith (1976) menambahkan manajer termotivasi melakukan perataan penghasilan disebabkan tuntutan yang dilakukan oleh para pemilik perusahaan (Trueman et al., 1988 dan Dye, 1988).
Dye (1988) menyatakan pemilik mendukung dilakukannya perataan penghasilan karena adanya motivasi eksternal, internal dan posisi serta bonus yang diterima manajer. Motivasi eksternal ditunjukkan oleh usaha pemilik saat ini untuk mengubah persepsi investor yang potensial terhadap nilai perusahaan sedangkan motivasi internal menunjukkan maksud pemilik untuk meminimalisasi biaya kontrak manajer. Tanpa mempertimbangkan prosedur akuntansi yang dipilih oleh para manajer, mereka berupaya melakukan saving earnings untuk periode akuntansi berikutnya agar mereka tetap terlihat memiliki kinerja yang baik sehingga bonus yang mereka harapkan dapat mereka terima (Spohrs, 2004).
Perataan laba menurut Bartov (1993) dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode akuntansi atau taksiran akuntansi yang dapat digunakan atau dengan memperlakukan transaksi yang menyebabkan laba yang dilaporkan lebih mendekati angka yang ditargetkan daripada memaksimumkan aliran kas yang diharapkan saat ini. Akan tetapi Dascher dan Malcom (1970) menyatakan bahwa praktek perataan laba dilakukan dengan cara real smoothing atau artificial smoothing. Real smoothing penekanannya pada suatu transaksi yang sesungguhnya dilakukan atau tidak dilakukan berdasarkan pada pengaruhnya dalam perataan penghasilan sedangkan artificial smoothing menekankan pada prosedur akuntansi yang memindahkan biaya dan/atau pendapatan dari suatu periode ke periode lain.
Dengan demikian, praktek perataan laba menurut Ronen dan Sadan (1975) dapat dilakukan melalui beberapa dimensi perataan laba yaitu (1) perataan laba melalui peristiwa yang terjadi atau pengakuan suatu peristiwa, (2) perataan laba melalui alokasi selama periode tertentu dan (3) perataan laba melalui klasifikasi.
Praktek perataan laba tentu saja tidak terlepas dari beberapa faktor yang telah dijelaskan di atas, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kinerja perusahaan baik kinerja saham maupun kinerja keuangan serta karakteristik perusahaan seperti tingkat profitabilitas dan ukuran perusahaan, risiko keuangan maupun risiko pasar perusahaan. Carlson dan Bathala (1997) menyimpulkan beberapa variabel penentu perataan laba antara lain adalah tingkat profitabilitas dan ukuran perusahaan dimana semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin tinggi kemungkinan perusahaan melakukan perataan laba dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki profitabilitas yang rendah. Bitner dan Dolan (1996) menambahkan perusahaan yang cenderung memiliki risiko keuangan yang tinggi menyebabkan manajer cenderung untuk tidak melakukan perataan laba
Spohr (2004) melakukan pengujian praktek income smoothing antara perusahaan privat dan perusahaan publik menyimpulkan tindakan income smoothing lebih banyak dilakukan oleh perusahaan privat daripada perusahaan publik. Perusahaan-perusahaan privat cenderung melakukan praktek income smoothing terhadap perkiraan ekstra-ordinari dan kapitalisasi aset tidak berwujud (R&D).
Niehaus (1989) melakukan pengujian terhadap pemilihan metode akuntansi yang digunakan oleh manajer dan pengaruhnya terhadap praktek perataan laba menyimpulkan berbagai pilihan tersebut ditujukan untuk menghindari debt covenant. Akan tetapi Holthausen dan Leftwitch (1983) menyimpulkan hasil yang berbeda dimana manajer cenderung menerapkan metode akuntansi yang menghasilkan laba yang lebih rendah jika dihubungkan dengan ukuran perusahaan yang digunakan sebagai proksi political visibility.
Penelitian Bowen et al., (2003) yang menguji perilaku income smoothing melalui mekanisme berbagai pilihan metode akuntansi dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan yang diperoleh oleh para shareholders tidak dapat memberikan bukti bahwa pemilihan berbagai metode akuntansi dalam melakukan praktek income smoothing dapat merugikan shareholders meskipun terdapat indikasi adanya mekanisme corporate governance yang sangat rendah.
Penelitian Aivazian dan Booth (2002) yang menguji praktek income smoothing dengan membandingkan antara kebijakan dividen dan kebijakan hutang menemukan bukti (1) perusahaan yang melakukan praktek income smoothing jika perusahaan memperoleh dana pinjaman dalam bentuk hutang (obligasi), (2) ada hubungan yang sangat kuat antara pembayaran dividen dengan pengumuman peringkatan hutang (bond rating) dimana perusahaan yang termasuk kedalam peringkat hutang akan melakukan kebijakan perataan atas pembayaran dividen sehingga pembayaran dividen dimasa lalu akan sangat berpengaruh dalam pembayaran dividen saat ini.
Penelitian Michelson et al., (1995) menguji hubungan perataan laba dan kinerja pasar saham untuk perusahaan publik di Amerika Serikat menyimpulkan perataan laba penghasilan adalah perusahaan-perusahaan besar yang memiliki nilai pasar saham yang relatif besar, return dan risiko yang lebih rendah dibandingkan nilai perusahaan dengan nilai pasar saham yang rendah dan merupakan signaling technique dalam rangka menyediakan signal bagi pembuatan prediksi yang lebih akurat dimana ketidakmampuan diprediksinya laba masa yang akan datang disebabkan laba yang berfluktuasi dan memiliki hubungan dengan risiko pasar.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Salno dan Baridwan (2000) menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitian Michelson et al., (1995) dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kinerja dan risiko perusahaan yang melakukan perataan laba dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. Penelitian yang dilakukan oleh Makaryanawati (2002) menunjukkan bahwa ROA dan LEV menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Dari uraian beberapa hasil penelitian di atas, hipotesis alternatif yang diturunkan adalah:
H11 : Rasio Net Profit Margin memiliki pengaruh yang positif terhadap perataan laba
H12 : Rasio Operating Profit Margin memiliki pengaruh yang positif terhadap praktek perataan laba
H13 : Rasio Return on Asset memiliki pengaruh yang positif terhadap praktek perataan laba
H2 : Risiko keuangan memiliki pengaruh yang positif terhadap perataan laba
H3 : Risiko pasar memiliki pengaruh yang positif terhadap perataan laba
H4 : Nilai perusahaan memiliki pengaruh yang positif terhadap perataan laba
H5 : Kepemilikan Manajerial memiliki pengaruh positif terhadap perataan laba
H6 : Kepemilikan publik memiliki pengaruh yang negatif terhadap perataan laba

Perataan Laba, Kinerja Keuangan, Struktur Kepemilikan, dan Risiko
Beberapa motivasi yang mendasari para manajer melakukan motivasi entrenchment menurut Brochet dan Gildao (2004) antara lain adalah (1) kompensasi yang diterima manajer tidak sesuai dengan kinerja yang mereka hasilkan (Job Security Hypothesis), (2) jumlah saham yang dimiliki para manajer dimana Morck et al., (1988) dalam Brochet dan Gildao (2004) menjelaskan bahwa pada level kepemilikan saham oleh para manajer yang relatif sedikit maupun besar praktek income smoothing akan terjadi. Hal ini disebabkan para manajer melakukan pensejajaran (alignment) antara manajer dengan para shareholders, (3) tidak adanya mekanisme monitoring yang efektif, (4) pasar modal yang sangat kompetitif dimana para manajer akan melakukan praktek income smoothing dengan cara meningkatkan kinerja pada tahun dimana perusahaan mengalami kinerja yang buruk “poor performance” dan melakukan “safety performance” pada tahun dimana perusahaan mengalami kinerja yang sangat baik, (5) masa jabatan CEO dimana semakin lama masa jabatan CEO dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh para dewan direksi dan mempengaruhi mekanisme corporate governance, (6) CEO berperan dalam pengungkapan dan penyajian laporan keuangan, sehingga mereka akan lebih berpengaruh daripada dewan direksi.
Praktek perataan laba dihubungkan dengan struktur kepemilikan menggunakan dua pendekatan teori yaitu signalling theory dan agency theory. Signalling theory menyatakan didalam pasar modal terjadi informasi asimetri antara pemilik perusahaan dan pemakai laporan keuangan yang disebabkan oleh pihak lain (manajer dan direktur) yang lebih banyak memiliki informasi yang penting dan bersifat informasi privat mengenai keadaan perusahaan. Smith (1976) dan Dhaliwal et al., (1982) menyimpulkan bahwa perusahaan yang bersifat publik di pasar modal cenderung melakukan praktek perataan laba daripada perusahaan yang bersifat tertutup. Untuk itu Morris (1987) menyatakan agar asimetri informasi dapat dikurangi adalah dengan memberikan informasi yang lebih banyak termasuk informasi privat yang dimiliki oleh manajemen perusahaan kepada pihak luar.
Koh (2002) menguji pengaruh kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial terhadap motivasi income smoothing menemukan bukti ada pola hubungan yang positif antara level dari kepemilikan institusional terhadap praktek income smoothing, kepemilikan manajerial memiliki pengaruh yang negatif terhadap praktek income smoothing. Akan tetapi Koh (2002) tidak berhasil memberikan bukti bahwa kepemilikan manajerial tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap praktek perataan laba.
Penelitian selanjutnya yang menghubungkan praktek perataan laba dihubungkan dengan struktur kepemilikan dalam menjelaskan permasalahan keagenan (Carlson dan Bathala, 1997) menyimpulkan bahwa praktek perataan laba tersebut terjadi karena perilaku morald hazard yang dilakukan oleh para manajer. Demsetz dan Lehn (1985) menggunakan data cross-sectional untuk menemukan bukti bahwa tingkat kepemilikan manajerial ditentukan oleh tingkat risiko perusahaan dan adanya upaya pensejajaran kepentingan (alignment) dilakukan oleh para manajer yang bekerja pada perusahaan yang memiliki tingkat risiko yang tinggi dimana para manajer berupaya untuk memiliki lebih banyak saham perusahaan tersebut untuk mensejajarkan kepentingan mereka.
Barnhart dan Rosenstein (1998) yang menguji hubungan antara nilai perusahaan, kepemilikan manajerial dan komposisi dewan direksi menyimpulkan hubungan nilai perusahaan terhadap kepemilikan manajerial merupakan hubungan yang non-liner dimana akan meningkat sejalan dengan peningkatan kepemilikan manajerial pada level kepemilikan manajerial 5%, kemudian turun dengan level kepemilikan manajerial 5-25% dan kembali meningkat pada saat kepemilikan manajerial pada level di atas 25%. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian McConnel dan Servaes (1990) yang menemukan pola U-Shape antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan.
Makaryanawati (2002) melakukan pengujian untuk perusahaan non keuangan dengan periode pengamatan sampel dari 1994-2000 menemukan bukti bahwa perataan laba berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pasar modal di Indonesia membayar premium atau memberi preferensi terhadap perusahaan yang melakukan perataan laba, ada hubungan yang monotonik antara nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial dan interaksi variabel perataan laba dengan kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan adalah negatif dan tidak signifikan. Interaksi ini menunjukkan bahwa semakin rendah kepemilikan manajerial maka semakin besar motivasi manajer unuk melakukan praktek perataan laba.
Dari uraian di atas maka hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:
H7 : Perataan laba memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan
H81 : Rasio Net Profit Margin memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan
H82 : Rasio Operating Profit Margin memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan
H83 : Rasio Return on Asset memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan
H9 : Risiko keuangan memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan
H10 : Risiko pasar memiliki pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan
H11 : Kepemilikan manajerial memiliki pengaruh yang negatif terhadap nilai perusahaan
H12 : Kepemilikan publik berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan

Metodologi Penelitian
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi yang menjadi objek penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan periode pengamatan sampel dimulai dari tahun 1993-2000 dan telah mempublikasikan laporan keuangan berturut-turut selama periode pengamatan sampel. Data penelitian diperoleh dari dua sumber utama yaitu (1) laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasikan dan dari ICMD (Indonesian Capital Market Directory).
Penelitian ini menggunakan pooled data yaitu dengan cara menjumlahkan perusahaan-perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian dimana kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah (1) perusahaan adalah perusahaan non keuangan, (2) perusahaan menerbitkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit dengan tahun buku per 31 Desember serta perusahaan tidak delisting, dilikuidasi ataupun melakukan merger selama periode pengamatan, (3) perusahaan memiliki data kepemilikan manajerial dan kepemilikan publik selama periode pengamatan, (4) data harga saham dan jumlah saham yang beredar mulai akhir Desember 1993 sampai dengan akhir Desember 2000. Data harga saham ini digunakan untuk menghitung Tobin’s Q (nilai perusahaan).
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk laporan keuangan tahunan yang telah diaudit untuk perusahaan-perusahaan publik yang telah terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Struktur kepemilikan manajerial yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah persentase saham yang dimiliki oleh dewan direktur, komisaris, pendiri serta karyawan perusahaan.
Pengukuran Variabel
Indeks Perataan Laba (IS). Indeks perataan laba merupakan rasio dari koefisien variasi sales terhadap koefisien variasi earnings. Indeks perataan laba dalam penelitian ini menggunakan model Eckel (1981) yang juga telah digunakan oleh beberapa penelitian sebelumnya (Ashari et al, 1994; Michelson et al., 1997; Zuhroh, 1997; Jin dan Machfoedz, 1998; Kusuma, 1998; Assih dan Gudono, 2000; Salno dan Baridwan, 2000 dan Makaryanawati, 2002). Adapun rumus dari Indeks perataan laba dari model Eckel (1981) adalah:
IS = …………………………………………………………………………………………………….. (1)
dimana:
S : Perubahan penjualan/penghasilan selama tiga tahun
I : Perubahan laba bersih selama tiga ahun
CV : Koefisien variasi dari variabel (standar deviasi dibagi expected value)
Perusahaan dikelompokkan kedalam perusahaan yang melakukan prakek income smoohing jika CV∆s > CV∆i.
Dari persamaan di atas, nilai CV diperoleh dari:
CVS atau CVI = ………………………………………………………………. (2)
Dalam menghitung indeks Eckel (1981) pada periode ke-, data yang diperlukan adalah data penjualan/penghasilan dan data laba bersih pada periode t-2 dan t-1, sehingga dalam menghitung Indeks Eckel selama periode pengamatan (1993-200) diperlukan data dari tahun 1991-2000. Setelah diperoleh nilai CVS dan CVI untuk setiap perusahaan dan setiap tahun maka dapat dihitung indeks perataan laba untuk masing-masing perusahaan setiap tahunnya.
Tobin’s Q (Nilai Perusahaan). Variabel ini diberi simbol Q, variabel ini telah digunakan oleh Himmelberg et al., (1999), Itturiaga dan Sanz (2000), Makaryanawati (2002), Suranta (2002), Suranta dan Midiastuty (2003) dan Suranta dan Machfoedz (2003), yaitu:
Q = (EMV + D)/(EBV+D) ……………………………………………………………………………………. (3)
dimana:
Q : Nilai perusahaan
EMV : Nilai pasar ekuitas (EMV = closing price x jumlah saham yang beredar)
D : Nilai buku dari total hutang
EBV : Nilai buku dari total aktiva
Net Profit Margin (NPM). Variabel ini diberi simbol NPM yang merupakan rasio dari laba bersih dibagi dengan penjualan bersih. Rasio NPM ini diprediksi akan mempengaruhi perataan laba yang dilakukan manajer (Archibalt, 1967; Cushing, 1969; Dascher dan Malcom, 1970; Barnea et al., 1975; Ronen dan Sadan, 1975 dan Beattie et al., 1994).
Operating Profit Margin (OPM). Merupakan rasio dari laba operasi dibagi dengan penjualan bersih dengan simbol OPM. Rasio ini digunakan dalam penelitian ini sebagai proksi adanya pemilihan metode akuntansi yang digunakan dalam pelaporan keuangan perusahaan (seperti metode akuntansi persediaan) dan diprediksi akan mempengaruhi perataan laba.
Risiko Keuangan (Leverage). Variabel ini diberi simbol LEV yang merupakan perbandingan antara nilai buku total hutang terhadap nilai buku total aktiva. Variabel ini digunakan sebagai pengukur risiko keuangan.
Return on Asset (Rasio profitabilitas). Variabel ini diberi simbol ROA yang merupakan hasil bagi laba bersih perusahaan terhadap nilai buku total aktiva perusahaan.
Risiko Pasar (Beta). Variabilitas fluktuasi return sekuritas berisiko individual dalam suatu pasar agregat disebut sebagai risiko pasar. Sedangkan alat untuk mengukur variabilitas ini diproksikan dengan nilai koefisien atau beta. Beta pasar dihitung dengan menggunakan model pasar sebagai berikut:
Ri = αi + βiRM + εi
dimana:
Ri : Return sekuritas ke-i
αi : Intersep
βi : Koefisien regresi beta pasar sekuritas ke i
RM : Return indek harga saham gabungan (IHSG)
εi : Nilai kesalahan residual

Ukuran Perusahaan (SIZE). SIZE dalam penelitian ini adalah natural logarithma dari nilai pasar sekuritas (jumlah saham yang beredar x harga penutupan). Variabel ini digunakan untuk menggambarkan shareholders wealth (Grant, 1995).
Kepemilikan Manajerial (MGR). Variabel penelitian ini diberi simbol MGR yang diukur dengan natural logarithma dari persentase saham yang dimiliki oleh manajer, dewan direksi dan komisaris dibagi dengan total jumlah saham yang beredar.
Kepemilikan Publik (PUBOWN). Diproksikan dengan natural logarithma dari persentase saham yang dimiliki publik dibagi jumlah saham yang beredar dan diberi simbol PUBOWN.
Pengujian Hipotesis
Pengujian seluruh hipotesis menggunakan regresi OLS. Seluruh pengujian terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik. Model persamaan empiris 1 bertujuan untuk menguji seluruh hipotesis 1 s/d 6, sehingga model empiris yang dibentuk adalah:
IS = 0+1NPM+2OPM+3LEV+4ROA+5BETA+6SIZE+7Q+8MGR+9PUBOWN+ ….. (1)
dimana:
IS : Indeks perataan laba
NPM : Rata-rata net profit margin industri sejenis
OPM : Rata-rata operating profit industri sejenis
LEV : Rata-rata leverage industri sejenis
ROA : Rata-rata return on asset industri sejenis
BETA : Beta (risiko pasar) perusahaan
SIZE : Ukuran perusahaan
Q : Tobin’s Q (Nilai pasar perusahaan)
MGR : Natural logarithma dari persentase saham yang dimiliki dewan direksi, komisaris, pendiri dan karyawan dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
PUBOWN : Natural logarithma dari persentase saham yang dimiliki publik dibagi dengan jumlah saham yang beredar.

Model persamaan empiris 2 dan 3 ditujukan untuk menguji hipotesis 7 s/d 12 yaitu pengaruh kinerja keuangan, risiko keuangan, risiko pasar dengan mempertimbangkan ukuran perusahaan tanpa memasukkan permasalahan keagenan (model empiris 2) dan dengan menambah permasalahan keagenan (model empiris 3), sehingga model yang dibentuk adalah:
Q = 0 + 1NPM + 2OPM + 3LEV + 4ROA + 5BETA + 6SIZE +  …………. (2)

dimana:
Q : Tobin’s Q (Nilai pasar perusahaan)
NPM : Rata-rata net profit margin industri sejenis
OPM : Rata-rata operating profit industri sejenis
LEV : Rata-rata leverage industri sejenis
ROA : Rata-rata return on asset industri sejenis
BETA : Beta (risiko pasar) perusahaan
SIZE : Ukuran perusahaan

Q = 0+1IS+2NPM+3OPM+4LEV+5ROA+6BETA+7SIZE+8MGR+9PUBOWN+ …… (3)

dimana:
Q : Tobin’s Q (Nilai pasar perusahaan)
IS : Indeks perataan laba
NPM : Rata-rata net profit margin industri sejenis
OPM : Rata-rata operating profit industri sejenis
LEV : Rata-rata leverage industri sejenis
ROA : Rata-rata return on asset industri sejenis
BETA : Beta (risiko pasar) perusahaan
SIZE : Ukuran perusahaan
MGR : Natural logarithma dari persentase saham yang dimiliki dewan direksi, komisaris, pendiri dan karyawan dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
PUBOWN : Natural logarithma dari persentase saham yang dimiliki publik dibagi dengan jumlah saham yang beredar

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Sampel Penelitian
Sampel penelitian adalah perusahaan non keuangan dengan periode pengamatan dimulai dari tahun 1993-2000. Dengan menggunakan metode pooled data dengan berbagai kriteria yang telah ditetapkan di awal penelitian, sampel penelitian ini berjumlah 75 perusahaan (tabel 1 yang dapat dilihat pada lampiran).
Statistik Deskriptif Sampel Penelitian
Tabel 1 di bawah ini menyajikan hasil statisik deskriptif dengan total observasi keseluruhan berjumlah 147 perusahaan.
Tabel 1

Dari tabel 1 di atas, rata-rata indeks perataan laba sebesar 3.952059 dengan nilai indeks tertinggi sebesar 56.14403, nilai minimum sebesar 0.388757 dan standar deviasi sebesar 1.038214. Rata-rata Q adalah sebesar 1.298287 dengan nilai maksimum adalah 6.996128, dan nilai minimum sebesar 0.388757 serta standar deviasi sebesar 1.038214. Rasio NPM memiliki rata-rata sebesar -43.84436 dengan nilai maksimum sebesar 56.14403 dan nilai minimum sebesar -706.5756 serta standar deviasi 99.62853. Rasio OPM menunjukkan rata-rata sebesar 9.497340 dengan rasio OPM tertinggi sebesar 50.45905 dan rasio OPM terendah sebesar 18.04154 serta standar deviasi sebesar 18.04154. Variabel LEV rata-ratanya sebesar 1.798569 dengan rasio tertinggi sebesar 128.3964 dan rasio terendah sebesar 0.064360 dengan standar deviasi sebesar 10.54442. Rata-rata variabel BETA sebesar 0.771136 dengan nilai maksimum sebesar 8.503618 dan minimum sebesar -6.982360 serta nilai standar deviasi sebesar 1.360453. SIZE memiliki rata-rata sebesar 25.08260 dengan nilai maksimum sebesar 30.74078 dan minimum sebesar 22.02577 serta nilai standar deviasi sebesar 1.488876. Variabel MGOWN memiliki rata-rata sebesar 10.09922 persen dengan nilai maksimum sebesar 77 persen dan minimum sebesar 0.0006 persen serta standar deviasi sebesar 13.19475 persen. Variabel PUBOWN memiliki rata-rata sebesar 28.54472 persen dengan nilai maksimum sebesar 84.76 persen dan minimum sebesar 0.7 persen serta nilai standar deviasi sebesar 16.13891 persen.
Pengujian Asumsi Klasik
Pengujian atas asumsi klasik terdiri atas (1) asumsi normalitas data, (2), heteroskedastisitas, (3) autokorelasi dan (4) multikolinearitas. Seluruh pengujian asumsi klasik ini menggunakan program E-Views3. Dari hasil pengujian asumsi klasik dapat dilihat pada tabel 2 (lampiran).
Tabel 2

Dari hasil pengujian asumsi klasik untuk ketiga model empiris yang dibentuk menunjukkan hasil bahwa seluruh model bebas dari masalah asumsi klasik sehingga hasil regresi untuk menerima atau menolak hipotesis alternatif menjadi lebih sahih.
Pengujian Hipotesis
Seluruh pengujian hipotesis 1 dan 12 yang diturunkan dalam persamaan regresi menggunakan regresi OLS. Adapun hasil regresi dapat dilihat pada tabel 4 dan 5 di bawah ini.
Tabel 3

Hasil regresi OLS untuk variabel NPM adalah negatif dan tidak signifikan (panel A) dan positif dengan tingkat signifikan pada level 5% (panel B) mengindikasikan praktek income smoothing dilakukan ketika perusahaan menghindari kerugian atau target laba yang tidak sesuai harapan (Healy, 1985; McCulloh dan Black, 1999) khususnya berkaitan dengan bonus yang diterima manajer dan praktek income smoothing sangat tergantung dengan ukuran perusahaan khususnya pos-pos yang ada dalam laporan keuangan seperti metode penyusutan, perubahan kebijakan akuntansi, dan pos luar biasa (Archibalt, 1967; Cushing, 1969; Dascher dan Malcom, 1970; Barnea et al., 1975, Moses, 1987 dan Beattie et al., 1994), sehingga hipotesis H11, ditolak.
Estimasi parameter OPM yang negatif dengan tingkat signifikan pada level 5% (panel A) dan positif tetapi tidak signifikan (panel B) menggambarkan baik dengan mempertimbangkan atau tidak mempertimbangkan ukuran perusahaan, pos-pos yang menghasilkan laba operasi merupakan subjek utama yang dipilih oleh para manajer dalam praktek income smoothing (Ashari et al. 1994). Estimasi parameter tidak sesuai dengan ekspektasi awal, sehingga hipotesis alternatif H12, gagal untuk diterima.
Estimasi parameter LEV yang positif dan signifikan pada level 1% (panel A dan B) mengindikasikan mekanisme hutang bertujuan membatasi perilaku morald hazard dan sebagai upaya untuk menghindari perjanjian hutang. Hasil ini konsisten dengan penelitian Dye (1988), sehingga sehingga hipotesis alternatif kedua gagal untuk ditolak. Variabel ROA yang positif tetapi tidak signifikan (panel A) dan negatif serta signifikan pada level 1% (panel B) menunjukkan dengan mempertimbangkan ukuran perusahaan, praktek income smoothing dilakukan oleh perusahaan yang memiliki profitabilitas yang rendah (Ashari et al., 1994), sehingga hipotesis H13, gagal untuk ditolak.
Estimasi parameter BETA yang negatif dan tidak signifikan (panel A) menunjukkan semakin rendah risiko pasar maka semakin besar kemungkinan praktek income smoothing dilakukan oleh para manajer. Praktek income smoothing bertujuan untuk mengurangi risiko pasar atas saham perusahaan yang akhirnya berdampak pada peningkatan harga saham perusahaan dan nilai perusahaan. Praktek income smoothing ini mengandung suatu hubungan penyebab antara fluktuasi laba dengan risiko pasar. Estimasi parameter yang negatif ini konsisten dengan argumentasi yang diberikan oleh Moses (1987) dan Michelson et al., (1995), Ilmainir (1993), dimana Michelson et al., (1995). Estimasi parameter BETA menunjukkan hasil yang berbeda ketika variabel kontrol SIZE tidak dimasukkan kedalam persamaan regresi (panel B) yang positif dan signifikan pada level 1% mengindikasikan bahwa risiko pasar perusahaan tergantung dengan ukuran perusahaan. Akan tetapi, estimasi parameter ini tidak sesuai dengan prediksi awal, sehingga hipotesis alternatif ketiga, ditolak.
Variabel Tobin’s Q yang positif dan signifikan pada level 10% (panel A) dan negatif serta signifikan pada level 1% (panel B) mengindikasikan praktek perataan laba terjadi pada perusahaan yang memiliki beta yang lebih rendah, nilai pasar perusahaan aktiva yang lebih tinggi (Moses, 1987) sehingga disimpulkan hipotesis alternatif keempat, gagal untuk ditolak.
Variabel kepemilikan manajerial yang positif dan signifikan pada level 5% (panel A dan B) mengindikasikan sikap oportunistik manajer dalam melakukan praktek perataan laba yang berkaitan dengan insentif yang mereka terima dimana insentif tersebut dapar dijelaskan dari job security hypothesis yang menyatakan bahwa motivasi manajer tersebut disebabkan adanya tekanan dari pasar modal yang menuntut pertumbuhan kinerja yang konsisten (Berger, et al., 1997) yang mengakibatkan peluang entrenchment semakin besar sehingga disimpulkan hipotesis kelima, gagal untuk ditolak. Variabel PUBOWN yang positif (panel A) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan yang kecil dan jumlah kepemilikan publik yang besar menyebabkan praktek income smoothing semakin besar yang berdampak pada perilaku entrenchment, tetapi tanpa mempertimbangkan ukuran perusahaan (panel B), estimasi parameter yang dihasilkan adalah negatif dan tidak signifikan mengindikasikan jumlah kepemilikan saham oleh publik yang semakin sedikit berdampak pada semakin rendah mekanisme monitoring. Estimasi ini tidak sesuai dengan ekspektasi hipotesis ke enam, sehingga gagal untuk diterima. Variabel SIZE yang negatif dan tingkat signifikan pada level 1% menunjukkan praktek income smoothing tergantung dengan ukuran perusahaan. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Moses, 1987 dan Jin dan Machfoedz, 1998).
Tabel 5

Variabel IS yang positif dan signifikan pada level 1% mengindikasikan investor lebih menyukai tingkat laba yang relatif stabil. Hal ini disebabkan investor menganggap perusahaan yang melakukan praktek income smoothing memiliki stabilitas kinerja yang lebih baik sehingga investor dapat memprediksi kinerja perusahaan di masa yang datang. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Bitner dan Dolan (1996) dan Makaryanawati (2000) sehingga hipotesis alternatif ketujuh gagal untuk ditolak.
Estimasi parameter NPM yang positif dan signifikan pada level 5% (panel A) dan signifikan pada level 1% (panel B) menunjukkan variabel ini merupakan salah satu variabel yang menjadi parameter yang digunakan oleh investor dalam mengukur kinerja perusahaan. Hasil ini konsisen dengan beberapa penelitian sebelumnya (Beatie et al., (1994; Gordon, 1964 dan Beidlemen, 1973), sehingga hipotesis H81, gagal untuk ditolak.
Variabel OPM yang positif dan signifikan pada level 5% (panel A dan B) mengindikasikan market power dalam melakukan pembatasan terhadap praktek income smoothing masih sangat lemah khususnya berkaitan dengan laba operasi. Hasil ini konsisten dengan argumentasi Himmelberg et al., (1999) sehingga hipotesis H82 gagal untuk ditolak.
Estimasi parameter ROA yang negatif dan signifikan pada level 1% menunjukkan perusahaan cenderung melakukan trade-off sumber pendanaan untuk meningkatkan nilai perusahaan (Baxter, 1967; Harris dan Raviv, 1970; DeAngelo dan Masulis, 1980b, Kaaro, 2002b) tetapi tidak sesuai dengan ekspektasi dan tidak konsisten dengan penelitian Carlson dan Bathala, 1997 dan Makaryanawati, 2002, sehingga hipotesis H83, gagal untuk diterima.
Variabel LEV positif dan signifikan pada level 1% mengindikasikan dengan mekanisme hutang, para manajer akan lebih bijaksana dan hati-hati dalam memutuskan berbagai pilihan investasi dan berdampak pada peningkatan nilai perusahaan, mengurangi discretion manajer atas ekuitas perusahaan (free cash flow hypothesis), mencerminkan suatu pola struktur modal yang paling optimal serta akibat adanya debt covenant. Estimasi parameter ini konsisten dengan beberapa penelitian sebelumnya (Ross, 1977; Nupikso, 1997, Makaryanawati, 2002, Suranta dan Midiastuty, 2003 dan Suranta dan Machfoedz, 2003), sehingga hipotesis ke sembilan gagal untuk ditolak.
Variabel BETA (panel A dan B) yang negatif dan tidak signifikan mengindikasikan pada tingkat risiko yang lebih rendah, para manajer berupaya melakukan melakukan peningkatan saham mereka sebagai upaya untuk mensejajarkan kepentingannya (Demsetz dan Lehn, 1985, Makaryanawati, 2002). Estimasi parameter ini tidak sesuai dengan hipotesis ke sepuluh sehingga hipotesis ini gagal untuk diterima.
Estimasi parameter SIZE yang positif dan signifikan pada level 1% (panel A dan B) menunjukkan semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin besar nilai perusahaan. Hal ini disebabkan perusahaan dengan ukuran yang lebih besar memiliki dana yang lebih banyak untuk menciptakan peluang pertumbuhan sehingga berdampak pada peningkatan nilai perusahaan (Badrinath dan Kini, 1994 dan Itturiaga dan Sanz, 2000).
Estimasi parameter MGOWN yang negatif (panel B) dan signifikan pada level 5%. Hasil ini menunjukkan pada level kepemilikan manajerial yang rendah, para manajer cenderung melakukan upaya entrenchment yang mengakibakan penurunan nilai perusahaan. Hasil ini konsisten dengan temuan Makaryanawati (2002) tetapi tidak konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan curve linear (Morck et al., 1988; Cho dan Myeong, 1998; Mc Connel dan Servaes, 1990, Hermalin dan Weisbach, 1998; Chen dan Steiner, 2000 dan Itturiaga dan Sanz, 2000), sehingga hipotesis alternatif ke sebelas gagal untuk ditolak. Estimasi parameter PUBOWN yang negatif dan tidak signifikan menunjukkan kepemilikan publik tidak mampu menjadi mekanisme monitoring terhadap tindakan yang diambil para manajer, sehingga hipotesis kedua belas gagal untuk ditolak.
Simpulan, Saran dan Implikasi Penelitian
Simpulan
Dari hasil regresi OLS disimpulkan ukuran perusahaan merupakan determinasi yang paling memotivasi praktek income smoothing dan paling menentukan nilai perusahaan. Variabel ini secara independen mampu menjelaskan dan mempengaruhi praktek perataan laba dan menentukan nilai perusahaan. Praktek income smoothing terjadi pada perusahaan yang memiliki ukuran perusahaan yang lebih kecil, risiko pasar yang rendah, risiko keuangan yang tinggi, kepemilikan manajerial yang besar, jumlah kepemilikan publik yang banyak, ROA yang tinggi, rasio NPM dan OPM yang rendah dan ditujukan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan yang dilakukan dengan praktek perataan laba disebabkan adanya insentif para manajer dan kurangnya monitoring sehingga sebenarnya peningkatan nilai perusahaan lebih disebabkan oleh upaya manajer dalam melakukan manipulasi yang akhirnya merugikan pemilik perusahaan dan mekanisme hutang sebagai mekanisme monitoring atas tindakan manajer justru menyebabkan meningkatnya praktek income smoothing, dan mekanisme hutang yang ditujukan untuk peningkatan investasi berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. Hasil dari model persamaan 1 -3 menunjukkan adanya indikasi bahwa income smoothing dan nilai perusahaan ditentukan secara simultan. Hasil lainnya menunjukkan, semakin besar kepemilikan publik untuk perusahaan yang memiliki ukuran perusahaan yang lebih kecil cenderung memotivasi praktek income smoothing, dan kepemilikan publik pada perusahaan besar dengan jumlah yang lebih banyak justru menurunkan nilai perusahaan.
Saran dan Implikasi Penelitian
Beberapa saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya dan bagi peneliti lainnya adalah:
1. Seperti yang dinyatakan oleh Ilmainir (1993), penelitian selanjutnya sebaiknya memisahkan motivasi dalam melakukan praktek income smoothing yang terbagi dua yaitu (1) usaha untuk memaksimumkan atau meminimumkan laba dan (2) usaha untuk mengurangi fluktuasi laba.
2. Menggunakan variabel laba sebelum pos luar biasa seperti yang telah dilakukan oleh Borneo et al., (1976) dan Ronen dan Sadan (1981), variabel dividen, umur perusahaan, PBV dan komisaris independen, kompensasi dan bonus yang diterima manajer, lamanya manajer tersebut menduduki posisi pada suatu perusahaan serta jumlah dewan direksi.

DAFTAR PUSTAKA

Aivazian, Varouj dan Laurence Booth. 2002. Why Some Firms Smooth Their Dividends and Why Others Don’t. Working Paper, November, pp. 1-39.

Archibalt, T.R. 1967. The Return to Sraight Line Depreciation: An Analysis of a Change in Accounting Method. Journal of Accounting Research, Supplemen, pp. 164-180

Ashari, N., Koh H.C, Tan S.L. dan Wong W.H. 1994. Factors Affecting Income Smoothing among Listed Companies in Singapore. Journal of Accounting and Business Reseach, Autumn, pp. 291-301.

Assih, Prihat dan Gudono. 2000. Hubungan Tindakan Perataan Laba dengan Reaksi Pasar atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 3 No. 1, Januari.

Barnea, A. J. Roden dan S. Sadan. 1975. The Implementation of Accounting Objectives – An Application to Extraordinary Items. Accounting Review, January, pp. 56-68.

Barnhart, S. W. dan Rosenstein S. 1998. Board Composition, Managerial Ownership, and Firm Performance: An Empirical Analysis. Financial Review 33, pp. 1-16.

Bartov, Eli. 1993. The Timing of Asset Sales and Earning Manipulation. The Accounting Review, Vol. 68, No. 4, October, pp. 840-855.

Baxter, N. 1967. Leverage, Risk of Ruin and the Cost of Capital. Journal of Finance, September, pp. 395-407.

Beattie, Vivie., Stephen Brown, David Erwers, Brian John Stuart Manson, Dylan Thomas dan Michael Turner. 1994. Extraordinary Items and Income Smoothing: A Positive Accounting Approach. Journal of Business Finance and Accounting 21, September, pp. 791-811.

Beidlement, C. 1973. Income Smoothing: The Role of Management. The Accounting Review, October, pp. 653-668.

Bitner, Larry N., dan R.C. Dolan. 1996. Assessing the Relationship Between Income Smoothing and the Value of the Firm. Quarterly Journal Business and Economics, Vol. 35, No. 1, pp. 16-35.

Borneo, Amir., Joshua Ronen dan Simcha Sadan. 1976. Clasificatory Smoothing of Income with Extraordinary Iems. The Accounting Review, January, pp. 110-122.

Bowen, Robert M, Shivaram Rajgopal dan Mohan Venkatachalam. 2003. Accounting Discretion, Corporate Governance and Firm Performance. Working Paper, September, pp. 1-45.

Brochet, Francois dan Zhan Gao. 2004. Managerial Entrenchment and Earnings Smoothing. Working Paper, May, pp. 1-33.

Dascher, P.E dan R.E. Malcom. 1970. A Note to Income Smoothing in The Chemical Industry. Journal of Accounting Research, Autumn, pp. 253-235.

Carlson, Steven J., dan Bathala Chenchuramaiah T. 1997. Ownership Differences and Firm’s Income Smoothing Behavior. Journal of Business and Accounting 24 (2), March, pp. 179-196.

Chen, Carl R dan Thomas L. Steiner. 2000. Tobin’s Q, Managerial Ownership, and Analyst Coverage: A NonLinear Simulaneous Equations Model. Journal of Economics and Business 52, pp. 365-382.

Cho, Hyeon dan Myeong. 1998. Ownership Structure, Investment, and the Corporate Value: an Empirical Analysis. Journal of Financial Economics 47, pp. 103-121

Cushing, B.E. 1969. An Empirical Sudy of Changes in AccountingPolicy. Journal of Accounting Research, Auumn, pp. 196-203.

Dascher, P.E dan R.E., Malcom. 1970. A Note to Income Income Smoothing in the Chemical Industry. Journal of Accounting Research, Autumn, pp. 253-259.

DeAngelo, H dan R.W. Masulis. 1980b. Optimal Capial Structure under Corporate and Personal Taxation. The Journal of Financial Economics 8, pp. 3-29.

Demstz, H., dan K. Lehn. 1985. The Structure of Corporate Governance Ownership: Causes and Concequences. Journal of Political Economy, No. 93, pp. 1155-1177.

Dye, R. 1988. Earnings Management in an Overlapping Generations Model. Journal of Accounting Research, Autumn, pp. 195-235.

Eckel, N. 1981. The Income Smoothing Hypothesis Revisited. Abacus, June, pp. 28-40.

Fudenberg, Drew dan Jean Tirole. 1995. A Theory of Income and Dividend Smoothing Based on Incumbency rates. Journal of Political Economy, Februari, pp. 75-93.

Harris, M dan A. Raviv. 1990. Capital Structure, and the Information Role of Debt. The Journal of Finance, June, pp. 321-349.

Healy, P.M. 1985. The Effects of Bonus Schemes on Accounting Decisions. Journal of Accounting and Economics, April, pp. 85-107.

Himmelberg, Charles P., Hubbard R. Glenn dan Palia Darius. 1999. Understanding The Determinants of Managerial Ownership and The Link Between Ownership and Performance. Working Paper National Bureau of Economics Research.

Holthausen, R.W., dan Leftwich, R.W. 1983. The Economics Consequences of Accounting Choice.” Journal of Accounting and Economics 5(2): 77-117.

Ilmainir. 1993. Perataan Laba dan Faktor-faktor Pendorongnya pada Perusahaan Publik di Indonesia. Thesis S2, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Itturiaga, Felix J., dan J. Lopez Sanz. 2000. Ownership Structure, Corporate Value and Firm Investment: a Spanish Firms Simultaneous Equation Analysis. Direction General de Ensenanza Superior e Investigacion Cientifica.

Jensen, M.C dan W.H. Meckling. 1976. Theory of The Firm: Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, Vol. 3, pp. 305-360.

Jin, Liauw She dan Mas’ud Machfoedz. 1998. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 1, No. 2, Juli, hal. 174-191.

Kaaro, Hermeindito. 200b. Financing Decision Relevancy: An Empirical Evidence of balancing Theory. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Pebruari, Hal. 13-20. Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta.

Koch, Bruce S. 1981. Income Smoothing: An Experiment. Accounting Review, July, pp. 574-586.

Koh, Ping-Sheng. 2002. Institutional Ownership and Income Smoothing: Australian Evidence. Working Paper, Doctoral Candidate, April, pp. 1-34.

Lambert, 1984. Income Smoothing as Rational Equilibrium Behavior. Accounting Review, October, pp. 604-618.

Makaryanawati. 2002. Pengaruh Perataan Laba dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan. Thesis S2, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

McConnel, J.J dan Servaes, H. 1990. Additional Evidence on Equity Ownership and Corporate Value. Journal of Financial Economics 27, pp. 595-612.

McCulloh, B.W dan Black, E.L. 1999. Relations among Components of Accruals during Earnings Management. Working Paper. New Zealand Treasury and Brigham Youn University.

Michelson, S.E, J.J., Wagner dan C.W., Wotton. 1995. A Market Based Analysis of Income Smoothing. Journal of Business Finance and Accounting, December, pp. 1179-1193.

Morck, R, Shleifer, A dan Vishny, R. 1988. Management Ownership and Market Valuation: an Empirical Analysis. Journal of Financial Economics 20, pp. 293-315.

Moses, O. Douglas. 1987. Income Smoothing and Incentives: Empirical Test Using Accounting Changes. Accounting Review, Vol. LXII, No. 2, April, pp. 358-377.

Niehaus, Gregory R. 1989. Ownership Structure and Inventory Method Choice. Accounting Review, Vol. LXII, No. 2, pp. 358-377.

Ronen, J., dan S. Sadan. 1975. Classificatory Smoothing: Alternative Income Models. Journal of Accounting Research, Spring, pp. 133-149.

Salno, Hanna Meilani dan Zaki Baridwan. 2000. Analisa Perataan Laba (Income Smoothing): Faktor-faktor yang Mempe4ngaruhi dan Kaitannya dengan Kinerja Saham Perusahaan Publik di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 3, No. 1, Januari.

Samlawi, Ahmad dan Bambang Sudibyo. 2000. Analisis Perilous Perataan Laba Didasarkan pada Kinerja Perusahaan di Pasar. Simposium Nasional Akuntansi III, IAI-Kompartemen Akuntan Pendidik.

Scott, William R. 2000. Financial Accounting Theory. Prentice-Hall Inc. A Simon and Schuster, Upper Saddle River. New Jersey, USA.

Simpson, Richard H. 1969. An Empirical of Possible Income Manipulation. The Accounting Review, October, pp. 806-818.

Smith, E.D. 1976. Effects of Separation of Ownership from Control on Accounting Policy Decisions. Accounting Review, October, pp. 707-723.

Spohr, Jonas. 2004. Testing for Income Smoothing With Discretionary Accruals. Working Paper, April, pp. 1-31.

Suranta, Eddy. 2002. Analisis Struktur Kepemilikan, Investasi dan Nilai Perusahaan: Suatu Persamaan Simultan Linier. Thesis. Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada.

Suranta, Eddy dan Pratana Puspa Midiastuty. 2003. Analisis Struktur Kepemilikan Manajerial, Investasi dan Nilai Perusahaan. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.

Suranta, Eddy dan Mas’ud Machfoedz. 2003. Analisis Struktur Kepemilikan, Nilai Perusahaan, Investasi dan Ukuran Dewan Direksi. Simposium Nasional Akuntansi VI, pp. 214-226.

Trueman, Brett, Sheridan Titman dan Paul Newman. 1988. An Explanation for Accounting Income Smoothing. Journal of Accounting Research, pp. 127-143.

Zuhroh, D. 1996. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Tindakan Perataan Laba pada Perusahaan Go Public di Indonesia. Thesis S2, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tabel 1
Statistik Deskriptif Sampel Penelitian

Mean Maksimum Minimum Std Dev Observasi
IS 3.952059 89.88087 0.057624 10.20314 147
Q 1.298287 6.996128 0.388757 1.038214 147
NPM -43.84436 56.14403 -706.5756 99.62853 147
OPM 9.497340 50.45905 -82.00659 18.04154 147
LEV 1.798569 128.3964 0.064360 10.54442 147
ROA -15.10030 45.01329 -294.1761 32.87437 147
BETA 0.771136 8.503618 -6.982360 1.360453 147
SIZE 25.08260 30.74078 22.02577 1.488876 147
MGOWN 10.09922 77.00000 0.000600 13.19475 147
PUBOWN 28.54472 84.76000 0.700000 16.13891 147

Tabel 2
Hasil Pengujian Asumsi Klasik untuk Seluruh Model Regresi yang Bentuk
JB-Hitung JB-Tabel Hasil Uji
Persamaan 1
Normalitas data
(Tanpa SIZE)
(Menambah SIZE)
4.121602
3.176726
15.51
16.92
Normal
Normal
Heteroskedastisitas
(Tanpa SIZE)
(Menambah SIZE)
17.17869
12.52024
20.72494
28.87
Bebas Heteroskedastisitas
Bebas Heteroskedastisitas
Autokorelasi
(Tanpa SIZE)
(Menambah SIZE)
7.958539
7.486032
15.51
16.92
Bebas Autokorelasi
Bebas Autokorelasi
Multikolinearitas
(Tanpa SIZE)
(Menambah SIZE)
<  0.5
<  0.5
 0.5
 0.5
Bebas Multikolinearitas
Bebas Multikolinearitas
Persamaan 2 Normalitas data 1.251868 12.59 Normal
Heteroskedastisitas 15.42351 19.68 Bebas Autokorelasi
Autokorelasi 9.381800 12.59 Bebas Autokorelasi
Multikolinearitas <  0.5  0.5 Bebas Multikolinearitas
Persamaan 3 Normalitas data 0.341775 16.92 Normal
Heteroskedastisitas 19.65144 28.87 Bebas Heteroskedastisitas
Autokorelasi 10.89211 16.92 Bebas Autokorelasi
Multikolinearitas <  0.5  0.5 Bebas Multikolinearitas

Tabel 3
Hasil Regresi Ordinary Least Square untuk Persamaan 1
Variabel Dependen = Indeks Income Smoothing

Panel A Panel B
Variable Coefficient t-Statistic Prob. Coefficient t-Statistic Prob.
C 5.101619 7.926399 0.0000 1.430406 11.07104 0.0000
NPM -0.000568 -1.194673 0.2362 0.001812 2.141853 0.0355**
OPM -0.004756 -2.330854 0.0226** -0.001509 -0.596711 0.5525
LEV 0.074905 53.71816 0.0000*** 0.082012 37.41193 0.0000***
ROA 0.002058 1.643162 0.1048 -0.005315 -5.346694 0.0000***
BETA -0.025606 -0.643725 0.5219 0.227030 4.850024 0.0000***
Q 0.109696 1.812637 0.0742* -0.245979 -4.493950 0.0000***
MGOWN 0.007028 2.041584 0.0450** 0.007672 2.122267 0.0371**
PUBOWN 0.004791 1.196942 0.2354 -0.005918 -1.645756 0.1040
SIZE -0.167578 -6.279928 0.0000***
R2 0.914488 0.895265
Adj R2 0.903494 0.884093
F-stat 83.17761 80.13623
Prob(F-stat) 0.000000 0.000000
D-W stat 1.526043 1.930859
Observasi 80 84

Tabel 5
Hasil Regresi Ordinary Least Square untuk Persamaan 2 dan 3
Variabel Dependen = Tobin’s Q (Nilai Perusahaan)

Panel A Panel B
Variable Coefficient t-Statistic Prob. Coefficient t-Statistic Prob.
C -0.728884 -2.034718 0.0441 -0.477779 -1.893491 0.0612
IS 0.006892 8.093428 0.0000***
NPM 0.000832 2.377995 0.0190** 0.001282 9.968227 0.0000***
OPM 0.002707 2.362935 0.0197** 0.001355 1.537660 0.1273
LEV 0.001951 2.475282 0.0147** 0.001714 3.996778 0.0001***
ROA -0.015994 -13.19544 0.0000*** -0.015873 -16.49929 0.0000***
BETA -0.019181 -0.793710 0.4289 -0.017425 -1.127865 0.2621
SIZE 0.064624 4.526036 0.0000*** 0.056448 5.885256 0.0000***
MGOWN -0.002101 -2.160959 0.0331**
PUBOWN -0.000810 -1.060304 0.2916
R2 0.645325 0.827183
Adj R2 0.627738 0.811630
F-stat 36.69292 53.18309
Prob(F-stat) 0.000000 0.000000
D-W stat 1.635272 1.990181
Observasi 128 110

Posted in JURNAL. 2 Comments »

2 Responses to “INCOME SMOOTHING, TOBIN’S Q, AGENCY PROBLEMS DAN KINERJA PERUSAHAAN”

  1. onlineinaja Says:

    ini ada file pdfx?

  2. Immania 322013069 Says:

    bisa minta file pdfnya? saya butuh buat referensi


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: