HUBUNGAN SIFAT MACHIAVELLIAN, PEMBELAJARAN ETIKA DALAM MATA KULIAH ETIKA, DAN SIKAP ETIS AKUNTAN: SUATU ANALISIS PERILAKU ETIS AKUNTAN DAN MAHASISWA AKUNTANSI DI SEMARANG

HUBUNGAN SIFAT MACHIAVELLIAN, PEMBELAJARAN ETIKA DALAM MATA KULIAH ETIKA, DAN SIKAP ETIS AKUNTAN:
SUATU ANALISIS PERILAKU ETIS AKUNTAN DAN MAHASISWA AKUNTANSI DI SEMARANG

Oleh
Agnes A. Chrismastuti, SE MSi,Ak & ST. Vena Purnamasari, SE

ABSTRACT

Accounting profession was undertake higher ethical obligation. Some researchs were tried to find any factors that impact accountant’s ethical behaviour. Hunt And Vitell (1984) test the idealism, relativism, professional commitment, and organizational commitment. Gielen (1991) found that moral perceived was impact by internal dan external factors.
This research studies the impact of internal factor that is Machiavellian character to ethical orientation of accountants and undergraduate accounting students. Machiavellian stereotype was announced by an Italian filsuf named Nicollo Machavelli, that described as a personality which has a relative lacks of affect in personal relationship, lacks of concern with conventional morality and exhibit a low ideological commitment.
The research find that Machiavellian character has impact in ethical orientation. Accountants and undergraduate accounting students that exhibit high Machiavellian propensities will be more accepting of morally questionable actions. This result is consistent with Richmond (2003) research.
Another finding is that learning process of ethics by ethics course in undergradute program affect the Machiavellian propensities and ethical orientation of students. More focused the course’s content to professional accounting ethics, the lower student’s Machiavellian propensities and will be less accepting of morally quetionable actions.

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Keunikan hubungan profesi akuntan dengan pengguna jasa profesionalnya serta dampak luas dari pelanggaran etika profesi akuntan pada kepercayaan publik atas jasa profesionalnya, menjadikan masalah etika profesi akuntan sebagai isu yang banyak didiskusikan dan dikaji secara ilmiah khususnya mengenai faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap sensitivitas etika akuntan (chua, dkk, 1994 dalam Harsanti, dkk, 2002). Meskipun masih sedikit, penelitian dengan fokus sensitivitas etika tersebut sudah menumbuhkan gagasan bahwa proses sensitivitas etika individual tidak bisa hanya diperlakukan sebagai black box, tetapi harus diakui secara eksplisit karena proses ini diharapkan mempengaruhi pengambilan keputusan etika individual.
Penelitian Hunt dan Vitell (1986) dalam Harsanti, dkk, 2002 menyebutkan kemampuan seorang profesional untuk dapat mengerti dan sensitif akan masalah-masalah etika dalam profesinya dipengaruhi oleh lingkungan budaya atau masyarakat di mana profesi itu berada, lingkungan profesi, lingkungan organisasi, dan pengalaman pribadi. Selanjutnya Khomsiyah dan Indriantoro (1998) mengembangkan persepsi komponen etika dalam penelitian Hunt dan Vitell untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi sensitivitas etika yaitu idealisme, relativitas, komitmen profesi dan komitmen organisasi.
Penelitian lain berusaha memprediksi sikap dan sikap akuntan dari karakter atau sifat-sifat psikologis manusia. Richmond (2003) meneliti hubungan suatu sifat (yang membentuk suatu tipe kepribadian) yaitu sifat Machiavellian yang diukur dengan instrumen Mach IV Score dengan kecenderungan sikap akuntan dalam menghadapi dilema-dilema etika. Sifat Machiavellian pertama kali diperkenalkan oleh Niccolo Machiavellian pada abad ke-16. Christie dan Geis (1970) mendeskripsikan kepribadian Machiavellian sebagai suatu kepribadian antisosial, yang tidak memperhatikan moralitas konvensional dan mempunyai komitmen ideologis yang rendah. Seorang Machiavellian mempunyai kecenderungan untuk mengontrol dan mempengaruhi orang lain. Stereotip Machiavellian merupakan hal yang biasa dan dapat diterima dalam persepsi profesi bisnis (McLean, 1992), namun bukan tipe karakter yang menarik bagi profesi akuntan.
Hasil penelitian Richmond tersebut menunjukkan bahwa karakter Machiavellian berpengaruh pada kecenderungan akuntan untuk menerima sikap-sikap dilematis yang berhubungan dengan etika profesinya. Semakin tinggi sifat Machiavellian seorang akuntan, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk dapat menerima sikap atau tindakan-tindakan yang dilematis secara etis.
Penelitian yang dilakukan pada akuntan di Amerika Serikat ini menarik peneliti untuk melakukannya pada komunitas akuntan dan mahasiswa akuntansi di Indonesia, meskipun dalam penelitian ini masih terbatas pada lingkup Semarang, Jawa Tengah.
Penelitian ini juga bertujuan menguji pengaruh pembelajaran etika melalui mata kuliah etika pada kecenderungan sifat Machiavellian dan pembentukan sikap etis mahasiswa akuntansi. Karena menurut Irsan (1998) dan Sudibyo (1995 dalam Khomsiyah dan Indriantoro, 1997), pendidikan akuntansi mempunyai pengaruh besar pada perilaku etis akuntan sebab pendidikan tinggi akuntansi tidak saja bertanggung jawab pada pengajaran ilmu pengetahuan bisnis dan akuntansi (tranformasi ilmu pengetahuan), tetapi lebih dari itu juga bertanggung jawab mendidik mahasiswanya agar mempunyai kepribadian (personality) yang utuh sebagai manusia.

1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah sifat Machiavellian berpengaruh pada sikap etis akuntan dan mahasiswa akuntansi?
2. Apakah pembelajaran etika melalui mata kuliah etika berpengaruh pada pembentukan sikap etis dan kecenderungan sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menguji dan memberikan bukti empiris tentang pengaruh sifat Machiavellian pada kecenderungan sikap etis akuntan dan mahasiswa akuntansi.
2. Menguji dan memberikan bukti empiris mengenai pengaruh pembelajaran etika melalui mata kuliah etika pada pembentukan sikap etis dan kecenderungan sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi.

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan kontribusi bagi ikatan profesi bahwa upaya mengendalikan sikap etika para akuntan, di mana salah satu upayanya dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor-faktor pendorong kepribadian Machiavellian.
2. Memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan, dalam kaitannya dengan pengembangan pembelajaran etika melalui mata kuliah etika profesi akuntan.

2. TINJAUAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1. Etika Profesi Akuntan
Barney (1992) menyatakan etika sebagai kumpulan prinsip moral yang membedakan mana yang benar dan yang salah. Etika merupakan suatu rumusan normatif karena menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seseorang. Etika diperlukan agar kehidupan bermasyarakat dapat berjalan dengan semestinya. Arens mengatakan bahwa etika dapat dikatakan sebagai suatu perekat yang menyatukan masyarakat.
Prinsip-prinsip moral diperlukan juga oleh suatu profesi, dimana seseorang yang profesional diharapkan bersikap lebih tinggi dibandingkan masyarakat pada umumnya. Kell (1992) bahkan berpendapat bahwa etika profesi lebih daripada prinsip-prinsip moral. Etika profesi mencakup standar-standar sikap bagi seorang profesional yang didesain baik praktikal maupun idealistik. Jadi meskipun etika profesi didesain untuk mendorong sikap yang ideal, namun juga harus realistik dan dapat diterapkan. Maka etika profesi harus melebihi hukum tetapi lebih rendah daripada idealisme.

2.2 Orientasi Etika
Orientasi etika berkaitan dengan konsep diri dan sikap pribadi dalam memandang dan melakukan pertimbangan-pertimbangan moral. Menurut Cohen (1980) orientasi setiap individu pertama-tama ditentukan oleh kebutuhannya. Kebutuhan tersebut berinteraksi dengan pengalaman pribadi dan sistem nilai individu yang akan menentukan harapan-harapan atau tujuan dalam setiap sikapnya yang pada akhirnya akan menentukan tindakan apa yang akan diambilnya.
Penelitian-penelitian di bidang psikologi (Forsyith 1980, Hogan 1970, Kelman & Lawrance 1972, Kohlberg 1976) membuktikan bahwa orientasi etika dikendalikan oleh dua karakter yaitu idealisme dan relativisme. Idealisme mengacu pada suatu hal yang dipercaya oleh individu dengan konsekuensi yang dimiliki dan diinginkannya tidak melanggar nilai-nilai moral. Sedangkan relativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap nilai-nilai etika moral yang absolut dalam mengarahkan sikap etis. Kedua konsep tersebut bukan merupakan dua hal yang berlawanan tetapi lebih merupakan skala yang terpisah.

2.3 Sifat Machiavellian
Kohlberg (1981) menjelaskan bahwa orientasi etika mempunyai hubungan dengan dimensi-dimensi etis seperti Machiavellian. Sifat Machiavelianis diperkenalkan oleh seorang ahli filsuf politik dari Itali bernama Niccolo Machiavellian (1469-1527).
Sifat Machiavellian merupakan suatu keyakinan atau persepsi yang diyakini tentang hubungan antar personal. Persepsi ini akan membentuk suatu kepribadian yang mendasari sikap dalam berhubungan dengan orang lain. Kepribadian Machiavellian dideskripsikan oleh Christie and Geis (1980) sebagai kepribadian yang kurang mempunyai afeksi dalam hubungan personal, mengabaikan moralitas konvensional, dan memperlihatkan komitmen ideologi yang rendah. Kepribadian Machiavellian mempunyai kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, sangat rendah penghargaannya pada orang lain.
Kecenderungan sifat Machiavellian diukur dengan Skala Mach IV. Skala ini terdiri dari 20 item pertanyaan yang didesain untuk mengukur keyakinan responden tentang apakah orang lain rentan atau mudah dimanipulasi dalam hubungan personal. Skala Mach tinggi menunjuk pada pribadi yang mempunyai empati rendah, lebih bertahan untuk tidak mengaku melakukan kecurangan, pandai membuat kebohongan menjadi masuk akal, dan ketiadaan emosi dalam hubungan interpersonal. Turnbell (1976) mengemukakan bahwa individu dengan skala Mach tinggi cenderung memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Intinya individu dengan skala Mach yang tinggi mempunyai kepribadian manipulatif dan mempunyai sifat kognitif kepada orang lain, dan karena cara pandang mereka adalah goal-oriented bukan person-oriented, maka mereka cenderung lebih berhasil dalam situasi tawar menawar (face-to-face bargaining situation) daripada skala Mach rendah (Christie and Geis).
Stereotip Machiavellian ini merupakan hal umum dalam persepsi profesi bisnis (McLean, 1992),. Disiplin bisnis lain, seperti pemasaran dan manajemen, menarik individu yang mempunyai sifat manipulatif dan agresif yang biasanya diwujudkan dalam pencapaian sukses karir yang tinggi (Moore, 1995). Lingkungan bisnis yang menuntut pemikiran strategis dan kompetitif membuat metafora kemenangan (winning) menjadi hal yang diterima umum. Pola pikir-pola pikir seperti itu menciptakan sikap yang mengarah pada Machiavellian.
Penelitian terdahulu banyak dilakukan untuk meneliti sifat Machiavellian dan kecenderungan sikap etis ini pada profesi-profesi bisnis. Jones dan Kavanagh (1996) menemukan bahwa skala Mach tinggi cenderung bertindak tidak etis dibandingkan dengan skala Mach rendah. Penelitian Corzine (1999) menemukan bahwa “US bankers” memiliki rasio Mach yang relatif rendah. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa bankers yang memiliki skala Mach tinggi pada umumnya merasa bahwa peraturan perbankan yang ketat membatasi kemampuan perusahaan untuk maju. Turnbell (1976) menemukan bahwa seorang yang memiliki skor Mach tinggi mempunyai kecenderungan untuk mengeksploitasi keadaan guna keuntungan diri sendiri. Ghosh dan Crain (1996) menemukan indikasi bahwa mahasiswa bisnis dengan skor Mach rendah keinginan untuk tidak taatnya juga rendah.
Berbeda dengan profesi binis, bagi profesi akuntan kepribadian Machiavellian justru menjadi ancaman. Profesi akuntan dituntut untuk mempunyai tanggung jawab etis yang bahkan lebih daripada tanggung jawab profesi lainnya. Namun penelitian mengenai hubungan sifat Machiavellian dengan kecenderungan sikap etis profesi akuntan belum banyak dilakukan. Penelitian Richmond (2003) menemukan bahwa Skala Machiavellian (Skala Mach IV) merupakan instrumen yang tepat untuk mengukur kecenderungan sikap etis akuntan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa akuntan dengan skala Machiavellian tinggi cenderung menerima sikap-sikap yang secara etis diragukan. Dengan kata lain variabel Machiavellian mempunyai kemampuan untuk memprediksi kecenderungan sikap etis akuntan.

2.4 Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Sifat Machiavellian dan Sikap Etis Akuntan
Berangkat dari penelitian yang dilakukan Richmond (2003) pada akuntan dan mahasiswa akuntansi di Amerika, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana prediksi kecenderungan sikap etis akuntan dilihat dari intensitas sifat Machiavelliannya, pada akuntan dan mahasiswa akuntansi di Semarang. Penelitian terdahulu (Richmond, 2003) menggunakan variabel sifat Machiavellian, status (mahasiswa, akuntan yunior, akuntan senior, manajer, partner), dan gender secara bersama-sama sebagai prediktor variabel sikap etis.
Status merupakan proksi dari pengalaman yang membentuk watak dan tanggapan atas dilema-dilema etis yang dihadapi. Penelitian Ponemon, 1992 mengungkapkan bahwa terdapat hubungan negatif antara pertimbangan etis dengan tingkatan profesional.
Gender adalah interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin dan hubungan antara laki-laki dan perempuan (Ferijani dan Mareta, 2003). Perbedaan jenis kelamin mungkin membentuk persepsi yang berbeda sehingga mempengaruhi sikap yang berbeda pula antara laki-laki dan perempuan dalam menanggapi etika profesi akuntan publik. Hasil penelitian terdahulu mendapatkan hasil yang berbeda dalam hal gender. Gilligan (1982) mengungkapkan argumen bahwa pengembangan moral dan pola pertimbangan perempuan secara fundamental berbeda dengan laki-laki. Beberapa penelitian etika bisnis dan akuntansi mendukung argumen tersebut (Betz et al. 1989; Ruegger and King 1992; Shaub 1994; Sweeney 1995; Borkowski and Ugras 1996). Namun Thoma (1986) menemukan bahwa efek gender sangat kecil.
Disamping variabel-variabel tersebut, penelitian ini menambahkan variabel tingkat usia dan tingkat pendidikan. Variabel usia ditambahkan sebagai proksi pengalaman hidup, selain status. Turpen (1997) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa umur mempunyai hubungan positif dalam bertindak etis. Hunko dan Chonko (1984) menemukan bahwa profesional marketing muda cenderung lebih Machiavellis dibandingkan yang lebih tua.
Variabel pendidikan ditambahkan berdasarkan telaah literatur yang mengungkapkan argumen bahwa wawasan etika dibentuk salah satunya melalui pendidikan. Menciptakan akuntan yang beretika dan profesional tidak cukup dengan menyediakan perangkat organisasi pengawasan semata (Irsan, 1998).
Ha1 : Terdapat pengaruh sifat Machiavellian pada Kecenderungan Sikap Etis Akuntan dan Mahasiswa Akuntansi

2.4.2 Pengaruh Pembelajaran Etika Pada Kecenderungan Sifat Machiavellian dan Sikap Etis
Irsan (1998) berpendapat bahwa menciptakan akuntan yang beretika dan profesional tidak cukup dengan menyediakan perangkat organisasi pengawasan semata. Usaha yang paling mendasar adalah pada saat seseorang dipersiapkan menjadi akuntan. Taraf ini berlangsung pada waktu pendidikan, di mana penanaman etika seharusnya diberikan. Proses penanaman nilai-nilai atau etika akuntan publik ini diharapkan akan membentuk sikap dan perilaku etis calon akuntan, yang dapat terus dipertahankan sampai di tahap berpraktek sebagai akuntan publik.
Sudibyo (1995 dalam Khomsiyah dan Indriantoro, 1997) menyatakan bahwa pendidikan akuntansi mempunyai pengaruh besar pada perilaku etis akuntan sebab pendidikan tinggi akuntansi tidak saja bertanggung jawab pada pengajaran ilmu pengetahuan bisnis dan akuntansi (tranformasi ilmu pengetahuan), tetapi lebih dari itu juga bertanggung jawab mendidik mahasiswanya agar mempunyai kepribadian (personality) yang utuh sebagai manusia. Sikap etis akan mendorong perilaku yang etis pula. Oleh sebab itu penanaman sikap etis diharapkan akan mendorong perilaku etis calon akuntan sampai saat menjalankan profesi sebagai akuntan publik
Berdasarkan telaah tersebut maka dikembangkan hipotesis2 berikut ini:
Ha2a : Terdapat pengaruh pembelajaran etika melalui mata kuliah etika pada pembentukan sikap etis mahasiswa akuntansi
Ha2b : Terdapat pengaruh pembelajaran etika melalui mata kuliah etika pada tingkat sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi

3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh akuntan pemeriksa (auditor) yang bekerja di kantor akuntan publik (KAP) di Semarang dan mahasiswa jurusan akuntansi perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di Semarang. Menurut data yang diperoleh dari http://www.akuntan.org kantor akuntan publik di Semarang berjumlah 16 KAP dengan total akuntan pemeriksa adalah 133 orang.
Sampel untuk responden akuntan diperoleh dengan menyebarkan kuesioner ke KAP di Semarang. Dari 70 kuesioner yang disebar ke 7 KAP di Semarang, diperoleh 54 jawaban responden.
Sampel mahasiswa dipilih dengan kriteria (purposive sampling) yaitu mahasiswa yang bersangkutan telah menempuh mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 99 orang dari 5 perguruan tinggi di Semarang, yaitu Unika Soegijapranata, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS), Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG). Dengan demikian total sampel yang diperoleh (akuntan dan mahasiswa) sebanyak 153 orang.

3.2 Definisi Operasional
Definisi operasional dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian adalah:
a. Sifat Machiavellian
Tingkat kecenderungan sifat Machiavellian diukur dengan skala Mach IV yang terdiri dari 20 item pernyataan. Skor 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan 7 (sangat setuju). Semakin tinggi skor berarti semakin tinggi tingkat sifat Machiavellian responden.
b. Perilaku Etis
Variabel perilaku etis merupakan kecenderungan perilaku dalam menghadapi kondisi-kondisi yang secara etis diragukan. Kecenderungan ini diukur dengan Ethical Rating yang dibagi menjadi 2 kondisi, yaitu panel A (ERATINGA) dan panel B (ERATINGB). Ethical Rating A (ERATINGA) mengukur persepsi responden terhadap tindakan-tindakan yang secara etis dipertanyakan. Ethical Rating B (ERATINGB) mengukur persepsi responden jika dilema etis seperti pada ERATINGA dialami oleh dirinya sendiri.
Masing-masing panel terdiri dari 8 item situasi dilematis dari sudut pandang etis. Skor 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan 7 (sangat setuju). Semakin tinggi skor berarti responden semakin berkompromi dengan tindakan-tindakan yang secara etis dipertanyakan.
c. Gender, Status, dan Tingkat Pendidikan
Faktor gender diwakili dengan variabel dummy di mana laki-laki diberi nilai 1 dan perempuan diberi nilai 2. Status merupakan tingkatan posisi profesional di kantor akuntan publik. Variabel ini diwakili dengan variabel dummy di mana Yunior Auditor diberi nilai 1, Senior Auditor diberi nilai 2, Manager diberi nilai 3, partner diberi nilai 4, dan mahasiswa karena belum berpraktek auditor maka diberi nilai 0. Tingkat pendidikan diwakili juga oleh variabel dummy yaitu 0 untuk mahasiswa, 1 untuk tingkat D3, 2 untuk tingkat S1, 3 untuk tingkat S2, dan 4 untuk tingkat S3.
d. Pembelajaran Etika
Variabel pembelajaran etika diwakili oleh proksi mata kuliah etika yang ditempuh mahasiswa. Proksi ini dibedakan berdasarkan muatan atau fokus materi pembelajaran yaitu muatan etika secara umum dan muatan etika profesi akuntan secara khusus. Variabel ini diwakili dengan dummy yaitu 0 untuk mahasiswa yang belum menempuh mata kuliah etika, 1 untuk mahasiswa yang sudah menempuh mata kuliah etika di mana muatannya umum, dan 3 untuk mahasiswa yang sudah menempuh mata kuliah etika yang memberikan muatan khusus etika profesi akuntan.

3.3 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen merupakan kuesioner yang dikembangkan dan sudah digunakan dalam penelitian-penelitian terdahulu. Skala MACH IV yang dipergunakan untuk mengukur sifat Machiavellian adalah instrumen yang dikembangkan oleh Christie and Geis, 1970. Sedangkan Ethical Rating yang dipergunakan untuk mengukur kecenderungan perilaku atau sikap etis akuntan merupakan instrumen yang digunakan dalam penelitian Richmond, 2003. Meskipun demikian perbedaan budaya ketika instrumen ini diterapkan pada penelitian di Indonesia dimungkinkan menyebabkan item-item pertanyaan kuesioner tidak mampu menghasilkan pengukuran yang tepat dan handal. Oleh sebab itu dilakukan pengujian validitas dan reliabillitas. Validitas kuesioner diuji dengan teknik korelasi Product Moment Pearson, sedangkan uji reliabilitas menggunakan metode koefisien Alpha Cronbach.
Hasil pengujian menggugurkan 5 item dari 20 item yang tidak valid yaitu item nomor 5, 12, 13, 14, 15. Detil hasil pengujian validitas dan reliabilitas yang dilakukan ditampilkan dalam lampiran 1 (Kriteria uji reliabilitas yaitu Corrected Item-Total Correlation >= R table, di mana n=143, R table=0,142).
3.4 Metode Analisis
Analisis regresi berganda dengan model 1, dilakukan untuk meneliti pengaruh sifat Machiavellian terhadap perilaku etis akuntan dan mahasiswa akuntansi, bersamaan dengan faktor-faktor lain yang diperkirakan mempengaruhi perilaku etis, yaitu Gender, Status, Tingkat Pendidikan, dan Usia. Regresi dilakukan untuk masing-masing Ethical Rating (ERATINGA dan ERATINGB). Kemudian uji hipotesis 2 yaitu pembelajaran etika melalui melalui mata kuliah etika profesi terhadap pembentukan sikap etis dan kecenderungan sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi, dilakukan dengan uji regresi dengan model 2 dan 3.

ERATINGA (ERATINGB) = β0 + β1 (MACH) + β2 (Gender) + β3 (Status) + β4 (Pendidikan) + β5 (Usia) …………………………model 1
ERATINGA (ERATINGB) = β0 + β1 (matkul etika) …………………………….model 2
MACH = β0 + β1 (matkul etika) …………………………….model 3

Keterangan:
ERATINGA : perilaku etis (persepsi ketika dilema etis dihadapai orang lain)
ERATINGB : perilaku etis (jika dilemma etis dihadapi diri sendiri
MACH : tingkat kecenderungan sifat Machiavellian diukur dengan Skala Mach IV
Gender : laki-laki (1) atau perempuan (2)
Status : posisi peofesional di KAP, yunior auditor (1), senior auditor (2), manajer (3), partner (4), mahasiswa (0)
Pendidikan : mahasiswa (0), D3 (1), S1 (2), S2 (3), S3 (4)
Usia : usia dalam satuan tahun
Matkul Etika: variabel dummy 0 untuk mahasiswa belum menempuh mata kuliah etika, 1 mahasiswa sudah menempuh mata kuliah etika bermuatan umum, dan 3 mahasiswa sudah menempuh mata kuliah etika bermuatan khusus etika profesi akuntan.

4. HASIL EMPIRIS
4.1. Statistik Deskriptif
Secara keseluruhan kecenderungan perilaku etis respoden di bawah sedang yaitu rata-rata 3,1 – 3,3 (dari skor 1 etis s.d. skor 7 tidak etis). Demikian juga tingkat sifat Machiavellian yang dimiliki responden sedang yaitu rata-rata 3,1 – 3,4 (dari skor 1 bukan Machiavellian s.d. skor 7 Machiavellian). Tabel 4.1 memperlihatkan statistik deskriptif untuk responden mahasiswa, sedangkan tabel 4.2 untuk responden akuntan. Kecenderungan skor perilaku etis dan sifat Machiavellian ini secara deskripstif relatif sama antara responden akuntan dan mahasiswa.
Tabel 4.3 memperlihatkan kecenderungan perilaku etis dan sifat Machiavellian akuntan berdasarkan status, tingkat pendidikan, jenis kelamin, dan usia. Meskipun secara deskriptif kecenderungan perilaku etis dan sifat Machiavellian relatif sama namun ada sedikit perbedaan yang dapat dijelaskan sebagai berikut. Perilaku etis senior auditor lebih baik dibandingkan dengan yunior auditor. Hal ini mungkin disebabkan oleh beban tanggung jawab yang lebih besar pada senior auditor menyebabkan mereka cenderung lebih mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang secara moral dipertanyakan. Namun penelitian tidak berhasil mendapatkan responden dengan status karir auditor lebih tinggi, untuk dapat menguatkan argumen ini.
Menurut kelompok tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan justru lebih dapat menerima atau berkompromi dengan perilaku yang secara moral dipertanyakan. Kecenderungan sifat Machiavellian-nya pun lebih tinggi pada responden dengan tingkat pendidikan lebih tinggi.
Rata-rata responden laki-laki lebih etis dibandingkan responden perempuan pada erating A, namun sebaliknya pada erating B. Tampaknya ketika keputusan untuk melakukan tindakan yang secara etis dipertanyakan diterapkan pada diri sendiri, maka responden laki-laki lebih berani mengambil kesempatan daripada perempuan.
Lama kerja meningkatkan kompromi untuk melakukan tindakan yang secara etis diragukan, namun kemudian menurun kembali pada lama kerja antara 6-8 tahun. Sedangkan semakin bertambah usia tampaknya justru meningkatkan kompromi atas perilaku yang diragukan secara etis.
Kecenderungan perilaku dinilai menggunakan dua sudut pandang yaitu ERATINGA dan ERATING B. Tabel 4.4 memperlihatkan hasil uji beda antara ERATINGA dan ERATINGB pada akuntan di mana diperoleh hasil yang signifikan (p=0,000), dengan rata-rata ERATINGA=3,1089 dan rata-rata ERATINGB=3,4376. Hasil ini menunjukkan indikasi bahwa ketika berhadapan sendiri pada kondisi dilematis, akuntan cenderung lebih berkompromi dan melakukan tindakan yang secara etis diragukan, dibandingkan ketika mengevaluasi/menilai tindakan yang dilakukan orang lain.
Tabel 4.5 menunjukkan statistik deskriptif dari responden mahasiswa. Mahasiswa laki-laki tampak cenderung lebih berkompromi dengan perilaku yang diragukan secara etis. Demikian pula kecenderungan sifat Machiavellian lebih tinggi dibandingkan perempuan. Usia, seperti halnya pada responden akuntan, semakin meingkat usia, semakin tinggi pula kecenderungan menerima perilaku yang secara etis diragukan. Sementara tampak bahwa mata kuliah etika cenderung memberikan pengaruh pada pembentukan perilaku etis, di mana terlihat dari rating perilaku etis yang semakin baik dan menurunnya kecenderungan sifat Machiavellian.
Uji beda antara ERATINGA dan ERATINGB, yang ditunjukkan oleh tabel 4.6 juga menunjukkan hasil yang signifikan (p=0,000) di mana rata-rata ERATINGA=3,2306 dan rata-rata ERATINGB=3,3769. Konsisten dengan uji beda yang dilakukan pada responden akuntansi, hasil ini menunjukkan bahwa ketika berhadapan sendiri pada kondisi dilematis, akuntan cenderung lebih berkompromi dan melakukan tindakan yang secara etis diragukan, dibandingkan ketika mengevaluasi/menilai tindakan yang dilakukan orang lain.

4.2. Pengujian Hipotesis
4.2.1. Pengaruh Sifat Machiavellian pada Kecenderungan Perilaku Etis Akuntan dan Mahasiswa Akuntansi
Hipotesis 1 menduga adanya hubungan yang signifikan antara sifat Machiavellian yang diukur dengan skala MACH IV dengan kecenderungan perilaku etis akuntan dan mahasiswa akuntansi. Hasil pengujian korelasi mendukung hipotesis tersebut, ditunjjukan pada Tabel 4.7. Antara sifat Machiavellian dengan perilaku etis ERATINGA (p=0,032) dan antara sifat Machiavellian dengan perilaku etis ERATINGB (p=0,008).
Selanjutnya dilakukan analisis regresi untuk membuktikan pengaruh sifat Machiavellian. Tujuan analisis ini adalah untuk mendapatkan bukti bahwa sifat Machiavellian yang diukur dengan skala MACH IV dapat digunakan untuk memahami tindakan-tindakan etis akuntan. Analisis dilakukan dengan memasukkan faktor-faktor lain yang diperkirakan juga mempengaruhi perilaku etis akuntan yaitu gender, status, pendidikan, dan usia.
Pengujian pada ERATINGA (tabel 4.8) menunjukkan hasil adanya pengaruh yang signifikan dari sifat Machiavellian pada perilaku etis akuntan dan mahasiswa akuntan (p=0,039 pada α=0,05). Dengan demikian hasil pengujian pendukung hipotesis. Dengan arah hubungan posistif maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kecenderungan sifat Machiavellian maka semakin cenderung menyetujui tindakan-tindakan yang secara etis diragukan.
Sementara itu, variabel lain yaitu gender, status, dan pendidikan tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan, kecuali usia yang menunjukkan pengaruh signifikan pada α=0.1 (p=0,069). Pada variabel status, kemungkinan hasil yang diperoleh ini dipengaruhi oleh perolehan responden yang hanya berada pada status yunior auditor dan senior auditor. Kemungkinan bukti empiris yang diperoleh akan lebih reliabel jika status responden meliputi juga status yang lebih tinggi, yang mempunyai posisi lebih strategis yaitu manajer dan partner.
Pengujian pada ERATINGB (tabel 4.9) juga menunjukkan hasil yang signifikan (p=0,022). Hal ini berarti semakin tinggi sifat Machiavellian seorang akuntan atau mahasiswa akuntansi maka semakin tinggi pula kecenderungan melakukan tindakan-tindakan yang secara etis diragukan ketika yang bersangkutan dihadapkan sendiri pada kondisi dilema.
Sedangkan variabel lain (gender, usia, pendidikan, status) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada kecenderungan perilaku etis akuntan dan mahasiswa akuntansi.
Hasil ini konsisten dengan penelitian Richmond yang menemukan adanya pengaruh sifat Machiavellian pada sikap etis akuntan dan mahasiswa akuntansi di Amerika. Namun berbeda dengan hasil penelitian ini, penelitian Richmond menemukan bahwa variabel status mempunyai pengaruh pada pembentukan sikap etis dan kecenderungan sifat Machiavellian. Yang berarti bahwa faktor pengalaman membentuk dan mengubah sifat dan sikap dalam menanggapi kondisi yang dilematis dari sudut pandang etik.
Meskipun model secara simultan berpengaruh signifikan (p=0,044 pada ERATINGA dan p=0,051 pada ERATINGB, namun besarnya pengaruh independen variabel pada variabel ERATINGA secara simultan relatif kecil (adjusted R2=5,7%), demikian juga pada variabel ERATINGB (adjusted R2=5,4%). Jika variabel-variabel independen selain MACH IV dikeluarkan dari model maka R2 menjadi 3% pada ERATINGA dan 4 ,6% pada ERATINGB. Dengan demikian kemungkinan faktor-faktor lain di luar variabel yang diteliti memberikan pengaruh yang lebih besar.

4.2.2. Pengaruh Pembelajaran Etika Melalui Mata Kuliah Etika Terhadap Sikap Etis dan Sifat Machiavellian Mahasiswa Akuntansi
Pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa pemberian mata kuliah etika mempunyai pengaruh pada sikap etis mahasiswa akuntansi (tabel 4.10). Uji regresi pada ERATINGA menunjukkan hasil yang signifikan (p=0,012). Koefisien regresi yang negatip menunjukkan bahwa semakin terfokus mata kuliah etika pada etika profesi akuntansi maka semakin rendah nilai ERATINGA yang berarti semakin etis sikap mahasiswa akuntansi.
Hasil yang sama juga diperoleh pada pengujian variabel dependen ERATINGB (p=0,024) ditunjukkan pada tabel 4.11 dan sifat Machiavellian / MACH IV (0,035) ditunjukkan pada tabel 4.12. Hasil ini mendukung hipotesis bahwa pembelajara etika melalui mata kuliah etika mempunyai pengaruh pada pembentukan sikap etis dan tingkat kecenderungan sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi.
Bagi perguruan tinggi, hasil ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memasukkan mata kuliah etika dalam kurikulum dan lebih jauh lagi memfokuskan muatan etika pada etika profesi akuntan. Tujuan yang pertama adalah adanya proses transfer informasi atau sosialisasi mengenai rambu-rambu etika profesi akuntansi yang tertuang dalam kode etik akuntan. Tujuan selanjutnya adalah memberikan pemahaman lebih dalam mengenai aplikasi kode etik profesi akuntan ini dalam menghadapi kondisi-kondisi dilematis dari sudut pandang etik. Proses ini diharapkan akan membentuk sikap etis mahasiswa akuntansi sebagai calon akuntan.
Meskipun demikian, pengaruh mata kuliah etika pada ERATINGA relatif kecil, ditunjukkan dengan R2 yang hanya 6,3%. Sementara pengaruh pada ERATINGB dan MACH berturut-turut 5,2% dan 4,5%. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran melalui mata kuliah etika hanya berpengaruh relatif kecil pada sikap etis dan sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi.
Kondisi ini dapat merupakan indikasi bahwa pengaruh faktor-faktor lain yang lebih besar membentuk sikap etis akuntan dan kecenderungan sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi. Namun tidak tertutup pula kemungkinan bahwa proses pembelajarannya yang belum efektif sehingga pengaruh mata kuliah etika ini pada pembetukan sikap etis dan kecenderungan sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi menjadi relatif kecil.

5. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Richmond (2003), yaitu bahwa sifat Machiavellian berpengaruh pada sikap etis akuntan dan mahasiswa akuntansi. Semakin Machiavellian seorang akuntan/mahasiswa akuntansi (diukur dengan skala MACH IV), semakin tinggi pula kecenderungan untuk menerima dan melakukan tindakan yang secara etis dipertanyakan. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa derajat sifat Machiavellian seorang akuntan yang diukur dengan Skala MACH IV dapat digunakan untuk memprediksi sikapnya dalam menghadapi dilema etis dalam menjalankan profesinya.
2. Besarnya pengaruh sifat Machiavellian terhadap sikap etis akuntan relatif kecil. Hasil ini mengindikasikan bahwa pengaruh variabel lain diluar variabel yang diteliti lebih besar.
3. Proses pembelajaran etika sebagai upaya pembentukan sikap etis mahasiswa akuntansi sebagai calon-calon akuntan memberikan pengaruh pada sikap etis mahasiswa akuntansi. Muatan mata kuliah etika yang semakin terfokus pada etika profesi akuntansi semakin membentuk sikap etis mahasiswa, demikian juga mengurangi sifat Machiavellian mahasiswa akuntansi.
4. Pengaruh pembelajaran etika pada pembentukan sikap etis mahasiswa akuntansi relatif kecil. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa pengaruh variabel-variabel lain di luar penelitian justru lebih besar, namun dimungkinkan juga disebabkan oleh proses atau metode pembelajaran yang kurang efektif sehingga tidak cukup memberikan wawasan dan membentuk sikap etis mahasiswa akuntansi.
5. Hal menarik lain yang ditemukan adalah adanya perbedaan sikap yang diambil akuntan dalam menilai tindakan dilematis secara etis ketika dilakukan orang lain dengan ketika menghadapi sendiri kondisi tersebut. Ketika menghadapi sendiri kondisi dilematis, akuntan justru cenderung lebih Machiavellian.

5.2. Implikasi
Untuk penelitian selanjutnya, perlu dilakukan adaptasi instrumen Skala MACH IV ke dalam gaya bahasa yang lebih tepat dengan kondisi budaya, sehingga lebih valid mengukur sifat Machiavellian. Juga keragaman responden akuntan ditinjau dari variabel status sebagai proksi pengalaman perlu ditingkatkan, mencakup semua status mulai dari yunior auditor sampai dengan partner.

DAFTAR PUSTAKA

__________. 2002. “Perlukah Aturan Baru untuk Akuntan dan KAP” Warta Ekonomi, 24 Desember
Amstrong, M. 1993. “Ethics and Professionalism in Accounting Education: A Sample Course”. Journal of Accounting Aducation. 11. pp 77-92
Arens, Alvin A and Loebbecke,James K. Auditing: An Integrated Approach. 7’th edition. Ney Jersey: Prentice-Hall, 1997
Christie, R. 1970. Scale Construction. In R. Christie and F.I. Geis (Eds). Studies in Machiavellianism, New York: Academic Press
Chua, F.C., M.H.B Perera and M.R. Mathews. 1994. “Integration of Ethic into Tertiary Accounting Programes in New Zealand and Australia”.
Cohen, J.R., L.W. Part and D.J. Sharp. 1996. “Measuring the Ethical Awareness and Ethical Orientation of Canadian Auditor”. Research in Accounting. Vol 7, pp 37-64
Harsanti, Ponny; Sugiyanto, FX; dan Zulaekah. 2002. “Studi Empiris Tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sensitivitas Etika Akuntan Publik di Indonesia. Jurnal Maksi, Vol 1 Agustus, hal. 31-49
Hunt, S.D., and L. Chonko. 1984. Ethical Problem of Advertising Agency Axexcutives. Journal of Advertising 16 (4): 16-25
Ikatan Akuntan Indonesia. 2001. “Standar Profesional Akuntan Publik”. Salemba Empat,
Kell, Walter G and Boynton, William C. 1992. “Modern Auditing. Canada”. John Wiley & Son
Machfoed, M. 1994. “Financial Ratio Analysis and Prediction of Earnings Changes in Indonesia”. Kelola No. 7/III
Mautz, R.K. and Hussen A. Sharaf. 1993. The Philoshopy of Auditing. American Accounting Association.
McLean, P.A., and D.G. Jones. 1992. Machiavellianism and Business Education. Phycological Reports 71: 57-58
Lampe, S.C. and D.W. Finn. 1992. “A Model of Auditors Ethical Decesion Process Auditing”. Journal of Practice and Theory. pp 33-39
Ponemon, L. 1992. Ethical Reasoning and Selection-socialization in Accounting. Acounting, Organization, and Society: 17 (3/4): 239-258
Richmond, Kelly. 2003. “Machiavellianism and Accounting: An Analysis of Ethical Behavior of US Undergraduate Accounting Student and Accountants”. Symposium on Ethics Research in Accounting. American Accounting Association.
Shaub, Michael K., and Don W. Finn. 1993. “The Effect os Auditor’s Ethical Orientation on Commitment and Ethical Sensitivity”. Behavioral Research in Accounting. Vol. Five. Pp 146-166
Tsui, Judi S.L dan Ferdinand A. Gull. 1986. “Auditors Behaviour in An Audit Conflict Situation: A Research Note on The Role of Locus of Control and Ethical Reasoning”, Accounting Organization and Society Vol 21. pp 41-51

Tabel 4.1

Tabel 4.2

Tabel 4.3
Kecenderungan Perilaku Etis dan Sifat Machiavellian Akuntan
Erating A Erating B Mach IV
Status
– Yunior auditor
– Senior auditor
3,16
2,94
3,46
3,22
2,99
3,29
Pendidikan
– S1
– S2
2,74
3,17
3,00
3,50
3,04
3,10
Gender
– Laki-laki
– Perempuan
3,08
3,13
3,49
3,29
3,10
3,07
Lama Kerja
0 – 2 th
3 – 5 th
6 – 8 th
2,80
3,42
3,25
3,05
3,67
3,21
2,92
3,52
3,37
Usia
21 – 25 th
26 – 30 th
31 – 35 th
36 – 41 th
3,19
3,21
3,21
3,57
3,27
3,36
3,15
3,51
2,65
3,30
3,15
2,83
Sumber: data primer yang diolah
Tabel 4.4
Uji Beda Rata-rata EratingA dan EratingB Akuntan

Tabel 4.5
Kecenderungan Perilaku Etis dan Sifat Machiavellian Mahasiswa
Erating A Erating B Mach IV
Gender
– Laki-laki
– Perempuan
3,24
3,20
3,55
3,28
3,72
3,35
Usia
19 – 20
21 – 25
26 – 27
3,05
3,05
3,98
3,32
3,20
4,07
3,59
3,42
3,34
Matkul Etika
– belum
– tidak profesi
– profesi
3,43
3,15
2,89
3,58
3,59
3,07
3,55
3,26
3,12
Sumber: data primer yang diolah

Tabel 4.6
Uji Beda Rata-rata EratingA dan EratingB Akuntan

Tabel 4.7
Matrik Korelasi

Tabel 4.8
Uji Regresi Pengaruh Machiavellian pada ERATINGA

Tabel 4.9
Uji Regresi Pengaruh Machiavellian pada ERATINGB

Tabel 4.10
Uji Regresi Mata Kuliah Etika Pada Pembentukan Sikap Etis
Mahasiswa Akuntansi (ERATINGA)

Tabel 4.11
Uji Regresi Mata Kuliah Etika Pada Pembentkan Sikap Etis
Mahasiswa Akuntansi (ERATINGB)

Tabel 4.12
Uji Regresi Mata Kuliah Etika Pada Sifat Machiavellian Mahasiswa Akuntansi

Semarang, 9 Oktober 2003

Kepada,
Responen yang terhormat
Di tempat

Dengan hormat,

KAMI SEDANG MENGADAKAN PENELITIAN TENTANG PAHAM MACHIAVELLI DAN AKUNTANSI: SUATU ANALISIS TENTANG PERILAKU ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DAN AKUNTAN. UNTUK ITU KAMI MOHON KESEDIAAN BAPAK/IBU UNTUK MENGISI KUESIONER INI. KAMI MOHON ANDA BERSEDIA UNTUK MENGISINYA DENGAN SEJUJURNYA, KAMI AKAN MELINDUNGI KERAHASIAAN INFORMASI YANG ANDA BERIKAN.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu.

Hormat kami,

A. Advensia Chrismastuti
St. Vena Purnamasari

Nama : (boleh tidak diisi) Jenis Kelamin : • Laki-laki • Perempuan
Pendidikan terakhir : • D3 • S1 • S2 • S3 • Lain …………………………….
Status : • Kawin • Belum Kawin
Jabatan di KAP • Junior Auditor • Senior Auditor • Manajer • Partner • Lainnya …………………………
Lama Bekerja /Lama Menjabat jabatan Sekarang : …………………………/……………………………
Usia : …………………………………………………………

PANEL A
Anda diminta untuk membaca dengan teliti pernyataan yang ada dibawah ini, kemudian dimohon untuk menjawab pertanyaan yang ada dengan melingkari angka 1 sampai dengan 7 yang ada dibawahnya dengan sejujurnya.

1 2 3 4 5 6 7
Sangat tidak setuju Tidak setuju Agak tidak setuju Tidak berpendapat Agak setuju Setuju Sangat setuju

1. Seorang manajer menghadapi kenyataan bahwa target penjualan kuartal tidak akan terpenuhi, konsekuensinya bonus tidak akan diterima. Sementara itu ada order penjualan, yang jika dipenuhi sekarang sebelum pelanggan memerlukannya (sebelum tanggal permintaan pengiriman barang), maka target penjualan akan terpenuhi. Apakah anda setuju dengan keputusan manajer untuk memenuhi/mengirimkan order tersebut supaya bonus dapat diperoleh?
1 2 3 4 5 6 7

2. Sebuah perusahaan baru yang cukup prospektif mengajukan pinjaman ke bank. Manajer Kredit bank tersebut adalah teman dari pemilik perusahaan dan mereka sering bermain golf bersama. Analisis kredit menyatakan bahwa perusahaan tidak memenuhi kriteria normal pinjaman bank. Manajer Kredit merekomendasikan untuk memberikan pinjaman. Apakah anda setuju dengan rekomendasi Manajer Kredit untuk memberikan pinjaman bank?
1 2 3 4 5 6 7

3. Seorang salesman (saleswoman), seorang ayah (ibu) dari dua anak yang masih kecil, dipromosikan untuk suatu pekerjaan yang menuntut ia untuk melakukan perjalanan dinas jauh dari rumah secara rutin. Karena frekuensi perjalanan dinasnya tinggi dan membuat keluarganya tidak nyaman, maka ia mempertimbangkan untuk membebankan pada perusahaan sebagian kecil pengeluaran pribadinya selama perjalanan. Ia membebankan pembelian oleh-oleh untuk keluarga pada perusahaan. Apakah anda setuju dengan keputusan salesman tersebut?
1 2 3 4 5 6 7

4. CEO memerintahkan pengawas untuk menurunkan estimasi piutang tak tertagih untuk meningkatkan laba, dengan argumentasi bahwa praktik ini umum dilakukan ketika industri dalam kondisi berat. Sebelumnya perusahaan sangat konservative dalam menentukan cadangan kerugian piutang, sekalipun dalam masa-masa yang berat. Permintaan CEO saat ini akan menjadikan cadangan kerugian piutang perusahaan yang paling tidak konservative dibandingkan perusahaan lain dalam industri yang sama. Pengawas melakukan penyesuaian. Apakah anda setuju dengan keputusan pengawas untuk melakukan penyesuaian?
1 2 3 4 5 6 7

5. Sebuah kantor akuntan menghadapi kondisi resesi dan partner memutuskan untuk melakukan perampingan. Analisis produktivitas mengarah pada seorang karyawan lama yang mempunyai banyak catatan absen karena alasan sakit dalam keluarganya. Namun, partner justru memberhentikan seorang karyawan muda yang baru, namun sangat kompeten. Apakah anda setuju dengan keputusan partner tersebut?
1 2 3 4 5 6 7

6. Seorang salesman baru dipromosikan menjadi manajer produksi. Tanggung jawab pertamanya adalah menangani produk baru peralatan dapur. Ia mendapatkan bagian kompensasi yang dihitung berdasarkan jumlah penjualan produk itu. Ketika melakukan review atas produk baru tersebut, ia menemukan bahwa product testing yang dilakukan tidak cukup memenuhi aturan pemerintah atas keamanan produk. Namun sejauh ini tidak ditemukan indikasi adanya masalah keamanan. Maka ia mengotorisasi diteruskannya promosi dan penjualan produk baru tersebut. Apakah anda setuju dengan keputusan untuk meneruskan promosi dan penjualan produk itu?
1 2 3 4 5 6 7

7. Seorang manajer yang sangat berhasrat untuk mengembangkan bisnisnya keluar negeri, diminta untuk melakukan sebuah pembayaran ‘gelap’ kepada seorang distributor lokal di suatu negara asing. Pembayaran itu sebagai ‘good will gesture’ agar perusahaan dapat memasukkan produknya ke negara asing tersebut. Praktik ini normal dalam prosedur bisnis di negara tersebut dan tidak ada hukum di sana yang melarangnya, maka manajer perusahaan mengotorisasi pembayaran. Apakah anda setuju dengan keputusan manajer itu?
1 2 3 4 5 6 7

8. Pemilik suatu perusahaan lokal kecil, yang sedang dalam kesulitas keuangan, melakukan pendekatan pada seorang seorang teman lama agar diijinkan meminjam dan mengkopi sebuah paket database software yang punyai nilai sangat besar (material) untuk pengembangan bisnis di masa depan. Teman tersebut meminjamkan paket software itu. Apakah anda setuju dengan keputusan teman itu untuk meminjamkan paket software?
1 2 3 4 5 6 7

PANEL B
Anda diminta untuk membaca dengan teliti pernyataan yang ada dibawah ini, kemudian jawablah pertanyaan yang ada dengan melingkari angka 1 sampai dengan 7 yang ada dibawahnya sesuai dengan kondisi anda.

1 2 3 4 5 6 7
Sangat tidak setuju Tidak setuju Agak tidak setuju Tidak berpendapat Agak setuju Setuju Sangat setuju

1. Jangan pernah mengatakan pada orang lain alasan yang sebenarnya tentang apa yang telah anda lakukan, kecuali jika sangat dibutuhkan 1 2 3 4 5 6 7
2. Cara terbaik untuk mengendalikan orang lain adalah dengan mengatakan apa yang ingin mereka dengar (sesuai dengan yang diharapkan) 1 2 3 4 5 6 7
3. Orang melakukan suatu tindakan hanya jika ia yakin bahwa tindakan itu secara moral benar 1 2 3 4 5 6 7
4. Sebagian besar orang pada dasarnya adalah baik dan menyenangkan 1 2 3 4 5 6 7
5. Lebih aman bila kita mengasumsikan bahwa semua orang termasuk saya memiliki sisi jahat (buruk) yang akan dapat muncul jika diberi kesempatan 1 2 3 4 5 6 7
6. Kejujuran adalah hal terbaik dlam kondisi apapun 1 2 3 4 5 6 7
7. Tidak ada alasan apapun untuk berbohong pada orang lain 1 2 3 4 5 6 7
8. Secara umum dapat dikatakan bahwa orang tidak mau bekerja keras kecuali jika dipaksa untuk melakukannya 1 2 3 4 5 6 7
9. Dalam segala hal rendah hati dan jujur lebih baik daripada terpandang (berkuasa) dan tidak jujur 1 2 3 4 5 6 7
10. Ketika seseorang meminta orang lain untuk melakukan sesuatu untuk dirinya, maka cara terbaik adalah dengan mengungkapkan alasan yang sebenarnya daripada memberikan alasan yang lain walaupun alasan itu dapat mempengaruhi orang tersebut 1 2 3 4 5 6 7
11. Kebanyakan orang yang dapat mencapai kemajuan didunia yang dipimpin dengan bersih, kehidupan moralnya baik 1 2 3 4 5 6 7
12. Seseorang yang sepenuhnya percaya pada orang lain akan mendapatkan kesulitan 1 2 3 4 5 6 7
13. Perbedaan terbesar antara narapidana dengan orang lain adalah bahwa narapiana tidak sepandai orang lain sehingga dapat tertangkap 1 2 3 4 5 6 7
14. Kebanyakan orang adalah pemberani 1 2 3 4 5 6 7
15. Memuji orang yang penting dalam karir kita adalah perbuatan bijaksana 1 2 3 4 5 6 7
16. Kebaikan mungkin untuk dilakukan dalam segala hal 1 2 3 4 5 6 7
17. Barnum (nama orang) mengatakan setiap menit lahir seorang yang tolol / mudah kena tipu adalah salah besar 1 2 3 4 5 6 7
18. Sulit untuk maju tanpa melakukan jalan pintas 1 2 3 4 5 6 7
19. Seseorang yang menderita sakit yang tidak tidak dapat disembuhkan seharusnya mempunyai pilihan untuk meninggal (mati) tanpa rasa sakit 1 2 3 4 5 6 7
20. Kebanyakan orang lebih mudah melupakan kesedihan karena kematian orang tuanya daripada kesediahan karena kehilangan hartanya 1 2 3 4 5 6 7

PANEL C

Anda diminta untuk membaca dengan teliti pernyataan yang ada dibawah ini, kemudian jawablah pertanyaan yang ada dengan melingkari angka 1 sampai dengan 7 yang ada dibawahnya sesuai dengan kondisi anda.

1 2 3 4 5 6 7
Sangat tidak mungkin Tidak mungkin Agak tidak mungkin Tidak berpendapat Agak mungkin Mungkin Sangat mungkin

1. Anda adalah seorang manajer kredit sebuah bank. Seorang teman dekat anda yang memiliki sebuah perusahaan baru yang cukup prospektif mengajukan pinjaman ke bank tempat anda bekerja. Analisis kredit di tempat anda bekerja menyatakan bahwa perusahaan tersebut tidak memenuhi kriteria normal pinjaman bank.
Apakah anda sebagai teman dekat pemilik perusahaan yang mengajukan pinjaman akan merekomendasikan pinjaman kepadanya?
1 2 3 4 5 6 7

2. Dalam sebuah perusahaan bonus penjualan kuartalan akan dibagikan jika seorang manajer dapat mencapai target penjualan yang telah ditetapkan. Anda adalah seorang manajer pemasaran yang sedang menghadapi kenyataan bahwa target penjualan kuartal kali ini tidak akan terpenuhi, maka bonusnya tidak akan anda diterima. Sementara itu ada order penjualan yang tanggal permintaannya pengiriman barangnya masuk ke periode kuartal depan. Jika permintaan tersebut dipenuhi sekarang, sebelum pelanggan memerlukannya (sebelum tanggal permintaan pengiriman barang), maka target penjualan akan terpenuhi. Apakah anda akan mengirimkan order sebelum waktu yang diminta pelanggan dengan tujuan memperoleh bonus?
1 2 3 4 5 6 7

3. Anda adalah Akuntan yang mengelola sebuah kantor akuntan publik (KAP) dengan seorang partner. KAP anda sedang sedang menghadapi kondisi resesi, sehingga dibputuskan untuk untuk melakukan perampingan. Analisis produktivitas mengarah pada seorang karyawan lama yang mempunyai banyak catatan absen karena alasan sakit dalam keluarganya. Namun, partner anda justru merekomendaikan untuk memberhentikan seorang karyawan muda yang baru, namun sangat kompeten. Keputusan akhir ada di tangan anda. Apakah anda akan mengambil keputusan sesuai rekomendasi partner anda?
1 2 3 4 5 6 7

4. Anda adalah seorang manajer sebuah perusahaan yang ingin mengembangkan bisnis keluar negeri, untuk pengembangan bisnis keluar negeri tersebut harus dilakukan sebuah pembayaran ‘gelap’ kepada seorang distributor lokal di suatu negara asing. Pembayaran itu sebagai ‘good will gesture’ agar perusahaan anda dapat memasukkan produknya ke negara asing tersebut. Praktik ini normal dalam prosedur bisnis di negara tersebut dan tidak ada hukum di sana yang melarangnya, Apakah anda sebagai manajer perusahaan akan mengotorisasi pembayaran tersebut ?
1 2 3 4 5 6 7

5. Anda adalah pemilik suatu paket database software yang memiliki nilai sangat besar. Saat ini ada rekan anda, pemilik sebuah perusahaan lokal kecil, yang sedang dalam kesulitas keuangan, sedang melakukan pendekatan pada anda agar diijinkan meminjam dan mengkopi database software yang anda miliki tersebut untuk pengembangan bisnis di masa depan. Apakah anda sebagai teman baiknya akan meminjamkan database software tersebut ?
1 2 3 4 5 6 7

6. Anda adalah seorang salesman yang baru saja dipromosikan menjadi manajer produksi. Tanggung jawab pertama anda adalah menangani produk baru peralatan kesehatan. Bagian kompensasi yang akan anda peroleh dihitung berdasarkan jumlah penjualan produk itu. Ketika melakukan review atas produk baru tersebut, anda menemukan bahwa product testing yang dilakukan tidak cukup memenuhi standar aturan yang ditetapkan oleh pemerintah atas keamanan produk. Namun sejauh ini tidak ditemukan indikasi adanya masalah keamanan bagi konsumen setelah mengunakan produk anda. Apakah anda akan mengotorisasi diteruskannya promosi dan penjualan produk baru tersebut?
1 2 3 4 5 6 7

7. Kondisi perusahaan tempat anda bekerja saat ini sedang mengalami penurunan laba pada beberapa periode belakangan ini, maka general manajer perusahaan anda meminta anda untuk menurunkan estimasi piutang tak tertagih untuk meningkatkan laba, dengan argumentasi bahwa praktik ini biasa dilakukan ketika industri sedang dalam kondisi yang tidak baik. Sebelumnya perusahaan sangat konservative dalam menentukan cadangan kerugian piutang, sekalipun dalam masa-masa yang berat. Permintaan general manajer tersebut menjadikan cadangan kerugian piutang perusahaan yang paling tidak konservative dibandingkan perusahaan lain dalam industri. Apakah anda akan mengambil keputusan untuk melakukan penyesuian terhadap cadangan kerugian piutang perusahaan tersebut untuk meningkatkan laba perusahaan?
1 2 3 4 5 6 7

8. Anda bekerja disebuah perusahaan, saat ini anda menduduki sebuah jabatan yang menuntut anda untuk melakukan perjalanan dinas jauh dari rumah secara rutin. Frekuensi perjalanan dinasnya tinggi dan membuat anda sering meninggalkan keluarga, maka sebagai konsekuensinya anda mempertimbangkan untuk membebankan sebagian kecil pengeluaran pribadi anda seperti pembelian oleh-oleh untuk keluarga pada perusahaan. Apakah anda akan mengambil keputusan tersebut akan anda ambil?
1 2 3 4 5 6 7

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: