Hubungan Learning Organization Dan IT Capability Terhadap Kinerja Bisnis, Dengan IT Capability Sebagai Variabel Intervening

Hubungan Learning Organization Dan IT Capability Terhadap Kinerja Bisnis, Dengan IT Capability Sebagai Variabel Intervening

Oleh
Sadat Amrul, SE.,M.Si dan Burhan Daniel SE

Abstract
This study test direct relation learning organization, information technology capability to business performance and indirect examination through information technology capability as intervening variable with multiple regression analysis path analysis. Pursuant to answer 37 manager of company which export oriented Banjarmasin. Result of this study, first indicate that relation between organization learning to information technology capability is not significan, the meaning is learning organization is not influence of information technology capability. The second result og regression analysis indicate that learning organization have an effect on direct to business performance, but indirect influence through intervening variable of information technology capability not significan. The meaning relation which in fact is directly relation. This matter can be proved third hypothesis
Keywords: learning organization, information technology capability, business performance

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hubungan antara pembelajaran organisasi dan kinerja telah diteliti selama beberapa tahun, disamping itu juga kontribusi dari teknologi informasi untuk kinerja perusahaan menjadi sebuah isu yang menarik dalam bidang sistem informasi yang memicu ketertarikan senior ekskutif, kepala petugas informasi (chief information) dan para peneliti sistem informasi. Hasil penelitian memberi simpulan bahwa pembelajaran dan kinerja saling berhubungan tetapi akibat dari pembelajaran organisasi dapat juga bersifat positif atau negatif. Dengan kata lain, pembelajaran (learning organization) tidak selalu menyiratkan peningkatan efektifitas atau kinerja yang lebih baik. Organisasi yang tumbuh dan sedang belajar mungkin saja tidak sesuai dengan perilaku dari organisasi lainnya, yang disebut dengan “competency traps,” yaitu pengetahuan berasal dari keberhasilan masa lalu tidak selalu tepat diterapkan untuk permasalahan sekarang (Levitt & March, 1998; Miller, 1993; Zhang & McCullough, 2002). Dalam rangka menjelaskan fenomena ini, para peneliti berpendapat bahwa hubungan antara pembelajaran organisasi dan kinerja bisnis harus dimediasi dengan beberapa faktor-faktor yang masih belum diteliti (terabaikan). Para peneliti berpendapat bahwa pembelajaran organisasi dapat mengembangkan kinerja bisnis/perusahaan melalui beberapa mediator yang penting seperti kepuasan pemakai, keberhasilan produk baru atau inovasi (Hurley & Tomas, 1998; Zhang & McCullough, 2002).
Penelitian akhir-akhir ini yang berkaitan dengan teknologi informasi sering dikaitkan dengan pembelajaran organisasi. Walaupun hubungan antara teknologi informasi dan pembelajaran organisasi mulai diselidiki, namun terdapat dua arus pendapat yang berbeda dari para peneiti. Pendapat pertama seperti yang dikemukakan Robey, Boudreau dan Rose, (2000); Zhang & McCullough, (2002) yang mengadopsi pembelajaran organisasi sebagai alat untuk menjelaskan dan memecahkan permasalahan yang ditemui oleh perusahaan ketika mereka mengimplementasikan teknologi informasi yang baru. Penelitian yang dilakukan Argyris (1977) dalam Zhang & Mccullough (2002) yang merupakan arus kedua, berpendapat bahwa pembelajaran organisasi adalah alat/instrumen dalam menanggulangi permasalahan implementasi didalam suatu organisasi.
Selanjutnya Zhang & McCullough, (2002) dalam penelitiannya yang menguji desain aplikasi teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran organisasi, berpendapat bahwa teknologi informasi dapat menjadi aset yang sangat penting didalam desain pembelajaran organisasi dengan menyediakan suatu infrastruktur untuk menyimpan, mengakses dan meninjau ulang beberapa elemen dari memori organisasi. Pendapat ini juga memberikan pemahaman yang berbeda mengenai peranan teknologi informasi dalam mendukung pembelajaran, sehingga para peneliti terpisah pada dua pemahaman yang berbeda. Satu kelompok dari para peneliti menemukan, bahwa teknologi informasi adalah suatu enabler dari pembelajaran organisasi (Anand, Manz dang Lick, 1998; Davenvort De Long dan Beers, 1998; Zhang & McCullough, 2002). Sementara temuan dari kelompok lain menyatakan bahwa, teknologi informasi adalah suatu disabler dari pembelajaran organisasi, karena teknologi informasi mungkin melumpuhkan pembelajaran organisasi, dengan didukung sistem yang kaku itu tidak mampu menyesuaikan perubahan kondisi dari pengguna (Gill, 1995; Zhang & McCullough, 2002).
Berangkat dari kajian dan pemahaman penelitian-penelitian terdahulu, penelitian ini didesain untuk tujuan menjelaskan konflik dari fungsi teknologi informasi didalam pembelajaran organisasi dengan sebuah konstruk yang disebut kemampuan teknologi informasi. Kemampuan teknologi informasi telah diusulkan pada setiap kebutuhan bisnis untuk mengembangkan kemampuan yang berbeda, yang memungkinkan bisnis untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk memindahkan produk dan jasa-jasa melalui vaule chain dan mendukung persaingan posisi pasar. Fungsi-fungsi kemampuan yang berbeda adalah sebagai faktor kunci keberhasilan seperti yang dikemukakan oleh Day (1994); Zhang & McCullough, (2002).
Kemampuan teknologi informasi (IT capability), didefinisikan oleh Bharadwaj (2000), sebagai kemampuan perusahaan untuk memobilisasi dan menyebarkan sumber daya berdasar teknologi informasi dalam mengkombinasikan dan menggabungkan dengan sumber daya dan kemampuan lainnya. Pendapat ini menunjukkan bahwa, perusahaan yang memiliki sumber daya dan kemampuan teknologi informasi yang berbeda memiliki hubungan yang positif dengan kinerja. Namun, kemampuan teknologi informasi tidak terjadi secara acak. Kemampuan teknologi informasi harus di kelola dengan perhatian yang khusus melalui komitmen yang dipusatkan pada sumber daya, tugas untuk orang-orang, didukung dengan hasil yang baik untuk mengembangkan sebagian besar kepentingan, dan dilanjutkan dengan usaha untuk belajar (Day, 1994; Zhang & McCullough, 2002). Dengan demikian untuk mengembangkan suatu kemampuan, perusahaan harus melakukan usaha-usaha yang berkelajutan dalam pembelajaran karena pembelajaran dapat memudahkan perubahan perilaku, dan mendorong kearah peningkatan kinerja (Senge, 1990; Sinkula, 1994; Zhang & McCullough, 2002). Dalam penelitian ini pembelajaran organisasi (learning organization), peneliti mengadopsi dari definisi slater dan Narver’s (1995), bahwa pembelajaran sebagai pengembangan pengetahuan yang baru atau wawasan yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi perilaku. Disamping menguji kembali pengaruh pembelajaran organisasi terhadap kinerja bisnis seperti penelitian Zhang & McCullough (2002), juga menguji hubungan antara pembelajaran organisasi terhadap kinerja dengan variabel mediasi lain seperti saran Hurley & Tomas (1998); Zhang & McCullough (2002). Penelitian ini menggunakan variabel IT capability sebagai variabel intervening dalam memediasi hubungan antara pembelajaran organisasi terhadap kinerja bisnis.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang yang telah dikemukakan penelitian ini dapat dirumuskan kedalam pertanyaan berikut:
1. Apakah kemampuan teknologi informasi merupakan intervening dalam hubungan antara pembelajaran organisasi dengan kinerja bisnis.
2. Apakah pembelajaran organisasi, kemampuan teknologi informasi berpengaruh terhadap kinerja bisnis.

2. TELAAH TEORITIS DAN PEMNGEMBANGAN HIPOTESIS

Penelitian yang berkaitan dengan peranan kemampuan teknologi informasi pada kinerja bisnis dilakukan oleh Zhang dan McCullough (2002), dalam penelitian tersebut Zhang dan McCullough disamping menguji kemampuan teknologi informasi pada kinerja bisnis dengan tujuan untuk mengeneralisasikan hasil temuan Bharadwaj (2000), juga mengembangkan penelitian tersebut dengan memasukan variabel independen lain yaitu pembelajaran organisasi yang diadopsi dari Slater dan Narver,s; (1995). Hasil temuan Zhang dan McCullough (2002) sejalan dan memperkuat temuan sebelumnya, bahwa ada hubugan yang positif antara kemampuan teknologi informasi dengan kinerja bisnis. Sedangkan pembelajaran organisasi tidak berpengaruh secara langsung terhadap kinerja bisnis, namun ada indikasi variabel lain yang dapat memediasi hubungan tersebut. Penelitian ini mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya yang menguji variabel pembelajaran organisasi dan kemampuan teknologi informasi terhadap kinerja bisnis. Pembelajaran organisasi (organizational learning) diadopsi dari pendapat Slater dan Narver,s; (1995) dan kemampuan teknologi informasi serta kinerja bisnis berasal dari pendapat Zhang dan McCullough (2002).
2.1. Pembejaran Organisasi
Pembelajaran dan organisasi yang belajar menjadi isu yang menonjol dalam bidang sistem informasi. Ada 3 alasan seperti yang dikemukakan oleh Dogson (1993) dalam Zhang dan McCullough (2002). Pertama, konsep dari pembelajaran organisasi memperoleh popularitas diantara organisasi yang besar sebagaimana mereka mencoba untuk mengembangkan struktur dan sistem untuk dapat menyesuaikan pada perubahan lingkungan. Kedua, perubahan lingkungan meningkatkan ketidakpastian terhadap perusahaan-perusahaan, yang berarti meningkatkan kebutuhan perusahaan untuk belajar berbagai hal dengan cara-cara yang berbeda. Ketiga, pembelajaran memiliki nilai analisis yang luas (Dogson, 1993; Zhang & McCullough, 2002). Pembelajaran adalah suatu konsep yang dinamis yang mana teori tersebut berguna untuk menuntun organisasi yang belajar berubah secara alami.
Huber (1991) dan Sinkula, Slater dan Narver (1995) berpendapat bahwa pembelajaran organisasi adalah tiga langkah proses itu dimasukkan didapatnya pengetahuan (knowledge acquisition), disebarkannya informasi, dan pembagian penafsiran (shared interpretation). Berdasar pada literatur diatas, peneliti mengadopsi pendapat Slater dan Narver’s (1995) mendefinisikan pembelajaran organisasi sebagai “ pengembangan dari pengetahuan baru atau wawasan yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi perilaku,” dan memahami bahwa pembelajaran organisasi adalah konstruk yang dinamik dan terdiri dari tiga langkah proses.
2.2. Kemampuan teknologi informasi (IT capability)
Teknologi informasi diperlukan untuk mengurangi ketidakpastian dan ketidakjelasan dari perubahan lingkungan. Penguasaan terhadap teknologi informasi merupakan hal yang sangat penting dan dibutuhkan bagi suatu organisasi seperti yang dikemukakan dalam banyak literatur. Namun dukungan terhadap penyediaan keunggulan bersaing oleh aplikasi teknologi informasi masih diragukan (Zhang dan McCullough, 2002). Berdasarkan kajian sumber daya Fuerst dan Barney, (1995); Zhang & McCullough, (2002) berpendapat bahwa teknologi informasi sebagai suatu pesanan sumberdaya yang tinggi, jika dimanfaatkan, akan mendorong kearah keunggulan bersaing. Peneliti Ross, beath & godhue, (1996); Bharadwaj (2000); Zhang & McCullough (2002) berpendapat bahwa teknologi informasi sebagai suatu sumber daya yang dapat dengan mudah diduplikat dengan demikian tidak dapat mendorong kearah pendukung keunggulan bersaing. Selain teknologi informasi, kemampuan teknologi informasi dapat membedakan setiap dengan perusahaan lainnya. Perusahaan yang besar akan terus meningkat ketergantungan pada teknologi informasi untuk keperluan perbaikan proses bisnis.
Kemampuan teknologi informasi dipandang sebagai proses yang melekat didalam organisasi dan rutinitas bahwa memungkinkan perusahaan untuk menciptakan nilai dari asetnya (Teece et al. 1997; Richarsdson, Subramani dan Zmud, 2003). Pandangan senada dikemukakan oleh Bharadwaj (2000) kemampuan teknologi informasi sebagai suatu kemampuan perusahaan untuk memobilisasikan dan menyebarkan sumber daya dasar teknologi informasi dalam mengkombinasikan atau menggabungkan dengan sumber daya dan kemampuan-kemampuan lainnya.
dalam tiga kategori yaitu; infrastruktur (komputer dan teknologi komunikasi dan kemampuan membagikan teknik platform dan database Ross, beath dan Godhue, 1996; zhagn & McCullough, 2002), sumber daya teknologi informasi manusia (keterampilan teknik teknologi informasi dan keterampilan managerial Capon & Glazer, 1987; Zhang & McCullough, 2002), aspek yang tak berwujud dari tekonolgi informasi (orientasi pelanggan, aset pengetahuan yang sinergi).

2.3. Kinerja bisnis (business performance)
Kinerja bisnis mempunyai pandangan yang berbeda-beda dari para ahli dan terbagi kedalam arus yang bereda. Arus pertama peneliti memandang kinerja bisnis sebagai suatu hasil dari proses bisnis didalam suatu organisasi (Voss dan Voss, 2000). Sedangkan arus lainnya berpendapat kinerja bisnis merupakan hubungan antara penguasaan pasar (market share) dan kemampulabaan (profitability).
2.4. Hubungan Kemampuan Teknologi Informasi dan Kinerja Bisnis
Meskipun hubungan antara teknologi informasi dan kinerja telah secara luas diteliti namun hasilnya tidak konsisten. Beberapa peneliti menemukan hubungan yang positif antara teknologi informasi dan kinerja, sedangkan peneliti lainnya menemukan hubungan yang negatif antara teknologi informasi dan kinerja. Bharadwaj (2000) secara empiris menguji bahwa kemampuan teknologi informasi lebih dibanding teknologi informasi yang mendorong kinerja perusahaan yang lebih baik. Kemampuan teknologi informasi lebih dibanding teknologi informasi dikarenakan kemampuan teknologi informasi bukan hanya suatu investasi dalam teknologi informasi tetapi lebih merupakan suatu investasi yang dimaksudkan untuk menciptakan suatu sumber daya yang baru dengan menyebarkan atau menggabungkan dengan sumber daya yang lainnya, dengan kata lain adalah usaha bagaimana suatu perusahaan untuk memperoleh berbagai keuntungan dan keunggulan terhadap investasinya pada teknologi informasi. Dengan mengembangkan kemampuan teknologi informasi perusahaan dapat menciptakan keunggulan bersaing dengan yang pada intinya meningkatkan kinerja..

2.5. Hubungan Pembelajaran dan Kinerja Bisnis
Pembelajaran organisasi dalam kajian strategik manajemen dan literatur organisasi merupakan adalah suatu kemampuan organisasi untuk membangun dan memelihara competitive advantage untuk mencapai kinerja superior dalam jangka panjang (Zhang & Lado, 2002). Namun pembelajaran organisasi bisa berpengaruh positif atau negaitif, dengan kata lain pembelajaran tidak selalu menyiratkan kinerja bisnis yang lebih baik, Organisasi mungkin belajar tidak sesuai dengan perilaku dari organisasi lainnya dan berkembang dengan sebutan “competency traps,” yang mana pengetahuan dari keberhasilan masa lalu tidak tepat diterapkan untuk permasalahan sekarang (Levitt & March, 1998; Miller, 1993; Zhang & McCullough, 2002).
Penelitian ini disamping menguji kembali hubungan antara variabel kemampuan teknologi informasi (IT capability) Bharadwaj (2000) dan pembelajaran organisasi Zhang dan McCullough (2002) terhadap kinerja bisnis. Penelitian ini juga menggunakan variabel mediasi dalam menguji menguji hubungan antara variabel pembelajaran organisasi terhadap kinerja bisnis seperti yang disarankan oleh Hurley & Tomas, (1998); Zhang & McCullough, (2002). Namun penelitian ini hanya menggunakan variabel kemampuan teknologi informasi sebagai variabel intervening dalam memediasi hubungan antara pembelajaran organisasi terhadap kinerja bisnis.
Adapun Hipotesis dalam penelitian ini dinyatakan sebagai berikut:
H1 : Pembelajaran organisasi berhubungan positif pada Kemampuan teknologi informasi
H2 : Pembelajaran organisasi berhubungan langsung terhadap kinerja bisnis dan tidak langsung melalui kemampuan teknologi informasi.

H3 : Pembelajaran organisasi dan kemampuan teknologi informasi berpengaruh langsung terhadap kinerja bisnis

Gambar 1
Model penelitian
Pengaruh Pembelajaran dan Kemampuan Teknologi Informasi Tehadap Kinerja Bisnis: Kemampuan Teknologi Informasi Sebagai Variabel Intervening

Gambar 2:
Persamaan Regresi

3. METODE PENELITIAN
3.1. Kriteria penentuan populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian adalah perusahaan-perusahaan industri yang berorientasi export yang terdapat dikota Banjarmasin dengan jumlah 37 buah. Daftar-daftar nama-nama perusahaan berasal dari data industri kecil, menengah dan besar tahun 1990-2000 yang diterbitkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan dan Penanaman Modal (DEPERINDAG) Banjarmasin –Kalimantan Selatan tahun 2001.
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik purvosive sampling dengan pertimbangan bahwa perusahaan yang berorientasi export biasa menggunakan teknologi informasi dalam kegiatan bisnis, dan menyesuaikan teknologi informasi yang digunakan terhadap perkembangan teknologi informasi. Sampel dalam penelitian ini adalah para manager/ekskutip pada berbagai fungsi dan berada satu sampai lima tingkat berada dibawah direktur utama dan telah menduduki jabatan masing-masing minimal 1 tahun. Kriteria ini dimaksudkan agar presepsi manajer/eksekutif yang menjadi responden telah melalui proses pembelajaran dan penguasaan teknologi informasi yang mengarah pada peningkatan kinerja bisnis.
Kuesioner yang dikirimkan terdiri pertanyaan bersifat terbuka (opened questionare) menyangkut identitas responden dan pertanyaan yang bersifat tertutup (closed questionare), berkaitan dengan variabel-variabel yang diteliti. Dari 185 jumlah kuesioner yang dikirimkan ada 47 kuesioner yang kembali (25,4%), dan 10 kuesioner diantaranya tidak dapat dipergunakan dalam analisis karena tidak diisi dengan lengkap, dengan demikian kuesioner yang dapat diolah hanya berjumlah 37 buah (20%) yang terdiri dari 75,7% pria dan 24,3% wanita dengan tingkat pendidikan terakhir responden terdiri dari dari: 37,8% SMU, 62,2% strata satu. Responden dalam penelitian ini adalah para manajer dari berbagai fungsi/departemen yang terdiri dari administrasi/ personalia (27,0%), Akuntansi/keuangan (5,4%), pemasaran/penjualan (10,8%), produksi/operasi (21.6%), pengolahan data (5,4%) dan lainya (29,7%).

3.2. Definisi dan Operasioanalisasi Variabel
3.2.1. Pembelajaran organisasi (organizational learning)
Variabel pembelajaran organisasi diadopsi dari pendapat Slater dan Narver’s (1995) dalam Zhang dan McCullough (2002) dimana pembelajaran organisasi merupakan suatu pengembangan dari pengetahuan yang baru atau wawasan yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi perilaku dengan memahami pembelajaran organisasi adalah suatu konstruk yang dinamik dengan tiga langkah proses meliputi; didapatnya informasi/pengetahuan, penyebaran informasi dan penafsiran yang dibagikan. Untuk mengukur konsep dari pembelajaran organisasi instrumen yang digunakan diperoleh dari peneliti-peneliti sebelumnya Sinkula, Baker dan Noordewier (1997); Zhang dan McCullough (2002). Item yang digunakan terdiri dari 3 item dengan pernyataan dengan menggunakan lima poin skala likert.

3.2.2. Kemampuan Teknologi Informasi (IT capability)
Variabel kemampuan teknologi informasi diadopsi dari pendapat Bharadwaj (2000) dalam Zhang dan McCullough (2002) mengambil pandangan berdasar sumber daya diperoleh dan didefinisikan kemampuan teknologi informasi sebagai ¨suatu kemampuan perusahaan untuk memobilisasikan dan menyebarkan sumber daya dasar teknologi informasi dalam mengkombinasikan atau menggabungkan dengan sumber daya dan kemampuan-kemampuan lainnya.” Untuk mengukur konsep dari kemampuan teknologi informasi instrument yang digunakan diperoleh dari peneliti-peneliti sebelumnya Zou, Taylor dan Osland’s (1998); Zhang dan McCullough (2002). Dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan tujuan penelitian. Instrument ini terdiri dari 8 item pertanyaan dengan lima poin skala likert.
3.2.3. Kinerja bisnis (business performance)
Kinerja bisnis/perusahaan merupakan suatu proses bagaimana suatu organisasi mempertemukan harapan-harapannya sebagai suatu output dari pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dijalankan selama periode tertentu yang diukur. Dengan demikian aspirasi dan penentuan target/sasaran dari para manager akan sangat mempengaruhi kinerja (Zhang dan Mccullough; 2002). Untuk mengukur konsep dari kinerja perusahaan/bisnis instrumen yang digunakan diperoleh dari peneliti-peneliti sebelumnya Zou, Taylor dan Osland’s (1998); Zhang dan McCullough (2002). Dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan tujuan penelitian. Instrument ini terdiri dari 9 item pertanyaan dengan lima poin skala likert.

3.3. Uji Kualitas Data
3.4. Pengujian kualitas data menggunakan uji reliabilitas dan uji validitas. Uji ini dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instumen.
Reliabilitas pengukuran ditentukan dengan menghitung cronbach alpa yang dipertimbangkan dapat diandalkan jika cronbach alpa lebih tinggi dari 0,70 (Nunnally 1994). Sedangkan Sekaran (2000) mengatakan, pada umumnya reliabilitas yang kurang dari 0,6 dikatakan kurang reliabel, antara 0,60 sampai dengan 0,80 adalah cukup reliabel dan lebih dari 0,80 suatu instrumen dikatakan baik. Sedangakan validitas data diuji dengan uji validitas konstruk (construct validity) dengan analisis faktor terhadap skor setiap butir dengan rotasi varimax (varimax rotation), selain itu validitas data juga diuji dengan uji korelasional (korelasi Spearman) yang mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor totalnya.
Pada uji reliabilitas, konsistensi internal koefisien cronbach alpha untuk semua variabel berada pada tingkat yang dapat diterima, karena berada lebih dari 0,7 (Nunnally, 1994). Selanjutnya pengujian validitas menggunakan uji validitas konstruk (construct validity) dengan analisis faktor terhadap skor setiap butir dengan rotasi varimax (varimax rotation), dengan loading factors cukup memadai karena berada diatas 0,4 (Chia, 1995) dan untuk semua variabel, Ini berarti menunjukkan tingkat kesesuaian antara variabel dengan dan faktornya (Hair, 1998). Nilai MSA (Kaiser-Meyer-Olkin measure of sampling Adequacy) semua variabel berada datas 0,5 (Hair et al., 1988) yang menunjukkan data dapat dilakukan analisis faktor. Demikian juga uji validitas data dengan uji Pearson Correlation yang mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor total, menunjukkan korelasi yang positif dan signifikan pada level antara 0,01 dan 0,05, (0,05  p  0,00). berarti data dapat dikatakan valid dan selanjutnya digunakan untuk pengujian hipotesis.
Tabel 1
Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas

Variabel Dependen Cronbach Alpha Kaiser’ MSA Factor Loading Pearson
Correlation*
(Y) business performance 0,8729 0,696 0,526 – 0,808 0,437 – 0,713
organizational learning (X1) 0 ,8642 0,713 0,850 – 0,920 0,684 – 0,799
IT capability (X2) 0,8810 0,772 0,672 – 0,813 0,564 – 0,734
*Signifikan pada p  0,05. Sumber: data primer diolah, 2004
3.4. Pengujian Hipotesis
Penelitian ini menguji hipotesis-hipotesis dengan metode analisis regresi berganda (multiple regression) dengan bantuan SPSS versi 10.0. Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi berganda yang diperluas dengan metode path analysis untuk pengujian pengaruh variabel intervening.
Koefisien jalur dihitung dengan dua persamaan struktural (1&2), yaitu persamaan regresi yang menunjukkan hubungan yang dihipotesiskan. Nilai koefisien standardized beta pada persamaan (1&2) merupakan nilai jalur masing-masing persamaan. Bila nilai standardized beta pada persamaan (1) positif dan signifikan (p ≤ 0,05), berarti pembelajaran organisasi mempengaruhi kemampuan teknologi informasi seperti yang dinyatakan pada hipotesis 1. Demikian pula bila nilai standardized beta pada persamaan (2) positif dan signifikan (p ≤ 0,05), berarti pembelajaran organisasi dapat berpengaruh langsung ke kinerja bisnis dan dapat juga berpengaruh tidak langsung terhadap kinerja bisnis melalui variabel intervening kemampuan teknologi informasi seperti pada hipotesis 2. Untuk menentukan hubungan tidak langsung adalah dengan cara mengalikan koefisien tidak langsungnya, bila hasil perkalian koefisien tidak langsung lebih besar dari koefisien langsung berarti merupakan hubungan tidak langsung (Ghozali,2002).
Bagan 1

Tabel 2
Pengaruh Pembelajaran Organisasi Terhadap terhadap kinerja bisnis; Kemampuan Teknologi Informasi Variabel Intervening

Variabel Dependen
Keterangan Variabel Dependen Variabel Intervening
Pembelajaran Organisasi Kemampuan TI
Kinerja Bisnis Koefisien SB 0,472 0,392
Sig. 0,001* 0,001*
Kemampuan TI Koefisien SB 0,151 Tanda* adalah signifikan pada =5%
Sig. 0,374

Pembelajaran Organisasi Berhubungan Positif
Pada Kemampuan Teknologi Informasi

Berdasarkan hasil outpus SPSS pada tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai koefisien standardized beta pembelajaran organisasi pada persamaan (1) positif sebesar 0,151 dan tidak signifikan (p≥0,05), yang berarti pembelajaran organisasi tidak mempengaruhi pada kemampuan teknologi informasi, dengan demikian hipotesis 1 tidak diterima. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Zhang & McCullough, (2002), yang menyatakan bahwa faktor pembelajaran organisasi berpengaruh positif terhadap kemampuan teknologi informasi, yang mengisyaratkan semakin tinggi pembelajaran organisasi akan meningkatkan kemampuan teknologi informasi yang diliki oleh perusahaan.

Pembelajaran Organisasi Berhubungan Langsung Terhadap Kinerja
dan Tidak Langsung Melalui Kemampuan Teknologi Informasi

Pada output SPSS persamaan regresi (2) nilai standardized beta untuk pembelajaran organisasi 0,472 dan kemampuan teknologi informasi 0,392 semuanya signifikan. Nilai standardized beta pembelajaran organisasi 0,472 merupakan nilai jalur (1) dan nilai standardized beta kemampuan teknologi informasi 0,392 merupakan nilai jalur (2). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pembelajaran organisasi dapat berpengaruh langsung terhadap kinerja bisnis, tetapi pengaruh tidak langsung terhadap kinerja bisnis melalui variabel intervening kemampuan teknologi informasi kurang mendapat dukungan empiriris. Dimana hasil perkalian koefisien tidak langsungnya hanya sebesar 0,059 lebih kecil dari koefisien hubungan langsung, berarti dapat disimpulkan bahwa hubungan tersebut sebenarnya adalah langsung. Tanda positif pada hubungan langsung antara pembelajaran organisasi terhadap kinerja bisnis menunjukkan bahwa semakin tinggi pembelajaran organisasi akan meningkatkan kinerja bisnis. Hubungan tidak langsung antara pembelajaran organisasi terhadap kinerja bisnis melalui kemampuan teknologi informasi tidak didukung oleh bukti empiris, hal ini mungkin disebabkan oleh rata-rata perusahaan di Indonesia khususnya perusahaan didaerah masih rata-rata dalam tahap perkembangan sehingga sehingga pembelajaran organisasi dan kemampuan teknologi informasi berada pada tahap awal dan sejajar. Lain halnya dinegara-negara maju pembelajaran organisasi pada tahap yang sangat maju sehingga memicu perusahaan-perusahaan untuk melengkapi dan memiliki kemampuan teknologi informasi dalam rangka meningkatkan bisnis mereka.

Pembelajaran organisasi dan kemampuan teknologi informasi
berpengaruh langsung terhadap kinerja bisnis

Hasil analisis regresi berganda secara keseluruhan menunjukkan R square sebesar 43,2%, F = 12,9 dengan signifikansi p < 0,001 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara variabel kinerja bisnis dengan kedua variabel independen pembelajaran organisasi dan kemampuan teknologi informasi. Variasi perubahan kinerja bisnis dijelaskan oleh semua variabel independen sebesar 43,2%.
Tabel 3.
Output Regresi Berganda Pengaruh Pembelajaran Organisasi dan Kemampuan Teknologi Informasi Pada Kinerja Bisnis
Variabel Koefisien Kesalahan
Standar Nilai – t Probabilitas*
Konstanta (0) 6,397 5,074 1,261 0,216
organizational learning (1) 1,038 0,288 3,605 0,001
IT Capability 0,422 0,141 2,996 0,005
R2 = 0,432; F = 12, 904; Sig. F= 0,000
*Signifikan pada p  0,05. Sumber: data primer diolah, 2004
Hasil analisis regresi parsial menunjukan bahwa pembelajaran organisasi mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kinerja bisnis, p = 0,001 (p ≤ 0,05). Tanda positif pada koefisien regresi menunjukan bahwa, pembelajaran organisasi yang merupakan suatu bentuk pengembangan dari pengetahuan yang baru yang berpotensi mempengaruhi perilaku akan mempengaruhi terhadap kinerja bisnis. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan yang dikemukakan oleh Therin (2002), yang menguji kinerja bisnis ditinjau pada perspektif keuangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kemampuan teknologi informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja p = 0,005 (p ≤ 0,05) bisnis sesuai dengan pendapat dari penelitian sebelumnya Bharadwaj (2002), Zhang dan McCullough (2002). Hasil penelitian pada hipotesis 3 ini sekaligus memperkuat temuan hasil penelitian pada hipotesis 2 bahwa variabel pembelajaran organisasi dan kemampuan teknologi informasi berpengaruh secara langsung terhadap kinerja bisnis.
4. SIMPULAN DAN KETERBATASAN
4.1. Simpulan
Motivasi dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan langsung antara pembelajaran organisasi dengan kinerja bisnis dan hubungan tidak langsung melalui kemampuan teknologi informasi dengan analisis jalur yang merupakan perluasan regresi berganda (ghozali; 2002). Hasil penelitian yang menguji hubungan antara pembelajaran organisasi terhadap kemampuan teknologi informasi tidak mendapat dukungan data yang signifikan. Hasil berbeda dengan penelitian Zhang & McCullough (2002), yang menyatakan bahwa faktor pembelajaran organisasi berpengaruh positif terhadap kemampuan teknologi informasi. Hasil pengujian hipotesis 2 dengan analisis regresi menunjukkan bahwa pembelajaran organisasi dapat berpengaruh langsung terhadap kinerja bisnis, tetapi pengaruh tidak langsung terhadap kinerja bisnis melalui kemampuan teknologi informasi tidak ditemukan bukti signifikan. Koefisien tidak langsungnya  koefisien hubungan langsung, berarti menunjukkan hubungan tersebut adalah langsung. Hubungan langsung positif antara pembelajaran organisasi terhadap kinerja bisnis mengisyaratkan bahwa semakin tinggi pembelajaran organisasi akan meningkatkan kinerja bisnis. Hasil pengujian hipotesis 3 menemukan bukti bahwa pembelajaran organisasi, kemampuan teknologi informasi berpengaruh langsung terhadap kinerja bisnis, hasil ini memperkuat hasil temuan pada hipotesis 2 yang menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berhubungan langsung terhadap kinerja bisnis.

4.2. Keterbatasan
Peneliti menyadari adanya beberapa keterbatasan yang mungkin mempengaruhi hasil. Keterbatan-keterbatasan yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian ini, antara lain, 1) peneliti tidak mampu mengukur kemungkinan non response bias terhadap hasil penelitian ini. Jawaban responden yang tidak mengembalikan kuesioner mungkin berbeda dengan jawaban responden yang menjawab, sehingga jika responden menjawab akan berpengaruh terhadap hasil penelitian ini. Uji respon bias sulit dilakukan karena rendahnya sampel dalam penelitian ini, disamping identitas responden yang tidak mengembalikan jawabannya tidak diketahui secara pasti oleh peneliti, dan juga rentang pengembalian kuesioner yang menjawab dan tidak menjawab kuesioner sulit dibedakan. 2) data penelitian yang berasal dari presepsi responden yang disampaikan secara tertulis melalui instrumen kuesioner, mungkin mempengaruhi validitas hasil. Presepsi responden yang disampaikan belum tentu mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, akan berbeda apabila data diperoleh melalui wawancara. 3) tingkat pengembalian (respon rate ) hanya 39.2 % yakni sebanyak 37 buah dari 120 kuisioner yang dikirimkan dan data dikumpulkan dari wilayah yang masih berkembang tentu akan berbeda bila dilakukan pada suatu negara/wilayah yang sudah maju dengan sampel yang lebih besar 4) pengujian variabel intervening dengan analisis jalur masih memiliki keterbatasan, pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan analisis lain seperti SEM dengan variabel intervening yang banyak. 5) Pengukuran kinerja bisnis melalui pengukuran subyektif masih mempunyai kekurangan-kekurangan didalam pengukuran kinerja bisnis.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Perindustian Perdagangan dan Penanaman Modal, 2001. Data Industri Kecil, Menengah dan Besar Tahun 1990-2000, Banjarmasin

Erik Brynjolfsson, Lorin M Hitt . Shinkyu Yang , 2002. Intangible Assets:Computers and Organizational Capital http://ebusiness.mit.edu

François Therin, 2002. Organizational Learning and Innovation High-Tech Small Firms http:// http://www.yahoo.com Information System research

Imam Ghozali, 2002. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, BPUD, Semarang

Man Zhang dan James McCullough, 2002. Effect of Learning and Information Technology Capability on Business Performance http://blake-montclair.edu

Nalin Kulatilaka,P. Balasubramanian dan John Storck Managing Information Technology Investments: A Capability-based Real Options Approach

Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 1999. Metode Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi pertama, BPFE Yogyakarta

Paul P. Tallon,Kenneth L. Kraemer dan Vijay Gurbaxani, 1996 A Multidimention Assesment Of the contribution of information technology to firm performance http://www.yahoo.com information system research

Swee C. Goh, dan Peter J. Ryan, 2002. Learning Capability organization factors and Firm Performance: Third European Conference on Organizational knowledge, Learning dan Capabilities htpp://www.yahoo.com Information System research

Sadat Amrul S., 2002. Pengaruh gaya kepemimpinan dan ketidakpastian lingkungan terhadap hubungan antara partisipasi penganggaran dengan senjangan anggaran, SNA5, Semarang

Singgih Santoso, 2001. SPSS versi 10 Mengolah Data Statistik secara Professional, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta

Singgih Santoso, 2001. Edisi ke-Dua Buku latihan SPSS Statistik arametric, Penerbit PT Elex Media Komputindo ,Jakarta

Teguh, Muhammad, 1999, Metode Penelitian Ekonomi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Vernon J. Richardson, Mani Subramani ,Michael F. dan Robert W. Zmud 2003. Benefiting from Information Technology Investments: The Role of IT Conversion Capability, Second Round Review at MIS Quarterly

V. Sambamurthy Varun Grover, dan Anandhi Bharadwaj, 2002. Shaping Agility through Digital Options:Reconceptualizing the Role of IT in Contemporary Firms http://www.yahoo.com information system research

Zhang M. J. dan Lado A. Augustine, 2002. Information Sistem Support Of organizational Learning and Firm performance: An Empirical Investigation http://www.yahoo.com Information system research

_______ ,Internet Education Chapter 2 Information Tekhnologi 2003: Search Engine http://www.yahoo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: