LOGIKA BAHASA

A. Pengertian
Gagasan yang diawali dengan hal-hal atau fakta yang bersifat khusus, yang dituangkan dalam beberapa kalimat (berupa kalimat penjelasan) berdasarkan penjelasan itu berakhir pada kesimpulan umum yang dinyatakan dengan kalimat topik.

B. Bentuk Gagasan / Penalaran Induktif
a. Generalisasi ialah perihal bentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian hal, atau sebagainya.
Sahnya generalisasi bila gejala-gejala khusus yang diamati merupakan hasil survei, sensus, penelitian, pengujian ataupun percobaan yang ruang tidak terlalu luas, dapat memiliki keseluruhan. Dalam penyusunan paragraf pergunakan ungkapan: cenderung, pada, umumnya rata-rata, pada mayoritasnya kasus yang diamati, atau semacam itu.
Contoh dalam paragaraf:
Setelah tugas menggambar kelas I B dikumpulkan, ternyata duapuluh anak perempuan menggambar bunga, dua orang anak perempuan menggambar pemandangan, dan satu orang saja menggambar binatang, sedangkan anak laki-laki bermacam-macam. Boleh dikatakan anak perempuan kelas I B cenderung membuat gambar bunga.

b. Analogi ialah suatu penalaran yang bertolak dari peristiwa khusus mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan apa yang berlaku untuk suatu hal akan bertolak pula untuk hal lain. (keraf, 1991:48)
Dari difinisi di atas dapat diketahui bahwa hal yang diperbandingkan tidak satu jenis, tetapi berlainan (dua kelas yang berbeda ) atau disebut analogi deklaratif (penjelas)
Contoh dalam paragraf
Bila pohon dapat diuraikan menjadi pokok (batang), dahan dan ranting karangan pun dapat pula diuraikan menjadi tubuh (bodi), bab, anak bab, paragaraf, dan kalimat. Batang sebanding dengan tubuh , dahan sebanding dengan bab, dan daun sebanding dengan paragarf. Jadi, struktur karangan pada hakikatnya mirip atau bersamaan dengan struktur suatu pohon.

c. Kausalitas (sebab-akibat) ialah memulai suatu penjelasan dari peristiwa atau hal yang merupakan sebab, kemudian bergerak menuju ke suatu kesimpulan sebagai aspek (akibat) terdekat.
Contoh dalam paragaraf
Penduduk dari daerah banyak hijrah ke Jakarta. Mereka tergiur oleh gambaran kehidupan mewah di Jakarta dan kemudahan mencari kerja. Akibatnya, Jakarta semakin penuh oleh pendatang.

C. Bentuk Gagasan / Penalaran Deduktif
a. Silogisme ialah menarik kesimpulan dari dua pernyataan(premis) yaitu premis umum/mayor(PU) dan premis khusus/minor(PK).
PU : Semua A=B
PK : Semua C=A
S : Semua C=B
Contoh
PU : Semua makhluk hidup memiliki mata
PK : si Polan adalah makhluk hidup
S : maka si Polan mempunyai mata

b. Entimen ialah silogisme yang di pendekkan
C=B karena C=A
si Polan mempunyai mata karena si Polan adalah makhluk hidup
Macam Analogi
Bermacam-macam cara orang membuat analogi. Analogi dapat dibedakan atas: (1) analogi pinjaman; (2) analogi susunan; dan (3) analogi metafora.
Ketiganya akan dijelaskan berikut ini:
1) Analogi Pinjaman
Kita dapat mengambil contoh masih term sehat. Kita dapat menerapkan pada orang sehat, obat sehat dan udara sehat. Orang, obat dan udara memang dapat sehat, tetapi kesehatan untuk ketiganya berlainan. Orang disebut sehat karena memang badannya memiliki kesehatan. Udara dan obat bukan memiliki kesehatan, melainkan mengakibatkan kesehatan. Kesamaan itu benar-benar terdapat dalam realita, tetapi ada yang diutamakan, sedangkan yang lainnya hanya “pinjaman” udara dan obat hanya meminjam sifat itu yang sebenarnya tidak menisbahkan kepadanya. Itulah yang disebut dengan analogi pinjaman.
2) Analogi Susunan
Jika dikatakan, “Manusia melihat”, dan “Binatang melihat” maka kenyataannya memang benar yakni manusia dan binatang melihat dengan ssungguhnya. Namun dalam hal ini, keduanya melihat dengan cara masing-masing. Ada kesamaan dan dalam kesamaan itu ada perbedaan. Manusia melihat dengan “kemanusiaannya” sedangkan binatang melihat dengan “kebinatangannya”. Ini bukan analogi pinjaman, melainkan analogi susunan realita yang dirujuk oleh pengertian itu. Itulah yang dimaksud dengan analogi susunan.
Contoh lainnya, “Manusia ada”, “Hewan ada”, “Malaikat ada” dan “Allah ada”. Meskipun semuanya sama-sama ada, tetapi berbeda satu sama lain. Adanya manusia dan hewan sama dalam susunan fisiknya. Adanya manusia sama dengan adanya malaikat dalam susunan rohaninya, tetapi bebeda dalam susunan rohaninya, tetapi berbeda dalam susunan fisiknya. Akhirnya, adanya manusia dengan adanya Allah berbeda susunan fisiknya maupun rohaninya.
3) Analogi Metafora
Analogi metafora ini sebenarnya hanya digunakan dalam karya sastra. Oleh karena itu, ada beberapa orang yang tidak sependapat terhadap keberadaan analogi metafora ini. Alas an mereka, pengertian itu tidak menunjukan kesamaan dan kebedaan dalam realita. Pada dasarnya hal yang dianalogikan tidak mungkin terjadi. Misalnya, “Nyiur itu melambai-lambai”. Nyiur tidak mungkin dapat melambai-lambai karena tidak mempunyai tangan. Yang dapat melambai-lambai yaitu manusia dengan tangannya. Pernyataan itu sebenarnya hanya perasaan subjektif bathin manusia.

Prinsip Dasar Silogisme
Ada dua prinsip dasar dalam silogisme:
(1) Terdapat dua buah term, keduanya mempunyai hubungan dengan term lain, maka kedua term itu satu sama lainnya memiliki hubungan pula (A = C; B = C; … A = C).
Contohnya : Pak Ewoy adalah ayah Ewey
Pak Ewoy adalah guru SD
Jadi, ayah Ewoy adalah guru SD

(2) Terdapat dua buah term, satu di antaranya mempunyai hubungan dengan sebuah term ketiga, sedangkan term yang satu lagi tidak, maka kedua term itu tidak mempunyai hubungan satu sama lain (A = C; B = C; … A = B).
Contoh : Ani bukanlah putrid Pak Ano
Puteri Pak Ano sngatlah cantik
Jadi, Ani tidaklah cantik

Bentuk Silogisme
Aristoteles mengemukakan tiga bntuk silogisme (bentuk I, II dan III), Galen menambahkannya lagi satu bentuk (bentuk IV). Bentuk silogisme ditentukan oleh kedudukan term menengah dalam hubungannya dengan term-term yang terdapat pada premis-premis. Ada empat kemungkinan kedudukan term menengah dalam dua buah premis, oleh karenanya terdapat pula empat bentuk silogisme.

Bentuk I : Dalam bentuk I, term penengah adalah S premis mayor dan P premis minor.
MP Semua mahasiswa Uninus mendapat tunjangan
SM Robet Ewoy adalah mahasiswa Uninus
SP Robet Ewoy mendapat tunjangan
Bentuk II : Dalam bentuk II, term penengah P dari kedua premisnya
PM Semua manusia bijaksana
SM Semua hewan tidak berotak
SP Semua hewan bukan manusia
Bentuk III : Dalam bentuk III, term penengah adalah S dari kedua premisnya
MP Semua muslimat berjilbab
MS sebagian muslimat sudah naik haji
SP Sebagian yang sudah naik haji berjilbab
Bentuk IV: Dalam bentuk IV, term penengah adalah P dari premis mayor dan S dari premis minor
PM Semua dosen menulis
MS Semua yang menulis pandai
SP Sebagian yang pandai adalah dosen

1) Semua manusia pasti mati
Semua monyet adalah binatang
Jelaslah bahwa dari dua premis di atas, tidak terdapat konklusi yang dapat diambil.
(2) Kaki saya menyentuh sofa
Sofa menyentuh lantai.
Kaki saya menyentuh lantai.
Dalam contoh (2) terdapat empat butir term yaitu kaki saya, menyentuh sofa, sofa dan menyentuh lantai. Karena itu, tidak ada konklusi yang dapat ditarik.

Macam-macam Kesesatan

1. Kesesatan karena Bahasa
1) Kesesatan karena term ekuivokal
Term ekuivokal yaitu term yang dialmbangkan oleh kata yang memiliki struktur fonologis yang sama tetapi mempunyai makna yang berbeda. Jika dalam suatu penalaran terjadi pergantian makna dari term yang sama, maka akan menimbulkan kesesatan penalaran.
Contoh:
(1) Abadi adalah sifat Allah
(2) Adam adalah mahasiswa abadi
Jadi Adam adalah mahasiswa yang memiliki sifat Allah.

2) Kesesatan karena aksen atau tekanan
Yang dimaksud dengan tekanan dalam bahas yaitu suatu jenis unsur supresegmental bahasayang ditandai naik turunnya nada atau nyasing pelannya nada suatu arus ujaran.
Contoh:
(1a) Dia itu beruang (ber-u-ang)
(1b) Dia itu beruang (be-ru-ang)
(2a) Amir sedang memetik jambu monyet
(2b) Amir sedang memetik jambu/monyet (tanda / sebagai jeda)

3) Kesesatan karena makna kiasan
Contoh :
(1a) Tangan Amir melambai-lambai
(1b) Nyiur di tepi pantai itu melambai-lambai.
Jadi: Tangan Amir sama denga Nyiur di tepi pantai.

4) Kesesatan karena Amfiboli
Amfiboli akan terjadi jika sebuah struktur kalimat mempunyai makna ganda atau bercabang. Perbedaan penfsiran itu karena aksen atau jeda, tetapi karena pembicara atau penulis membuat kalimat yang memang sedemikian rupa sehingga maknanya bercabang.
Contohnya: Mahasiswa yang duduk di atas kursi yang paling belakang itu putra Pak Camat. Membaca kalimat tersebut kita mungkin akan menafsirkan apa yang paling belakang itu? Mahasiswanya atau mejanya.

2. Kesesatan Relevansi
Kesesatan relevansi timbul jika orang menurunkan suatu konklusi yang tidak relevan dengan premisnya. Maksudnya, secara logis konklusi tidak terkandung atau tidak merupakan imflikasi dari premisnya. Soekadijo, selanjutnya memaparkan bentuk-bentuk kesesatan relevansi yang banyak terjadi seperti berikut ini.
1) Argumentum ad hominem
Kesesatan ini terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau menolak sesuatu usulan, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alas an yang berhubungan dengan kepentingan si pembuat usul.
2) Argumentum ad Verecundiam atau Argumentum Auctoritatis
Kesesatan ini juga disebabkan oleh penolakan terhadap sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, akan tetapi karena disebabkan oleh orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa, dapat dipercaya, seorang pakar. Secara logis tentu dalam menerima atau menolak sesuatu tidak bergantung kepada orang yang dianggap pakar. Kepakaran, kepandaian, atau kebenaran justru harus dibuktikan dengan penalaran yang tepat. Pepatah latin berbunyi, “Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentation” ; yang maknanya, ‘Nilai wibawa itu hanya setinggi nilai argumentasinya’.
3) Argumentum ad baculum
Baculum artinya ‘tongkat’. Maksudnya, kesesatan ini timbul kalau penerimaan atau penolakan suatu penalaran didasarkan atas adanya ancaman hukuman. Jika, kita tidak menyetujui sesuatu maka dampaknya kita akan kena sanksi.kita menrima sesuatu itu karena terpaksa, karena takut bukan karena logis.
4) Argumentum ad misericordiam
Penalaran ini disebabkan oleh adanya belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditujukan untuk menimbulkan belas kasihan sehingga pernyataan dapat diterima. Argumen ini biasanya berhubungan dengan usaha agar sesuatu perbuatan dimaafkan. Misalnya, seorang pencuri yang tertangkap basah mengatakan bahwa ia mencuri karena lapar dan tidak mempunyai biaya untuk menembus bayinya di rumah sakit, oleh karena itu ia meminta hakim membebaskannya.
5) Argumentum ad populum
Argumentum populum ditujukan untuk massa. Pembuktian sesuatu secara logis tidak perlu. Yang diutamakan ialah menggugah perasaaan massa sehingga emosinya terbakar dan akhirnya akan menerima sesuatu konklusi tertentu. Yang seperti ini biasanya terdapat pada pidato politik, demonstrasi, kampanye, propaganda dan sebagainya.
6) Kesesatan non cause pro cause
Kesesatan ini terjadi jika kita menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal sebenarnya bukan sebab, atau bukan sebab yang lengkap. Contohnya yaitu suatu peristiwa yakni Amir jatuh dari sepeda dan meninggal dunia. Orang menyebutnya bahwa Amir meninggal dunia karena jatuh dari sepeda. Akan tetapi menurut visum et repertum dokter, Amir meninggal dunia karena serangan penyakit jantung.
7) Kesesatan aksidensi
Kesesatan ini terjadi jika kita menerapkan prinsip-prinsip umum atau pernyataan umu kepada peristiwa-peristiwa tertentu yang karena keadaanya yang bersifat aksedential menyebabkan penerapan itu tidak cocok. Contohnya, seseorang member susu dan buah-buahan kepada bayinya meskipun bayi itu sakit, dengan pengrtian bahwa susu dan buah-buahan itu baik bagi bayi, maka si ibu itu melakukan penalaran yang sesat karena aksidensinya. Contoh lain, yaitu makan itu pekerjaan yang baik. Akan tetapi jika kita makan ketika berpuasa, maka penalaran kita sesat karena aksidensi.
8) Kesesatan karena komposisi dan devisi
Ada predikat-predikat yang hanaya mengenai individu-individu suatu kelompok kolektif. Kalau kita menyimpulkan bahwa predikat itu juga berlaku untuk kelompok kolektif seluruhnya, maka penlaran kita sesat karena komposisi. Misalnya, ada beberapa anggota-anggota polisi yang menggunakan senjatanya untuk menodong, kita simpulkan bahwa korps kepolisian itu terdiri atas penjahat. Sebaliknya, jika ada predikat yang berlaku untuk kelompok kolektif dan berdasarkan hal itu disimpulkan bahwa setiap anggota dari kelompok kolektif itu tentu juga menyandang predikat itu, maka penalaran itu sesat karena devisi.
9) Kesesatan karena pertanyaan yang kompleks
Sebuah pertanyaan atau perintah, sering kali bersifat kompleks yang dapatdijawab oleh lebih dari satu pernyataan, meskipun kalimatnya sendiri tunggal. Contohnya, jika ada pertanyaan, “Coba sebutkan macam-macam kalimat!”, maka jawabannya anatara lain: Kalimat tunggal dan kompleks ; kalimat berita, perintah, dan pertanyaan ; kalimat aktif dan pasif ; kalimat susun normal dan inversi.
10) Argumentum ad ignorantum
Argumentum ad ignorantum adalah penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi atas dasar bahwa negasinya tidak terbukti salah, atau yang menyimpulkan bahwa sesuatu konklusi itu salah karena negasinya tidak terbukti benar. Contohnya, jika kita menyimpulkan bahwa mahluk “berbadan halus” itu tidak ada karena tidak dapat kita lihat, hal ini sama saja dengan pernyataan bahwa di Kepulauan Paskah tidak ada piramida karena kita tidak mengetahui adanya piramida di sana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: