PERSEPSI PEMAKAI LAPORAN KEUANGAN, AUDITOR, DAN MAHASISWA AKUNTANSI TERHADAP EXPECTATION GAP

PERSEPSI PEMAKAI LAPORAN KEUANGAN, AUDITOR, DAN MAHASISWA AKUNTANSI TERHADAP EXPECTATION GAP

Oleh
Jaka Wirarna

ABSTRACT
This is an explanatory research done in a survey method to examine whether or not there’s a significant difference in the perception of financial report user, auditors and the accounting students regarding the expectation gap. The questionnaire used in this research to collect data is the modification model from the Gramling, Schatzberg & Wallace’s (1996) and Downs & Hazen’s (1977) research questionnaire. The survey is distributed in Java-Indonesia. Data are sent through mail questionnaire and directly. Using the ANOVA method, the results indicate that there is significant difference in the perception of financial report user, auditors and the accounting students regarding the expectation gap

Keyword: expectation gap, perception.

PENDAHULUAN
Pada saat sekarang, keberadaan dan peran profesi akuntan publik mengalami peningkatan sesuai dengan perkembangan bisnis dan perubahan global. Keberadaan dan peran akuntan publik yang cukup strategis tersebut dikuatkan dan diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Beberapa peraturan yang berlaku seperti UU Perseroan Terbatas, UU Pasar Modal, UU BUMN, UU Partai politik, UU Pemilu, UU Capres dan lainnya menyebutkan bahwa laporan keuangan harus disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan serta wajib diperiksa oleh Akuntan Publik.
Namun demikian seiring dengan meningkatnya kompetisi dan perubahan global, profesi akuntan pada saat ini dan masa mendatang menghadapi tantangan yang semakin berat. Banyak kasus-kasus tuntutan terhadap auditor yang sampai ke meja hijau. Kalaupun tidak sampai ke pengadilan, maka masyarakat memberi penilaian terhadap auditor, bahwa auditor tidak mampu melaksanakan tugasnya dan tidak dapat diharapkan untuk membantu publik. Kasus-kasus tersebut telah banyak terjadi di luar negeri dan semakin banyak terjadi di Indonesia. Contoh kasus ini adalah pelanggaran yang melanda perbankan di Indonesia pada tahun 2002-an. Banyak bank-bank dinyatakan sehat tanpa syarat oleh akuntan publik ternyata sebagian besar bank itu kondisinya tidak sehat. Di sisi lain banyak kasus yang membutuhkan penyelesaian dengan meminta jasa dari akuntan publik. Hal ini menunjukkan keberadaan auditor masih diakui dan diperlukan. Epstein dan Geiger (1994) menyatakan bahwa investor dan pemakai laporan keuangan memang mengakui manfaat audit dalam pelaporan keuangan.
Kondisi tersebut di atas merupakan fenomena expectation gap yaitu adanya kesenjangan harapan antara publik dan auditor sendiri terhadap peran dan tanggung jawab auditor (Humphrey, 1997). Peran dan tanggung jawab auditor, sebenarnya telah diatur dalam standar profesional akuntan publik (SPAP) yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) atau Statement on Auditing Standards (SASs) yang dikeluarkan oleh Auditing Standards Board (ASB). Standar tersebut dalam pelaksaannya sering menimbulkan expectation gap.
Guy & Sullivan (1988) menyebutkan adanya perbedaan harapan publik dengan auditor dalam hal : (1) deteksi kecurangan dan tindakan ilegal, (2) perbaikan keefektifan audit, (3) komunikasi yang lebih intensif dengan publik dan komite audit. Dalam hal ini publik beranggapan bahwa auditor harus dapat memberikan jaminan (absolut assurance) terhadap laporan keuangan yang diaudit dan kemungkinan adanya kecurangan dan tindakan ilegal harus dapat ditemukan dengan jaminan tersebut. Di lain pihak auditor tidak dapat memberikan absolut assurance tersebut, auditor hanya dapat memberikan reasonable assurance saja, dan inilah yang belum dimengerti oleh publik (Epstein & Geiger dalam Gramling, Schatzberg, & Wallace, 1996).
Gramling Schatzberg, & Wallace (1996) meneliti peran pengajaran auditing untuk mengurangi expectation gap. Ia memberikan enam isu expectation gap yang dalam penelitian itu yaitu peran dan tanggung jawab auditor terhadap: (1) auditor dan proses audit, (2) peran auditor terhadap klien audit dan laporan keuangan audit, (3) kepada siapa auditor harus bertanggung jawab, (4) aturan atas firma-firma akuntan publik, (5) atribut kinerja auditing, (6) kasus-kasus khusus (illegal act).
Beberapa topik penelitian expextation gap dalam isu berbeda-beda yang dilakukan di Indonesia masih sangat terbatas. Nadirsyah (1993) telah meneliti persepsi pemakai informasi akuntansi, akuntan dan masyarakat umum terhadap isu independensi akuntan publik. Hasil penelitiannya menunjukkan pemakai informasi akuntansi, akuntan dan masyarakat umum tidak mempersepsikan akuntan publik independen, dimana ketidak indepenannya berbeda bagi tiap kelompok responden. Erlina (1993) meneliti persepsi akuntan publik dan pemakai laporan terhadap laporan akuntan di pasar modal Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan pemakai laporan keuangan kurang mau menggunakan laporan akuntan untuk membantu dalam pembuatan keputusan ekonomi. Yeni (2000) meneliti persepsi mahasiswa, auditor dan pemakai laporan keuangan terhadap peran dan tanggung jawab auditor dalam isu seperti yang dikembangkan Guy & Sullivan (1988) yang meliputi tanggung jawab terhadap fraud, mempertahankan independensi, pengkomunikasian hasil audit, tanggung jawab illegal act klien, dan memperbaiki keefektivan audit. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya perbedaan persepsi yang signifikan di antara masing-masing kelompok dalam semua isu kecuali pengkomunikasian hasil audit.
Masih terbatasnya penelitian tentang expectation gap di Indonesia tersebut, dalam penelitian ini peneliti ingin menguji kembali persepsi pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation di Indonesia. Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya dalam obyek dan lingkup penelitian. Penelitian ini memperluas obyek penelitian dalam isu expectation gap seperti yang dikembangkan Guy & Sullivan (1988) dan Gramling Schatzberg, & Wallace (1996), berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya (Yeni, 2000) yang hanya menggunakan isu expectation gap dari penelitian Guy & Sullivan (1988) sebagai obyek penelitian. Selain obyek penelitian yang berbeda, peneliti juga memperluas area survei untuk responden dari kelompok mahasiswa, dan pemakai laporan keuangan diperluas tidak hanya investor di bursa efek tetapi juga meliputi pemakai dari kalangan perbankan dan institusi pemerintah. Dengan perluasan area survei dan obyek penelitian yang berbeda diharapkan dapat menyempurnakan penelitian sebelumnya serta dapat diketahui persepsi pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi secara lebih luas dan mendalam terhadap expectation gap di Indonesia.

Perumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah persepsi masing-masing kelompok pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation gap.
2. Apakah ada perbedaan persepsi antara masing-masing kelompok pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation gap.

Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui persepsi masing-masing kelompok pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation gap.
2. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsi antara masing-masing kelompok pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation gap.

LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Persepsi dan Peran dan Tanggung Jawab Auditor
Pengertian persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau merupakan proses seseorang mengetahui beberapa hal yang dialami oleh setiap orang dalam memahami setiap informasi tentang lingkungan melalui panca indera. Jadi persepsi dapat diartikan sebagai proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami setiap informasi tentang lingkungannya melalui panca inderanya (melihat, mendengar, mencium, menyentuh dan merasakan). Agar individu dapat menyadari dan dapat membuat persepsi, ada beberapa syarat yang dipenuhi, yaitu sebagai berikut: (1) adanya obyek yang dipersepsikan (fisik), (2) alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus (fisiologis), (3) adanya perhatian yang merupakan langkah pertama dalam mengadakan persepsi (psikologis) (Walgito,1997).
Auditor (akuntan publik) memiliki peran yang sangat strategis. Banyak pendapat menyatakan bahwa auditor akan berguna bagi pihak pengguna laporan keuangan hasil auditan untuk membuat keputusan ekonomi. Auditor berfungsi melindungi pihak yang berkepentingan dengan menyediakan informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan, baik bagi pihak luar perusahaan maupun bagi manajemen dalam mendukung pertanggungjawaban kepada pemilik dan memberikan kepastian bahwa laporan keuangan tidak mengandung informasi yang menyesatkan pemakainya (Baridwan, 1996). Untuk itu auditor harus mematuhi prinsip akuntansi berterima umum, standar pengauditan, dan kode etik (SPAP, 1994).
Peran dan tanggung jawab auditor saat ini dirasakan semakin luas, sesuai dengan perkembangan kemajuan dan didukung juga oleh perhatian pemerintah. Hal ini sangat jelas terlihat setelah dibukanya kembali pasar modal dan diharuskannya perusahaan yang akan go publik diaudit laporan keuangannya minimal dua tahun terakhir.

Expectation gap
Expectation gap adalah suatu fenomena yang terjadi karena perbedaan persepsi antara apa yang dipercaya auditor menjadi tanggung jawabnya dan apa yang dipercaya para pengguna laporan keuangan mengenai tanggung jawab auditor yang seharusnya (Guy & Sullivan, 1988; Gramling, Schatzberg, & Wallace, 1996). Istilah Expectation gap dapat ditelusuri awal mula penggunaannya dari AS, pada tahun 1974, komisi tanggung jawab auditor yang dibentuk oleh AICPA dan dikenal dengan nama Cohen Commission yang bertujuan untuk menanggapi kritik masyarakat mengenai kualitas kinerja auditor yang pada saat itu terdapat berbagai kasus yang memperlihatkan bahwa auditor gagal mendeteksi atau men-disclose kegagalan atau tindakan penyimpangan dari perusahaan-perusahaan yang dimiliki publik. Masyarakat mengharapkan auditor lebih bertanggung jawab mendeteksi dan melaporkan kecurangan dan tindakan illegal, mengkomunikasikan kepada para pemakai laporan keuangan informasi yang lebih berguna, dan mengkomunikasikan kepada komite audit.
Tetapi harapan pemakai laporan keuangan dirasakan tidak dapat dipenuhi oleh auditor. Kegagalan dan kerugian bisnis justru terjadi setelah laporan keuangan diaudit dengan memperoleh pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) dari auditor. Kegagalan bisnis disamakan dengan kegagalan audit. Dalam kasus ini, auditor menyatakan bahwa dia telah memenuhi tanggung jawabnya dengan melakukan audit sesuai dengan standar yang berlaku.
Gramling Schatzberg, & Wallace, (1996) dan Guy & Sullivan (1988) membahas expectation gap dalam isu-isu yang meliputi:
1. Auditor dan Proses Audit
Auditing adalah akumulasi dan evaluasi bukti-bukti tentang informasi-informasi yang dapat dikuantitaskan dari sebuah entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan dalam tingkat kesesuaian antara informasi/pernyataan dengan kriteria yang telah ditentukan. Auditing seharusnya dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen, orang yang dimaksudkan adalah auditor atau akuntan publik (Arens, 1994). Auditor dapat dibagi menjadi: (1) Akuntan Publik Terdaftar (Auditor Eksternal), (2) Auditor Pemerintah, (4) Auditor Pajak, dan (5) Auditor Internal.
Auditor agar bisa membentuk opini terhadap laporan keuangan yang diaudit, harus mengembangkan suatu tujuan audit yang spesifik (khusus), yang berhubungan dengan asersi manajemen tersebut dan kemudian mendesain dan melakukan tes audit untuk mendapatkan dan menguji bukti-bukti apakah tujuan telah tercapai (O’Reilly, 1999). Keseluruhan hal yang dilakukan oleh auditor tersebut disebut proses audit.
2. Peran Auditor
Kebutuhan akan laporan keuangan tidak lagi hanya disediakan untuk manajemen dan bankir, namun telah meluas ke pihak-pihak lain seperti pemerintah, investor, kreditor dan pemegang saham. Oleh karena itu, perusahaan harus membuat laporan keuangan yang transparan, akurat, tepat waktu, dan tidak menyimpang dari Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU).
Peran auditor jika dilihat dari segi lingkungan bisnis yang semakin berkembang, maka peran auditor pun semakin luas. Auditor harus mampu berperan menjadi mediator bagi perbedaan-perbedaan kepentingan antar berbagai pelaku bisnis dan masyarakat. Agar mampu menjalankan peran tersebut, auditor harus selalu menjaga mutu jasa yang diberikannya dan menjaga independensi, integritas, dan obyektivitas profesinya.
3. Kepada Siapa Auditor Bertanggung jawab
Setidaknya auditor harus bertanggung jawab pada klien dan pihak ketiga, atau secara khusus kepada : (1) pihak khusus, (parties in privity) seperti klien, (2) pihak yang diuntungkan (primary beneficiaries) seperti kreditur, (3) pihak-pihak terbatas (foreseen and limited classes) seperti pihak-pihak yang memerlukan laporan audit dalam melakukan bisnis, (4) pihak-pihak foreseeable (foreseeable parties) seperti investor, tetapi berdasarkan Security Laws, auditor juga memiliki tanggung jawab kepada penjual dan pembeli sekuritas yang prospektif (Gramling, Schatzberg, & Wallace, 1996).
4. Aturan dan Batasan Pada Kantor Akuntan Publik
Terkait dengan standar profesi, IAI telah mengembangkan serta mewajibkan anggotanya untuk mematuhi standar etika dan standar profesional akuntan publik. Setiap menjalankan penugasan audit, anggota IAI tidak hanya mematuhi Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), tetapi standar yang dikeluarkan International Federation of Accountant, badan regulator seperti Bapepam, serta undang-undang yang relevan, dalam hal ini kedelapan standar etika (Toruan, 2001).
Setiap Kantor Akuntan Publik (KAP) wajib memiliki sistem pengendalian mutu dan menjelaskan unsur-unsur pengendalian mutu dan hal-hal yang terkait dengan implementasi secara efektif sistem tersebut. Pengendalian mutu KAP tersebut harus diterapkan pada semua jasa audit, atestasi, akuntansi dan review, dan konsultasi yang standarnya telah ditetapkan oleh IAI dalam SPAP.
5. Atribut Kinerja Audit
Proses pelaksanaan penugasan pemeriksaan atas laporan keuangan adalah pekerjaan pokok auditor. Banyak proses yang terlibat didalamnya, mulai dari perencanaan audit, sampai pelaksanaan pengujian audit, yang dilakukan untuk sampai pada satu kesimpulan yaitu opini, namun akhir-akhir ini kinerja auditor tidak mendapatkan penghargaan yang layak, karena beberapa kali pengauditan tidak menemukan dan atau mengungkapkan kesalahan atau kecurangan dalam laporan keuangan. Auditor bukan tidak memahami masalah ini tetapi pertimbangan tertentu tentang judgement yang harus diambil membuat auditor terkesan ragu-ragu dalam bertindak (Abdolmohammadi, 1987; Knechel, 2000).
6. Kasus-kasus khusus
Dalam penelitian ini akan menyajikankan 3 kasus/permasalahan yang dapat dialami oleh auditor. Dua masalah meliputi situasi potensial yang memungkinkan auditor untuk mengungkapkan suatu ilegal act oleh klien. Dan satu permasalahan tentang pengunduran diri audit dari suatu penugasan audit.
Ilegal act menurut SPAP Seksi 317 adalah suatu pelanggaran terhadap hukum dan perundang-undangan oleh suatu satuan usaha (manajemen atau karyawan) yang laporan keuangannya diaudit. Menurut penelitian Neebes, Guy dan Whittington (1991), ilegal act yang mempunyai pengaruh tidak langsung cenderung untuk tidak mempengaruhi aspek keuangan dan akuntansi tetapi lebih cenderung untuk mempengaruhi aspek operasi perusahaan atau entitas bisnis.
7. Komunikasi
Informasi akuntansi adalah sarana komunikasi yang efektif antara investor dan kreditor di satu pihak serta manajemen di pihak lain. Agar komunikasi efektif, data akuntansi harus lebih akurat, dapat dipercaya serta diproses lebih lanjut oleh penerimanya. Akuntan adalah pihak yang dianggap mampu menjembatani kepentingan kedua belah pihak. Sebagai perantara, akuntan harus jujur, bijaksana dan profesional.
Pengkomunikasian kepada pihak luar, mencakup tanggung jawab menilai apakah terdapat kesangsian besar pada kemampuan satuan usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk periode 1 tahun mendatang sejak tanggal laporan keuangan auditan. Carmichael (1972), dikutip dari Altman & Mc Gough (1974) membagi masalah going concern menjadi dua: pertama, masalah keuangan, meliputi kekurangan likuiditas dan ekuitas, penunggakan hutang, kesulitan memperolah dana. Kedua, masalah operasi meliputi kerugian operasi terus menerus, prospek pendapatan meragukan, kemampuan operasi terancam, dan pengendalian yang lemah atas operasi.
Tanggung jawabAuditor hendaknya memberi informasi mengenai hasil auditnya dan berkomunikasi kepada pihak yang berkepentingan, terutama publik dan komite audit.(Kiney, 2000; Gregson, 1990; Carcello, 2000).

Penelitian-Penelitian Terdahulu
Penelitian yang berkaitan expectation gap masih relatif sedikit yang melakukannya. Secara umum hasil peneleitian menunjukkan adanya gap atau kesenjangan antara apa yang menjadi harapan masyarakat dari auditor dengan apa yang auditor yakini menjadi tanggung jawabnya. Lowe dan Pany (1993) yang meneliti terhadap ahli hukum dan auditor menunjukkan, ahli hukum secara sistematis mengharapkan lebih dari apa yang diyakini auditor menjadi tanggung jawabnya.
Humphrey et al. (1993), melakukan penelitian di Inggris menyimpulkan ada ketidakpastian sekitar peran audit dan selalu mengkritik auditor dalam hubungannya dengan kecurangan, going concern dan aktivitas bisnis secara umum.
Porter (1993) meneliti expectation gap di New Zealand. Hasil penelitiannya menunjukkan terjadinya kesenjangan harapan terhadap kinerja auditor oleh perusahaan yang diaudit, analis keuangan, jurnalis keuangan, dan ahli hukum dengan kinerja yang diyakini auditor harus diberikan.
Gramling, Schatzberg, & Wallace, (1996) membuktikan bahwa pendidikan adalah salah satu langkah awal untuk mengurangi gap tersebut. Pengurangan expectation gap dapat ditunjukkan dengan adanya perbedaan pendapat antara mahasiswa sebelum dan sesudah pengambilan mata kuliah auditing.
Beberapa topik penelitian expextation gap dalam isu berbeda-beda yang dilakukan di Indonesia masih sangat terbatas. Nadirsyah (1993) telah meneliti persepsi pemakai informasi akuntansi, akuntan dan masyarakat umum terhadap isu independensi akuntan publik. Hasil penelitiannya menunjukkan pemakai informasi akuntansi, akuntan dan masyarakat umum tidak mempersepsikan akuntan publik independen, dimana ketidak indepenannya berbeda bagi tiap kelompok responden. Erlina (1993) meneliti persepsi akuntan publik dan pemakai laporan terhadap laporan akuntan di pasar modal Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan pemakai laporan keuangan kurang mau menggunakan laporan akuntan untuk membantu dalam pembuatan keputusan ekonomi. Yeni (2000) meneliti persepsi mahasiswa, auditor dan pemakai laporan keuangan terhadap peran dan tanggung jawab auditor dalam isu seperti yang dikembangkan Guy & Sullivan (1988) yang meliputi tanggung jawab terhadap fraud, mempertahankan independensi, pengkomunikasian hasil audit, tanggung jawab illegal act klien, dan memperbaiki keefektivan audit. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya perbedaan persepsi yang signifikan di antara masing-masing kelompok dalam semua isu kecuali pengkomunikasian hasil audit.
Berdasarkan atas hasil penelitian sebelumnya maka hipotesis yang diajukan adalah:
H 1 : terdapat perbedaan persepsi antara pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation gap.
METODOLOGI PENELITIAN
Pemiliahan Sampel dan Pengukuran Data
Populasi penelitian ini adalah pemakai laporan keuangan, auditor yang berpraktik akuntan publik, dan mahasiswa akuntansi yang ada di Jawa. Sampel penelitian ini adalah pemakai laporan keuangan, auditor yang berpraktik akuntan publik, dan mahasiswa akuntansi dengan kriteria sampel sebagai berikut:
a. Pemakai laporan keuangan dikelompokkan menjadi investor di bursa efek yang berbentuk badan (institusi), perbankan, dan institusi pemerintah.
b. Auditor, merupakan akuntan publik yang berpraktik akuntan publik minimal 2 tahun.
c. Mahasiswa akuntansi, merupakan mahasiswa yang mengambil jurusan akuntansi pada perguruan tinggi baik PTN maupun PTS di wilayah Pulau Jawa dan yang pernah mengambil mata kuliah Auditing.
Tipe desain pengambilan sampel dari populasi adalah sebagai berikut ini. Untuk auditor, peneliti secara random memilih 75 KAP di seluruh Indonesia dari direktori Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik yang auditornya diminta menjadi responden sebanyak 3-5 orang. Untuk responden mahasiswa secara convenience peneliti juga memilih beberapa perguruan tinggi Negeri dan Swasta di Jawa, yang masing-masing sebanyak 10-20 kuesioner. Untuk responden pemakai laporan keuangan, peneliti secara random memilih dan mengirim kepada (a) investor yang terdaftar pada Directory Institutional di Bursa Efek Surabaya dan Jakarta Stock Exchange sebanyak 100 perusahaan, (b) perbankan yang terdaftar pada Directory Bank Indonesia sebanyak 100 bank, dan (c) Kantor Pelayanan Pajak di Indonesia sebanyak 100 Kantor Pajak.
Data dikumpulkan melalui survei dengan mengisi kuesioner yang dikirimkan kepada responden. Operasional penyebaran kuesioner untuk auditor dilakukan dengan mengirimkan kepada pimpinan masing-masing KAP dan meminta untuk menyebarkan kepada bawahannya para auditor. Untuk responden mahasiswa akuntansi, operasional penyebarannya dilakukan dengan mengirimkan kepada ketua jurusannya masing-masing yang kemudian mendistribusikan kuesioner kepada setiap responden di institusinya masing-masing. Untuk responden pemakai laporan keuangan, operasional penyebarannya dilakukan dengan mengirimkan kepada pimpinan perusahaan (manajer kredit) dan pimpinan kantor yang terpilih sebagai responden.

Pengukuran Variabel
Expectation gap diukur dengan pernyataan persepsi terhadap pertanyaan dan pernyataan yang diajukan. Instrumen yang digunakan adalah memodifikasi instrumen yang dikembangkan oleh Gramling, Schatzberg, & Wallace,(1996) untuk masing-masing isu selain isu komunikasi, dan untuk isu komunikasi dikembangkan dari modifikasi instrumen yang digunakan Downs & Hazen (1977) yang mengukur tentang kepuasan komunikasi di kalangan auditor. Isu expectation gap yang diteliti meliputi isu auditor dan proses audit (12 item pertanyaan), peran auditor (10 item pertanyaan), kepada siapa auditor bertanggung jawab (4 item), aturan dan batasan pada kantor akuntan publik (8 item pertanyaan), atribut kinerja audit (18 item pertanyaan), kasus-kasus khusus (6 item pertanyaan) dan komunikasi (5 item pertanyaan).
Total pertanyaan adalah 63 pertanyaan dan untuk kasus-kasus khusus terdiri dari tiga kasus yang masing-masing terdiri dari dua pertanyaan. Masing-masing pertanyaan diukur dengan skala likert dengan rentang nilai 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju).

Analisis Data
Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu data-data yang terkumpul dilakukan pengujian. Pengujian data dilakukan dengan melakukan uji validitas, reliabilitas dan normalitas. Uji validitas dilakukan dengan dengan tujuan untuk mengetahui apakah alat ukur yang digunakan telah mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas dalam penelitian ini akan menggunakan Pearson product moment. Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, jika dilakukan dua kali atau lebih. Metode Cronbach-Alpha digunakan untuk pengujian reliabilitas. Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah populasi terdistribusi secara normal atau tidak dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov.
Dalam penelitian ini alat analisis yang digunakan adalah analisis varians (one-way ANOVA) jika data yang terkumpul berdistribusi normal, akan tetapi jika pengujian data menghasilkan distribusi yang tidak normal maka pengujian hipotesis menggunakan uji Kruskal Wallis.

ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN
1. Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner yang penyebarannya telah dijelaskan sebelumnya. Hasil penyebaran kuesioner untuk masing-masing sampel disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 1. Rincian Sampel Penelitian Persepsi Terhadap Expetation Gap
No. Keterangan Kuesioner Disebar Kuesioner Kembali Tingkat Pengembalian Kuesioner Diolah
1. Pemakai laporan keuangan, yaitu: 292 53 18,15% 42
a. Perusahaan investor 92 18 14
b. Perbankan 100 18 15
c. Perpajakan 100 17 13
2. Auditor 320 72 22,5 % 54
3. Mahasiswa akuntansi 315 139 44,13% 124
Total 927 264 220

2. Pengujian Data
Pengujian validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan secara statistik dengan menggunakan pendekatan validitas konstruk. Hasil pengujian validitas dengan menggunakan metode Pearson Correlation menunjukkan bahwa terdapat 4 pernyataan yang tidak valid dari 63 pernyataan dalam kuesioner sehingga pernyataan tersebut harus dikeluarkan dari pengujian selanjutnya (dalam tabel 3 lampiran). Sedangkan untuk uji reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen penelitian mempunyai tingkat reliabilitas sangat tinggi dengan nilai alpha 0,8626.
Pengujian selanjutnya adalah uji asumsi normalitas untuk mengetahui sebaran data atau varian data. Hasil analisis asumsi normalitas dengan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov test menunjukan bahwa sebaran data normal dengan nilai Asymp. sig. sebesar 0,399.
3. Pengujian Hipotesis
Karena sebaran datanya normal secara keseluruhan, maka hipotesis diuji dengan menggunakan Oneway ANOVA sebagai alat uji statistik parametrik. Hasil yang diperoleh dari pengujian ini disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis Persepsi Terhadap Expectation Gap
No.
Isu Expectation Gap Mean Asymp. Sig.
Pemakai Lap. Keu. Auditor Mahasiswa Akuntansi
1. Auditor dan proses audit 52,2143 56,3704 52,2016 0,003
2. Peran auditor 55,7857 58,2778 54,8871 0,096
3. Kepada siapa auditor bertanggung jawab 20,9524 20,2037 19,7661 0,219
4. Aturan dan batasan pada KAP 41,0714 39,2963 38,7177 0,165
5. Atribut kinerja audit 88,4048 101,8077 94,5556 0,000
6. Kasus-kasus khusus 30,8095 30,6481 30,3145 0,874
7. Komunikasi 27,1429 29,9444 25,3871 0,000
Expectation Gap (Total) 301,8095 321,0741 300,7177 0,000

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa secara keseluruhan terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap expectation gap. Hal ini dapat dilihat dari nilai Asymp. Sig. yang besarnya 0,000. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini diterima. Jika dilihat dari isu expectation gap, terdapat perbedaan persepsi yang signifikan pada isu auditor dan proses audit, atribut kinerja audit, komunikasi. Sedangkan untuk isu peran auditor, kepada siapa auditor bertanggung jawab, aturan dan batasan pada KAP, dan kasus-kasus khusus menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemakai laporan keuangan, auditor dan mahasiswa akuntansi.
Berdasarkan nilai mean untuk masing-masing kelompok sampel, diketahui bahwa secara keseluruhan auditor mempunyai nilai mean tertinggi yaitu 321,0741. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa auditor mempunyai persepsi yang lebih baik mengenai isu-isu expectation gap yang diteliti di dalam penelitian ini apabila dibandingkan dengan pemakai laporan dan mahasiswa akuntansi. Perbedaan persepsi diantara pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi disebabkan oleh perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh responden. Auditor mempunyai latar belakang pendidikan akuntansi dengan pemahaman mengenai auditing yang jelas, serta telah berpengalaman dalam hal pengauditan setidaknya sudah 2 tahun. Pemakai laporan keuangan belum tentu mempunyai latar belakang pendidikan akuntansi. Sedangkan mahasiswa akuntansi belum mempunyai pengalaman kerja dalam hal pengauditan dan ilmu yang diperolehnya dari perkuliahan baru sekedar teori.
Secara umum, hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Yeni (2000), Porter (1993), dan Erlina (1993) yang menujukkan adanya perbedaan persepsi antara auditor/akuntan publik dengan responden lainnya tentang peran dan tanggung jawab auditor. Hal ini berarti ada kesenjangan harapan (expectation gap) terhadap peran dan tanggung jawab auditor.

KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN
Dari analisis terhadap data-data penelitian, kesimpulan yang dapat diambil yaitu di antara pemakai laporan keuangan, auditor dan mahasiswa akuntansi terdapat perbedaan persepsi terhadap expectation gap. Perbedaan persepsi di antara ketiga kelompok responden terjadi terhadap isu isu auditor dan proses audit, atribut kinerja auditor, dan komunikasi hasil audit. Sedangkan terhadap isu kepada siapa auditor bertanggung jawab, peran auditor, aturan serta larangan pada Kantor Akuntan Publik, dan isu kasus-kasus khusus, ketiga kelompok responden tidak memiliki perbedaan persepsi yang signifikan.
Ada beberapa keterbatasan dari penelitian ini yang membatasi kesempurnaannnya. Adapun keterbatasan tersebut antara lain: pertama, peneliti tidak melakukan uji respon bias, sehingga tidak diketahui apakah responden yang menjawab lebih dahulu dengan responden yang menjab akhir ada perbedaan atau tidak. Kedua, pengambilan sampel tidak dilakukan secara acak dan lingkup penelitian hanya memakai Pulau Jawa sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi untuk semua subyek penelitian di Pulau Jawa.
Terlepas dari keterbatasan yang dimiliki, hasil penelitian ini diharapkan mempunyai implikasi yang luas untuk penelitian selanjutnya dengan topik serupa. Selain itu hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi profesi akuntan publik, Kantor Akuntan Publik, Ikatan Akuntan Indonesia maupun Pemerintah bahwa adanya expectation gap merupakan masalah yang harus menjadi perhatian sehingga dapat dijadikan masukan dalam merumuskan standar ataupun regulasi di masa mendatang. Sehingga disarankan untuk penelitian selanjutnya perlu memperluas area survei pada wilayah di luar Pulau Jawa, memperluas obyek penelitian dan memperbaiki validitas internalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdolmohammadi, Mohammad & Arnold Wright. (1987). An Examination of the Effect of Experience and Task Complexity on Audit Judgements. The Accounting Review. Januari hal. 1 – 12.

Altman, Edward L & Thomas P. McGaugh. (1974). Evaluation of a Company as a Going Concern. The Journal of Accountancy. December. pp. 50 – 57.

Arens, Alvin A., dan Loebbecke, James K. 1994. Auditing An Integrated Approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Baiman, Steven, J. H. Evans III, J. Noel. (1987). Optimal Contracts with a Utility-Maximizing Auditor. Journal of Accounting Research. Autumn. hal. 217 – 245.

Bedard. Jean C and Stanley F. Biggs. (1991). Pattern Recognition, Hypotheses Generation and Auditor Performance in Analytical Task. The Accounting Review. July. hal. 622 – 641.
Bomber. Michael E., Doug S. R. M. Tubbs. (1989). Audit Structure and its Relation to Role Conflict and Role Ambiguity : An Empirical Investigation. The Accounting Review. April. hal. 285 – 299.

Bonner. Sarah E and Paull Walker. (1994). The Effects of Instruction and Experience on The Acquisition of Auditing Knowledge. The Accounting Review. Januari. hal. 157 – 178.

Burke, Jacqueline and Nathan Slavin. (2000). Just in Time Accounting Education. The CPA Journal. April. hal. 46 – 51.

Carcello, Joseph V and T. L. Neal (2000). Audit Committee Composition and Auditor Reporting. The Accounting Review. October. hal. 455 – 467.

Charmichael, D. R. (1988). The Auditor’s New Guide to Errors, Irregularities, and Illegal Acts. The Journal of Accountancy. September. hal. 40 – 48.

Erlina.,(1993). Persepsi Akuntan Publik dan Pemakai Laporan Pemeriksaan terhadap Laporan di Pasar Modal Indonesia. Tesis S-2 UGM Yogyakarta.

Guy. Dan. M & Jerry. D. Sullivan. (1988). The Expectation gap Auditing Standards. The Journal of Accountancy. April. hal. 36 – 46.

Hartadi, Bambang. (2000). Expectation gap dan Going Concern Uncertainties Dalam Hubungan dengan Pemeriksaan Akuntan. KOMPAK. Juli. hal. 667 – 678.

Hartley, Ronald V & T. L. Ross. (1972). MAS and Audit Independence an Image Problem. The Journal of Accountancy. November. hal. 42 – 50.

Heebes, Donald L. & D. M. Guy & O. R. Whithington. (1991). Illegal Acts : What Are The Auditor’s Responsibilities ?. Journal of Accountancy. January. hal. 82 – 93.

Ikatan Akuntan Indonesia. (2001). Standar Profesional Akuntan Publik, per 1 Januari 2001. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Knapp, Michael C. (1985). Audit Conflict : An Empirical Study of The Perceived Ability of Auditors to Resist Management Pressure. The Accounting Review. April. hal. 202 – 211.

Knechel, W. Robert. (2000). Behavioral Research in Auditing and its Impact on Audit Education. The Accounting Review. November. hal. 695 – 712.
Libby, Robert & W. R. Kinney, Jr. (2000). Does Mandated Audit Communication Reduce Opportunistic Corrections to Manage Earninfs tp Forecasts ?. The Accounting Review. October. hal. 383 – 404.

Margheim. Loren. L. (1986). Further Evidence on External Auditor’s Relionce on Internal Auditor. . The Journal of Accounting Research. Spring. hal. 194 – 205.

Moncada, S.M., dan J. C. Sanders. 1999. Perception in the Recruiting Process. The CPA Journal, Januari, hal. 38-41.

Murray, Dennis & K. B. Frazier. (1986). A Within-Subjects Rest of Expectancy Theory in a Public Accounting Environment. Journal of Accounting Research. Autumn. hal. 400 – 404.

Nadirsyah, (1993). Persepsi Pemakai Informasi Akuntansi, Akuntan dan Masyarakat Umum terhadap Independensi Akuntan Publik. Tesis-S-2 UGM, Yogyakarta.

Roussey, Roberts S. (1999). The Development of Intenational Standards on Auditing. The CPA Journal. October. hal. 14 – 20.

Schwartz, Rachel. (1997). Legal Regimes, Audit Quality and Investment. The Accounting Review. July. hal. 385 – 406.

Tan, Hun-Tong & A. Kao. (1999). Accountability Effects on Auditor’s Performance : The Influence of Knowledge, Problem-Solving Ability and Task Complexity. The Journal of Accounting Research. Spring. hal. 209 – 223.

Toruan, Henry L. (1998). Tanggung Jawab Akuntan Publik. Media Akuntansi. Juni. hal. 27 – 28.

Ulrich, Dave. (1998). A New Mandate for Human Resources. Harvard Business Review. Januari – Februari. hal. 124 – 134.

Walgito, Bimo, 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

Winarna, Jaka, dan Yacob Suparno, 2002. Peran Pengajaran Auditing terhadap Pengurangan Expectation Gap. Jurnal Bisnis dan Manajemen.

Yeni, N.S., 2000. Persepsi Mahasiswa, Auditor dan Pemakai Laporan Keuangan terhadap Peran dan Tanggung Jawab Auditor: Studi Empiris Mengenai Expectation Gap. Simposium Nasional Akuntansi IV, hal 484-503.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: