PENGARUH KEPEMILIKAN PEMERINTAH, KEPEMILIKAN ASING, DAN PERGANTIAN CEO TERHADAP KINERJA KEUANGAN BADAN USAHA MILIK NEGARA SESUDAH DIPRIVATISASI

PENGARUH KEPEMILIKAN PEMERINTAH,
KEPEMILIKAN ASING, DAN PERGANTIAN CEO
TERHADAP KINERJA KEUANGAN
BADAN USAHA MILIK NEGARA SESUDAH DIPRIVATISASI

Oleh
Zaroni, SE, Msi

PENDAHULUAN
Latar Belakang Penelitian
Fenomena penolakan privatisasi di Indonesia telah membuktikan bahwa privatisasi tidak selalu merupakan pilihan terbaik untuk peningkatan kinerja BUMN. Isu privatisasi memicu munculnya pro-kontra terhadap rencana penerapan program privatisasi. Masing-masing pihak mempunyai argumen dan pertimbangan yang memungkinkan pemerintah meneruskan atau membatalkan program privatisasi.
Beberapa penelitian tentang bagaimana kinerja keuangan BUMN sesudah privatisasi telah banyak dilakukan di beberapa negara, sedangkan penelitian yang menjelaskan mengapa kinerja keuangan BUMN dapat meningkat sesudah dilakukan privatisasi sangat jarang dilakukan. Pada tahun 2001, D’Souza, Megginson, dan Nash mempublikasikan hasil penelitiannya yang mengivestivigasi faktor-faktor yang mungkin menyebabkan terjadinya peningkatan kinerja keuangan dan operasional BUMN sesudah diprivatisasi. Hasil penelitian tersebut berjudul “Determinant of Performance Improvements In Privatized Firms: The Role of Restructuring and Corporate Governance”. Penelitian ini berhasil dengan baik menjelaskan mengapa privatisasi dapat meningkatkan kinerja keuangan BUMN, dengan mengambil sampel penelitian sebanyak 118 BUMN dari 29 negara dan 28 industri.
D’Souza, Megginson, dan Nash (2001) menguji faktor-faktor yang mungkin berpengaruh terhadap peningkatkan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi, antara lain: kepemilikan pemerintah (state ownership), kepemilikan asing (foreign ownership), kepemilikan karyawan (employee ownership), restrukturisasi perusahaan, karakteristik industri BUMN, shareholder’s right index (SRI), tingkat pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) suatu negara, Gross National Product (GNP) per kapita, dan kapitalisasi pasar modal.
D’Souza, Megginson, dan Nash (2001) menyimpulkan bahwa peningkatan profitabilitas yang sangat tajam terjadi pada BUMN yang kepemilikan saham oleh karyawannya rendah dan kepemilikan saham oleh pemerintahnya tinggi. Peningkatan output (real sales) yang sangat tajam terjadi pada BUMN yang karakteristik industrinya kompetitif dan BUMN pada negara-negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi. Peningkatan efisiensi yang sangat tajam terjadi pada BUMN yang kepemilikan sahamnya oleh asing tinggi, BUMN yang telah melakukan restrukturisasi, dan BUMN pada negara dimana kapitalisasi saham dari BUMN yang diprivatisasi relatif lebih kecil dibandingkan dengan total kapitalisasi pasar modal secara nasional.
Berdasarkan fenomena masalah dan hasil penelitian tersebut, saya tertarik untuk melakukan penelitian yang ingin memperoleh jawaban atas pertanyaan mengapa privatisasi dapat meningkatkan kinerja keuangan BUMN. Penelitian ini sebagian besar menggunakan desain penelitian seperti yang dilakukan oleh Megginson, Nash, dan Van Randenborgh (1994), Boubakri dan Cosset (1998), D’Souza dan Megginson (1999), dan D’Souza, Megginson, dan Nash (2001) dengan bebeberapa modifikasi sesuai dengan konteks privatisasi BUMN di Indonesia dan memasukkan salah satu pengukuran kinerja keuangan BUMN dengan menggunakan pengukuran EVA (economic value-added).

Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena latar belakang penelitian, maka pokok masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO (chief executive officer) terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi?
Untuk dapat menjawab pertanyaan seperti yang diidentifikasi pada pokok masalah tersebut, penelitian ini terlebih dulu akan mengidentifikasi secara deskriptif seberapa besar peningkatan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi yang diukur dengan indikator output, profitabilitas, dan EVA. Dengan demikian perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah secara bersama-sama terdapat pengaruh kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi?
2. Apakah secara parsial terdapat pengaruh kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi?

Kajian Pustaka
Beberapa hasil penelitian [Megginson, Nash, dan Van Randenborgh (1994), Boubakri dan Cosset (1998), dan D’Souza dan Megginson (1999)] mengatakan bahwa peningkatan kinerja BUMN sesudah diprivatisasi dapat dilihat terutama dalam hal kinerja keuangan, yang dapat diukur dengan indikator perubahan: (1) Profitabilitas, (2) Efisiensi operasi, (3) Pengeluaran modal untuk investasi, (4) Output, (5) Likuiditas, (6) Leverage, dan (7) Payout.
Implikasi pertama dari privatisasi BUMN adalah terjadinya perubahan komposisi kepemilikan BUMN yang menyebabkan BUMN perlu melakukan redefinisi misi dan tujuan perusahaan. Ketika BUMN belum dilakukan privatisasi, kepemilikan BUMN 100% adalah milik pemerintah yang biasanya misi dan tujuan BUMN sangat banyak, mulai dari tujuan sosial, agent of development, sampai dengan misi bisnis, sehingga BUMN tidak fokus, dan bahkan berpotensi terjadinya konflik kepentingan dalam mencapai tujuan tersebut.
Dengan privatisasi, BUMN akan lebih fokus pada pencapaian profit. Namun demikian, seperti ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian, fokus pada pencapaian profit ini sangat tergantung pada komposisi kepemilikan BUMN. Boycko, Shleifer, dan Vishny (1996) memprediksi bahwa BUMN akan lebih fokus pada pencapaian profit, sehingga manfaat privatisasi untuk peningkatan efisiensi operasi dapat diperoleh, jika pemerintah mulai melepas kepemilikan BUMNnya dan menyerahkannya pada swasta.

Senada dengan pendapat Boycko, Shleifer, dan Vishny tersebut, Claessens (1997) menyatakan bahwa jika kepemilikan pemerintah pada BUMN masih mayoritas, maka biasanya BUMN akan menunda untuk melakukan restrukturisasi dan pengurangan karyawannya. Ini yang menyebabkan BUMN tidak efisien. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian empiris mengenai pengaruh privatisasi pada kinerja keuangan BUMN, seperti yang dilaporkan oleh D’Souza dan Megginson (1998), Boubakri dan Cosset (1998), Eckel, Eckel, dan Singal (1997), dan Megginson, Nash, dan Van Randerborgh (1994), bahwa efisiensi yang sangat signifikan pada BUMN sesudah privatisasi hanya terjadi bila kepemilikan pemerintah pada BUMN semakin berkurang. Berdasarkan temuan empiris ini, saya ingin menguji kembali apakah terdapat pengaruh kepemilikan pemerintah (state ownership) terhadap perubahan peningkatan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Dari uraian tersebut saya menduga bahwa bila kepemilikan pemerintah pada BUMN semakin kecil, maka kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi semakin meningkat.
Kehadiran investor asing mungkin juga mempengaruhi tingkat perbaikan kinerja BUMN sesudah privatisasi. Sader (1993) memperkirakan bahwa investor asing yang pada tahun 1988 berpartisipasi hanya pada tujuh transaksi privatisasi BUMN, pada tahun 1992 meningkat menjadi 191 transaksi privatisasi BUMN, dan selama tahun 1988 – 1992 lebih dari 375 transaksi privatisasi BUMN diperkirakan mampu mengikutsertakan investor asing.
Dalam studi kasus privatisasi Czech, Anderson, Makhija, dan Spiro (1997) mengidentifikasi sebanyak 41 BUMN diprivatisasi dengan melibatkan investor asing dan sebanyak 947 BUMN tanpa melibatkan investor asing. Mereka menemukan bahwa pencapaian profitabilitas yang diukur dengan return on equity (ROE) dan revenue per employee ternyata sangat signifikan peningkatannya pada BUMN yang diprivatisasi dengan melibatkan investor asing dalam kepemilikan sahamnya. Senada dengan temuan empiris Anderson, Makhija, dan Spiro (1997) tersebut, Smith, Cin, dan Vodopivec (1997) dalam studinya terhadap 3.792 BUMN yang diprivatisasi di Slovenia menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara profitabilitas dengan kepemilikan asing, dan hubungan negatif yang signifikan antara leverage dengan kepemilikan asing.
Berdasarkan hasil penelitian empiris tersebut di atas, saya ingin menguji kembali apakah terdapat pengaruh kepemilikan asing (foreign ownership) terhadap perubahan peningkatan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Saya menduga bahwa bila kepemilikan asing semakin besar, maka kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi semakin meningkat.
Setelah kepemilikan, implikasi kedua dari privatisasi BUMN adalah kemungkinan adanya pergantian CEO (D’Souza, Megginson, dan Nash, 2001). Perubahan kepemilikan BUMN yang diprivatisasi kemungkinan akan diikuti dengan redefinisi misi, visi, dan strategi bisnis BUMN, sehingga menuntut adanya restrukturisasi organisasi yang sesuai dengan formulasi misi, visi, dan strategi yang baru tersebut. Biasanya, restrukturisasi organisasi akan diikuti dengan pergantian CEO. CEO BUMN yang sebelum privatisasi umumnya ditunjuk atas dasar – meminjam istilah yang digunakan D’Souza, Megginson, dan Nash (2001) – “politically”, setelah privatisasi BUMN akan diganti dengan CEO BUMN yang profesional.
Penggantian ini seharusnya mampu memicu peningkatan kinerja BUMN tersebut. Prediksi ini diperkuat oleh temuan empiris Lopez-de-Silanes (1997) yang mengakui bahwa manajemen BUMN yang existing kemungkinan mengalami kesenjangan kompetensi dalam memimpin BUMN yang baru diprivatisasi untuk membawa BUMN-nya berkompetisi di pasar. Lopez-de-Silanes (1997) juga menemukan adanya hubungan positif antara pergantian CEO dengan market value BUMN yang diprivatisasi. Barberis, Boycko, Shleifer, dan Vishny (1996) menyatakan bahwa kompetensi CEO merupakan faktor yang sangat penting dalam peningkatan profitabilitas perusahaan. Megginson, Nash, dan Van Randerborgh (1994) juga menyimpulkan bahwa pergantian eksekutif akan mempengaruhi kinerja BUMN yang diprivatisasi, dan mereka melaporkan bahwa peningkatan efisiensi secara signifikan ternyata hanya terjadi pada BUMN yang melakukan pergantian pada tingkatan top management-nya sesudah diprivatisasi.
Berdasarkan temuan empiris tersebut, saya ingin menguji kembali apakah terdapat pengaruh pergantian CEO terhadap perubahan peningkatan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Saya menduga bahwa bila BUMN sesudah diprivatisasi melakukan pergantian CEO, maka kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi semakin meningkat.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini ingin menguji dan menganalisis apakah terdapat pengaruh kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO yang dilakukan sesudah privatisasi terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sebelum dan sesudah diprivatisasi.
Hubungan variabel independen dengan variabel dependen bila dinyatakan secara persamaan Econometrics akan membentuk persamaan multiple regression sebagai berikut:

Model Multiple Regression untuk Perubahan Real Sales:

SAL = β0 – β1STATE + β2FDI + β3CEO + μ

Model Multiple Regression untuk Perubahan Return on Sales:

ROS = β0 – β1STATE + β2FDI + β3CEO + 

Model Multiple Regression untuk Perubahan Return on Asset:

ROA = β0 – β1STATE + β2FDI + β3CEO + 

Model Multiple Regression untuk Perubahan Return on Equity:

ROE = β0 – β1STATE + β2FDI + β3CEO + 

Model Multiple Regression untuk Perubahan Economic Value Added:

EVA = β0 – β1STATE + β2FDI + β3CEO + μ

Keterangan:
= Intersep; = Koefisien regresi, i = 1, 2, dan 3; = disturbance variables.

Obyek penelitian ini adalah kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO serta kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Data tersebut akan dianalisis untuk memperoleh bukti empiris apakah faktor-faktor tersebut mampu menjelaskan mengapa privatisasi dapat meningkatkan kinerja keuangan BUMN. Tipe penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksplanatori, mengingat penelitian ini tidak hanya menggambarkan fakta-fakta empiris, tetapi juga bertujuan menjelaskan hubungan antar variabel dan menguji hipotesis.
Pengumpulan data dilakukan secara sensus pada semua BUMN di Indonesia yang melakukan privatisasi. Dengan demikian unit analisis dalam penelitian ini adalah perusahaan, yaitu BUMN yang melakukan privatisasi melalui IPO. Dimensi waktu penelitian menggunakan tiga tahun sebelum dan tiga tahun sesudah privatisasi. Metode statistik yang digunakan untuk analisis data adalah regresi linier berganda, uji t, koefisien regresi, koefisien determinasi, dan uji F pada tingkat signifikansi 1%, 5%, dan 10%. Pengujian statistik akan dilakukan uji satu sisi. Selain itu akan disajikan prob-value (p-value) yang merupakan batas daerah penolakan dari hipotesis.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian ini dirancang untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian, yaitu apakah terdapat pengaruh baik secara bersama-sama maupun parsial faktor kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO terhadap kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Sebelum menjawab pertanyaan penelitian tersebut, berikut ini disajikan deskripsi statistik hasil penelitian mengenai mean dan perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi yang diukur dengan indikator: Net Sales (SAL), Return on Sales (ROS), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Economic Value Added (EVA).
Ada tiga kemungkinan yang terjadi atas perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah privatisasi, yaitu: (1) terjadi peningkatan, (2) terjadi penurunan, dan (3) tidak berubah atau sama saja. Perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi disajikan dalam dua data perubahan, yaitu:
1. Perubahan rata-rata (mean) masing-masing indikator kinerja keuangan periode tiga tahun sebelum privatisasi dan periode tiga sesudah privatisasi,
2. Perubahan rata-rata (mean) masing-masing indikator kinerja keuangan periode tiga tahun sebelum privatisasi BUMN dan periode sesudah privatisasi sampai dengan 31 Desember 2002.
Tabel 1 di bawah ini mendeskripsikan perubahan mean kinerja keuangan BUMN sebelum dan sesudah privatisasi. Dari tabel tersebut dapat ditunjukkan bahwa dibandingkan dengan periode sebelum privatisasi, selama tiga tahun sesudah privatisasi kinerja keuangan BUMN hanya terjadi peningkatan pada Net Sales sebesar 92,5% dan Economic Value Added sebesar 16,7%. Indikator kinerja keuangan lainnya, seperti Return on Sales, Return on Asset, dan Return on Equity bahkan mengalami penurunan masing-masing sebesar 19,1%, 44,4%, dan 58,2%.
Net Sales dan Economic Value Added BUMN semakin meningkat pada periode sesudah privatisasi sampai dengan tahun 2002 masing-masing sebesar 243,8% dan 190,7%. Namun demikian, Return on Sales, Return on Asset, dan Return on Equity masih menunjukkan angka penurunan bila dibandingkan dengan periode sebelum privatisasi BUMN.
Tabel 1. Mean dan Perubahan Kinerja Keuangan BUMN
Sebelum dan Sesudah Privatisasi

Kinerja Keuangan Mean 3 Tahun Sebelum Privatisasi Mean 3 Tahun Sesudah Privatisasi

Ch1 Mean Sesudah Privatisasi s.d 2002

Ch2
Net Sales (SAL) 877,01 1.688,31 92,5% 3.015,23 243,8%
Return on Sales (ROS) 0.2575 0.2082 -19,1% 0.1648 -36,0%
Return on Asset (ROA) 0.1656 0.0921 -44,4% 0,0795 -52,0%
Return on Equity (ROE) 0.2848 0.1191 -58,2% 0,1220 -57,2%
Economic Value Added (EVA) 79,2 92,5 16,7% 230,3 190,7%

Keterangan:
SAL dan EVA dinyatakan dalam milyar rupiah, ROS, ROA, dan ROE dinyatakan dalam ratio.
Ch1 = perubahan mean 3 tahun sebelum dan 3 tahun sesudah privatisasi.
Ch2 = perubahan mean 3 tahun sebelum dan sesudah privatisasi sampai dengan 31/12/2002.

Untuk membuktikan apakah memang benar terjadi peningkatan Net Sales dan Economic Value Added pada BUMN sesudah diprivatisasi, perlu dilakukan pengujian perbedaan mean dengan menggunakan Paired Sample T Test. Berdasarkan output SPSS versi 12 diperoleh hasil pengujian paired sample t test terhadap perbedaan mean Net Sales sebelum dan sesudah privatisasi seperti disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Paired Sample T Test Net Sales dan Economic Value Added BUMN
Sebelum dan Sesudah Privatisisasi

Compare Mean
T Hitung T Tabel
( 5%, df 6, uji satu sisi)
Kesimpulan
Mean SAL 3BAa -2,479 -1,943 Signifikan
Mean SAL 3BAkhb -2,184 -1,943 Signifikan
Mean EVA 3BAc -0,190 -1,943 Tidak signifikan
Mean EVA 3BAkhd -0,945 -1,943 Tidak signifikan
Keterangan:
aMean Net Sales Tiga Tahun Sebelum dan Tiga Tahun Sesudah Privatisasi.
bMean Net Sales Tiga Tahun Sebelum dan Sesudah Privatisasi s.d 2002.
cMean Economic Value Added Tiga Tahun Sebelum dan Tiga Tahun Sesudah Privatisasi.
dMean Economic Value Added Tiga Tiga Tahun Sebelum dan Sesudah Privatisasi s.d 2002.

Uji hipotesis ini dilakukan uji satu sisi, karena jelas kriterianya bahwa salah satu tujuan privatisasi BUMN adalah meningkatkan kinerja keuangan BUMN. Dengan membandingkan antara t hitung dengan t tabel dapat diambil kesimpulan atas signifikansi peningkatan mean Net Sales dan mean Economic Value Added sebelum dan sesudah privatisasi. Pada tingkat signifikansi , 5%, df = 6, dan uji dilakukan satu sisi diperoleh nilai t tabel -1,943. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mean Net Sales BUMN sesudah privatisasi meningkat secara signifikan bila dibandingkan dengan periode sebelum privatisasi. Privatisasi BUMN sangat efektif untuk meningkatan Net Sales BUMN. Sedangkan mean Economic Value Added BUMN sesudah privatisasi tidak meningkat secara signifikan. Dengan kata lain, privatisasi BUMN tidak cukup efektif untuk meningkatkan Economic Value Added BUMN.
Sesuai dengan tujuan dan hipotesis penelitian, analisis data dan pengujian hipotesis ini dimaksudkan untuk memberikan bukti empiris apakah terdapat pengaruh kepemilikan pemerintah (STATE), kepemilikan asing (FDI), dan pergantian CEO (CEO) terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Perubahan kinerja keuangan BUMN diukur dengan indikator: Net Sales (SAL), Return on Sales (ROS), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Economic Value Added (EVA).
Dari hasil pengolahan data menggunakan Microsoft Excel versi Microsoft XP, diperoleh data untuk diolah menjadi model multiple regression dengan Minitab Release 11.2. Tabel di bawah ini menyajikan ringkasan output model regresi untuk masing-masing model regresi yang mengidentifikasi besarnya pengaruh, prediksi variabel penyebab perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi, dan tingkat signifikansi model regresi.
Tabel 3. Ringkasan Output Regresi Identifikasi Penyebab Peningkatan Kinerja BUMN Sesudah Diprivatisasi

Perubahan Kinerja Keuangan BUMN
Sebelum dan Sesudah Diprivatisasi
SAL ROS ROA ROE EVA
Konstanta
t hitung 1.0479
1.88c -1.0044
-1.44 -0.9718
-1.45 -0.8051
-1.42 -0.390
-0.27

Kepemilikan pemerintah
t hitung
-4.360
-1.81c
-8.133
-2.70b
-8.204
-2.83b -5.999
-2.45b -3.309
-0.52
Kepemilikan asing
t hitung -14.993
-3.48 -15.995
-2.96
-21.584
-4.15 -11.404
-2.59 -75.23
-6.61
Pergantian CEO
t hitung 1.2323
2.57b 1.0497
1.75c
1.2675
2.20c 0.6083
1.25 9.590
7.59a
Adjusted R-Squared 74.8%
74.9%
80.5% 66.2% 93.3%
F-Value 6.92b 6.95b
9.26b 4.92b 28.83a
Observasi 7 7 7 7 7
Uji satu sisi (one-tailed test): a Signifikan pada level 1%; b Signifikan pada level 5%; c Signifikan pada level 10%

Berdasarkan Tabel 3 dapat ditunjukkan bahwa variabel STATE dan FDI mempunyai nilai t-hitung bertanda negatif, sedangkan CEO mempunyai nilai t-hitung bertanda positif. Sesuai dengan kriteria pengujian hipotesis uji satu sisi (one-tailed test), maka tanda negatif t-hitung pada variabel STATE dan tanda positif t-hitung pada variabel CEO berada di daerah penolakan hipotesis nol (H0), sedangkan tanda negatif t-hitung pada variabel FDI berada di daerah penerimaan hipotesis nol (H0). Dengan demikian uji signifikansi hanya dilakukan terhadap variabel STATE dan CEO. Uji signifikansi terhadap variabel FDI menjadi tidak relevan lagi, karena hubungan variabel FDI dengan variabel dependen berada di daerah penerimaan hipotesis nol (H0).
Pembahasan
Hasil analisis data dan pengambilan keputusan terhadap uji hipotesis seperti dijelaskan di atas, menginformasikan beberapa temuan empiris penting mengenai berapa besarnya pengaruh dan bagaimana pengaruh kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi yang diukur dengan Net Sales, Return on Sales, Return on Equity, dan Economic Value Added. Pada akhir pembahasan Bab ini akan dibahas hasil temuan empiris tersebut dan relevansinya dengan hasil penelitian sebelumnya.
Kepemilikan Asing (foreign ownership) merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi yang diukur dengan perubahan Net Sales, Return on Sales, Return on Asset, Return on Equity, dan Economic Value Added. Ada temuan yang menarik dari angka koefisien ini, yaitu tanda negatif pada angka koefisien variabel Kepemilikan Asing (FDI) menunjukkan bahwa tambahan masuknya investor asing melalui penyertaan saham pada BUMN yang diprivatisasi justru akan mengakibatkan menurunnya perubahan kinerja keuangan tersebut. Setiap tambahan kepemilikan asing sebesar 1% akan menurunkan perubahan peningkatan Net Sales sebesar 0,14993, Return on Sales sebesar 0,08133, Return on Asset sebesar 0,08204, Return on Equity sebesar 0,0599, dan EVA 0,0309.
Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian Anderson, Makhija, dan Spiro (1997) yang meneliti privatisasi BUMN di Czech. Mereka melaporkan bahwa profitabilitas BUMN yang diukur dengan return on equity sangat signifikan peningkatannya pada BUMN yang kepemilikan asingnya tinggi. Hal senada dengan temuan Anderson (1997) tersebut juga ditemukan oleh D’Souza, Megginson, dan Nash (2001) yang melaporkan adanya peningkatan kinerja keuangan BUMN (SOEs) karena peningkatan kepemilikan asing (FDI) pada BUMN sesudah diprivatisasi.
Fenomena ini menarik karena sesuai dengan hasil penelitian empiris sebelumnya, biasanya masuknya investor asing melalui kepemilikan saham pada BUMN diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja BUMN. Namun penelitian ini menemukan anomali. Di Indonesia justru terjadi sebaliknya, semakin besar kepemilikan asing pada BUMN sesudah diprivatisasi semakin menurun kinerja keuangannya. Diduga masuknya investor asing pada BUMN belum begitu diterima oleh manajemen dan para karyawan, sehingga yang terjadi justru kontraproduktif. Fenomena seperti ini pernah terjadi di Semen Gresik ketika mengundang Cemex, investor asing Mexico untuk masuk ke BUMN ini melalui penyertaan kepemilikan saham. Apa yang terjadi? Di tiga tahun pertama, para karyawan banyak menentang masuknya Cemex ke Semen Gresik, sehingga yang terjadi adalah kegiatan-kegiatan yang kontraproduktif. Hal yang sama juga pernah dialami oleh Indosat. Ketika masuknya investor asing di Indosat banyak ditentang tidak hanya oleh serikat pekerja Indosat, tetapi juga oleh masyakat lainnya. Demikian juga kasus Telkom dengan strategi KSO-nya yang banyak melibatkan “orang-orang asing” dalam manajemen Telkom di beberapa Divisi Regionalnya, kinerja Telkom justru banyak yang menurun.
Temuan kedua adalah cukup tingginya pengaruh kepemilikan pemerintah pada BUMN sesudah diprivatisasi. Dari output model regresi dapat dilihat bahwa pengaruh kepemilikan pemerintah terhadap BUMN menunjukkan koefisien negatif. Artinya apa? Bila kepemilikan pemerintah pada BUMN semakin berkurang, maka kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi semakin meningkat. Setiap pengurangan kepemilikan pemerintah sebesar 1%, akan menyebabkan peningkatan perubahan Net Sales sebesar 0,04360, Return on Sales 0,08133, Return on Asset 0,08204, Return on Equity sebesar 0,0599, dan Economic Value Added sebesar 0,03309.
Temuan ini mendukung hasil penelitian empiris D’Souza dan Megginson (1998), Boubakri dan Cosset (1998), Eckel, Eckel, dan Singal (1997) dan Meggionson, Nash dan Randenborgh (1994) yang melaporkan bahwa semakin berkurang kepemilikan pemerintah pada BUMN semakin meningkat secara signifikan kinerja profitabilitas dan efisiensi BUMN tersebut. Namun demikian, dari uji hipotesis ternyata pengaruh perubahan kepemilikan pemerintah pada BUMN tidak signifikan terhadap perubahan EVA. Perubahan kepemilikan pemerintah pada BUMN sebenarnya tidak dapat menjelaskan dengan baik variabilitas perubahan EVA.
Identifikasi terakhir dari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi adalah pergantian CEO. Hasil penelitian ini mendukung fenomena empiris pada privatisasi BUMN di negara-negara lain bahwa bila privatisasi BUMN diikuti dengan pergantian CEO, maka terjadi peningkatan kinerja keuangan BUMN tersebut (D’Souza, Megginson, dan Nash, 2001). Pergantian CEO diduga dapat membawa banyak perubahan untuk peningkatkan kinerja BUMN. Perubahan cepat dan radikal di BUMN dimungkinkan karena hadirnya “the outsiders” alias orang-orang yang justru berasal dari luar perusahaan. Seperti halnya Lou Gestner saat merombak IBM atau Larry Bossidy ketika memulai revolusi di AlliedSignal, tokoh-tokoh kunci ini tidak memiliki “pyschological contract” dan “beban sejarah” masa lalu perusahaan ini. Akibatnya, proses creative destruction terhadap dasar-dasar bangunan perusahaan dapat bergulir mulus praktis tanpa gejolak.
Mengakhiri pembahasan pada bab ini, dengan melihat bukti empiris pada hasil penelitian ini dapat ditunjukkan bahwa ternyata privatisasi BUMN tidak cukup efektif dapat meningkatkan kinerja keuangan BUMN. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa privatisasi hanya efektif dapat meningkatkan Net Sales secara signifikan. Sesudah dilakukan privatisasi BUMN, ternyata justru terjadi penurunan Return on Sales, Return on Asset dan Return on Equity, sedangkan Economic Value Added meskipun terjadi peningkatan tetapi secara statistik peningkatan tersebut tidak signifikan.
Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan tidak efektifnya privatisasi BUMN di Indonesia. Pertama, ketidaksiapan dari BUMN itu sendiri untuk diprivatisasi. Banyaknya resistensi dari pengelola BUMN-BUMN itu disebabkan karena agency problem dan resistensi terhadap restrukturisasi, modernisasi, komersialisasi, dan transparansi pengelolaan BUMN. Kedua, ketidakjelasan framework yang mengatur grand policy dari program privatisasi nasional. Sebagai contoh masih kurangnya keyakinan dari pemerintah bahwa mekanisme pasar merupakan suatu cara yang terbaik untuk mengalokasikan sumber daya secara efisien dan efektif. Hal ini juga diperburuk oleh rancunya definisi private goods dan public goods, masih banyak persepsi bahwa kegiatan bisnis tertentu harus dikuasi pemerintah untuk kepentingan nasional, tetapi pemerintah atau DPR tidak mengeluarkan daftar aset yang masuk dalam restricted list. Ketiga, kurangnya dukungan dan komitmen dari semua pihak, termasuk di dalamnya masyarakat, DPR, karyawan BUMN, pemerintah, dan lingkungan eksternal yang kurang kondusif untuk program privatisasi.

KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN
Kesimpulan
Secara bersama-sama, kepemilikan pemerintah dan kepemilikan asing berpengaruh negatif, dan pergantian CEO berpengaruh positif secara signifikan terhadap kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi yang diukur dengan perubahan Net Sales, Return on Sales, Return on Asset, Return on Equity dan Economic Value Added.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Anderson, Makhija, dan Spiro (1997) dan D’Souza, Megginson, dan Nash (2001), karena dalam periode penelitian ini tidak ditemukan adanya pengaruh positif peningkatan kepemilikan asing terhadap peningkatan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang sama dengan hasil penelitian D’Souza, Megginson, dan Nash (2001) yang menemukan adanya pengaruh negatif kepemilikan pemerintah dan pengaruh positif pergantian CEO terhadap peningkatan kinerja keuangan BUUMN sesudah diprivatisasi.

Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan. Pertama, kompleksitas masalah yang diteliti, sehingga kemungkinan adanya pengaruh faktor lain selain faktor kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, dan pergantian CEO terhadap perubahan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Faktor-faktor lainnya yang kemungkinan berpengaruh terhadap perubahan kinerja keuangan tersebut antara lain: kualitas tata kekola (corporate governance) BUMN, struktur industri BUMN, dan tingkat kompetisi BUMN. Kedua, observasi data pengamatan yang digunakan sangat terbatas karena jumlah BUMN yang diprivatisasi sampai dengan tahun 2001 sangat sedikit, sehingga model regresi yang dihasilkan dari pengolahan data kemungkinan berbeda jika pada penelitian berikutnya observasi data pengamatan semakin banyak.

Saran
Pertama, kepemilikan pemerintah pada BUMN agar dikurangi. Kebijakan privatisasi agar diprioritaskan pada IPO kepada masyarakat luas. Kedua, agar dilakukan pemilihan investor asing secara tepat sebagai calon mitra strategis pada kepemilikan BUMN yang diprivatisasi, sehingga masuknya investor pada BUMN yang diprivatisasi dapat meningkatkan kinerja keuangan BUMN melalui transfer of technology, perluasan pasar, dan induksi budaya perusahaan yang fit dengan bisnis yang sehat. Ketiga, privatisasi BUMN agar diikuti dengan pergantian CEO sehingga mampu meningkatkan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi. Keempat, bagi peneliti berikutnya, hasil analisis regresi terhadap variabel FDI dalam penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian sebelumnya, sehingga masih terbuka kesempatan bagi penelitian selanjutnya untuk mencari dan menemukan penyebab kenapa variabel FDI atau masuknya investor asing melalui kepemilikan saham pada BUMN justru menyebabkan terjadinya penurunan kinerja keuangan BUMN sesudah diprivatisasi.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: